
Sebelum pergi menemui kakeknya, Vivian pulang ke rumah Matthew sebentar karena dia ingin mandi dan mengganti pakaiannya. Matthew juga memerlukan hal itu dan mereka berdua sedang berendam di dalam bath up saat ini.
Bagaimanapun mereka harus menikmati waktu mereka berdua walau sedang banyak masalah. Selain pergi ke rumah sakit, mereka juga akan pergi menemui Gary dan yang lain.
Sepertinya hari ini juga akan menjadi hari yang panjang tapi tidak masalah, karena mereka masih bisa menikmati kebersamaan mereka berdua.
Vivian sedang menggosok tangannya sedangkan Matthw mengusap bahunya dan menciumnya. Ck, dia sudah lama tidak menyentuh Vivian dan rasanya sudah tidak tahan.
Masih ada waktu sebaiknya mereka bermain sebentar, hanya sebentar jika tidak, jamur beracun miliknya akan menangis.
"Babe," Matthew terus mencium bahu Vivian dan tangannya sudah mengusap perut Vivian.
"Hm?"
"Duduk sini," Matthew meminta Vivian duduk di atas pangkuannya.
"Ada apa?" Vivian tampak heran tapi dia mengikuti permintaan Matthew untuk duduk di atas pangkuannya.
"Aku mau ...." ucap Matthew seraya mencium pipinya.
"Hey, bertahanlah! Bagaimana dengan taruhan kita?"
"Aku sudah tidak bisa menahannya, Sayang. Coba kau pegang ini," Matthew menarik tangan Vivian ke bawah untuk menyentuh si jamur.
"Oh my," wajah Vivian tampak memerah.
"Aku sangat menginginkanmu, Sayang. Jadi boleh bukan?"
"Ng," Vivian mengangguk.
"Tapi kau kalah taruhan denganku, Mr. Smith," ucapnya.
"No problem, kau pemenangnya!"
"Dasar! Jangan menyesali ini."
"Tidak akan," jawab Matthew sambil terkekeh.
"Tapi jangan lama, kita harus segera pergi melihat keadaan kakek," pinta Vivian.
"Tidak akan lama, cukup setengah jam oh tidak, satu jam atau dua jam."
"Apa? Hey!" Vivian ingin protes tapi Matthew sudah mel*mat bibirnya.
__ADS_1
Vivian memeluk leher Matthew dan membalas ciumannya, sedangkan tangan Matthew sudah mer*mas dadanya dan memainkan jarinya. Erangan Vivian terdengar dibalik ciuman mereka, tangannya juga tidak tinggal diam dan mulai memainkan si jamur yang sudah menantang di bawah sana.
Matthew juga mengerang dan nafas mereka sudah memburu. Ciuman selalu Matthew berikan dan beberapa tanda dia buat di tubuh Vivian. Ciuman dan sentuhan yang memberi rasa nikmat mereka rasakan sebelum mereka berpacu dalam kenikmatan yang sesungguhnya.
Mereka menghabiskan waktu mereka berdua begitu lama di dalam kamar mandi dan begitu keluar, Vivian mengeluh sakit pinggang karena Matthew tidak cukup sekali dan menginginkannya lagi dan lagi.
"Kau benar-benar gila!" ucap Vivian sambil mengusap pinggangnya saat mereka berada di luar.
"Sorry, Babe. Aku terlalu bersemangat," jawab Matthew seraya mengeringkan rambut Vivian.
"Semangatmu terlalu luar biasa dan sepertinya kita harus libur."
Matthew terkekeh dan segera mengambilkan baju untuk Vivian dari dalam lemari dan setelah mendapatkannya, dia kembali mnghampiri Vivian dan memberikan bajunya.
"Kita akan libur tapi bersiaplah di malam pernikahan kita nanti, aku akan membuatmu tidak tidur semalaman," ucapnya sambil mencium bibir Vivian.
"Wow, sepertinya aku harus menyediakan obat nyeri." ucap Vivian, sedangkan Matthew kembali terkekeh.
Setelah selesai memakai pakaian, mereka segera keluar karena mereka akan pergi ke rumah sakit. Entah apa yang mau kakeknya bicarakan dan dia harap kakeknya baik-baik saja.
Begitu mereka tiba, Vivian langsung menghampiri kakeknya yang masih tampak lemah dan menangis. Dia menangis karena lega dan bahagia melihat kakeknya sudah sadar dan terlihat baik-baik saja.
"Kakek," Vivian memegangi tangan kakeknya, sedangkan David tersenyum melihat cucunya.
"Tentu saja, jangan meremehkan mantan tentara ini," jawab David seraya mengusap air mata cucunya.
"Kakek, yang menembak kalian bukan Matthew, tapi ...."
"Kakek tahu, Vivi," David menyela ucapan cucunya.
"Kakek tahu jika yang melakukannya bukan Matthew dan inilah yang ingin aku bicarakan dengan kalian."
Vivian duduk di samping kakeknya, sedangkan Matthew berdiri di sampingnya. Sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan oleh kakeknya.
"Aku dengar yang menyamar menjadi Matthew adalah Carlk, apa benar?"
"Benar, Kakek," jawab Vivian.
"Apa kalian sudah menangkapnya?"
"Tentu saja sudah, dia sudah begitu kelewatan karena tidak saja mencelakai kalian tapi dia juga menculik ayahku bahkan membuat kami sibuk sepanjang hari karena dia dan rekannya membuat keributan sana sini."
"Bagaimana dengan keadaan ayahmu, Vivi?" tanya kakeknya.
__ADS_1
"Belum sadar," jawab Vivian sambil menunduk.
"Dengarkan permintaanku baik-baik dan mungkin ini menjadi permintaan terakhirku," ucap David.
"Kenapa Kakek berkata demikian? Kakek tidak akan pergi meninggalkan aku bukan?" Mata Vivian kembali berkaca-kaca, apa terjadi sesuatu dengan kakeknya?
"Pada dasarnya setiap manusia akan mati, Vivi. Mungkin tidak hari ini tapi mungkin tidak akan lama lagi kakek harus pergi. Kakek sudah tua jadi ada masanya kontrak hidup Kakek akan selesai."
"Jangan berkata seperti itu Kakek. Aku tidak mau mendengarnya karena aku masih ingin bersama dengan Kakek dan melakukan banyak hal bersama dengan Kakek," pinta Vivian.
"Kakek juga ingin melakukan banyak hal denganmu jadi dengarkan permintaan Kakek. Musuh kalian sangat cerdik dan aku berharap kalian selalu percaya dengan pasangan kalian. Bisa saja hal ini terjadi lagi dan mungkin ada Carlk lainnya di luar sana yang akan memakai topengmu atau memakai topeng Matthew jadi aku harap kalian tetap saling percaya satu sala lain," pinta David.
"Tentu saja, Kakek. Kau tidak perlu menghawatirkan hal ini," jawab Vivian.
"Bagus, aku senang mendengarnya dan kau ... Matthew, ini permintaan pertama dan terakhirku padamu," David menatap ke arah Matthew.
"Katakan Kakek, apa yang kau inginkan?" tanya Matthew.
"Kau tahu, Vivian adalah cucu kesayanganku. Walaupun kami tidak memiliki hubungan darah sama sekali tapi aku menyayanginya lebih dari apapun jadi aku harap padamu, kau selalu menjaganya dengan baik. Walaupun aku sudah melatihnya sejak kecil tapi tetap saja dia seorang wanita yang harus kau lindungi. Aku sudah tua dan mungkin aku tidak akan lama lagi berada di dunia ini bahkan Vivian tidak akan tinggal bersama dengan kami lagi. Ayahnya juga sudah cukup tua dan tidak bisa melindunginya jika terjadi sesuatu dengannya nanti jadi aku harap padamu, kau selalu menjaganya dengan baik dan tidak menyakitinya."
"Jika sampai kau membuatnya menangis dan sampai aku tahu masalah ini maka aku tidak akan ragu untuk mencarimu dan membuat perhitungan denganmu bahkan jika aku sudah matipun, arwahku akan mendatangimu jika kau berani menyakitinya."
"Aku bersumpah padamu, Kakek. Aku akan menjaganya dengan baik dan aku tidak akan menyakitinya walau seujung kukunya. Jika sampai tanganku ini memukulnya dan membuatnya menangis, maka terkutuklah aku dan aku rela mati dengan mengenaskan!"
David tersenyum, dia puas mendengarnya. Walau Matthew sudah pernah bersumpah tapi dia ingin mendengarnya lagi. Sewaktu dia tidak sadarkan diri, dia melihat kenangan buruk yang dialami oleh cucunya sewaktu kecil dan dia tidak mau cucunya mengalami hal seperti itu lagi tapi sekarang, dia sudah bisa melepaskan cucunya dan mempercayakannya pada Matthew.
"Sekarang aku bisa mati dengan tenang," ucap David.
"Kakek," Vivian tampak ketakutan.
"Aku hanya bercanda," ucap kakeknya sambil terkekeh.
"Ck, Kakek menyebalkan!"
"Ayolah, kakek hanya bercanda. Setelah keadaan Kakek baik-baik saja kalian harus segera menikah."
"Pasti, tapi tunggu keadaan ayahku membaik karena aku ingin dia ada di hari pernikahanku nanti," ucap Vivian.
"Kami pasti akan berada di hari pernikahanmu, Sayang," ucap ibunya yang sedang berjalan mendekati mereka.
"Mom," Vivian segera bangkit berdiri dan memeluk ibunya. Dia sangat senang ibunya sudah baik-baik saja begitu juga dengan ayahnya.
Mereka berada di sana dan menghabiskan waktu bersama dengan keluarga Vivian beberapa saat dan setelah itu, mereka berpamitan pergi karena mereka akan melihat Gary dan rekannya juga si penghianat.
__ADS_1
Vivian sudah tampak tidak sabar dan yang akan dia tendang terlebih dahulu adalah Gary. Semoga saja Gary tidak memohon di bawah kakinya nanti setelah mendapat tendangan darinya.