Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Aku terima kekalahanku


__ADS_3

Saat pagi, Clarina terbangun dan memegangi kepalanya yang terasa sakit luar biasa. Dengan susah payah, Clarina bangun dari tidurnya dan melihat sekitarnya. Di mana dia dan di mana Matthew?


Clarina melihat baju yang dia pakai dengan tanda tanya di hati, sungguh dia tidak bisa mengingat apapun yang telah terjadi setelah Matthew membawanya keluar dari kamar mandi. Dia bahkan tidak tahu di mana dia berada dan baju siapa yang dia pakai.


"Matt?" Clarina turun dari atas ranjang dan berjalan keluar dari kamar.


"Matt, kau di mana?" teriaknya lagi.


Entah rumah siapa itu tapi suasana benar-benar sepi, itu karena Matthew dan Vivian belum bangun dari tidur mereka.


"Matt!" Clarina kembali berteriak karena dia takut.


Matthew langsung terbangun saat mendengar suara teriakan Clarina, dia melihat Vivian yang masih tidur di sampingnya dan tampak lega.


"Matthew!" teriak Clarina lagi.


"Oh no!" Matthew menyingkirkan tangan Vivian yang sedang memeluknya. Sebaiknya dia segera menemui Clarina jika tidak Vivian akan tahu identitas aslinya.


Saat merasakan gerakan, Vivian memutar tubuhnya sambil bergumam, "Siapa yang berteriak?"


"Tidak ada babe, tidurlah lagi, kau hanya bermimpi!" ucap Matthew berdusta dan dia segera turun dari atas ranjang.


Matthew bahkan berlari keluar dari kamar, jangan sampai Clarina memanggil namanya lagi dan didengar oleh Vivian.


Di luar, Clarina melihat rumah itu dan tampak kebingunan. Jangan-jangan yang menolongnya semalam bukan Matthew dan dia salah lihat. Jika memang begitu siapa yang telah membantunya?


Dia ingin kembali memanggil Matthew tapi pada saat itu, sebuah pintu terbuka dan Matthew keluar dari sana.


"Matt?"


"Stts!" Matthew meletakkan jari telunjuknya di bibir supaya Clarina diam.


Clarina semakin bingung bahkan saat Matthew mendekatinya dan menarik tangannya untuk membawanya menjauh dari kamar.


"Matt, ada apa?"


"Stts, jangan memanggil namaku!" jawab Matthew.


"Kenapa? Memangnya ini di mana?"


"Rumah pacarku!" jawab Matthew tanpa ragu.


"What?" Clarina sangat shock mendengarnya. Jadi Matthew punya pacar?


Ketika sudah tiba didapur, Matthew melepaskan tangan Clarina. Di sana Vivian tidak akan mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Kenapa kau membawaku ke rumah pacarmu Matt?"


"Aku juga tidak punya pilihan karena keadaanmu!"


"Maaf," ucap Clarina sambil menunduk.


"Sudahlah, yang penting kau tidak apa-apa dan ingat jangan memanggil namaku saat di depan pacarku tapi panggil aku Freddy!"


"Kenapa?" tanya Clarina heran.


"Sudah lakukan saja!"


Clarina berdecak kesal, dia jadi penasaran wanita mana yang telah mengambil hati Matthew padahal Matthew selalu menolak cintanya. Apakah wanita itu lebih cantik darinya?


Pada saat itu, terdengar suara pintu terbuka. Vivian keluar dari kamar sambil menguap dan dia berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Ingat jangan panggil namaku dan setelah mandi aku akan mengantarmu pulang!" Matthew mengingatkan dan melangkah pergi.


Clarina menatap kepergiannya dan rasanya ingin menangis, orang yang dia sukai sejak dulu ternyata sudah punya pacar. Walau begitu dia tidak bisa melakukan apapun karena perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan.


Dia segera mengikuti langkah Matthew dan ingin melihat wanita mana yang telah menjadi pacar sahabatnya, bisa dia tebak wanita yang disukai Matthew pasti bukan wanita sembarangan.


Ketika Matthew keluar, Vivian sudah masuk kedalam kamarnya dan mendapati Clarina sudah tidak ada di dalam kamarnya lagi.


Sepertinya Clarina sudah terbangun dan mungkin saja sedang berbicara dengan Matthew saat ini karena tadi samar-samar dia mendengar suara orang sedang berbicara.


Vivian tidak mau memikirkannya, lebih baik dia mandi dan membuat sarapan.


Setelah selesai Vivian keluar dari kamar dan pada saat melihatnya, Clarina langsung bangkit berdiri karena saat itu dia sedang duduk di meja makan untuk menunggu Matthew.


"Kau?!" Clarina tidak percaya saat melihat Vivian. Bukankah dia agen yang datang ke rumahnya beberapa hari lalu? Jadi wanita itulah pacar Matthew?


"Pagi nona Clarina, bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Vivian.


"Aku baik-baik saja terima kasih," jawab Clarina.


Vivian tersenyum dan membuka kulkas, untungnya Clarina tidak masuk angin jika tidak dia harus menjaga orang sakit hari ini.


"Nona Clarina pergilah membersihkan diri, aku sudah menyiapkan baju ganti untuk nona di atas ranjang."


"Terima kasih, kau begitu baik," ucap Clarina seraya bangkit berdiri.


Vivian diam saja dan membuat sarapan, sedangkan Clarina masuk ke dalam kamar. Setelah ini dia mau pulang dan mengatakan pada ayahnya apa yang telah dilakukan Thomas semalam.


Selama Vivian membuat sarapan, Matthew mendekatinya dan memeluknya dari belakang.


"Morning babe," bisiknya seraya mencium pipi Vivian.


"Ck, lepaskan! Jangan mengangguku!" Vivian berusaha menyingkirkan tangan Matthew.


"Tapi?"


"Sttts!" Matthew memutar tubuh Vivian hingga tubuh mereka berhadapan.


Vivian memandangi Matthew, sedangkan Matthew mengusap wajahnya sambil tersenyum.


"Rasanya aku sudah tidak sabar menjadikanmu milikku babe."


"Aku tidak mau!" jawab Vivian sambil membuang wajahnya yang memerah.


"Maksudmu tidak mau menolak bukan?" goda Matthew.


"Apa? Enak saja!"


Matthew terkekeh dan ingin mencium pipi Vivian tapi pada saat itu?


"Hmm, tolong ya, ada aku di sini!" ucap Clarina.


Vivian langsung melihat Clarina yang sedang bersandar pada dinding dan memperhatikan mereka sedari tadi.


"Sebaiknya bermesraan di kamar, jangan di dapur!" ucap Clarina lagi, sedangkan wajah Vivian merah padam karena malu.


"Siapa yang mau bermesraan dengannya!" Vivian langsung menendang kaki Matthew.


"Oh my God, babe!" teriak Matthew sambil memegangi kakinya, sedangkan Vivian sudah berlari pergi sambil menutupi wajahnya yang memerah karena dia sangat malu.


"Rasakan!" ucap Clarina sambil tertawa.

__ADS_1


"Ck, kau mengganggu saja!" Matthew tampak kesal.


"Jadi Matt, hm, Fredd, dia yang kau sukai?"


"Seharusnya kau sudah tahu!" jawab Matthew seraya menarik sebuah kursi dan duduk di sana.


"Baiklah jika begitu, walaupun aku kesal karena dia yang jadi pacarmu tapi tidak apa-apa, aku sudah kalah dan akan terima kekalahanku!"


"Bagus jika kau mengerti!"


Clarina tersenyum dengan licik dan sedikit mengintip keluar, walaupun dia menyerah tapi dia akan memanfaatkan situasi ini.


"Jika kau mau rahasiamu aman maka kau harus mengabulkan satu permintaanku," pinta Clarina.


"Mau apa?"


"Pinjamkan aku pesawat pribadimu," pintanya.


"What?"


"Ayolah, kau punya banyak. Aku hanya pinjam satu dan kalian masih bisa pakai yang lain."


"Memangnya kau mau kemana?" Matthew memandangi Clarina dengan lekat.


"Ke Paris, jalan-jalan dan melupakanmu!" jawab Clarina.


"Bagus, sana kau boleh memakainya."


"Benarkah?"


"Ya," jawab Matthew singkat.


"Oh Matt, terima kasih!" Clarina hendak melompat dan memeluk Matthew tapi dia urungkan.


"Jika begitu, aku mau pulang!"


"Aku akan mengantarmu," Matthew bangkit berdiri.


"Tidak perlu, aku sudah menghubungi supir pribadiku dan maaf telah merepotkanmu semalam."


"Jangan dipikirkan, kau sahabatku."


Clarina hanya tersenyum, mau dia berusaha seperti apapun tapi Matthew hanya menganggapnya sebagai sahabat saja dan tidak lebih. Lebih baik dia berhenti berharap dan melupakan cinta yang telah dia pendam sejak kecil. Mereka memang ditakdirkan sebatas menjadi sahabat saja dan tidak bisa bersama.


Ketika supir pribadinya sudah datang, Clarina berpamitan dan memeluk Vivian sejenak.


"Terima kasih atas kebaikanmu, aku tidak akan melupakannya," ucap Clarina.


"Jangan sungkan. Jika ada apa-apa dan kau membutuhkan bantuanku, hubungi aku!" jawab Vivian.


"Aku sangat berterima kasih," Clarina memeluk Vivian dengan erat. Matthew pasti tidak salah memilih dan dia akan menerimanya dengan lapang dada.


Ketika dia akan pulang, Vivian mengantar Clarina dan Matthew berdiri di sisinya.


Clarina melambaikan tangannya ke arah mereka dengan senyum di wajahnya. Bahkan saat dia sudah di dalam mobil, Clarina melihat mereka berdua dan tertawa saat melihat Vivian membanting pintu di belakangnya hingga kepala Matthew terbentur.


"Rasakan!" ucapnya.


Clarina memandangi langit biru dan berkata dalam hati, "Setelah ini aku mau pergi ke Paris dan melupakan cinta ini!" tanpa terasa air matanya mengalir.


Putus cinta memang menyakitkan tapi dia tidak mau memaksa dan menghancurkan persahabatan mereka karena persahabatan yang mereka jalin sejak lama lebih berharga dari apapun juga.

__ADS_1


Clarina menghapus air matanya dan berusaha tersenyum, semoga dia segera menemukan seseorang di luar sana.


#Btw, mungkin autor akan nulis cerita untuk Clarina tapi nanti 😀#


__ADS_2