
Mereka masih berdiri di sisi jalan sedangkan hujan mulai mengguyur membasahi mereka. Tidak ada yang bergeming sedikitpun dari tempat mereka dan mereka hanya saling pandang satu sama lain.
Perasaan Vivian benar-benar hancur bukan karena Matthew menebas jari Carlk tapi karena orang yang mulai dia curigai sebagai buronannya ternyata mantan kekasihnya yang pergi lima tahun lalu.
Dia masih menatap Carlk dengan pandangan tidak percaya bahkan dia benar-benar kecewa dengan Carlk karena dia telah menipunya selama ini, jadi nama aslinya adalah Gary Wriston?
Sungguh bodoh dirinya yang dulu mempercayai Carlk dan menunggunya, rasanya dia ingin menertawakan kebodohannya selama ini.
Dia menyesal telah menunggu orang seperti Carlk dan dia juga menyesal telah menangisi Carlk selama ini tapi itu tidak seberapa karena sebentar lagi Vivian akan lebih kecewa dari pada ini.
Dengan perlahan air mata Vivian mengalir dan dengan suara pelan, Vivian bertanya pada Carlk, "Jadi kau Gary Wriston?"
"Vivi aku akan menjelaskan ini," ucap Carlk seraya membungkus tangannya menggunakan kemejanya.
"Tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi Carlk," jawab Vivian dengan perasaan kecewa.
Matthew memandangi Vivian, jadi Gary Wriston adalah mantan kekasih Vivian?
"Jadi dia mantan pacarmu babe?" tanya Matthew sedangkan Vivian mengangguk.
"Cih, hanya seorang sampah, aku kira siapa," hina Matthew sambil memandangi Gary dengan sinis.
"Diam kau Matthew Smith, ini tidak ada hubungannya denganmu!" teriak Gary marah.
"Tidak ada hubungannya? Asal kau tahu, Vivian adalah pacarku jadi jelas aku ada hubungan dengan hal ini."
"Apa kau bilang? Kau pacar Vivian?" Gary masih tidak percaya, bagaimana mungkin Vivian berhubungan dengan Matthew Smith?
"Benar, aku pacarnya. kami sudah melakukan banyak hal bersama-sama. Kami sudah tidur bersama dan kami sudah tinggal bersama. Apa kau kira dia gadis bodoh yang masih mau menunggu sampah sepertimu?" hina Matthew lagi.
Carlk bagaikan disambar petir mendengarnya, tidur bersama? Apa mereka sudah? Membayangkan Vivian bermesraan dengan Matthew saja sudah membuat hatinya panas dan dibakar api cemburu.
"Ba*ingan, ternyata kau yang merebutnya dariku?!" Carlk benar-benar tidak terima.
Jika pria lain bisa dia singkirkan dengan mudah tapi dia tidak menyangka jika Matthew Smith yang merebut Vivian darinya. Sungguh tidak terpikir olehnya sama sekali jika Vivian akan jatuh cinta pada Matthew Smith.
Sepertinya dia sudah salah perhitungan. Tidak, dia memang sudah salah perhitungan. Vivian yang dulu dia kenal sepertinya sudah tidak ada lagi, Vivian yang lugu dan polos juga takut dengan lak-laki sudah tidak ada lagi.
__ADS_1
"Aku tidak merebutnya darimu tapi kau yang mencampakkannya!" jawab Matthew dengan sinis.
Vivian menghapus air matanya sambil membuang wajahnya, perasaannya benar-benar campur aduk dan dia tidak mau melihat Carlk.
"Vivi dengarkan aku," pinta Carlk dan dia hendak mendekati Vivian tapi mata pedang Matthew sudah mengarah ke wajahnya.
"Jika kau berani mendekatinya maka akan aku tebas kepalamu!" ancam Matthew.
"Sialan!" umpat Gary kesal tapi dia tidak bisa melangkah lebih jauh jika tidak Matthew akan menebasnya tanpa ragu.
"Pergi Carlk, kita sudah berakhir!" ucap Vivian.
"Tidak Vivi, dengarkan penjelasanku," pinta Carlk.
"Aku mohon Carlk, pergilah dan jangan ganggu aku lagi," pinta Vivian tanpa mau memandanginya.
"Vivi, aku mencintaimu dan yang aku cintai sejak dulu hanya kau!" teriak Carlk dan dia harap Vivian mau mempercayainya.
"Cih, cinta? Cinta yang kau sebutkan itu cinta asli atau palsu?" ucap Matthew dengan sinis.
"Gary berhentilah berpura-pura, kau bilang kau mencintainya sejak dulu lalu bagaimana hubunganmu dengan Ella?"
Gary terbelalak kaget, bagaimana Matthew bisa tahu hubungannya dengan Ella?
Vivian juga memandangi Matthew, apa maksud ucapan Matthew?
"Apa maksudmu Matthew Smith? Jangan memfitnahku dan jangan memperkeruh suasana!" ucap Gary.
Hujan semakin deras dan kilat yang menyambar dari atas sana membuat situasi diantara mereka semakin terasa menegangkan.
Tidak ada orang lain di sisi jalan itu selain mereka bertiga bahkan mobil hanya melintas sesekali akibat cuaca yang semakin buruk.
Matthew menyeringai sedangkan Gary menatapnya dengan tatapan penuh kebencian, apa Ella membocorkan hal ini?
"Memfitnahmu? Asal kau tahu, aku tidak sepertimu!" ucap Matthew seraya memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya.
Untungnya foto kebersamaan Gary dengan Ella dia masukkan ke dalam saku celananya dan lihatlah, foto itu sangat berguna dan dia tidak perlu repot kembali ke mobil untuk mengambilnya.
__ADS_1
Tanpa Gary duga, Matthew melemparkan tumpukkan foto di depan wajahnya sambil berkata, "Hanya orang bodoh dan buta yang tidak bisa melihat hubungan kalian dan hanya orang bodoh yang tidak tahu bagaimana hubungan kalian dan sekarang kau bilang kau mencintai Vivian? Jangan membuat lelucon yang membuat orang muak Gary!"
Gary memejamkan matanya saat tumpukan foto kebersamaannya dengan Ella mendarat tepat di depan wajahnya dan setelah itu foto berhamburan dan ditiup angin.
Vivian menangkap foto yang terbang kearahnya dan melihatnya, dia tampak shock karena foto itu menunjukkan Gary dan Ella sedang bermesraan di sisi pantai.
"Hahahahaha!" Vivian tertawa tapi tawanya terdengar pilu, sekarang hatinya benar-benar beku dan tidak lama kemudian tawanya menjadi isak tangis penuh kekecewaan.
"Sialan kau Matthew, apa kau mengikutiku secara diam-diam?" Gary mencengkram foto yang dia ambil dengan erat dan sungguh kebenciannya pada Matthew semakin tumbuh besar di dalam hatinya.
"Itu tidak penting Gary, kau bilang kau mencintainya? Sekarang jelaskan padanya cinta seperti apa yang kau maksud?" tanya Matthew tapi Gary tidak bisa menjawabnya.
"Ayo kita pergi Matth," ajak Vivian.
Sudah cukup pembicaraan mereka dan dia tidak ingin melihat Carlk lagi. Sekarang perasaannya untuk pria itu sudah mati dan dia benar-benar kecewa karena Carlk telah menipunya.
"Vivi, aku dan Ella hanya?"
"Cukup!" teriak Vivian.
"Tidak perlu kau jelaskan lagi Carlk atau Gary atau siapapun kau aku tidak perduli! Kau mau dengan siapapun aku tidak akan perduli dan kau tidak perlu menjelaskannya padaku! Kita sudah lama berakhir dan sebaiknya kita berjalan di jalan masing-masing. Aku benar-benar kecewa padamu karena kau telah menipuku dan ini adalah air mata terakhirku karena menangisi kebodohanku. Betapa bodohnya aku selama ini menunggu orang sepertimu tapi sekarang mataku sudah terbuka lebar."
"Aku sungguh menyesal telah membuang waktuku yang berharga untuk orang sepertimu tapi sejak aku mengenal Matthew, semua sudah berubah. Jangan kau pikir hanya kau laki-laki yang bisa mengambil hatiku Gary karena sekarang, aku mencintai Matthew dan kau sudah tidak ada lagi di hatiku bahkan perasaan itu sudah mati," ucap Vivian dengan nada tinggi.
Gary mengumpat dalam hati, padahal dia membawa Vivian ke Amerika untuk mengadu domba Vivian dengan Maxton tapi kenapa Vivian harus bertemu dengan Matthew Smith dan jatuh cinta padanya?
"Ini peringatan untukmu Gary," ucap Matthew seraya mengangkat pedangnya kembali dan mengarahkan benda tajam itu ke wajah Gary.
"Jika kau berani mengganggunya dan membuatnya menangis, aku tidak akan ragu untuk mendatangimu dan menghancurkanmu! Jangan kau pikir ini hanya sebuah lelucon belaka dan jika kau tidak sayang pada nyawamu maka kau boleh mencobanya dan pada saat itu, kita akan bertarung sampai mati!" ancam Matthew.
Gary benar-benar kesal tapi dia hanya bisa mengumpat dalam hati. Foto-fotonya berhamburan di atas jalan bahkan terbawa air yang mengalir dan dia tidak bisa menjelaskan apapun lagi pada Vivian.
Matthew segera membawa Vivian pergi karena mereka sudah selesai apa lagi, ada yang lebih penting dari pada hal ini.
Gary mencengkram tangannya yang masih terasa sakit bahkan dia memunguti potongan dua jarinya yang ada di atas aspal jalan sambil berkata, "Jangan kau pikir kau sudah menang Matthew Smith. Hari ini aku akan membiarkanmu menang tapi lain kali, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi dan aku akan menghancurkan kalian berdua! Mulai sekarang kalian berdua akan menerima balasan dariku jadi tunggu saja, aku pasti akan menghancurkan kalian!"
Gary segera pergi membawa potongan jarinya dan tentunya dia menuju sebuah tempat, di mana rencana balas dendamnya akan segera di mulai.
__ADS_1