Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Aku akan menjadi kekuatan untukmu


__ADS_3

Pagi itu awan gelap menutupi langit dan sepertinya hari ini akan turun hujan. Seperti langit yang gelap begitu juga dengan perasaan Vivian pagi ini.


Ketika bangun dari tidurnya, Vivian tampak tidak bersemangat. Dia sungguh malas untuk bangun bahkan dia malas melakukan apapun hari ini.


Rasanya ingin tidur seharian tapi dia harus pergi bekerja dan melakukan sesuatu hari ini. Dia akan mencari tahu kebenarannya sebelum kedua orang tuanya datang.


Dia juga tidak mau menunda karena bagaimanapun dia harus menghadapinya tapi walau begitu, dia merasa malas untuk bangun dari tidurnya bahkan pandangannya kosong dan dia juga tidak memikirkan apapun.


Bagaimanapun dia masih shock dan terpukul walaupun dia belum memastikan dia putri Maxton atau bukan tapi sebaiknya dia menyiapkan hati untuk hal ini.


Vivian memeluk bantalnya dan memejamkan matanya kembali, dia ingin seperti itu sebentar sebelum menghadapi hari yang paling berat dalam hidupnya.


Tidur sebentar lagi mungkin baik untuk perasaannya dan lagi pula waktu masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Dia juga malas bangun untuk berolahraga seperti yang biasa dia lakukan setiap pagi.


Pada saat itu, Matthew memeluk Vivian dan mencium ujung kepalanya dengan lembut. Dia tahu Vivian sudah bangun karena dia merasakan pergerakannya tadi.


"Morning babe, bagaimana dengan perasaanmu hari ini?" bisiknya.


Vivian hanya menggeleng karena dia sedang malas berbicara sedangkan Matthew membalikkan tubuh Vivian untuk melihat wajahnya.


Wajah Vivian tampak kusut dan matanya tampak sedikit membengkak, itu akibat dia terlalu banyak menangis semalam.


Matthew mengusap wajah Vivian dan mencium kedua matanya secara bergiliran, dia sungguh tidak suka melihat keadaan Vivian yang seperti itu tapi dia bisa mengerti dengan keadaan Vivian saat ini.


"Jangan banyak menangis babe, menangis tidak menyelesaikan masalah."


Vivian hanya menjawab dengan sebuah anggukan, sedangkan Matthew berdecak kesal. Dia lebih suka dengan Vivian yang biasanya bahkan dia merindukan tendangan Vivian. Itu jauh lebih baik dari pada Vivian murung seperti ini dan tidak mau berbicara.


"Hei, kenapa kau tidak mau berbicara denganku? Apa kau marah padaku babe?" tanya Matthew sambil mengusap punggungnya tapi Vivian kembali menjawab dengan sebuah gelengan.


"Jangan diam seperti ini babe, aku tidak suka!"


Vivian memeluk Matthew dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di dada Matthew sambil berkata, "Aku sedang malas berbicara Matth."


"Kenapa?"


"Entahlah, perasaanku sedang tidak baik."


"Baiklah, aku kira kau marah denganku."


"Tidak, untuk apa aku marah padamu? Aku justru berterima kasih karena ada kau di saat keadaanku sedang seperti ini."


"Aku sangat senang babe jika aku berguna untukmu."


"Hei memangnya kau barang?"


"Bukan begitu sayang," Matthew mengusap kepala Vivian dan mencium dahinya.

__ADS_1


"Jika kau ingin menangis maka carilah aku dan tumpahkan semua kesedihanmu padaku. Aku ingin kau berbagi denganku dan mengatakan semua kesedihanmu. Inilah gunanya aku, tidak saja memberikan cinta untukmu tapi aku juga akan menjadi orang yang bisa kau andalkan dan aku akan menjadi kekuatan untukmu di saat kau sedang sedih jadi jangan memendam kesedihanmu sendirian, kau harus berbagi denganku agar aku tahu apa yang sedang kau rasakan."


Vivian tersenyum tipis dan semakin memeluk Matthew dengan erat, tidak seharusnya dia membuat Matthew khawatir jadi sebaiknya dia tidak bersedih lagi.


"Terima kasih Matth, jadi apa kau mau menangis denganku?"


"No!" tolak Matthew.


"Kenapa? Kau ingin aku berbagi denganmu bukan? Jadi ayo menangis denganku."


"No...no..and no! Sangat memalukan seorang pria menangis babe."


"Ayolah, hanya ada aku yang melihat jadi kau tidak perlu malu."


"Jangan bercanda!" tolak Matthew seraya menggigit bahu Vivian.


Vivian berteriak tapi Matthew tidak juga berhenti bahkan kepala Matthew sudah masuk ke dalam bajunya dan mencium dadanya.


"Jangan Matth, aku sedang datang bulan!" ucap Vivian seraya mendorong kepala Matthew.


"Aku tahu, bagaimana perasaanmu sekarang babe?"


"Sudah lebih baik."


"Aku senang mendengarnya," ucap Matthew seraya mengusap pipi Vivian dengan lembut tapi Vivian diam saja bahkan tidak ada senyuman di wajahnya.


"Matth!" Vivian memegangi kedua tangan Matthew dan tampak kesal.


"Ayolah, aku tidak suka melihat wajahmu seperti ini!! Ayo tersenyum jika tidak aku akan menarik pipimu sepanjang hari."


"Kau gila! Bagaimana jika pipiku jadi bengkak?!"


"Oh aku ingin melihat pipimu bengkak seperti babi!"


"Hei jangan coba-coba!"


"Aku ingin mencobanya!" ucap Matthew seraya men*ndih tubuh Vivian.


Teriakan Vivian terdengar karena Matthew menarik kedua pipinya, dia berusaha memberontak tapi Matthew tidak melepaskannya bahkan teriakannya berubah menjadi tawa.


"Stop Matth!" pinta Vivian di sela tawanya karena Matthew sedang menggelitiknya.


"No!" ucap Matthew seraya melanjutkan aksinya.


Vivian kembali tertawa dan dia tidak tahan lagi, "Matth, oh my God! Apa kau ingin aku mengompol di ranjang?"


Matthew menghentikan aksinya sedangkan Vivian mengusap air matanya yang mengalir akibat tertawa.

__ADS_1


"Akhirnya kau tertawa juga," Matthew mengusap pipi Vivian sambil tersenyum.


"Ini gara-gara kau!"


"Babe, seberat apapun permasalahan yang kita hadapi jangan lupa untuk tersenyum. Aku lebih suka melihatmu seperti ini dan ingatlah, selalu ada jalan keluar untuk setiap masalah. Kau tidak perlu takut karena aku bersama denganmu."


"Thanks Matth, kau memang yang terbaik."


"Jadi?" Matthew merebahkan dirinya di samping Vivian dan memeluknya.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Apa kau akan memberikan rambutmu pada Jager Maxton untuk tes DNA?"


"Tidak Matth," jawab Vivian.


"Kau tidak ingin tes DNA?"


"Bukan begitu, sebelum kedua orang tuaku datang, aku ingin mencari kebenarannya."


"Wow, ayah dan ibumu mau datang?"


"Ya, ibuku bilang begitu."


"Oke baiklah, semoga kakekmu tidak ikut karena aku belum menyiapkan bantal untuk mengganjal bokongku!"


"Sebaiknya kau tidak menghindar karena aku akan membantu kakek menangkapmu agar dia bisa menendang bokongmu sampai puas!" ucap Vivian sambil terkekeh.


Matthew tersenyum dan mengusap pipi Vivian, setidaknya keadaan Vivian sudah lebih baik dari pada tadi.


"Jadi katakan padaku, apa yang ingin kau lakukan dan kenapa kau tidak mau tes DNA?"


"Hei aku tidak bilang jika aku tidak mau tes DNA."


"So?"


"Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi Matth."


"Jadi kau akan menemui Maxton?"


"Ya, setelah pulang bekerja aku akan pergi menemuinya dan mencari tahu apa yang terjadi dan setelah mendengar semuanya maka aku akan mengambil keputusan, aku harus memberikan rambutku atau tidak untuk tes DNA. Walaupun sepertinya aku memang putrinya tapi aku tetap ingin tahu semuanya."


"Baiklah, itu keputusan yang bagus babe. Aku senang kau bisa mengambil keputusan dengan cepat."


"Thanks Matth, semua ini berkatmu dan aku sangat berterima kasih padamu karena kau tidak mengambil rambutku secara diam-diam untuk diberikan pada Maxton."


"Aku tidak mau membuatmu marah babe, lagi pula kita harus saling menghargai bukan? Aku tidak ingin menghancurkan hubungan kita dan aku tahu kau pasti marah jika aku mengambil rambutmu secara diam-diam."


"Thanks," ucap Vivian lagi seraya mencium pipi Matthew.

__ADS_1


Matthew benar-benar menghargainya dan sangat menyayanginya dan dia sangat bersyukur akan hal itu. Matthew mencium dahi Vivian dengan lembut, dia memang bisa mengambil rambut Vivian dengan mudah tapi resiko dibalik itu semua? Lebih baik Vivian mengetahui semua kebenarannya sebelum tes DNA agar dia tidak terlalu terpukul nantinya.


__ADS_2