
Ruangan yang dingin membuat tubuh Vivian kedinginan bahkan dia mulai merasa menggigil dan kepalanya mulai pusing.
Dia sudah merasa tidak enak badan begitu dia tiba di kantor tapi dia berusaha menahannya karena ada hal penting yang harus dia bahas dengan Patrik dan atasannya.
Mereka membahas kasus yang terjadi semalam di sebuah ruangan dan begitu selesai, tubuh Vivian semakin menggigil begitu keluar dari ruangan itu.
Vivian rasa sebaiknya dia pulang untuk beristirahat apalagi dia merasa kondisi tubuhnya kurang baik, selagi dia masih punya kemampuan untuk membawa kendaraan lebih baik dia segera bergegas.
Patrik sangat heran saat melihat wajah pucat Vivian, dia segera menghampiri Vivian yang sedang merapikan mejanya.
"Angel, wajahmu tampak pucat, ada apa?"
"Oh Patrik, sepertinya aku sedang tidak enak badan. Aku mau minta ijin untuk pulang lebih cepat."
"Apa kau baik-baik saja Angel? Bagaimana jika aku yang mengantarmu pulang?" tanya Patrik. Ini kesempatan bagus untuk mencari tahu, apa Angel tinggal dengan seseorang?
"Tidak Patrik, terima kasih. Aku masih bisa pulang sendiri!" tolak Vivian sambil tersenyum.
"Tapi Angel, sangat berbahaya membawa kendaraan dengan kondisimu yang seperti ini."
"Tidak apa-apa, terima kasih untuk niat baikmu. Aku mau minta ijin dan pulang," ucap Vivian sambil menepuk bahu Patrik.
Vivian segera melangkah pergi menuju ruang atasannya, walaupun kepalanya sakit tapi dia masih bisa membawa motornya. Lagi pula dia akan membeli obat saat diperjalanan pulang nanti.
Setelah mendapat ijin Vivian segera keluar dari kantor dan pada saat melihatnya, Patrik menghampiri Vivian dan menawarkan bantuan karena dia sangat ingin mengantar Vivian pulang.
"Angel, kau yakin tidak apa-apa?"
"Ya," jawab Vivian seraya berjalan menuju motornya.
"Jangan sampai terjadi sesuatu padamu di jalan jadi biarkan aku mengantarmu."
"Terima kasih atas niat baikmu Patrik, tapi aku benar-benar tidak apa-apa," Vivian memakai jaketnya dan naik ke atas motor.
"Tapi Angel?"
"Thanks," ucap Vivian seraya memakai helmnya dan menyalakan mesin motor.
Patrik menghembuskan nafasnya kecewa saat Vivian sudah melesat pergi. Padahal ini adalah kesempatannya tapi tidak apa-apa karena dia masih punya waktu.
Di jalanan, kepala Vivian semakin terasa sakit. Dia mulai menurunkan laju motornya dan melihat-lihat, apakah ada toko obat di sekitar sana?
Karena kepalanya semakin terasa berdenyut, Vivian menghentikan laju motornya dan berhenti di sisi jalan.
Vivian membuka helm yang dia pakai dan memegangi kepalanya, ini gawat, sepertinya dia harus mencari tempat untuk beristirahat sebentar.
__ADS_1
Di depannya ada sebuah Cafe, mungkin sebaiknya dia beristirahat di sana sebentar. Itu bukan ide yang buruk jadi Vivian membawa motornya menuju Cafe yang tidak jauh darinya.
Segelas minuman hangat mungkin bisa membuat keadaannya membaik sehingga dia bisa pulang untuk beristirahat.
Vivian memarkirkan motornya begitu tiba dan segera masuk ke dalam Cafe dengan terburu-buru. Dia juga mencari sebuah tempat duduk yang nyaman dan memesan segelas minuman hangat.
Dia bahkan duduk di luar agar tidak semakin kedinginan akibat udara dari pendingin ruangan. Tidak lama kemudian, segelas minuman hangat yang dia pesan sudah diantar.
Vivian memeluk lengannya yang dingin, dia harap setelah ini dia bisa pulang. Vivian menyeruput minumannya tapi pada saat itu, mata Vivian membulat melihat orang yang sangat dia kenal sedang berjalan memasuki Cafe.
Vivian meletakkan gelasnya dan bergumam, "Freddy?"
Mata Vivian tidak lepas dari dua orang yang tampak akrab bahkan dia melihat Freddy menarikkan kursi untuk gadis yang sedang bersama dengannya melalui kaca jendela yang ada di Cafe. Apa dia tidak salah lihat?
Vivian masih diam saja memperhatikan dua orang yang ada di dalam Cafe, dia bahkan melupakan minuman hangatnya dan matanya tidak berpaling dari kedua orang itu.
Dia pernah melihat gadis itu sewaktu Freddy membantunya, dia sedang bersama dengan gadis itu disebuah butik. Tiba-tiba saja Vivian mengingat sesuatu, waktu itu dia sangat ingat jika dia melihat gadis itu mencium Freddy.
Vivian bangkit berdiri, sekarang dia paham. Gadis itu pasti pacar Freddy, jika tidak mana mungkin mereka begitu akrab dan mesra dan lihatlah, mereka berdua tampak mesra saat ini.
Tanpa Vivian inginkan, air matanya menetes begitu saja. Jika memang sudah punya pacar kenapa masih mengejarnya? Apa selama ini Freddy hanya mempermainkannya?
Di dalam Cafe, Ainsley dan Michael tidak tahu jika Vivian ada di luar dan memperhatikan mereka dengan api kemarahan di hatinya. Mereka mampir ke Cafe itu atas permintaan Ainsley.
"Ajak kak Matthew saja, aku ada pekerjaan!" tolak Michael.
"Kak Mich, please. Aku akan mengenalkanmu dengan temanku nanti," bujuk Ainsley.
"Tidak tertarik!"
"Kak," Ainsley bangkit berdiri dan duduk di samping kakaknya, dia juga merangkul lengan kakaknya untuk membujuknya.
"Kak Mich, please," pinta Ainsley memohon seraya bersandar pada bahu kakaknya. Dia melakukan hal itu supaya kakaknya mau menemaninya lagi tapi siapa yang menduga, seorang gadis yang ada di luar sana benar-benar kesal melihatnya.
Dengan kemarahan di hati, Vivian berjalan masuk ke dalam. Dia akan memergoki Freddy dan mengakhiri hubungan mereka saat ini juga. Dia tidak mau dipermainkan oleh pria itu lebih jauh lagi. Cukup sampai disini saja hubungan mereka.
Vivian berjalan dengan cepat dan mengabaikan kepalanya yang semakin sakit, dia bahkan tidak mau menangis supaya tidak terlihat menyedihkan.
Begitu tiba di meja Michael dan Ainsley, Vivian menggebrak meja dengan kencang.
"Freddy!"
Michael dan Ainsley sangat kaget melihat Vivian ada di sana, wah sepertinya gadis itu salah paham.
"Siapa kau?" tanya Ainsley pura-pura.
__ADS_1
"Aku tidak ada urusan denganmu nona!" jawab Vivian dengan nada datar.
"Lalu kenapa kau menggebrak meja ini?" tanya Ainley lagi.
"Aku ingin berbicara dengan pria yang ada di sampingmu!" jawab Vivian.
"Tidak boleh!" Ainsley menarik tangan kakaknya dan berdiri di depannya.
"Ainsley," Michael memanggil adiknya tapi Ainsley mengedipkan sebelah matanya karena dia ingin menggoda pacar kakak pertamanya.
"Ini permasalahan kami tolong jangan ikut campur!" pinta Vivian.
"Jika aku mau ikut campur memangnya kenapa?" tanya Ainsley dengan santai.
"Oh maaf, kau pacarnya aku lupa," ucap Vivian sambil tersenyum sinis.
"Baiklah, mulai sekarang jangan mencariku Fredd dan jangan kembali ke rumahku lagi!" ucap Vivian dengan dingin.
"Angel, bukan begitu," Michael ingin menjelaskannya tapi Vivian sudah berlari pergi sambil berderai air mata.
"Wow, ini gawat," ucap Michael.
"Kak, aku tidak bermaksud?" ucap Ainsley pula.
"Ayo ke kantor temui kak Matthew," ajak Michael.
Ainsley mengangguk, padahal dia berniat menggoda pacar kakaknya saja tapi siapa yang menduga jika gadis itu akan salah paham?
Sebaiknya mereka segera mencari kakak mereka dan mengatakan apa yang terjadi, semoga saja kakaknya tidak ditendang oleh gadis itu nanti.
Vivian terus berlari dan pandangannya mulai buram apalagi kepalanya tambah sakit, dia berlari menuju parkiran sampai tanpa sengaja menabrak seseorang yang sedang berjalan menuju mobilnya.
"Hei, hati-hati!" ucap orang itu.
"Maaf," jawab Vivian dengan lemah.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" tanya orang saat melihat keadaan Vivian.
Vivian melihat orang itu sekilas, sebaiknya dia meminta tolong pada orang itu untuk mengantarnya pulang karena dia rasa dia tidak bisa membawa motornya lagi.
"Tolong antar aku, rumahku tidak jauh lagi. Apakah boleh?"
"Tentu saja," jawab orang itu sambil membawa Vivian menuju mobilnya.
Setelah mengatakan alamatnya, Vivian diantar pulang bahkan setelah tiba, orang yang mengantarnya membantu Vivian masuk ke dalam rumahnya. Vivian sangat berterima kasih tapi mata-mata yang ada di samping rumahnya, sudah siap menyergap sesuai perintah karena mereka mengira orang yang mengantar Vivian adalah orang yang membantunya dan tinggal dengannya.
__ADS_1