Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Thanks and Sory


__ADS_3

Di pinggir danau yang ada di kota London, Vivian sedang berjalan dengan santai dan memandangi indahnya pemandangan danau.


Beberapa ekor bebek tampak berenang di atas air dan matahari sore yang menerpa tampak membuat air berkilau indah.


Di atas sebuah jembatan yang lumayan jauh darinya, tampak dua orang pria sedang berbicara. Semula mereka terlihat biasa saja tapi tidak lama kemudian, mereka terlihat bertengkar dengan sengit.


Vivian mengernyitkan dahinya untuk melihat siapa yang bertengkar. Karena masih cukup jauh jadi dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah kedua orang itu.


Api kemarahan mulai menguasai salah satu dari mereka dan mereka seperti sedang memperebutkan sesuatu. Vivian semakin berjalan mendekati mereka dan samar-samar dapat mendengar teriakan dari salah seorang pria itu.


"Kau tidak boleh menyakitinya karena dia tidak tahu apa-apa!"


Vivian mengernyitkan dahinya karena dia merasa tidak asing dengan suara yang baru saja dia dengar.


"Itulah kesalahan yang kau perbuat, kau tidak jujur dengannya!" ucap pria satunya lagi dan Vivian juga merasa mengenal suaranya.


"Ini bukan urusanmu dan sebaiknya kau jangan mengganggunya!"


Vivian semakin berjalan mendekat dan semakin dekat, setelah jarak mereka kira-kira sepuluh meter, mata Vivian membola karena kedua pria yang sedang bertengkar sangat dia kenal.


Vivian menghentikan langkahnya dan berkata, "Matthew, kakek?"


Saat menyadari kehadirannya, Matthew menatap Vivian dan tersenyum dengan licik. Vivian belum mengerti dengan apa yang terjadi tapi tidak lama kemudian Matthew mengeluarkan sepucuk senjata api dan mengarahkan benda itu pada dahi kekeknya.


"Tidak, jangan!" teriak Vivian ketakutan dan dia segera berlari menghampiri mereka tapi baru saja Vivian berlari beberapa langkah, pistol yang dipegang oleh Matthew sudah mengeluarkan timah panas dan peluru menembus kepala kakeknya.


"Kakek!" teriak Vivian histeris ketika tubuh kakeknya didorong oleh Matthew ke dalam danau.


Vivian kembali berlari dengan berderai air mata sedang Matthew sudah berjalan ke arah sebuah mobil dan pergi. Vivian menangis dan berteriak saat melihat tubuh kakeknya terapung di atas air dalam keadaan sudah tidak bernyawa.


"Kekek, tidak!" teriak Vivian tapi pada saat itu, seseorang menepuk pipinya dan memanggil-manggilnya.


"Babe, babe, bangun! Ada apa denganmu?" Matthew mencoba membangunkan Vivian dan tampak Khawatir.


Dia sangat kaget dan terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara Vivian berteriak dan memanggil kakeknya.


Vivian duduk di atas ranjang dan tampak terengah-engah, dengan pelan, Matthew menyeka keringat yang membanjiri dahi Vivian padahal suhu kamar tidak panas.


"Babe, apa kau mimpi buruk?"


"Kau!" Vivian mencengkram sprei dengan erat dan menatap Matthew dengan tatapan tajam penuh kebencian.


"Ada apa?" Matthew benar-benar heran.


"Kau! Kenapa kau membunuh kakekku, kenapa?" Vivian berteriak dan menangis. Dia juga memukul dada Matthew dan terus bertanya, kenapa?

__ADS_1


Dia seperti itu karena dia shock melihat kakeknya di bunuh oleh Matthew di depan matanya sendiri.


"Babe, kau hanya bermimpi? Untuk apa aku membunuh kakekmu?" Matthew menangkap kedua tangan Vivian dan memeluknya.


"Kau hanya bermimpi jadi tenanglah," ucap Matthew lagi seraya mengusap punggung Vivian untuk menenangkannya.


Vivian mengusap air matanya dengan kasar, kenapa dia bermimpi seperti itu? Apa yang dia lihat tadi bagaikan nyata, apa maksud dari mimpinya?


"Maaf," ucap Vivian dengan pelan.


"Tidak apa-apa, apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Matthew. Dia sangat ingin tahu apa sebenarnya yang dimimpikan oleh Vivian?


Vivian mendorong tubuh Matthew dan mengusap air matanya yang tersisa, dengan perlahan, Vivian beringsut ke sisi ranjang dan merapikan rambutnya yang berantakan.


"Babe?"


"Aku ingin sendirian," jawab Vivian seraya bangkit berdiri.


Vivian mengambil ponselnya dan berjalan keluar dari kamar. Dia ingin menghubungi kakeknya dan menanyakan keadaannya.


Matthew mengumpat kesal saat Vivian sudah pergi, apa salahnya dan apa maksud Vivian jika dia membunuh kakeknya?


Dia tahu Vivian hanya bermimpi tapi kenapa harus bermimpi dia yang membunuh kakeknya? Dia bahkan tidak tahu rupa kakek Vivian bahkan nama kakeknya saja dia tidak tahu.


Di pinggir pantai, Vivian memeluk lengannya karena terpaan angin laut yang terasa sangat dingin. Vivian memandangi laut malam sambil menghubungi kakeknya.


Entah kenapa dia bermimpi seperti itu dan dia berharap, kakeknya baik-baik saja dan mimpinya tidak pernah menjadi nyata.


Setelah sekian lama menunggu, terdengar suara kakeknya dan Vivian langsung bernafas dengan lega.


"Hallo."


"Kakek?" ucapnya dan tanpa terasa air matanya mengalir karena sebuah kelegaan mengalir dalam hatinya.


"Vivi, bagaimana dengan kabarmu di sana?" tanya kakeknya.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kakek? Aku sangat merindukan kakek," ucap Vivian sambil menghapus air matanya.


"Kekek juga baik-baik saja Vivi, kenapa tiba-tiba merindukan kakek?"


"Aku hanya rindu dengan kekek memangnya tidak boleh!" protes Vivian dengan suara manja.


David terkekeh, sesungguhnya dia juga sangat rindu dengan cucunya. Jika Vivian ada di rumah, mereka akan menghabiskan waktu bersama dengan bermain anggar atau main catur di belakang rumah mereka sambil menikmati segelas teh.


"Cepatlah kembali Vivi, kakek sudah sangat ingin bermain anggar denganmu. Mumpung tenaga kakek masih ada," ucap Kakeknya.

__ADS_1


"Tunggulah kakek, saat aku pulang kita akan bermain beberapa ronde dan kakek harus mengabulkan permintaanku saat aku menang."


"Memangnya kau mau apa?" tanya kakeknya.


"Cincin dengan batu permata yang berbentuk air mata putri duyung," jawab Vivian.


"Wow, kakek akan pergi kelaut dan berubah menjadi pria tampan untuk memikat banyak putri duyung dan setelah itu kakek akan mencampakkan mereka supaya mereka menangis!"


"Kakek playboy!" ucap Vivian sambil tertawa. Perasaannya benar-benar tenang sekarang karena kakeknya baik-baik saja.


Selama Vivian berbicara dengan kakeknya, Matthew berdiri tidak jauh darinya dengan sebuah kemeja yang dia ambil saat melihat Vivian berada di pinggir pantai.


Matthew mendekati Vivian dengan perlahan dan memakaikan kemeja di bahu Vivian. Saat menyadarinya, Vivian melihat Matthew sejenak sedangkan Matthew tersenyum dan mengusap kepalanya.


Karena tidak ingin mengganggu Vivian, Matthew hendak melangkah pergi tapi Vivian meraih tangannya dan menahannya.


"Kakek, lain kali kita bicara lagi. Ini masih jam dua pagi dan aku mau kembali tidur."


"Baiklah Vivi, jaga dirimu baik-baik," pesan kakeknya.


"Pasti kakek, kakek juga harus jaga diri."


Setelah selesai berbicara dengan kakeknya, Vivian masih memegangi tangan Matthew dan matanya kembali memandangi laut malam.


"Maafkan sikapku tadi Matth, aku hanya shock," ucapnya.


"Tidak apa-apa," Matthew melepaskan pegangan tangan mereka dan memeluk Vivian dari belakang.


"Jadi kau bermimpi aku membunuh kakekmu?"


"Ng," jawab Vivian sambil mengangguk.


"Aku tidak mungkin melakukannya sayang, untuk apa aku membunuh keluargamu padahal kau tahu aku sangat mencintaimu!"


"Aku tahu, maaf itu hanya mimpi burukku."


"Sudah lebih baik sekarang?"


"Ya, maaf telah membuatmu khawatir."


"Kalau begitu ayo kita pulang, nanti kau masuk angin!" Matthew memutar tubuh Vivian dan menggendongnya bak seorang putri.


"Thanks and sory," ucap Vivian seraya mencium pipi kekasihnya yang tampan.


Matthew hanya tersenyum dan membawa Vivian kembali ke dalam rumah, sedangkan Vivian memeluk lehernya dengan erat. Dia sangat berharap mimpinya tidak menjadi nyata karena dia percaya Matthew tidak akan pernah melakukannya tapi siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?

__ADS_1


__ADS_2