Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
A murder case


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi dan saat itu, di sebuah Cafe yang terdapat di tengah-tengah kota, seorang pria sedang duduk dan memakai sebuah topi. Pria itu sedang menunggu seseorang yang akan dia jadikan korban hari ini.


Dia melakukan hal itu karena dia ingin memancing Angel keluar untuk melihatnya. Cafe itu sangat ramai dikunjungi oleh pengunjung apalagi saat pagi, tidak saja pastri yang terdapat di sana sangat enak tapi kopi buatan mereka juga tidak diragukan.


Setiap pengunjung yang datang dan pergi menyamarkan keberadaannya apalagi pria itu duduk disebuah meja yang terdapat diujung ruangan.


Pria itu menghisap rokoknya dengan santai, sekalipun aksinya akan ketahuan tapi identitasnya tidak akan pernah terbongkar. Setelah bertemu dengan korbannya, dia akan langsung pergi dan demi memancing Vivian datang, dia sudah menyiapkan kejutan untuk gadis itu.


Setelah beberapa saat menunggu, seorang pria tua masuk ke dalam Cafe dan segera mencari keberatan orang yang ingin bertemu dengannya.


Karena mereka sudah membuat janji sebelumnya, maka dia tidak mengalami kesulitan sama sekali. Pria tua itu langsung menghampiri orang yang ada diujung ruangan.


"Maaf tuan Maxton, aku terlambat!" ucapnya.


"Tidak apa-apa, aku baru datang!" jawab Maxton.


"Jadi apa yang ingin tuan Maxton bicarakan denganku?"


"Santai saja tuan, waktu masih panjang. Sebaiknya kita nikmati kopi yang terkenal di sini!" ucap Maxton.


"Baiklah, sebuah kehormatan bagiku karena tuan Maxton mau meluangkan waktu dan mengajakku menikmati secangkir kopi di sini," ucap pria tua itu tanpa tahu jika dia akan dijadikan korban hari ini oleh Maxton.


Maxton tersenyum dan berkata dalam hati, "Ini memang kehormatan bagimu karena kau mau menyerahkan nyawamu untukku!"


Seorang waiters yang bekerja di Cafe pun dipanggil untuk memesan segelas kopi.


Maxton bersikap biasa saja bahkan saat kopi yang dipesan oleh si pria tua datang, dia bersikap biasa saja.


Maxton mengeluarkan sesuatu dan mereka mulai membahasnya, cukup lama mereka berbicara dan karena bagi pria tua pembicaraan mereka lebih penting jadi dia tidak menyentuh kopinya.


Ketika merasa ini sudah waktunya, Maxton menyudahi pembicaraan mereka.


"Baiklah, aku sudah harus pergi dan jika ada apa-apa segera hubungi aku," ucap Maxton.


"Terima kasih atas waktu tuan Maxton," pria tua itu bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya.


Maxton tersenyum dan menjabat tangan si pria tua, akhirnya yang dia tunggu tiba juga.


Setelah berjabat tangan, Maxton segera melangkah pergi sambil membetulkan topi yang dia pakai.


Sebelum mencapai pintu keluar, Maxton mengeluarkan sesuatu dari saku jaket yang dia pakai dan berjalan ke arah tong sampah. Tanpa ragu Maxton membuangnya ke dalam tong sampah sambil menyungingkan bibirnya.


Dia segera pergi setelah selesai dengan tujuannya, sedangkan si pria tua yang menjadi korbannya mulai menyeruput kopi tanpa curiga sama sekali.


Kopi mulai diteguk beberapa kali dan tidak lama kemudian, si pria tua tampak tidak nyaman dan tangannya mulai bergetar.


"Prang!" suara gelas yang pecah menarik perhatian semua pengunjung yang ada di sana belum lagi tubuh si pria tua yang yang ambruk jatuh ke atas lantai.


Manager yang bekerja di sana langsung berlari ke arah si pria tua begitu juga dengan beberapa karyawan lainnya. Mereka harus melihat apa yang terjadi dengan pengunjung mereka.


Si pria tua menggelepar di atas lantai sambil memegangi dadanya dan hal itu membuat pengunjung yang ada di sana langsung panik.


Manager di sana langsung memerintahkah anak buahnya untuk menghubungi Ambulance dan juga polisi tapi sebelumnya dia berusaha memberi pertolongan pada pria tua itu.

__ADS_1


"Tuan, apa yang terjadi pada tuan?" tanya manager itu.


"A...a...a..!" pria itu ingin menyampaikan sesuatu tapi terasa sulit.


"Apa tuan? Katakan padaku?" sang manager berusaha agar si pria tua tetap sadar.


"A..agen," ucap pria itu dengan susah payah.


"Agen?" tanya sang manager sedangkan pria tua itu mengangguk.


Mata pria tua itu mulai naik ke atas dan nafasnya sudah hampir putus, dengan tangan yang bergetar, si pria tua menunjuk ke atas sambil berusaha mengatakan sesuatu, "An...an...angel!" ucapnya dengan sisa tenaga yang ada dan setelah itu si pria tua menghembuskan nafas terakhirnya.


"Tuan...tuan!" sang manager mercoba memanggil dan menggoyang tubuh pria tua itu tapi sayang, pria tua itu sudah tidak bernyawa lagi.


Tidak butuh lama, polisi mulai berdatangan dan tempat itu mulai disterilkan. Beberapa orang dijadikan saksi dan mulai diintrogasi begitu juga dengan Manager yang bekerja di sana.


Dia mengatakan kepada polisi ucapan terakhir si pria tua yang digabung menjadi agen Angel.


Garis polisi mulai dipasang di sekitar Cafe, tidak ada yang boleh mendekat selain petugas dan tubuh si pria tua sudah di bawa pergi oleh Ambulance untuk di otopsi.


Karena nama seorang agen disebut, jadi FBI dipanggil ke lokasi kejadian dan Patrik diperintahkan pergi ke tempat itu untuk melihat apa yang terjadi.


Sebelum Vivian dipanggil, dia ada di rumahnya dan sedang membersihkan kamarnya yang tertunda.


Besok dia sudah kembali bertugas dan tidak punya waktu untuk membersihkan rumahnya.


Patrik belum menghubunginya saat itu jadi dia belum tahu apa yang telah terjadi, dia bahkan beristirahat di depan televisi sambil menikmati semangkuk popcorn setelah membersihkan kamarnya.


Pada saat itu, Matthew mendekati Vivian dan duduk di sampingnya. Dia bahkan menarik Vivian agar bersandar pada bahunya.


"Aku hanya ingin kau bermanja denganku babe," jawab Matthew sambil mengusap wajah Vivian.


"Ck, aku tidak tahu bagaimana caranya bermanja-manja!"


"Mau aku ajari?"


Vivian menatap Matthew dengan tajam, sedangkan Matthew tersenyum.


"Tidak perlu, dari pada kau mengajariku bermanja-manja lebih baik kau mengajariku bagaimana cara menjinakkan bom seperti waktu itu!"


"Oh aku lupa dengan hal ini, tidak ada yang kita lakukan hari ini bagaimana jika aku mengajarimu sekarang."


"Benarkah?" wajah Vivian langsung berseri karena senang.


"Ya, lagi pula aku sudah berjanji bukan?"


"Oh akhirnya kau berguna juga!"


"Hei, apa maksud ucapanmu!" .


Vivian hanya terkekeh dan menyambar minumannya, ini kesempatannya untuk mengetahui lebih banyak mengenai benda berbahaya itu.


"Baiklah, ayo kita mulai!" ajaknya.

__ADS_1


"Tunggu dulu babe, ilmu itu tidak gratis dan ada imbalannya."


"What?" Vivian melotot dan tampak tidak senang.


"Kau harus mencium pipiku setiap kau ingin mempelajari satu model bom."


"Oh my God!" Vivian langsung terlihat frustasi.


"Ayolah, hanya cium pipiku dan kau tidak akan rugi apa-apa. Aku jamin kau akan melihat beberapa bom yang belum pernah kau lihat sebelumnya."


"Benarkah?"


"Yes, aku jamin," jawab Matthew sambil tersenyum.


"Ck, baiklah dasar curang dan penuh perhitungan!"


Matthew tersenyum dengan lebar, ini benar-benar menguntungkan dan dia ingin Vivian menciumnya sekarang.


"Jika begitu ayo cium aku sekarang!" pinta Matthew.


"What?"


"Come on babe, aku menunggu," Matthew menepuk pipinya, sedangkan Vivian berdecak kesal.


Dia memang sangat membutuhkan informasi-informasi mengenai benda berbahaya yang belum pernah dia pelajari sebelumnya apalagi bisa saja orang berinisial M memakai bom seperti model waktu itu, jangan sampai dia tidak tahu apa-apa dan mencelakai banyak orang.


Dengan perasaan tidak menentu dan wajah memerah, Vivian mendekati Matthew dan akan mencium pipinya tapi sayang, niatnya terhenti karena suara ponselnya.


"Sebentar," Vivian langsung menyambar ponselnya.


"Ck, menggangu saja!" Matthew tampak kesal.


"Hallo."


"Angel, seseorang terbunuh dan menyebut namamu!" terdengar suara Patrik.


"What?"


"Segeralah datang! Aku akan mengirimkan lokasinya!"


"Baiklah aku akan segera pergi ke sana!" Vivian mematikan ponselnya dan berlari masuk ke dalam kamar.


"Babe, ada apa?" tanya Matthew yang mengikutinya.


"Ada kasus pembunuhan!"


"Boleh aku ikut?"


"Tidak! Kau tidak ada hubungannya!"


"Ck, menyebalkan! Tapi ingat, jika ada apa-apa segera hubungi aku, aku pasti membantumu!"


"Pasti!" jawab Vivian sambil memakai jaketnya.

__ADS_1


Dia harus segera bergegas untuk mencari tahu apa yang terjadi dan sebelum Vivian pergi, Matthew mencium pipinya dan melepaskannya pergi.


Vivian benar-benar tidak membuang waktu dan membawa motornya dengan cepat. Dia tidak tahu, jika tidak jauh dari tempat kejadian, seorang pria sudah menunggu kedatangannya dengan tidak sabar.


__ADS_2