Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Jackpot


__ADS_3

Butuh waktu kurang lebih satu jam bagi Vivian untuk membersihkan cairan pembersih yang terdapat di atas lantai kamar yang ditempati oleh Matthew.


Dia benar-benar kesal dan mengusir Matthew keluar. Sebaiknya pria itu tidak menyentuh apapun karena dia khawatir ada barangnya lagi yang pecah.


Jangan sampai dia benar-benar jatuh bangkrut hanya untuk mengganti perabotan yang ada di sana dan sekarang, dia harus mengeluarkan uang lagi untuk memperbaiki jendela.


Sambil membersihkan lantai, tak henti-hentinya Vivian mengerutu. Jika memang tidak bisa kenapa tadi mengatakan jika dia ahli bersih-bersih?


Vivian benar-benar kesal. Tidak saja pinggangnya terasa nyeri tapi seluruh tubuhnya bau cairan pembersih lantai sampai rambutnya juga bau.


Setelah ini dia mau berendam dan mandi sampai bersih, sepertinya dia juga membutuhkan banyak aroma terapi untuk menghilangkan bau cairan pembersih yang terdapat di tubuhnya.


Vivian menyeka keringat yang mengalir dari dahinya setelah dia selesai, lantai sudah tampak bersih tanpa ada cairan pembersih lagi.


Gara-gara hal ini pekerjaannya tertunda, cuciannya di tinggalkan begitu saja bahkan tadi dia sedang mengganti sprei saat mendengar suara barang pecah.


"Dasar pengacau! Awas jika dia melakukannya lagi!" ucap Vivian dengan nada kesal.


Vivian keluar dari kamar dan berjalan menuju mesin cuci, pada saat melihat Matthew, Vivian menatapnya dengan tajam.


Saat ini dia benar-benar ingin menedang Matthew dan melemparnya keluar tapi jujur dia tidak tega, jika dia mengusir Matthew lalu di mana pria itu akan tinggal? Jangan-jangan pria itu akan dibunuh oleh debcolector yang mengejarnya.


"Sory babe," ucap Matthew sambil mendekati Vivian.


"Ck, pergi sana!" usir Vivian.


"Ayolah, aku benar-benar tidak sengaja. Aku yang akan mengganti kaca jendelamu."


"Baguslah!" jawab Vivian dengan cuek sambil mengeluarkan cuciannya dari mesin cuci.


"Bagaimana jika aku yang menjemur baju-baju itu babe."


"Ck, sebaiknya kau duduk diam dan jangan melakukan apapun!" jawab Vivian dengan sinis.


Matthew terkekeh dan memeluk Vivian dari belakang, "Percayalah, aku tidak akan mengacaukannya," bisiknya.


"Lepaskan! Jika aku mempercayaimu lagi maka aku orang paling bodoh!" ucap Vivian.


Vivian menunduk untuk mengambil keranjang baju dan mengerutu, "oh my God pinggangku!"


Matthew kembali terkekeh dan mengikuti Vivian yang melangkah pergi untuk menjemur baju.


"Apa kau mau aku memijatkan pinggangmu babe?" godanya.


"Tidak butuh!"


"Ayolah, aku ahli dalam memijat."

__ADS_1


"Ya, kau ahli dalam segala hal tapi itu hanya di mulutmu saja. Kau tidak menyadari jika kau adalah trouble maker paling menyebalkan dan sialnya aku harus mengenalmu!" ucap Vivian kesal.


Matthew tertawa dan memeluk Vivian dari belakang, "Kau bau pembersih lantai!" ucapnya.


"Ini gara-gara kau! Lihatlah, selain kamarmu tidak ada satu ruanganpun yang aku bersihkan!" jawab Vivian dan dia berusaha melepaskan tangan Matthew yang melingkar di tubuhnya.


"Pergilah mandi babe, aku yang akan menjemur semua pakaian ini. Kali ini percayalah padaku, aku tidak akan membuat masalah lagi."


"Kau yakin?"


"I'm promise, jika aku membuat masalah lagi kau boleh menendangku sampai puas."


"Baiklah, pegang ucapanmu!"


Setelah Matthew melepaskannya, Vivian berjalan menuju kamar dan sesekali dia melihat ke belakang untuk melihat apakah Matthew bisa menjemur baju-baju itu?


Karena Matthew melakukannya dengan baik jadi dia membiarkan pria itu melakukannya. Lagi pula dia sudah sangat ingin berendam dan sudah tidak tahan dengan bau cairan lantai yang menempal di baju dan rambutnya.


Sambil menunggu air bathup penuh, Vivian menuang aroma terapi kedalamnya. Dia benar-benar membutuhkan itu untuk merenggangkan otot-ototnya.


Di luar sana, Matthew merentangkan bra Vivian dan melihatnya dengan teliti.


"Kecil!" gumamnya sambil menggantung bra Vivian disebuah gantungan baju.


"Tapi aku suka karena aku yang akan membuatnya besar nanti," gumamnya dan pada saat itu tubuh telanjang Vivian kembali terngiang.


"Sialan! Aku harus menang dalam pertandingan nanti! Aku tidak bisa menunggu terlalu lama jika tidak aku akan berakhir di kamar mandi!"


Dia melepaskan pakaiannya dan masuk kedalam kamar mandi, dia juga sudah tidak tahan dengan bau cairan pembersih lantai yang terdapat di tubuhnya.


Matthew berdiri di bawah guyuran air shower dan entah mengapa dia jadi ingin mandi dengan Vivian. Pasti menyenangkan dan rasanya tidak sabar.


Matthew menyelesaikan mandinya saat mendengar suara ponselnya berbunyi, dia segera melilitkan handuk ke pinggangnya dan berjalan keluar dari kamar mandi. Matthew segera meraih ponselnya dan menjawabnya.


"Ada apa?"


"Kak, mommy bertanya kapan kau akan mempertemukan gadis itu dengannya?" tanya Michael.


"Katakan pada mommy Mich, bersabarlah."


"Aku sudah mengatakannya tapi mommy bilang jika kakak tidak juga mempertemukannya dengan gadis itu dalam waktu tiga hari lagi maka dia dan nenek yang akan mendatanginya."


"Oh my, kenapa mommy begitu tidak sabar?" ucap Matthew, sedangkan Michael terkekeh.


"Sebaiknya kakak segera bertindak jika tidak mommy dan nenek pasti akan bertindak mendahului kakak."


"Katakan pada mommy, hari ini dan besok tidak bisa. Tapi lusa mereka pasti bertemu."

__ADS_1


"Baiklah kak tapi ngomong-ngomong, Maxton akan bertemu dengan seseoang disebuah Bar beberapa hari lagi, apa kakak mau menyergapnya di sana?"


"Baiklah, aku akan menemuinya secara baik-baik tapi jika terbukti dialah yang membayar sniper itu untuk membunuhku maka aku akan menghancurkan Maxton sampai ke akar-akarnya!"


"Aku akan membantumu kak."


"Sudah pasti Mich, cari tahu lebih teliti dan setelah itu katakan padaku!"


"Tentu saja kak, tanpa perintah darimu aku pasti melakukannya," jawab Michael.


"Baiklah, aku akan pulang sebentar dan setelah itu aku mau tanding Boxing."


"Wow, terdengar menyenangkan!"


"Tentu saja, kali ini dia pasti jadi milikku!" jawab Matthew penuh percaya diri.


"Semoga berhasil kak," ucap Michael sambil terkekeh. Setelah kakaknya menikah mungkin dia harus cari pacar.


Setelah berbicara dengan adiknya, Matthew segera memakai bajunya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang jadi dia masih ada waktu untuk pulang sebelum dia dan Vivian bertanding.


Matthew keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Vivian karena dia ingin mengatakan pada gadis itu jika dia ada urusan dan mereka akan bertemu di arena boxing nanti. Tanpa mengetuk lagi, Matthew langsung membuka pintu kamar Vivian.


"Babe, apa kau?" ucapannya terhenti saat melihat Vivian sedang menaikkan cel*na dal*mnya.


Vivian tak kalah kagetnya, dia baru saja selesai mandi dan hendak memakai pakaiannya.


"Wow, jackpot!" ucap Matthew tanpa memalingkan matanya dari tubuh telanjang Vivian.


"Freddy!" Vivian menaikkan cel*na dal*mnya dengan cepat dan menggeram marah.


"Sory tidak sengaja!" ucap Matthew tanpa merasa bersalah.


"Akan aku pukul kau!" teriak Vivian dan dia segera berlari ke arah pintu karena dia akan menendang Matthew.


"Aku tidak sengaja babe, sungguh!"


Vivian sudah siap menendang tapi pada saat meliatnya, Matthew langsung menutup pintu dan pada saat itu juga?


"Brak!" Vivian menendang daun pintu dengan keras dan berteriak.


"Oh Tuhan, kakiku!" ucapnya sambil melompat-lompat dan memegangi kakinya. Hari ini dia benar-benar sial.


Matthew melangkah mundur, sebaiknya dia kabur jika tidak dia akan mendapat tendangan bokong lagi.


"Babe, jangan lupa makan siang dan aku tunggu di arena Boxing!" teriaknya sambil berlari pergi.


"Hei jangan pergi kau!" teriak Vivian tapi Matthew sudah kabur setelah mendapatkan kunci mobilnya.

__ADS_1


"Freddy, awas kau nanti. Aku akan memukulmu sampai babak belur!" teriak Vivian marah.


Di mobil, Matthew hanya terkekeh. hari ini dia sangat beruntung karena mendapat pemandangan bagus lagi.


__ADS_2