Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Masa lalu dan masa depan


__ADS_3

Di sisi pantai, telah diletakkan sebuah ranjang dan diberi vitrase atau semacam gorden tipis mengelilingi ranjang. Semua itu sudah disiapkan oleh Matthew dan mereka akan melihat langit malam sambil berbaring di sana.


Langit pada malam itu tampak cerah dan indah karena bulan tampak begitu bulat dan bersinar dengan terang. Tidak hanya itu saja, bintang-bintang tampak bertaburan di atas langit semakin mempercantik langit pada malam itu.


Setelah berdansa dan mematikan lilin yang ada di meja makan, Matthew mengajak Vivian untuk memberikan kejutan selanjutnya.


"Siap melihat bintang denganku babe?"


"Yes," jawab Vivian.


Matthew tersenyum dan mengambil sebuah penutup mata dan setelah itu Matthew mendekati Vivian dan menutup matanya.


"Hei, mau apa?"


"Ikut saja sayang," ucap Matthew seraya menuntun tangan Vivian dan membawanya ke sisi pantai.


Jantung Vivian berdebar-debar karena dia tidak bisa melihat apapun tapi pada saat mereka tiba di sisi pantai dan angin berhembus menerpa wajahnya, dia tahu bahwa Matthew membawanya ke pantai. Apa malam ini Matthew mengajaknya melihat bintang sambil berbaring di atas hamparan pasir?


"Matth?" Vivian menggengam tangan Matthew dengan erat.


"Jangan khawatir babe, aku tidak akan mendorongmu ke dalam laut."


"Bukan begitu, apa kita akan melihat bintang di tepi pantai?"


"Yes babe, tidak saja melihat bintang tapi kita juga akan melakukan hal menyenangkan lainnya."


"Oh ya?" wajah Vivian bersemu merah dan jantungnya semakin berdebar. Apa mereka akan melakukan hal itu di pinggir pantai? Tapi bagaimana jika kemasukan pasir? Oh tidak! Semoga Matthew memikirkan hal ini.


Matthew masih menuntun tangan Vivian menuju ranjang yang sudah dia siapkan. Sesuai janjinya dia akan memberikan pengalaman pertama untuk Vivian yang tidak akan pernah dia lupakan dan mereka akan melakukanya di bawah langit indah malam ini.


"Matth tungggu?" Vivian menahan tangan Matthew dan menghentikan langkahnya.


"Ada apa babe?" Matthew memandangi Vivian dengan heran.


"Kau bilang akan melakukan hal menyenang bukan?"


"Yes."


"Apakah kita?"


"Seharusnya kau tahu babe dan kau tidak bisa menolak lagi!"


"Bukan begitu bodoh!"


"Lalu?"


"Hei aku tidak mau ya pengalaman pertamaku dilakukan di atas pasir! Bagaimana jika ada pasir yang masuk?"


"Hahahahahahaha!" Matthew tetawa terbahak-bahak.


Sebenarnya apa yang dipikirkan Vivian? Matthew masih tertawa terbahak-bahak sedangkan Vivian tampak kesal.


"Matth, ini tidak lucu!"


"Sory," Matthew menghentikan tawanya dan menghampiri Vivian.


Vivian berteriak saat Matthew menggendongnya bak seorang putri dan membawanya menuju ranjang.


"Tenang saja babe, aku sudah berjanji padamu jika aku akan memberikan pengalaman pertama yang tidak akan kau lupakan maka kau akan mendapatkannya."


"Ng," Vivian mengangguk dengan wajah memerah. Semoga dia bisa tahan dan tidak menendang Matthew nanti.

__ADS_1


Setelah tiba, Matthew mendudukkan Vivian di atas ranjang dan pada saat pantatnya merasa sesuatu yang empuk, vivian segera meraba dan langsung tahu itu adalah ranjang.


"Boleh aku membuka penutup mataku sekarang?"


"Yes," jawab Matthew.


Dengan tidak sabar, Vivian membuka penutup matanya dan melihat sekelilingnya. Di sekitar ranjang terdapat beberapa lampu untuk menerangi tempat itu dan di atas pasir terdapat susunan lilin yang bertuliskan 'I love you' bahkan di atas ranjang bertabur kelopak bunga mawar.


Di bawah kakinya terbentang sebuah karpet bulu, karpet itu sengaja diletakkan di sana agar kaki mereka tidak kotor.


Vivian menutup mulutnya dan tampak tidak percaya, apa Matthew menyiapkan semua ini untuk malam romatis mereka berdua?


"Matth, apa kau menyiapkan semua ini?"


"Yes babe."


"Bagaimana kau mengangkat ranjangnya?"


"Tidak ada yang mustahil bagiku sayang," Matthew berlutut di bawah kaki Vivian dan membuka high heel yang dia pakai.


Vivian memundurkan tubuhnya dan merebahkan dirinya di atas ranjang untuk melihat langit malam yang begitu indah, sedangkan Matthew mendekati Vivian dan berbaring di sampingnya.


"Apa kau suka babe?"


"Sangat, thanks Matth," Vivian mencium wajah matthew dengan mesra.


"Oh babe, berikan tanganmu," pinta Matthew.


Vivian mengangkat tangan kanannya dan memberikannya pada Matthew, sedangkan Matthew meraih tangan Vivian dan memakaikan sebuah gelang di pergelangan tangan Vivian.


Sebuah gelang berlian dari Gerard melingkar indah di lengan Vivian dan gelang itu berisi berlian 29,01 karat. Gelang memiliki berlian yang sangat bagus di dalamnya dan berlian terlihat sangat indah dan eye catching. Gelang ini memiliki batu berlian besar di tengah gelang dan di kedua sisi batu ini terdapat dua baris berlian dan gelang itu dijual dengan harga $ 1.513.024 dollar.


"Apa ini Matth?"


"Hadiah untukmu sayang."


"Tapi ini terihat mahal?"


"Tidak, aku tidak keberatan membelikan apapun untukmu bahkan aku akan memanjakanmu dengan barang mewah lainnya."


"Kau terlalu berlebihan."


"Hanya untukmu babe," Matthew mengusap wajah Vivian dan menciumnya.


Mereka diam saja dan memandangi langit malam yang begitu indah berdua. Vivian tampak bahagia dan matanya fokus pada bintang-bintang yang bekerlap kerlip di atas sana.


Rasanya dia tidak ingin malam cepat berlalu karena dia ingin menikmati kebersamaan malam itu berdua dengan Matthew dan memang malam masih panjang karena Matthew akan menjadikan Vivian miliknya malam ini.


Dia akan membuat Vivian senyaman mungkin dan melupakan traumanya, jika dia terburu-buru melakukan hal itu mungkin Vivian akan takut dan menolak. Jangan sampai dia gagal hanya karena dia tidak sabar.


"Bagaimana babe, apa kau suka?" Matthew memiringkan tubuhnya dan mengusap wajah Vivian dengan lembut.


"Tentu Matth, lihat itu?" Vivian menunjuk ke atas langit.


"Ada Meteor, seharusnya kita membuat harapan."


"Oh ya? Apa harapanmu sayang?"


Vivian memandangi Matthew dan tersenyum dengan manis, "Harapanku hanya satu, aku ingin kita selalu seperti ini Matth."


"Aku juga, aku ingin kita selalu seperti ini," Matthew mengusap bibir Vivian dan menciumnya.

__ADS_1


"Jadi? Siap untuk menjawab teki teki yang aku berikan?"


"Tentu, bagaimana jika jawabanku benar?"


"Aku berani bertaruh kau tidak akan bisa menjawabnya."


"Kau terlalu percaya diri Mr Smith."


"Jadi? Diantara dua jenis siput dan kura-kura siapa yang menang lomba?"


"Tidak ada yang menang," jawab Vivian penuh percaya diri.


"Alasannya?"


"Karena mereka semua lambat."


"Jawabanmu benar tapi alasannya kurang!!"


"What?" Vivian tidak percaya jawabannya bisa salah.


"kau sudah kalah babe dan sekarang waktunya kita berdua."


"Curang, memangnya apa jawabannya?"


"kau tahu? Jawabannya memang tidak ada yang menang. Bukan saja karena mereka lambat sehingga tidak sampai ke garis finis tapi waktu mereka terbuang banyak jadi mereka menghentikan lomba dan memilih untuk mencari makan karena lapar."


"Oh my God, hampir saja! Aku sudah memikirkan jawabannya selama berhari-hari tapi ternyata salah juga! Aku berani bertaruh tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan yang kau berikan!"


Matthew terkekeh dan mengusap wajah Vivian dengan lembut, tentu saja tidak akan ada yang bisa menjawab karena teka teki itu dia yang buat dan jawaban suka-suka yang membuat.


"Sudah aku katakan bukan? Yang paling penting adalah alasan dari jawabanmu dan pakai logika sayang, jika mereka lapar bagaimana mereka akan melanjutkan lomba?"


"Ck, aku tidak mau bermain teka taki lagi denganmu!"


Matthew kembali terkekeh dan mencium pipi Vivian, "Jadi? Apa kau sudah siap jadi milikku?"


Vivian menatap Matthew sejenak dan ada sedikit keraguan dari tatapan matanya.


"Ta..tapi aku takut Matth," ucapnya sambil memalingkan wajahnya.


Jujur saja dia takut membayangkannya apalagi dia pernah melihat gurunya diperkosa dan diperlakukan dengan kasar bahkan teriakan gurunya yang menyayat hati masih terngiang.


"Jangan khawatir babe, aku akan pelan-pelan dan tidak akan seperti yang kau lihat. Jika kau takut maka aku akan berhenti dan kita akan lanjutkan lagi setelah kau merasa nyaman."


Matthew tahu untuk orang yang mempunyai trauma seperti Vivian tidaklah mudah dan mereka butuh proses. Setelah malam ini, Vivian pasti tidak akan takut lagi.


"Bagaimana jika aku menendangmu?" tanya Vivian lagi.


"Tidak apa-apa, jika kau takut kau bisa menendangku."


Vivian memandangi hamparan bintang di atas langit dan menghela nafasnya. Dia sudah memutuskan untuk bersama dengan Matthew maka dia harus berani melawan ketakutan terbesar yang ada di dalam dirinya. Tapi jujur saja, kejadian yang dia alami sewaktu masih kecil terngiang dengan jelas.


"Babe?" Matthew mengusap wajahnya kembali.


"A...ayo kita lakukan!" ajak Vivian dengan wajah memerah.


"Percayalah padaku, aku tidak akan menyakitimu," uca Matthew seraya mendekatkan bibir mereka.


Vivian mengangguk dan membalas ciuman Matthew tapi matanya masih memandangi bintang di atas langit dan setelah itu Vivian memejamkan matanya.


Setelah malam ini dia akan benar-benar menyingkirkan Carlk di dalam hatinya dan menjadikannya masa lalu dan Matthew adalah masa depannya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2