
Seorang pria sedang berdiri di depan jendela kaca besar yang terdapat di apartemennya dan memandangi indahnya kota pada malam hari.
Pria itu diam saja sambil menikmati sebatang cerutu yang ada di tangannya. Entah mengapa malam ini dia teringat dengan kekasih yang telah lama dia tinggalkan.
Padahal dia mau melupakan gadis itu karena dendamnya tapi entah mengapa, malam ini setelah bercinta dengan seorang wanita yang menawarkan bisnis dengannya membuatnya teringat dengan janji yang dia buat lima tahun lalu dengan gadis itu.
Lima tahun yang lalu dia harus meninggalkan Inggris dan kembali ke Amerika demi pekerjaannya. Dia terpaksa melakukannya karena ayahnya tiba-tiba terbunuh dan dia harus menggantikan ayahnya mengelola perusahaan.
Dengan berat hati dia harus pergi, meninggalkan gadis yang dia kenal di Inggris dan gadis yang sangat dia cintai.
Walaupun terasa berat tapi harus dia lakukan dan dia berjanji akan kembali tapi siapa yang menduga, takdir mempermainkan mereka.
Cinta tulusnya terhadap Vivian berubah menjadi kebencian setelah dia mengetahui siapa yang telah membunuh ayahnya.
Sungguh dia tidak menduga jika mereka berdua akan berselisih jalan dan demi membalaskan dendamnya dia terpaksa membenci gadis itu.
Dia benar-benar mencinta Vivian dengan tulus dan sangat menyayanginya. Dia bahkan berniat melamar Vivian tapi semua hancur berantakan saat pembunuh yang menghabisi ayahnya terkuak.
Semula dia tidak tahu apa hubungan pembunuh itu dengan Vivian tapi setelah dia melakukan penyelidikan, sebuah fakta mengejutkan membuatnya benar-benar terpukul.
Saat itu cinta tulusnya benar-benar dipertaruhkan, dia sangat tidak ingin membenci Vivian tapi ego mengalahkan segalanya.
Dia melupakan janji yang mereka buat dan tidak mau mencari Vivian lagi. Walaupun terkadang dia pergi ke Inggris untuk menjalankan bisnis, dia tidak mau mencari gadis itu dan diam-diam melihatnya saja.
Semua semakin rumit saat dia tahu jika Vivian menjadi seorang agen penegak hukum, dia semakin tidak mau mencari gadis itu karena lagi-lagi mereka berselisih jalan dan peluang mereka untuk bersama tidak ada.
Asap dari cerutu yang dia hisap, berhembus dari mulutnya. Kenangan bersama dengan Vivian mulai teringat apalagi kenangan saat pertama kali mereka bertemu.
__ADS_1
Waktu itu dia pergi ke Inggris sebagai wisatawan dan tanpa sengaja dia bertemu dengan Vivian. Pertemuan pertama mereka di sebuah jalan saat dia sedang menikmati kota London.
Vivian berlari dengan tergesa-gesa dan tanpa sengaja menabraknya, gadis itu tampak ketakutan saat melihatnya dan hal itu membuatnya penasaran. Apa dia punya salah sehingga Vivian takut dengannya?
Tapi waktu itu dia tidak memperdulikannya dan melenggang pergi begitu saja sampai suatu hari dia melihat Vivian sedang membantu seorang wanita dan tampak sedang memukul beberapa pria yang mengganggu wanita itu.
Dia ingat betul wajah gadis yang menabraknya beberapa hari lalu dan sekarang dia kagum melihat gadis itu melawan lima orang pria dan mengalahkan mereka.
Diam-diam dia mulai mencari tahu tentang Vivian dan tidak sulit mencari tahu tentang gadis itu karena dia adalah putri wali kota.
Dengan perlahan dia mulai mendekati Vivian dan seperti pertemuan pertama mereka, Vivian takut dengannya. Ini sangat aneh dan semakin membuatnya penasaran.
Pada saat mengenal Carlk, Vivian belum menjadi agen pemerintahan Inggris. Dia baru saja berniat bergabung tapi trauma yang dia alami membuatnya harus berpikir dua kali untuk bergabung karena dia harus berdekatan dengan laki-laki dan kemungkinan besar dia harus berhadapan dengan penjahat yang mayoritasnya adalah laki-laki.
Dia orang yang penuh perhitungan dan dia tidak mau karena kelemahan yang dia miliki merugikan orang yang ada disekitarnya apalagi jika sudah menjadi agen.
Karena memikirkan hal ini, Vivian berdiri disisi London Bridge dan memandangi sungai Themas yang membentang di bawah jembatan.
Vivian langsung pergi saat itu tanpa memperdulikan Carlk tapi pria itu tidak menyerah dan mengejar gadis itu. Dia bahkan mendatangi rumah Vivian hanya untuk bertemu dengannya dan mengikuti kemanapun Vivian pergi.
Lambat laun Vivian mulai terbiasa dengan keberadaannya dan bisa menerima Carlk.
Untuk seorang gadis yang memiliki trauma dan benci dengan laki-laki, Carlk adalah laki-laki pertama yang menjadi temannya.
Hubungan mereka semakin dekat dan Carlk membuat trauma Vivian berangsur membaik bahkan pandangan Vivian terhadap laki-laki mulai sedikit berubah.
Dia bahkan tidak takut dan canggung lagi saat berdekatan dengan laki-laki dan Carlk yang telah membuatnya seperti itu.
__ADS_1
Vivian bahkan tidak ragu menceritakan masa lalunya yang kelam pada Carlk karena pria itu memberikan rasa aman dan nyaman untuknya.
Carlk benar-benar sangat perhatian dan begitu pengertian bahkan saat mereka memutuskan untuk menjalin hubungan, tidak sekalipun Carlk menyentuhnya bahkan mencium bibirnya.
Dia akan menunggu sampai Vivian siap dan dia tidak mau Vivian menganggapnya ba*ingan seperti pria yang telah melecehkannya.
Ketulusan dan cinta yang ditunjukkan oleh Carlk, benar-benar membuat Vivian sangat mencintai pria itu tapi sayang Carlk harus pergi darinya.
Ketika Carlk pergi, mereka membuat sebuah janji. Vivian berjanji tidak akan ada pria lain selain Carlk dan akan setia menunggu pria itu kembali, sedangkan Carlk berjanji akan segera kembali dan pada saat itu, dia akan melamar Vivian.
Walau terasa berat bagi Vivian untuk berpisah dengan Carlk, tapi dia tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menangis.
Carlk juga merasakan hal yang sama, dia juga merasa berat meninggalkan Vivian dan berjanji pada diri sendiri jika dia akan kembali tahun depan dan pada saat itu dia akan memberikan kejutan untuk Vivian tapi sayang, sebuah fakta mengenai kamatian ayahnya membuat cinta yang ada di hati Carlk berubah menjadi sebuah kebencian.
Asap dari cerutu kembali berhembus dari mulut pria yang mengaku dirinya sebagai Carlk, kenangan akan bersama dengan Vivian tidak mudah dilupakan.
Saat itu seorang wanita tanpa busana berjalan mendekatinya dan memeluknya dari belakang.
"Tuan Maxton apa yang sedang kau pikirkan?"
"Kenapa kau belum pergi Ella?" tanyanya dengan dingin.
"Aku akan pergi tapi kau harus menepati janjimu untuk membunuhnya!"
"Ck, tanpa kau mintapun aku akan membunuhnya!"
"Baiklah tuan Maxton, aku akan pergi dan jika kau perlu pelayanan dariku, jangan ragu untuk menghubungiku," ucap Ella.
__ADS_1
Pria yang dia panggil Maxton hanya mengangguk dan menikmati cerutunya. Semua wanita hampir sama, rela tidur dengan siapa saja demi tujuannya dan hanya Vivian saja wanita polos yang dia kenal tapi sayangnya, sebuah jurang besar membentang di antara mereka dan suatu hari mereka akan bertemu dalam keadaan yang berbeda.
"Angel, padahal kau gadis yang paling aku cintai tapi sayang, kita tidak berjodoh dan aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Pada saat waktunya sudah tepat aku akan menemuimu secara langsung!" ucap Pria itu dan dia menghembuskan asap dari mulutnya sambil melihat pemandangan kota.