Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Sepasang kekasih yang sangat beruntung.


__ADS_3

Beberapa foto berada di atas meja dan itu adalah foto Vivian ketika menerima penghargaan dari Kapten Willys. Di foto-foto itu tidak hanya Vivian sendiri tapi Vivian terlihat bersama dengan para rekannya dan juga keluarganya.


Tidak saja foto itu, dua foto yang terlihat lebih besar ada di atas lantai. Foto itu akan digantung di dinding nantinya dan itu adalah foto Vivian bersama dengan ayahnya juga foto kebersaan Vivian dengan seluruh keluarganya.


Untuk pertama kalinya Jager berfoto bersama dengan putrinya dan dia benar-benar senang. Begitu mendengar jika putrinya akan menerima penghargaan, Jager memaksa keluar dari rumah sakit karena dia ingin menyaksikan keberhasilan putrinya.


Dia mendesak Damian membawanya karena itu moment yang langka. Tidak saja mereka, keluarga Adison juga datang untuk menyaksikan moment yang tidak boleh mereka lewatkan.


Vivian benar-benar bahagia, itu bukan medali pertama yang dia dapat tapi hari itu berbeda karena tidak saja di saksikan oleh keluarganya tapi sekarang disaksikan oleh ayah dan juga Matthew.


Medali yang dia dapat, dia berikan kepada ayahnya dan lihatlah, medali itu sudah terpajang di dalam lemari. Damian sudah membeli sebuah rumah untuk sementara mereka tinggali selama rumah ayahnya dibangun kembali.


Hari ini, sesuai dengan janjinya, Jager akan mengajak Damian dan putrinya pergi piknik ke tempat yang sering dia datangi dulu bersama dengan istrinya.


Dia sudah menantikan hari ini dan rasanya sudah tidak sabar. Seperti permintaan Vivian, seekor anjing Doberman berbadan besar sudah Damian beli. Anjing itu tampak begitu sangar dengan tubuh yang besar dan giginya yang tajam tapi anjing itu terlihat jinak.


Anjing itu bahkan mereka beri nama sesuai dengan nama yang diucapkan oleh Vivian. Jager melakukan hal itu karena dia benar-benar ingin mengabulkan permintaan putrinya.


Saat itu waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi. Mereka berencana pergi piknik pukul sepuluh pagi tapi Jager sudah begitu tidak sabar menunggu kedatangan putrinya.


Jager mondar mandir di depan jam, melihat jarum jam dan kemudian pergi lagi. Damian hanya menggeleng, apa ayahnya tidak bisa duduk diam menunggu?


"Dad, apa kau tidak bisa duduk diam?" tanya Damian.


"Daddy sudah tidak sabar, Damian. Kenapa jarum jam itu begitu lama berputar?"


Damian terkekeh dan segera mendekati ayahnya, dia sudah menghubungi adiknya tadi dan memintanya untuk cepat datang.


"Sabarlah, Dad. Bagaimana jika kita memasang foto untuk menghabiskan waktu? Aku sudah menghubungi Vivi dan memintanya untuk cepat datang tapi dia bilang dia sedang membuat makanan yang akan kita nikmati nanti ketika kita sedang piknik."

__ADS_1


"Benarkah?" Jager menoleh untuk melihat putranya, sedangkan Damian mengangguk.


"Baiklah, ayo kita pasang foto-foto itu," ucap Jager seraya berjalan pergi.


Damian kembali menggeleng, ayahnya benar-benar begitu bersemangat tapi itu sangat bagus. Dia harap ayahnya akan selalu seperti itu sehingga ayahnya bisa hidup lebih lama. Mereka segera memasang foto sambil menunggu kedatangan Vivian.


Saat itu Vivian masih membuat makanan yang akan dia bawa nanti. Sebotol Wine sudah berada di dalam keranjang piknik dengan beberapa gelas. Sandwich juga sudah tersusun di dalam keranjang lain, begitu juga dengan burger. Semua itu dia buat dari pagi dan sekarang, dia sedang menunggu kue pie yang dia buat dan belum matang.


Kue sudah berada di dalam oven dan dia sedang mencuci buah-buahan segar yang akan dia bawa. Pasti nanti akan menyenangkan dan dia juga sudah tidak sabar apalagi ini piknik pertama yang akan dia lakukan bersama dengan ayahnya.


Dia sudah mengajak keluarganya untuk piknik bersama tapi mereka menolak karena mereka ingin memberikan ruang kepada Jager Maxton untuk semakin dekat dengan Vivian. Itu pasti moment yang Jager nantikan, moment di mana dia bisa menghabiskan waktu bersama dengan Vivian jadi mereka tidak ingin mengganggu.


Saat itu Matthew mendekati Vivian dan memeluknya dari belakang, sebelum dia bergabung dengan Vivian nanti, dia ingin pergi ke markas untuk melihat keadaan tawanannnya.


Dia akan mengakhiri hidup mereka hari ini bahkan dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk tidak memberi hewan peliharaannya makan. Biarkan mereka kelaparan agar ketika Gary dan ketiga rekannya sudah berada di dalam kandang, para hewan itu akan mencabik tubuh mereka dengan penuh semangat.


Sudah saatnya mengakhiri mereka semua karena setelah ini, dia akan sibuk menyiapkan pernikahannya dengan Vivian dan besok, keluarganya akan bertemu dengan keluarga Vivian untuk membahas pernikahan mereka lebih lanjut.


"Apa kau sudah selesai, Babe?" tanya Matthew seraya mencium lehernya.


"Sedikit lagi, Matth. Ada apa? Kau akan pergi bersama dengan kami bukan?" Vivian memutar tubuhnya dan mengusap wajah Matthew dengan lembut.


"Sorry, Babe. Bukannya aku tidak mau tapi aku harus pergi ke markas. Hari ini aku akan mengakhiri hidup Gary dan ketiga rekannya tapi setelah selesai, aku akan menyusulmu."


Vivian tersenyum, dia bahkan tidak iba dan tidak sedih mendengar Matthew akan membunuh Gary hari ini karena perasaannya kepada Gary sudah lama mati.


"Apa yang kau lakukan pada mereka, Matth?" tanya Vivian ingin tahu.


"Kau ingin melihat keadaan mereka?"

__ADS_1


"Tidak, aku hanya ingin tahu," jawab Vivian.


"Babe," Matthew mencium wajah Vivian dengan lembut.


"Kau tidak sedih bukan dengan kematian Gary nanti?"


"Untuk apa aku sedih?" Vivian balik bertanya dan memandangi Matthew dengan heran. Kenapa bertanya demikian?


"Aku hanya tidak ingin kau sedih dengan kematiannya."


"Tidak, Matth. Terima kasih sudah menghargai perasaanku tapi aku sudah berjanji padamu jika aku tidak akan menangisinya lagi. Walaupun dulu aku mencintainya tapi sekarang sudah ada dirimu jadi aku tidak akan menangisi kematiannya sampai kapanpun juga karena perasaan untuknya sudah lama mati. Dia juga sudah mencelakai keluargaku dan jika sampai aku meneteskan air mataku lagi untuk baj*ngan sepertinya maka aku adalah wanita paling bodoh!" ucap Vivian.


Matthew tersenyum, dia bertanya demikian hanya ingin melihat reaksi Vivian dan ternyata, Vivian tidak mengecewakannya.


"Terima kasih sudah memilihku, Sayang. Sesuai dengan janjiku, aku akan mencintaimu sampai mati," ucap Matthew seraya memeluk Vivian dengan erat.


"Aku yang berterima kasih, Matth. Bertemu denganmu dan di cintai olehmu adalah hal paling indah yang aku dapatkan dalam hidupku. Terima kasih kau telah menyingkirkan Gary dari dalam hatiku dan sekarang, hatiku dipenuhi oleh cintamu yang selalu kau berikan tiada habisnya."


"Stttss ...," Matthew mengecup bibir Vivian sejenak.


"Kita sepasang kekasih yang sangat beruntung," bisiknya.


"Kau benar," jawab Vivian dan mereka kembali berciuman dengan mesra.


Suara alarm yang di pasang Vivian berbunyi dan menghentikan kegiatan mereka, Vivian segera berjalan menuju oven dan melihat kue pie yang dia panggang sudah matang sempurna.


Dia tampak puas melihat hasil buatannya. Sambil menungggu kue pie dingin, Vivian memotong semangka yang akan dia bawa nanti. Dia harap ayahnya akan senang dengan makanan yang dia buat.


Setelah semua sudah siap, mereka segera berangkat. Matthew mengantar Vivian ke rumah ayahnya dan begitu melihat kedatangan mereka, Jager Maxton begitu senang.

__ADS_1


Sebentar lagi mereka akan pergi piknik tapi Matthew pamit pergi dan segera menuju markas. Dia harap Gary dan ketiga rekannya siap menghadapi kematian mereka hari ini.


__ADS_2