Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Moment berharga


__ADS_3

Suasana hanya hening ketika David dan Charles telah pergi. Vivian diam saja karena dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dan dia merasa sangat canggung.


Dia tidak tahu mau berkata apa dan tiba-tiba saja lidahnya menjadi kelu, Vivian hanya menunduk sedangkan Damian berdehem pelan untuk mencairkan suasana.


"Kenapa kau diam saja, apa kau tidak bisa menerima kami sebagai keluargamu?" tanya Damian.


"Tidak bukan begitu, aku hanya canggung," jawab Vivian.


"Jika begitu kemarilah, apa kau tidak mau memeluk kakakmu ini?" tanya Damian lagi seraya membuka kedua tangannya.


"Tapi kak, aku sedikit?" Vivian agak ragu. Bagaimanapun traumanya masih ada dan dia tidak mau memperlihatkan kelemahannya pada mereka.


"Kenapa? Jangan katakan jika kau jadi takut padaku?"


"Tidak, bukan begitu. Aku memang memiliki trauma dengan laki-laki jadi aku?"


"Kenapa? Apa telah terjadi sesuatu denganmu?" tanya Jager dengan cepat.


"Tidak apa-apa, waktu kecil aku mengalami pelecehan s*ksual jadi aku memiliki trauma dengan laki-laki sampai sekarang."


"Apa?" Jager sangat kaget dan dia sangat terpukul saat mendengarnya, jadi putrinya pernah mengalami hal buruk seperti itu? Sungguh dia sangat merasa bersalah dan dia benci dengan dirinya sendiri karena tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan putrinya.


"Aku...aku benar-benar minta maaf nak," Jager menunduk karena rasa bersalah yang teramat besar di dalam hatinya. Rasanya ingin langsung memeluk putrinya tapi dia takut putrinya membencinya.


"Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Sekarang kita adalah keluarga bukan?" ucap Damian.


Vivian mengangguk dan mendekati Damian dengan ragu dan pada saat itu, Damian memeluknya dan mendekapnya dengan erat.


"Akhirnya aku punya adik dan aku tidak menyangka jika kau adalah adikku, walaupun kita tidak memiliki hubungan darah tapi aku berharap kau mau menganggap aku sebagai kakakmu."


"Tentu, kau kakakku sekarang," ucap Vivian dan dia memeluk Damian tanpa ragu.


Damian tersenyum dan semakin mempererat pelukannya sedangkan Jager sangat senang melihatnya, sepertinya apa yang dia takutkan tidak terjadi dan mungkin saja dia terlalu berlebihan tapi jauh di dalam hatinya sangat sedih karena putrinya harus mengalami pelecehan s*ksual dan dia tidak tahu akan hal itu.


Pada saat itu terjadi, bagaimana dengan keadaan putrinya? Apa putrinya menangis? Apa putrinya merasa takut? Sungguh dia sangat ingin tahu dan dia sangat menyesal karena dia tidak berada di samping putrinya ketika putrinya mengalami hal buruk seperti itu.


"Daddy menunggumu adikku, dia sangat ingin kau memeluknya dan dia sangat ingin kau memanggilnya daddy, kau mau melakukannya bukan?" bisik Damian dengan pelan sedangkan Vivian mengangguk.

__ADS_1


"Jika begitu pergilah, daddy sudah menunggumu," Damian melepaskan pelukan mereka dan tersenyum, ayahnya pasti sudah tidak sabar menantikan moment ini dan dia yakin, ayahnya pasti akan senang.


Vivian mengigit bibirnya, dia benar-benar canggung dan dengan perlahan Damian mendorong Vivian dan berkata, "Lakukan!"


Vivian mendekati Jager Maxton dan pada sat itu, Jager langsung memeluk putrinya tanpa mau membuang waktu.


"Putriku, maafkan kesalahan yang telah aku perbuat. Aku sungguh tidak tahu jika kau masih hidup dan seandainya aku tahu?" Jager mendekap putrinya dengan erat dan air matanya mulai mengalir.


"Jangan menyalahkan dirimu....daddy."


Ucapan singkat dari Vivian, membuat mata jager membola dan rasanya dia ingin mengangkat putrinya tinggi-tinggi dan memutarnya karena dia sangat bahagia tapi sayang, dia sudah terlalu tua untuk melakukan hal seperti itu.


"Kau...kau memanggilku apa?" suara Jager bergetar dan sebuah perasaan hangat memenuhi hatinya. Ini pertama kali dia dipanggil daddy oleh darah dagingnya sendiri dan dia benar-benar bahagia.


"Coba ulangi nak, aku sangat ingin mendengarnya," pinta Jager dengan suara bergetar.


"Daddy," Vivian kembali memanggilnya.


"Oh aku benar-benar senang mendengarnya. Maafkan daddy nak, daddy benar-benar minta maaf padamu," Jager semakin mendekap putrinya dan menangis begitu juga dengan Vivian, dia tidak kuasa menahan air matanya karena dia merasa bahagia.


"Maafkan aku juga dad jika aku?"


"Vivian Adison dan Angel hanya nama samaranku saja, daddy bisa memanggilku Vivi lain kali," ucap Vivian seraya menghapus air matanya.


"Baiklah tapi sebenarnya namamu adalah Fiona, Fiona Maxton. Itu adalah nama yang diberikan ibumu dulu tapi tidak apa-apa," Jager melepaskan pelukannya dan mengusap air mata putrinya.


"Kau akan tetap menggunakan nama Vivian Adison dan namamu akan tetap seperti itu sesuai yang diberikan oleh kedua orangtua asuhmu tapi bagiku, kau adalah Fiona ku, putri kecilku."


Vivian mengangguk dan tersenyum dan pada saat itu Jager memeluknya kembali.


"Kau mau bukan memaafkan kesalahan yang telah daddy perbuat?"


"Daddy tidak salah sama sekali jadi tidak perlu minta maaf."


"Aku tahu tapi aku sangat merasa bersalah padamu karena aku tidak tahu keberadaanmu, aku juga tidak bisa membesarkanmu dengan kedua tanganku dan aku juga tidak berada di sampingmu saat kau sedang sedih jadi katakan pada daddy, kenapa kau bisa mengalami pelecehan s*ksual?"


"Itu kejadian yang tidak terduga dad, saat aku kecil sekelompok penjahat masuk ke dalam sekolah dan menangkapku sebagai sandera mereka bersama seorang guruku dan setelah itu?"

__ADS_1


"Maafkan daddy nak, kau pasti ketakutan saat itu jadi maafkan daddy karena daddy tidak bersama denganmu saat kau mengalami hal buruk seperti itu. Daddy berjanji padamu, kau tidak akan pernah mengalami hal buruk lagi dan aku akan menebus kesalahan yang telah aku perbuat dengan menjagamu," sela Jager dengan cepat karena dia tidak ingin putrinya mengingat kenangan buruk itu lagi.


"Terima kasih dad, tapi aku akan sangat senang jika daddy bisa menjaga diri daddy baik-baik."


"Itu benar dad," ucap Damian dan dia segera menghampiri ayah dan adiknya.


"Sebaiknya daddy menjaga kesehatan daddy baik-baik."


"Tentu saja, sekarang aku ingin hidup lebih lama agar aku bisa selalu bersama dengan kalian jadi kemarilah, biarkan aku memeluk kalian berdua."


Damian mendekati ayahnya dan setelah itu Jager memeluk putra dan putrinya secara bersama-sama, ini adalah moment yang sangat berharga untuknya.


"Kalian adalah hartaku yang paling berharga jadi aku harap kalian selalu akur walaupun aku sudah tidak ada nanti."


"Tentu, aku berjanji akan selalu menjaga kalian," jawab Damian.


"Aku sangat senang mendengarnya jadi Vivi, apa kau mau pulang dengan kami dan tinggal bersama dengan kami?" tanya Jager. Dia harap putrinya mau tinggal bersama dengannya dan menghabiskan waktu bersama dengannya.


"Tentu dad tapi aku juga harus meluangkan waktu untuk yang lainnya jadi aku harap daddy tidak egois dan mengijinkan aku bersama dengan mereka."


"Tentu saja sayang, daddy tidak akan melarangmu. Tunggu kamarmu sudah selesai didekorasi maka pulanglah ke rumah, rumah itu sudah jadi rumahmu sekarang."


"Aku akan pulang," jawab Vivian.


"Daddy sangat menatikannya," ucap Jager dan dia masih memeluk putra putrinya dan tampak bahagia.


Tidak jauh dari mereka, Marta dan Charles melihat mereka begitu juga dengan David. Mereka sangat bahagia melihat putri yang mereka besarkan bisa bersama dengan keluarganya.


Sungguh sebuah hubungan yang indah walaupun mereka sudah berpisah lama dan mereka bangga dengan Vivian karena dia bisa menerima ayahnya.


Marta menghapus sisa air matanya, dia terharu menyaksikan kebersamaan Vivian dan ayahnya.


Pada saat melihat mereka, Vivian segera mendekati mereka dan memeluk mereka, orang yang sudah membesarkannya dan orang yang sangat menyayanginya. Dari wajah Vivian terpancar kebahagiaan karena mereka semua keluarganya.


David segera menghampiri Jager begitu juga dengan Charles, kesalahpahaman diantara mereka tidak ada lagi dan mereka terlihat akrab.


Vivian sangat senang melihatnya dan ketika Matthew keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi, Vivian segera berlari ke arahnya dan melompat ke dalam pelukannya. Berkat Matthew dia bisa mengambil keputusan dan berkat dia juga dia bisa melalui semuanya, satu hal yang sangat dia syukuri adalah Matthew sangat menghargainya dan tidak memaksanya untuk melakukan apapun yang tidak dia suka.

__ADS_1


Dia bahkan tidak mengambil rambutnya secara diam-diam saat itu padahal Matthew bisa melakukannya dan lihatlah, sebuah hubungan yang dilandasi dengan kejujuran akan indah pada akhirnya tapi mereka semua tidak tahu jika badai sebentar lagi akan datang karena saat itu, di luar sana, seseorang yang mengikuti Jager dan Damian secara diam-diam pergi setelah mendapat apa yang dia mau.


__ADS_2