
Begitu tiba di rumah sakit di mana keluarganya sedang dirawat, Vivian mengikuti langkah kakaknya dengan perasaan tidak menentu. Selain menghawatirkan keadaan keluarganya dia juga sedang memikirkan pelaku yang menyerang keluarganya.
Jujur saja yang sangat dia curigai adalah Gary, tapi apa alasan Gary mengincar keluarganya? Apa karena dia tidak mau kembali dengan Gary sehingga dia melakukan hal itu? Dia akan mencari tahu nanti dan dia akan meminta bantuan Patrik untuk mengecek rekaman cctv yang ada di rumah itu dan setelah itu dia akan meminta Patrik mengirimkan rekaman cctv ke ponselnya.
Mereka sudah tiba di ruangan di mana Charles dan Marta sedang dioperasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh mereka begitu juga dengan David. Hilary segera menghampiri Ben dan menanyakan bagaimana keadaan keluarga mereka tapi Ben hanya menggeleng.
Hal itu membuat semua ketakutan dan Hilary tampak menangis, dia sungguh tidak terima jika sampai ada salah satu dari keluarganya pergi dan semua itu gara-gara Vivian.
Hilary mengepalkan kedua tangannya dan menghampiri Vivian dengan kemarahan di hati. Dia tidak mau melihat wajah Vivian lagi dan dia akan meminta Vivian pergi.
"Pergi kau!" usir Hilary.
"Aunty ...." Vivian menunduk dan menangis.
"Aku bilang pergi!" ucap Hilary lagi.
"Aunty, kenapa kau mengusir Vivian?" Mariam mendekati mereka dan memeluk adiknya.
"Berhenti membelanya Mariam! Semua ini gara-gara dia! Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kedua orangtuamu? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kakekmu? Jika mereka mati karena kejadian ini apa kau mau memaafkanya?!" teriak Hilary dengan penuh emosi.
"Maaf Aunty, maaf," hanya itu yang bisa diucapkan oleh Vivian sedangkan Mariam mulai melangkah mundur.
Apa yang dikatakan oleh bibinya sangat benar, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kedua orangtua dan kakeknya?
"Tidak perlu minta maaf! Aku hanya ingin kau pergi dan jangan mengganggu kami lagi. Keluar dari keluarrga Adison dan kembali pada orangtuamu!"
"Tidak Aunty, aku tidak mau! Aku sangat menyayangi kalian dan aku tidak mau pergi dari kalian," ucap Vivian.
"Jika kau menyayangi kami jadi sebaiknya kau pergi Vivian. Kau bisa mencelakai mereka lagi dan kejadian seperti akan terulang lagi!" ucap Ben seraya mendekati mereka.
"Tidak Uncle, aku tidak akan mencelakai mereka lagi dan aku berjanji. Ijinkan aku di sini untuk melihat keadaan mereka dan jangan usir aku," minta Vivian.
"Aku tidak ingin memukul perempuan Vivi dan selama aku masih bersabar, lebih baik kau pergi dan jangan perlihatkan wajahmu padaku!" teriak Ben lantang.
Lorong rumah sakit yang sepi menjadi ramai karena mereka dan seorang perawat menghampiri mereka dan meminta untuk tidak bertengkar di sana.
Tentu hal ini membuat mereka diam seketika dan Ben berjalan pergi begitu juga dengan Hilary. Hilary bahkan menarik tangan Mariam agar menjauhi Vivian sedangkan Vivian bersandar pada dinding dan menangis sendiri di sana.
Mariam sangat iba dengan adiknya karena paman dan bibi mereka menyalahkannya sedari tadi. Dia sangat ingin menghampiri adiknya tapi bibinya tidak mengijinkan.
Vivian hanya menunduk dengan pikiran yang kacau. Dia benar-benar menyesal karena apa yang diucapkan oleh bibinya sangat benar. Jika saja dia tidak menahan keluarganya untuk tinggal dan membiarkan mereka pulang, mereka pasti tidak akan mengalami hal seperti itu.
Jika terjadi sesuatu yang buruk pada ayah dan ibunya, juga kakeknya maka dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri dan dia harap mereka baik-baik saja.
Vivian mengusap air matanya yang jatuh perlahan, sebaiknya dia menghubungi Patrik dan meminta bantuannya karena dia ingin melihat pelaku yang telah menembak keluarganya.
"Patrik, keluargaku menjadi korban penembakan dan aku mau meminta bantuanmu," pinta Vivian ketika Patrik sudah menjawab telephon darinya.
"Apa? Bagaimana mungkin keluargamu menjadi korban? Apa kasus penembakan yang baru saja terjadi menimpa keluargamu?" Patrik terdengar tidak percaya.
"Benar, tolong cek rekaman cctv yang ada di sana dan kirimkan ke ponselku. Aku ingin melihat pelakunya," pinta Vivian lagi.
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mengeceknya dan mengirimkan rekaman cctv saat penembakan terjadi untukmu."
__ADS_1
"Terima kasih, Patrik."
Setelah berbicara dengan Patrik, Vivian terduduk di atas lantai dan menutupi wajahnya dibalik kedua lengannya. Dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri dan menangis. Dia sungguh tidak percaya jika keluarganya bisa menjadi korban dan jika benar Gary yang melakukannya, maka tidak akan dia maafkan. Tidak akan!
Di luar sana, Matthew sudah tiba dan segera mencari Vivian. Tidak sulit menemukan keberadaan Vivian karena dia bisa menemukan keberadaan Vivian melalui alat pelacak yang ada di gelang yang dia pakai.
Matthew segera menuju ruangan di mana Vivian berada dan dia tampak tidak terima melihat Vivian duduk di atas lantai rumah sakit sambil menutupi wajahnya.
Matthew segera menghampiri Vivian dan berjongkok di depan Vivian. Dia juga mengusap kepala Vivian dan memanggilnya, "Babe."
Vivian langsung mengangkat wajahnya dan air matanya kembali mengalir dengan deras saat melihat Matthew.
"Matth, keluargaku ...."
"Aku tahu Babe dan bukan aku yang melakukannya."
"Apa maksudmu?" Vivian belum mengerti karena Patrik belum mengirimkan rekaman yang dia minta.
"Dengar, Gary memakai wajahku saat menyerang keluargamu dan aku bisa membuktikannya padamu jika bukan aku pelakunya," jawab Matthew.
"Gary ... jadi benar Gary yang melakukannya? Sudah aku duga tapi kenapa dia mengincar keluargaku?"
"Kita akan mencari tahu ini secara bersama-sama tapi jangan duduk di sini, bangunlah," Matthew bangkit berdiri dan membantu Vivian.
keadaan Vivian benar-benar kacau, rambutnya berantakan bahkan wajahnya sedikit membengkak akibat pukulan Hilary. Matthew merapikan rambut Vivian dan mengusap wajahnya.
"Ada apa dengan wajahmu?"
"Aku pantas mendapatkannya Matth karena aku yang telah mencelakai keluargaku."
"Memang semua gara-gara aku. Seandainya aku tidak menahan mereka demi membicarakan pernikahan kita, mereka pasti tidak akan mengalami hal seperti ini. Benar apa yang dikatakan oleh bibiku, aku hanya pembawa malapetaka untuk mereka. Pertama mereka hampir menjadi korban kecelakaan pesawat dan sekarang mereka harus menjadi korban penembakan dan semua ini gara-gara aku tidak mau kembali bersama Gary."
"Jangan sembarangan menyimpulkan," Matthew memeluk Vivian dan menghiburnya.
"Hanya itu yang terpikir olehku. Dia pasti dendam karena aku menolaknya dan dia melampiaskannya pada keluargaku," jawab Vivian dan dia tidak menyadari jika saat itu, kakak juga bibinya berjalan mendekatinya dengan cepat setelah melihat Matthew.
Bukankah pria itu pelakunya? Lalu kenapa Vivian memeluk orang yang hampir membunuh keluarga mereka?
Mariam berlari mendekati adiknya dan langsung menarik tangan adiknya sehingga Vivian terlepas dari pelukan Matthew.
"Ada apa, Kak?" tanya Vivian.
"Vivi, dia pelakunya dan aku melihat dia memukul kepala kakek berkali-kali," jawab Mariam sambil menarik adiknya menjauh sedangkan matanya menatap Matthew dengan tajam.
"Benar Vivi, dia pelakunya tapi kenapa kau memeluknya?" tanya Hilary.
"Kakak, Aunty, dia pacarku dan bukan dia pelakunya."
"Apa maksudmu Vivi? Aku melihatnya dan aku belum buta!" ucap Mariam.
"Jangan karena dia pacarmu jadi kau membelanya, Vivi. Dia yang hampir membunuh kedua orangtua dan kakekmu!" ucap Hilary pula.
Ben juga berjalan mendekati mereka dan menarik adiknya agar menjauh. Kenapa pelaku yang menembak keluarganya ada di sana? Apa polisi tidak menangkapnya?
__ADS_1
"Uncle kecewa padamu Vivi, kau sudah tahu dia pelakunya tapi kau masih membelanya."
"Tuan, Nyonya, aku bisa membuktikan jika aku tidak bersalah dan bukan aku yang melakukan penembakan," ucap Matthew.
"Diam kau!" teriak Ben.
"Hilary, telephon polisi agar dia ditangkap," perintahnya.
"Tidak Uncle, Matthew bukan pelakunya dan aku bisa membuktikannya pada kalian," Vivian melepaskan tangan kakaknya dan berdiri di depan Matthew.
"Vivi, kau melindungi orang yang hendak membunuh orang-orang yang sangat menyayangimu selama ini? Uncle sungguh kecewa padamu!"
"Maaf Uncle, tapi bukan Matthew pelakunya jadi percayalah padaku," pinta Vivian.
"Percaya padamu?! Kami melihatnya jika dia pelakunya tapi kau masih berani bilang bukan?!" Ben mengangkat tangannya hendak memukul Vivian tapi Matthew menarik Vivian dan berdiri di depannya.
"Sekalipun kau pamannya tapi kau jangan keterlaluan!" ucap Matthew dengan dingin.
"Diam kau! Hilary hubungi polisi!"
"Tidak Uncle, Aunty, aku mohon percayalah padaku. Kakak, bukan dia pelakunya dan aku bisa membuktikannya pada kalian," mohon Vivian lagi.
"Bagaimana jika ternyata dia pelakunya? Apa yang akan kau lakukan? Kau melindunginya karena dia pacarmu padahal kau tahu jika dia pelakunya," ucap Hilary.
"Aku jamin Aunty jika Matthew bukan pelakunya, aku akan menjaminnya."
"Apa jaminanmu?" tanya Hilary dengan cepat.
"Aku ...." Vivian menunduk.
"Jika aku salah dan Matthew memang pelakunya maka aku akan pergi dari keluarga Adison sesuai permintaan kalian," ucap Vivian tanpa ragu sambil mengangkat kepalanya.
"Vivi, apa yang kau katakan?" protes Mariam.
"Maaf Kak, tapi aku percaya jika Matthew bukan pelakunya," jawab Vivian.
"Pegang ucapanmu Vivi, dia pasti akan ditangkap dan pada saat itu, kau harus keluar dari keluarga Adison," ucap Hilary dan dia segera menarik tangan Mariam dan kakaknya agar pergi dari sana. Jujur saja dalam hati Mariam, dia merasa kecewa karena adiknya lebih membela pelaku yang telah mencelakai keluarga mereka.
"Babe, kenapa kau berkata seperti itu?"
"Paman dan bibiku membenciku Matth dan hanya dengan cara ini saja yang bisa menghentikan mereka. Lagipula bukan kau pelakunya dan aku tidak takut sama sekali."
"Apa wajahmu dipukul oleh pamanmu?"
"Bukan, tidak perlu dipikirkan. Aku memang pantas mendapatkannya."
Mereka hendak mencari tempat duduk karena Vivian ingin melihat video yang dikirimkan oleh Patrik tapi sayangnya sebuah nomor yang tidak dia kenal menghubunginya.
Tanpa membuang waktu Vivian segera menjawabnya dan begitu mendengar berita yang disampaikan oleh seseorang dari seberang sana, langkah Vivian langsung terhenti. Ponsel yang dia pegang terjatuh dari tangannya dan air matanya kembali mengalir.
"Ada apa?" Matthew sangat heran melihatnya.
"Daddy ...." ucap Vivian dan lututnya langsung lemas.
__ADS_1
Matthew menangkap tubuh Vivian yang hampir tumbang, apa yang terjadi dengan Jager Maxton?