Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Ketakutan Damian dan Vivian.


__ADS_3

Di lorong rumah sakit, tampak Damian sedang duduk sendiri. Dia benar-benar menghawatirkan kondisi ayahnya saat ini.


Bagaimana tidak, ayahnya punya penyakit jantung tapi dia sudah disekap oleh Gary selama beberapa hari tanpa mengkonsumsi obatnya bahkan ayahnya harus tergantung di atas ketinggian ribuan kaki dan diterpa angin malam.


Saat dia membawa ayahnya ke rumah sakit, wajah ayahnya tampak membiru dan tubuhnya terasa dingin. Damian benar-benar takut, takut ayahnya mati saat diperjalanan.


Dia bahkan membawa mobilnya seperti orang gila dan hampir menabrak beberapa pengendara lain. Dia tidak perduli karena nyawa ayahnya lebih penting dari apapun.


Sejak dulu Jager sangat menyayanginya walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah. Dia tahu ayah kandungnya tidak menginginkannya semenjak dia berada di dalam kandungan ibunya tapi Jager Maxton mau menjadi ayahnya dan benar-benar menyayanginya.


(Nanti di cerita Damian ayah kandungnya dan keluarganya akan aku munculkan.)


Dia tidak akan memaafkan dirinya jika sampai orang yang sangat menyayanginya pergi begitu cepat apalagi, dia belum membalas semua kebaikan dan kasih sayang yang diberikan oleh Jager Maxton.


Jika ayahnya pergi, adiknya juga pasti sangat sedih dan dia tidak tahu harus bagaimana menunjukkan wajahnya pada adiknya karena dia sudah gagal menjaga ayah mereka.


Damian mengusap air matanya yang mengalir, Sial! Dia benar-benar berharap ayahnya bisa selamat. Jika bisa dia bahkan rela memberikan separuh hidupnya untuk ayahnya asalkan ayahnya bisa tetap hidup.


Sudah lama ayahnya berada di dalam ruang gawat darurat tapi dokter yang menanganinya belum juga keluar. Para perawat tampak mondar mandir keluar masuk ruangan itu sambil membawa alat-alat yang diperlukan bahkan dia juga melihat mereka membawa alat pemicu jantung.


Damian kembali mengusap air matanya dengan kasar, apa ayahnya tidak bisa tertolong lagi? Sungguh dia takut membayangkan apa yang akan terjadi.


Pada saat itu, Vivian dan Matthew sudah tiba di rumah sakit. Dia berjalan dengan cepat karena dia sudah sangat ingin tahu keadaan ayahnya. Dia tidak jadi pulang dan memilih langsung menuju rumah sakit. Dia bahkan tidak memperdulikan luka yang terdapat di lengannya karena mengetahui keadaan ayahnya lebih penting dari pada itu semua.


Sebelum datang dia sudah menghubungi kakaknya jadi dia tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari kakaknya.


Damian tampak menunduk ketika Vivian dan Matthew tiba. Begitu melihat kakaknya, Vivian segera berlari mendekati kakaknya.


"Kak Damian."


Begitu mendengar suara adiknya, Damian mengusap air matanya dengan cepat. Jangan sampai adiknya melihat keadaannya karena itu sangat memalukan.


"Vivi, apa kalian sudah menangkapnya?" Damian bangkit berdiri.

__ADS_1


"Tentu saja sudah, Kak. Bagaimana dengan keadaan Daddy?" tanya Vivian.


Damian memandangi adiknya sejenak dan setelah itu dia menggeleng. Dia juga sangat ingin tahu keadaan ayah mereka tapi sayangnya dokter yang menangani ayah mereka belum juga keluar.


"Entahlah, Vivi. Keadaan Daddy begitu buruk ketika aku membawanya. Tubuhnya juga terpental jauh saat ledakan terjadi."


"Oh my God," Vivian menutup mulutnya. Apa ayahnya sekarat?


"Maafkan aku," Damian memeluk adiknya dan pada saat itu, Vivian bisa merasakan tubuh kakaknya yang bergetar.


"Aku sudah gagal menjaga Daddy padahal kau sudah memperingatiku berkali-kali. Aku benar-benar minta maaf padamu, Vivi. Aku tidak berguna karena aku tidak bisa menjaga orang yang begitu menyayangi aku sejak dulu. Aku hanya punya kau dan Daddy tapi sekarang, jika Daddy pergi, lalu aku dengan siapa? Aku bahkan belum membalas budi baiknya bahkan aku belum mengabulkan permintaannya untuk memberinya cucu."


"Jangan berbicara seperti itu, Kak. Percayalah, Daddy pasti akan baik-baik saja," Vivian mengangkat tangannya dan mengusap punggung kakaknya. Walau dia berbicara seperti itu tapi jujur dia juga takut dan tanpa dia sadari, dia juga menangis karena dia tidak akan sanggup kehilangan ayahnya begitu cepat.


Waktu mereka bersama belum lama dan masih banyak hal yang belum dia lakukan bersama dengan ayahnya. Dia ingin mengajak ayahnya bermain catur, main golf, memanah bahkan dia ingin ayahnya yang mengantarnya ke altar saat hari pernikahannya nanti. Dia benar-benar belum siap kehilangan ayahnya begitu cepat jadi dia harap ayahnya baik-baik saja.


"Aku juga berharap begitu adikku tapi aku takut kehilangan Daddy."


"Aku juga, Kak. Aku juga takut tapi jika Daddy mendengar ucapanmu dia pasti tidak akan senang. Aku tidak menyalahkan Kak Damian atas semua yang menimpa Daddy. Ini bukan salahmu jadi Kak Damian tidak perlu berbicara seperti itu."


"Jika terjadi sesuatu pada Daddy kau tidak akan menyalahkan dan membenci aku bukan? Selain Daddy aku tidak punya siapa-siapa lagi kecuali dirimu jadi jangan benci aku," ucap Damian.


"Tentu, Kak. Aku tidak akan menyalahkanmu dan membencimu. Sebaiknya kita berdoa agar keadaan Daddy baik-baik saja," jawab Vivian sambil tersenyum.


"Terima kasih, Vivi. Walaupun kita tidak memiliki hubungan darah tapi aku sangat menyayangimu dan Daddy. Memiliki kalian adalah hal paling aku syukuri dalam hidupku," ucap Damian seraya memeluk adiknya kembali.


"Aju juga," jawab Vivian.


Saat itu, Matthew mendekati mereka. Dia pergi mencari seorang dokter untuk mengobati luka yang terdapat di kedua lengan Vivian. Tidak saja bekas luka tembakan yang sudah dia dapatkan sebelumnya tapi sekarang, lengannya yang lain juga terluka akibat sabetan pedang.


"Babe, ayo obati lukamu terlebih dahulu," ajak Matthew.


"Kau terluka?" Damian melihat adiknya dengan teliti.

__ADS_1


"Hanya goresan pedang, tidak perlu khawatir," jawab Vivian.


"Pergilah obati lukamu terlebih dahulu, aku akan tetap berada di sini."


Vivian mengangguk dan setelah itu dia melangkah pergi mengikuti Matthew. Setelah kepergian adiknya, Damian menunggu dengan kecemasan yang luar biasa. Dia harap dokter yang menangani ayahnya segera keluar dan benar saja, beberapa menit kemudian dokter yang menangani ayahnya keluar dari ruangan.


Damian segera menghampiri dokter itu karena dia sudah tidak sabar untuk mengetahui keadaan ayahnya. Dia bahkan melontarkan banyak pertanyaan kepada dokter itu.


"Bagaimana dengan keadaan ayahku? Apa dia sudah baik-baik saja? Apa dia sudah sadar? Apa aku sudah boleh melihatnya?"


"Sabar Tuan, sabar," pinta dokter itu sambil menyeka keringatnya.


"Ayah anda sempat gagal jantung dan kami sudah berusaha menyelamatkannya. Jika dia bisa melewati malam ini maka dia akan baik-baik saja. Di tubuhnya terdapat banyak memar, tidak saja memar akibat benturan tapi juga memar akibat pukulan," jelas dokter itu.


Damian mengepalkan tangannya, pukulan? Apa selama ayahnya disekap, Gary Wriston memukuli ayahnya? Sungguh tidak akan dia maafkan dan dia akan membuat perhitungan dengan Gary nanti.


"Boleh aku melihatnya?" tanya Damian.


"Tunggu kami memindahkannya ke ruangan yang lebih baik," jawab dokter itu.


"Berikan perawatan terbaik untuk ayahku, aku tidak perduli biayanya," pinta Damian.


Dokter itu mengangguk dan segera pergi, sedangkan Damian masih tampak murung karena keadaan ayahnya yang masih memprihatinkan.


Saat itu, Vivian dan Matthew kembali lagi setelah mengobati luka di tangannya. Dia segera menghampiri kakaknya yang sedang bersandar di dinding ruangan.


"Apa belum ada kabar, Kak?" tanya Vivian.


"Keadaan Daddy sangat buruk, adikku."


"Oh tidak," tubuh Vivian sedikit terhuyung ke belakang dan Matthew segera menahannya.


"Apa Daddy akan meninggalkan kita?"

__ADS_1


"Entahlah," jawab Damian seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Damian menunduk dan menutupi matanya menggunakan tangannya, sedangkan Vivian kembali menangis dan masuk ke dalam pelukan Matthew. Apa ayahnya akan meninggalkan mereka? Dia harap itu tidak terjadi karena dia benci perpisahan.


__ADS_2