
Waktu pulang bekerja sudah tiba tapi Vivian masih berada di dalam ruangan kapten Willys untuk membahas penyergapan yang dia lakukan semalam dengan para agen lainnya.
Kapten Willys mengucapkan selamat dan dia sangat bangga karena Vivian dapat menggagalkan transaksi gelap yang bernilai jutaan dolar. Mereka juga akan menyelidiki siapa pemilik barang-barang itu dan tidak hanya itu, kapten Willys juga memberikan sebuah kunci rumah kepada Vivian. Itu adalah rumah dinas baru yang disiapkan oleh pemerintahan Amerika untuknya selama dia bertugas di sana.
Setelah selesai, Vivian keluar dari ruangan kapten Willys dengan banyak pikiran di dalam kepalanya. Tidak saja memikirkan penghianat yang ada diorganisasi tapi dia juga memikirkan masalah tempat tinggal, sepertinya dia harus pindah supaya para agen tidak semakin curiga dan dia akan membicarakan masalah ini dengan Matthew.
Saat dia turun ke bawah, para agen tampak sudah pulang. Vivian menghampiri mejanya dan merapikannya. Sebaiknya dia juga pulang dan mengabari Matthew.
Dia segera keluar dan berjalan dengan santai sambil menulis sebuah pesan di ponselnya untuk mengabari Matthew jika dia sudah pulang. Vivian akan menunggu di sebuah cafe yang tidak jauh dari kantor tapi dia tidak menyadari jika seseorang sedang mengikutinya dari seberang jalan.
Orang itu berbaur dengan pejalan kaki lainnya agar tidak ketahuan dan dicurigai. Dia akan mengikuti Vivian dan melihat kemana Vivian pergi dan apakah dia akan menemui seseorang?
Vivian masih mengetik dan setelah selesai, dia langsung mengirimkan pesan yang dia tulis untuk Matthew.
Saat itu Matthew masih mengadakan rapat dengan para rekan bisnisnya bersama dengan Michael. Mereka sedang serius membahas bisnis dan dia harap Vivian mau menunggunya atau pulang menaiki taksi sendiri.
Dia tidak bisa pergi begitu saja di tengah-tengah rapat meninggalkan para rekan bisnis apalagi ada hal penting yang sedang mereka bahas. Bahkan saat ponselnya berbunyi, Matthew sedang berbicara dengan seorang rekan bisnisnya dan tidak memperdulikannya.
Seorang pemimpin harus bijaksana apalagi saat ada rapat penting, mengedepankan rekan bisnis sangat penting apalagi perbedaan usia mereka. Memiliki sopan santun dan menghargai orang lain adalah sebuah kunci menuju kesuksesan selain bekerja keras. Tanpa itu semua maka sama saja bohong, mau segigih apapun orang bekerja keras tapi jika tidak memiliki sopan santun dan tidak menghargai orang lain sama saja dengan tong kosong. Itulah yang diajarkan oleh ayah dan ibu mereka apalagi mereka pernah merasakan kesulitan saat masih kecil ketika belum bertemu dengan ayah mereka.
Kenangan itu tidak akan pernah mereka lupakan apalagi mereka menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan ibu mereka untuk mereka saat itu.
Lagi pula rapatnya sudah hampir selesai dan dia yakin Vivian pasti mengerti dan menunggunya sebentar lagi.
Karena pesan yang dia kirim belum dibalas oleh Matthew, Vivian masuk ke dalam sebuah cafe karena dia akan menunggu Matthew di sana. Mungkin saja saat ini Matthew sedang sibuk jadi dia akan menunggu jika tidak dia akan pulang sendiri.
Orang yang mengikutinya menghentikan langkahnya saat melihat Vivian masuk ke dalam cafe. Vivian duduk disebuah tempat dan memesan segelas minuman dan pastri yang ada di sana, orang itu mencari tempat aman agar tidak di curigai. Dia harap hari ini dia dapat petunjuk dan melihat siapa yang ditunggu oleh Vivian di sana.
__ADS_1
Vivian masih belum curiga dan masih melihat ponselnya berharap Matthew segera membalas pesannya. Saat minumannya sudah datang, Vivian tersenyum pada pelayan cafe yang sedang berdiri membelakangi jendela kaca besar yang ada di cafe.
Pada saat itu, tanpa sengaja mata Vivian melihat seorang pria yang mencurigakan dari seberang jalan. Vivian kembali tersenyum pada pelayan yang hendak pergi tapi matanya masih tidak lepas dari orang itu.
Lebih baik dia pura-pura tidak tahu dan melihat apakah orang itu mengikutinya atau dia yang terlalu berlebihan.
Dengan santai Vivian menikmati minuman dan pastrinya tapi matanya tidak lepas dari pria yang ada diseberang sana.
Pria itu memakai jaket berhoodie dan memakai sebuah topi sehingga wajahnya tidak begitu terlihat apalagi pria itu selalu menunduk. Gerak geriknya benar-benar patut dicurigai dan Vivian rasa dia harus waspada.
Karena ingin mencari tahu, Vivian keluar dari cafe sambil pura-pura sedang menghubungi seseorang dan berbicara dengannya. Pria yang ada di seberang jalan kembali mengikutinya dan Vivian semakin curiga.
Tidak ingin membuang waktu Vivian langsung lari, dia melakukan hal itu untuk melihat apakah pria itu akan mengikutinya dan ternyata pria itu juga berlari dari seberang jalan.
Kecurigaan Vivian semakin kuat, jangan-jangan ini hanya jebakan supaya orang yang membantunya menampakkan diri. Karena tidak mau hal itu terjadi dan jangan sampai rencana orang itu berhasil, dengan cepat Vivian mengambil ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan suara untuk Matthew.
"Dia sudah curiga keberadaanku dan aku sedang mengejarnya saat ini. Setelah ini bagianmu, jangan lupa!" ucapnya pada seseorang yang dia hubungi.
"Sisanya serahkan padaku!" jawab seorang wanita dari seberang sana dan setelah mematikan ponselnya, wanita itu mengajak beberapa orang untuk mengikutinya karena sebentar lagi mereka akan membuat sebuah pertunjukkan.
Pada saat ponsel Matthew kembali berbunyi, Matthew sudah menyelesaikan rapatnya dan mengantar para rekan bisnisnya untuk keluar. Setelah semuanya pergi, Matthew mengambil ponselnya dan melihat pesan yang dikirimkan oleh Vivian.
"Aku tunggu di cafe waktu itu," ini pesan pertama yang dikirimkan oleh Vivian.
Matthew tersenyum dan membuka sebuah voice note yang dikirimkan oleh Vivian beberapa detik yang lalu, apa gadis itu ingin menggodanya dengan suara seksinya?
"Jangan menjemputku karena ada yang mengikutiku! Jangan sampai ada yang melihat kita bersama!" ucap Vivian di voice note yang dia kirimkan.
__ADS_1
Wajah Matthew langsung menegang, senyumnya langsung hilang dan rahangnya mengeras. Siapa yang mengikuti Vivian?
"Mich aku pergi dulu dan James ayo ikut aku!" perintahnya.
"Ada apa kak?" Michael melihat kakaknya yang tampak khawatir.
"Lacak posisi Vivian dan katakan padaku! Sepertinya dia dalam bahaya!"
Setelah berkata demikian, Matthew langsung keluar dengan terburu-buru dan James mengikutinya dari belakang, sedangkan Michael kembali ke dalam ruangan untuk mencari posisi Vivian.
James membawa mobilnya dengan cepat karena Matthew yang memerintahkannya dan setelah mengetahui di mana posisi Vivian berada dari adiknya, Matthew segera memerintahkan James untuk menuju ke sana tapi selama diperjalanan menuju tempat Vivian, mobilnya ditabrak dengan keras oleh sebuah mobil yang ada di belakang mereka.
"What the f*ck!" umpat Matthew kesal tapi lagi-lagi mobil mereka ditabrak dengan keras oleh mobil yang sama.
"Ck orang yang benar-benar tidak sayang nyawa!" umpat Matthew kesal.
"James, kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan?"
"Yes master," jawab James dan dia menginjak gas mobilnya dalam-dalam.
Matthew menghubungi adiknya dan memasang sebuah earphone di telinganya.
"Mich terus awasi kakak iparmu dan katakan padaku apa yang terjadi! Ada orang yang tidak sayang nyawa dan aku akan membereskan mereka sebentar!"
"Baik kak, aku akan mengawasinya dan mengatakan padamu apa yang terjadi pada kakak ipar," jawab Michael dan matanya melihat Vivian masuk ke dalam sebuah lorong.
Vivian bersembunyi dibalik tembok dan mengangkat sebuah pistol sedangkan pria yang mengejarnya sedang mencarinya dengan sepucuk senjata api di tangannya.
__ADS_1