
Terdengar suara helikopter di luar sana dan Damian langsung bangkit berdiri. Dia harap adiknya sudah kembali karena dia sangat menghawatirkan adiknya.
Damian hanya bisa menyaksikan aksi adiknya dari televisi. Walau dia tidak bisa melihat apa yang dilakukan oleh adiknya selama di dalam kereta tapi ketika adiknya keluar dari kereta bersama dengan Matthew, Damian tampak lega.
Dia segera berjalan menuju pintu dan melihat keluar melalui jendela. Rasanya tidak enak hati berada di rumah keluarga Smith tapi untuk saat ini dia tidak punya pilihan karena dia tahu Matthew dan Michael bisa membantunya untuk menemukan keberadaan ayahnya.
Ketika melihat adiknya turun dari helikopter, Damian segera membuka pintu dan berjalan keluar. Dia benar-benar lega melihat adiknya tampak baik-baik saja.
"Kak," Vivian berlari ke arah Damian ketika melihatnya.
Damian tersenyum tapi dalam sekejap senyumnya hilang melihat perban yang membalut lengan adiknya dan goresan yang terdapat di wajah dan lengannya.
"Apa Kakak baik-baik saja?" tanya Vivian.
"Aku baik-baik saja tapi lihat keadaanmu?" Damian memutar tubuh adiknya dan melihatnya dengan teliti.
"Daddy pasti kecewa padaku karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik."
"Jangan dipikirkan, Kak. Ini luka yang aku dapatkan saat bertugas dan Daddy tidak akan kecewa padamu," jawab Vivian.
Tanpa Vivian duga, Damian menarik Vivian dan memeluknya. Tidak saja sudah gagal mejaga adiknya tapi dia juga sudah gagal menjaga ayahnya.
"Maafka aku, Vivi. Aku tidak bisa menjaga Daddy. Padahal kau sudah memperingati aku tapi aku sudah lalai menjaganya."
"Sudahlah, Kak," Vivian mengusap punggung kakaknya.
"Kita sudah berusaha semampu kita dan aku percaya Kakak sudah berusaha menjaga Daddy jadi jangan menyalahkan dirimu, Kak."
"Besok aku akan mencari Daddy lagi," ucap Damian.
"Besok kita akan mencarinya bersama-sama," Vivian melepaskan pelukannya dan tersenyum.
"Dia menginginkamu, Vivi," Damian mengeluarkan kertas yang dia temukan saat hendak menolong ayahnya.
Dia sudah memikirkan hal ini sejak tadi dan akhirnya dia memutuskan untuk mengatakan hal ini pada adiknya.
"Apa maksud Kakak?"
"Aku menemukan ini dan dia menginginkanmu," jawab Damian seraya memberikan kertas yang dia temukan.
Vivian mengambil kertas itu dan membacanya, tidak lama kemudian dia memberikan kertas itu pada Matthew.
"Sepertinya yang aku duga sebelumnya, dia pasti menginginkan aku," ucap Vivian.
"Sungguh pengecut, dia ingin melakukan pertukaran?" Matthew meremas kertas yang diberikan oleh Vivian.
Tidak akan dia biarkan Gary mendapatkan Vivian dan dia juga tidak akan membiarkan Vivian pergi menemui Gary sendirian.
"Kenapa kalian semua di luar?" Kate keluar dari balik pintu dan berjalan menghampiri mereka.
"Selamat malam, Aunty," Vivian sedikit membungkuk, dia sudah lama tidak bertemu dengan ibu Matthew.
"Oh my God, ada apa denganmu?" Kate terlihat khawatir melihat keadaan Vivian.
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir, Aunty. ini hanya luka tembak," jawab Vivian.
"Oh my God, Matth! Vivi sedang terluka tapi kau masih mengobrol di sini. Kenapa kau tidak membawanya masuk untuk mengobati lukanya? Dasar anak nakal!" Kate langsung menarik telinga putra sulungnya.
"Mom ... aku bukan anak kecil lagi," Matthew memegangi tangan ibunya.
"Mom, Kakak juga tidak melakukan apapun pada luka Kakak Ipar sejak tadi," ucap Michael.
"Hey, provokator!"
"Apa? Dasar kau!" Kate semakin menarik telinga putranya sedangkan Michael terkekeh. Kapan lagi bisa mengerjai kakaknya?
"Aku baik-baik saja, Aunty. Lukaku sudah ditangani oleh seorang perawat tadi," ucap Vivian.
"Baiklah, ayo ikut denganku dan abaikan mereka," ucap Kate seraya meraih tangan Vivian.
Kate segera membawa calon menantunya masuk ke dalam dan ketika melihatnya, Alice tampak lega karena mereka sudah sangat khawatir sedari tadi.
Mereka segera bergabung dengan keluarga mereka yang telah menunggu dan tentunya Albert sedikit lega melihat kedua putranya. Walau tidak dipungkiri jika dia masih kesal karena ada yang menggunakan wajah putranya untuk melakukan kejahatan.
"Katakan pada Daddy, Boy. Siapa orang yang berani memfitnahmu?" tanya Albert pada putra sulungnya.
"Sudah aku katakan dia hanya pengecut, Dad. Daddy tidak perlu khawatir, besok ayah Clarina akan membersihkan namaku."
"Hng, jika sudah tertangkap kau harus memberikan hukuman yang setimpal untuknya!" geram Albert marah.
"Tentu saja, Dad. Mereka bertiga akan berganti wajah nantinya."
"Wow, bertiga?"
"Musuhmu banyak ternyata," ucap kakeknya.
"Well, diluar dugaan," jawab Matthew sambil mengangkat bahu.
"Ngomong-ngomong, apa kalian sudah makan?" tanya Alice.
"Belum, Nek," jawab Matthew dan Michael.
"Jika begitu pergilah mandi, nenek akan menyiapkan makanan," Alice bangkit berdiri dan berjalan pergi.
"Pergilah mandi, Vivi. Ainsley akan meminjamkan bajunya untukmu," ucap Kate sambil mengusap tangan Vivian.
"Thanks, Aunty," jawab Vivian sambil tersenyum.
Matthew segera membawa Vivian ke dalam kamarnya, sedangkan Damian tampak berbincang dengan Albert dan Jacob. Setelah membawa Vivian masuk ke dalam kamar, Matthew pergi mencari adiknya karena dia ingin mengambilkan pakaian adiknya untuk Vivian kenakan.
Vivian berdiri di depan cermin kamar mandi dan melihat beberapa memar yang terdapat di tubuhnya, memar itu dia dapat akibat benturan dahsyat saat dia membentur pilar.
Tidak dipungkiri, tulangnya terasa remuk dan seluruh tubuhnya terasa pegal. Semoga saja saat melawan Felicia dia tidak perlu melompat sana sini di atas gedung lagi.
Vivian masih melihat memarnya dan pada saat itu Matthew membuka pintu dan masuk ke dalam. Dia terlihat kaget melihat memar yang ada di tubuh Vivian.
"Kenapa ada memar di tubuhmu?" Matthew mendekati Vivian dengan cepat.
__ADS_1
"Sepertinya ini akibat terbentur pilar."
"Apa?"
"Jangan khawatir, aku sudah terbiasa mendapat memar seperti ini," jawab Vivian.
"Ck! Gary dan sekutunya benar-benar sudah keterlaluan! Aku tidak akan memaafkan mereka," Matthew memutar tubuh Vivian dan melihat setiap luka yang terdapat di sana.
"Ayo segera mandi, setelah ini aku akan mengobati lukamu."
"Uhm," jawab Vivian sambil mengangguk.
Mereka berdua berdiri di bawah guyuran air shower dan Matthew membantu Vivian mencuci rambutnya bahkan membantunya membersihkan tubuhnya dengan hati-hati agar tidak mengenai luka gores yang terdapat di sana.
"Thanks, Matth," Vivian melingkarkan kedua tangannya ke leher Matthew dan tersenyum.
"Stts ... Aku berjanji padamu, Gary akan membayar semua yang kau alami hari ini. Luka ini ...." Matthew mengusap goresan yang terdapat di wajah Vivian.
"Memar di tubuhmu dan luka di lenganmu, semua goresan yang ada di tubuhmu, dia harus membayarnya dan dia juga harus membayar rasa sakit hatimu. Aku akan pastikan Gary merasakan bagaimana rasa sakitnya ketika tubuhnya dicabik dan aku akan melakukannya untukmu. Ketika hari itu tiba dia akan memohon agar cepat mati tapi kematian enggan menghampirinya."
"Aku tahu kau bisa melakukannya," ucap Vivian sambil mengusap wajah Matthew yang basah.
Matthew meletakkan tangannya di atas telapak tangan Vivian yang berada di wajahnya dan tersenyum, walau ini hari yang melelahkan bagi mereka tapi dia senang Vivian baik-baik saja.
"Sebaiknya kita segera keluar jika tidak Mommy akan mencari."
"Uhm," jawab Vivian sambil menyambut bibir Matthew yang sudah mendekat ke bibirnya.
Matthew merapatkan tubuh mereka dan mencium bibir Vivian dengan lembut. Ciuman ringan mereka tiba-tiba menjadi panas dan lidah mereka berdua saling bertaut di dalam sana.
Tangan Matthew merayap ke bawah dan mer*mas kedua bokong Vivian sampai membuat erangan kecil terdengar dari bibir Vivian di sela-sela ciuman mereka.
Sial! Jika diteruskan maka mereka tidak akan keluar dari kamar mandi dan jangan sampai ibu atau neneknya masuk mencari mereka saat mereka sedang bermesraan karena ini tidak lucu.
"Hm, sebaiknya kita keluar jika tidak aku tidak bisa behenti dan aku tidak mau menerkammu sekarang," Matthew mencium pipi Vivian dengan lembut.
"Bagaimana jika kita menahan diri sampai malam pernikahan kita nanti."
"Aku tidak yakin apa aku bisa menahannya karena kau begitu menggoda."
"Eits, Mr. Smith, ini tantangan untukmu. Jika kau tidak bisa menahannya maka kau kalah dan kau harus mengabulkan satu permintaanku," ucap Vivian sambil meletakkan satu jarinya ke bibir Matthew.
"Wow, apa permintaanmu?"
Sebelum Vivian menjawab, terdengar suara ketukan pintu diluar sana dan terdengar ibunya memanggil.
"Matth, apa kalian belum selesai?"
"Sudah aku duga!" ucap Matthew sedangkan Vivian terkekeh.
Vivian mengecup bibir Matthew sejenak dan setelah itu dia mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya. Matthew mematikan air shower dan setelah itu dia membantu Vivian.
Setelah mengeringkan tubuh Vivian, Matthew mengoleskan obat di luka dan memar yang terdapat di tubuh Vivian dan setelah itu dia memberikan pakaian Ainsley pada Vivian. Itu pakaian baru dan untungnya ukurannya pas.
__ADS_1
Mereka segera keluar untuk makan dan di meja makan, Michael sudah makan terlebih dahulu. Matthew membawa Vivian duduk bersama dengannya, sedangkan Damian masih berbincang dengan ayah dan kakeknya.
Setidaknya malam ini mereka butuh istirahat setelah hari melelahkan yang mereka lalui dan besok, mereka akan kembali menghadapi hari yang berat di mana Gary akan kembali berulah dengan rencana-rencana liciknya untuk mendapatkan Vivian.