
Hari ini Matthew dan Vivian akan pergi berbulan madu dan sebelum mereka berangkat ke Hawaii, Vivian harus melepaskan keluarganya kembali ke Inggris karena David Adison mengajak semua keluarganya kembali.
Mereka akan berangkat bersama-sama nanti dan Matthew sudah menyiapkan sebuah pesawat pribadinya untuk mengantar kepulangan keluarga Vivian ke Inggris. Setelah keluarganya pergi mereka juga akan langsung berangkat ke Hawaii.
Marta dan semua keluarganya sedang sibuk bersiap-siap untuk pulang. Mereka sudah berpamitan dengan keluarga Matthew juga dengan Jager Maxton.
Mereka berjanji akan datang lagi jika Vivian akan melahirkan nanti dan tentunya kepulangan mereka membuat Vivian sedikit sedih karena dia tidak bisa bersama dengan mereka lagi seperti biasanya.
Dia tidak menyangka jika saat itu, sebelum kedatangannya ke Amerika adalah hari terakhir kebersamaan mereka. Bukan berarti mereka tidak bisa bersama lagi tapi mulai sekarang, dia tidak bisa tinggal dengan keluarganya begitu lama karena dia sudah punya tanggung jawab lain yaitu suaminya.
Vivian memperhatikan ibunya yang sedang merapikan pakaian dan memasukkannya ke dalam koper. Dia tampak sedih karena dia sudah tidak bisa selalu bersama dengan ibunya lagi tidak seperti saat sebelum dia menikah.
"Mom, kenapa kalian tidak pindah ke sini saja?" tanya Vivian sambil menunduk.
Marta tersenyum dan mendekati putrinya, dia juga duduk di samping putrinya dan mengusap tangannya.
"Tidak bisa, Sayang. Bagaimana dengan pekerjaan Daddy jika kami pindah ke sini? Kami juga tidak bisa meninggalkan Kakakmu begitu saja, bukan?"
"Tapi rasanya berat tidak bersama dengan kalian lagi," mata Vivian berkaca-kaca.
"Mommy juga," Marta memeluk putrinya dan mengusap kepalanya.
"Sejak kecil kau selalu bersama dengan kami tapi tiba-tiba kita harus berpisah dan tidak bisa selalu bersama lagi. Mommy juga sedih tapi kau sorang wanita yang harus selalu mengikuti suamimu di mana pun dia berada. Seperti Mommy harus mengikuti Daddy, begitu juga dirimu. Memang berat, Sayang. Mommy sudah merasakannya ketika Mommy harus berpisah dengan orangtua tapi lambat laun, kau akan terbiasa. Lagi pula kau akan selalu pulang bukan? Pintu rumah selalu terbuka untukmu dan kami akan selalu menyambut kepulanganmu," ucap Marta menghibur putrinya.
"Aku tahhu, Mom. Aku hanya sedih."
"kita semua sedih, tapi apa kau tahu siapa yang paling sedih?" Marta melepaskan pelukannya dan mengusap wajah putrinya dengan lembut.
"Yang paling sedih adalah kakekmu, kau tahu dia sangat menyayangimu sejak dulu sampai sekarang, kau tidak akan ada di tengah-tengah kami lagi jadi dia pasti sangat sedih. Tidak akan ada lagi yang mengajaknya bermain Anggar dan Catur dan tidak akan ada lagi yang dia sambut dengan pisau dan senjata otomatisnya karena hanya kau yang selalu menemaninya dan bermain dengan senjatanya."
Marta kembali mengusap wajah putrinya sambil tersenyum, "Temui kakekmu, dia pasti sedang sangat sedih saat ini," ucapnya.
Vivian mengangguk dan bangkit berdiri, dia segera keluar dari kamar ibunya dan berjalan menuju kamar kakeknya. Dengan perlahan, Vivian membuka pintu kamar kakeknya dan masuk ke dalam.
"Kakek."
David sedang berdiri di depan jendela melihat keluar sana dan memutar tubuhnya saat mendengar suara Vivian.
"Ada apa, Vivi?"
"Apa barang-barang Kakek sudah selesai dirapikan?" tanya Vivian basa basi.
__ADS_1
"Tentu, kemarilah. Biarkan Kakek memelukmu," ucap David.
Vivian segera menghampiri kakeknya. Ketika berada di dalam pelukan kakeknya, tangis Vivian langsung pecah.
"Kenapa kau menangis?" tanya kakeknya.
"Maaf, Kakek. Mulai sekarang aku tidak bisa menemani Kakek lagi. Aku tidak bisa selalu bersama dengan Kakek lagi dan aku ...."
"Kakek tahu," David menyela ucapan cucunya.
"Kakek tahu hari ini akan datang dan Kakek tahu kau tidak akan selamanya bersama dengan kami. Kakek ingin kau bahagia walaupun kakek sedih kau sudah tidak berada di rumah. Kakek akan kehilanganmu dan tentunya akan sangat merindukamu karena kau sudah tidak bersama dengan kami lagi," ucap David seraya mengusap kepala cucunya.
"Kakek harus jaga Kesehatan Kakek baik-baik," ucap Vivian.
"Tentu, Kakek ingin hidup lebih lama karena Kakek ingin menggendong anakmu nanti."
"Jika aku pulang aku ingin bermain Boxing dengan Kakek."
"Ya, jika Kakek masih kuat," ucap Kakek sambil terkekeh.
"Aku sangat menyayangi Kakek."
"Kakek juga menyayangimu, Vivi."
Pintu terbuka dan Marta masuk ke dalam karena mereka sudah harus berangkat dan Matthew sudah datang menjemput.
"Apa kalian sudah selesai? Matthew sudah datang," ucapnya.
"Ya," jawab Vivian seraya melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.
"Jangan menangis, Sayang. Bukankah kau akan pergi berbulan madu? Tunjukkan wajah bahagia dan jangan sedih seperti itu," Marta mendekati putrinya dan menghapus air matanya.
Vivian mengangguk dan mereka segera keluar dari kamar sambil membawa barang David. Barang-barang mereka sudah dibawa keluar dan dinaikkan ke dalam mobil oleh supir Matthew yang akan mengantar mereka.
Beberapa mobil sudah berada di luar. Vivian tidak perlu memikirkan barang-barangnya karena semua itu sudah dia siapkan sejak pagi.
Mereka segera berangkat menuju bandara pribadi keluarga Smith. Ini pertama kalinya Mariam ke sana begitu juga dengan paman dan bibi Vivian.
Begitu mereka tiba dan melihat tempat itu, mulut mereka menganga. Hillary dan Ben saling pandang, siapa sebenarnya yang dinikahi oleh Vivian?
Ini benar-benar gila, mereka bahkan tidak menyangka akan berada di tempat itu. Hilary melihat ke arah Matthew yang dia katai pembunuh beberapa saat lalu. Semua yang ada di sana benar-benar menunjukkan kekuasaannya dan tidak hanya itu, semenjak pesta pernikahan Vivian mereka sudah takjub dan sekarang, mereka semakin takjub.
__ADS_1
Mata Hilary dan Ben melihat sana sini, rumah besar bak istana, sebuah pesawat besar yang terparkir dan beberapa pesawat pribadi juga helikopter benar-benar membuat mereka tercengang-cengang. Belum lagi dua mobil Tank dan deretan mobil Sport yang berjajar dengan rapi di tempat itu. Jika saja mereka dekat, bolehkan mereka meminjam Helikoper-nya untuk keliling kota?
Hng, entah kenapa mereka jadi iri dengan Charles dan Marta, mereka pasti sangat beruntung karena telah mengadopsi dan membesarkan Vivian.
Dua pesawat sudah siap dan barang-barang mereka sudah di bawa masuk ke dalam pesawat. Sebelum berpisah, Vivian memeluk keluarganya satu persatu. Walau berat tapi Vivian tahu keluarganya tidak bisa selalu berada di sana.
"Mommy dan Daddy harus jaga kesehatan begitu juga dengan Kakek," ucap Vivian.
"Pasti, Sayang. Jangan lupa untuk selalu menghubungi kami," ucap Marta seraya memeluk putrinya.
"Kakak harus jaga mereka baik-baik," pinta Vivian pada kakaknya.
"Kau tidak perlu khawatir, Vivi. Aku pasti akan menjaga mereka," jawab Mariam.
Vivian tersenyum dan ingin menghampiri paman dan bibinya tapi dia urungkan karena dia tahu mereka masih membencinya.
"Terima kasih Uncle dan Aunty sudah mau datang ke acara pernikahanku," ucap Vivian.
"Tidak ... tidak apa-apa, Vivi. Kami akan sering datang jika kau mau," jawab Hilary sambil tersenyum.
Vivian hanya mengangguk dan menghampiri Matthew yang sedang berbicara dengan kakeknya.
"Jaga cucuku baik-baik, Matthew. Jika kau sudah tidak mencintainya dan menginginkannya lagi maka jangan pernah kau menyakitinya. Kembalikan dia pada ayahnya atau kembalikan dia pada kami," ucap David.
"Tentu tidak, Kakek. Aku sudah berjanji dan bersumpah akan mencintainya sampai mati jadi jangan khawatir karena aku tidak akan pernah menyakitinya dan aku akan selalu bersama dengannya," jawab Matthew.
David tersenyum dan menepuk bahu Matthew, "Aku percaya padamu," ucapnya.
"Sudah saatnya kita berangkat, ayo. Kalian juga sudah harus pergi, bukan?" ucap David lagi.
Sebelum keluarganya naik ke atas pesawat, Vivian memeluk mereka dan melepas kepulangan mereka. Dia dan Matthew belum naik ke dalam pesawat dan berdiri bersama melihat pesawat yang membawa keluarganya mulai terbang naik ke atas.
Matthew mengusap bahu Vivian karena dia tahu, Vivian pasti sangat sedih karena kepulangan keluarganya.
"Jangan sedih, Babe. Kita akan mengunjungi mereka nanti."
"Hm," jawab Vivian sambil mengangguk dan menghapus air matanya.
"Apa kau sudah siap berangkat?"
"Ya," jawab Vivian.
__ADS_1
"Let's go."
Mereka segera menuju pesawat yang akan membawa mereka berbulan madu ke Hawaii. Walau ada kesedihan berpisah dengan keluarganya tapi hari ini dia akan pergi berbulan madu dan dia harus menikmati moment berharga itu.