
Di arena Boxing, Vivian mencari Matthew karena sedari tadi dia tidak melihatnya. Sudah hampir satu jam dia menunggu Matthew tapi pria itu tidak juga kelihatan.
Kemana sebenarnya dia pergi? Bukankah dia berkata akan kembali lagi? Vivian bertanya pada beberapa orang dan mereka mengatakan jika Matthew pergi dengan teburu-buru.
Hal ini membuat Vivian heran, apa telah terjadi sesuatu? karena waktu sudah semakin malam, jadi dia memutuskan untuk pulang.
Awas saja nanti dia kembali, akan dia kunci pintunya dan tidak akan dia biarkan masuk lagi. Pria itu mau tidur di luar atau di dalam mobil, dia tidak perduli.
Lagi pula setelah pulang dia mau langsung tidur karena hari ini dia benar-benar lelah jadi Vivian memutuskan untuk langsung pulang dan tidak mau menghubungi Matthew untuk menanyakan keberadaannya.
Di mobil, terdengar suara Clarina dan suaranya terdengar seperti orang mendesah. Gaun malam yang dia pakai sudah basah karena keringat bahkan dia sudah menurunkan gaunnya hingga memperlihatkan belahan dadanya karena dia benar-benar sudah tidak tahan lagi.
Obat yang diberikan padanya benar-benar kuat apalagi tidak hanya satu gelas Anggur yang dia habiskan melainkan beberapa gelas.
Tubuhnya benar-benar mendambakan untuk disentuh bahkan saat Matthew menangkap kedua tangan Clarina dan menguncinya ke atas, Clarina mengerang dengan wajah memerah.
Matthew mengambil sebuah dasi yang biasa dia simpan di mobilnya, sepertinya dia tidak punya pilihan lain apalagi Clarina terus memohon dan sudah tampak tersiksa.
"Matt, aku sudah tidak tahan lagi jadi lakukan!" pinta Clarina memohon.
"Ck, sabar!" jawab Matthew dan bajunya sudah berantakan karena ulah Clarina.
"Sekarang Matt!"
Matthew berdecak kesal dan mengikat kedua tangan Clarina menggunakan dasi yang dia ambil dan setelah itu dia mengambil dasi lainnya yang akan dia gunakan.
"Matt?" Clarina semakin gelisah.
"Stt!" jawab Matthew singkat dan dia mulai dengan aksinya.
"Hmm, hmm!" gumam Clarina sambil berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
Dengan menggunakan dasi yang dia ambil, Matthew membungkam mulut Clarina. Tidak hanya tangan, tapi dia juga mengikat kaki Clarina. Dia harus melakukan hal itu supaya Clarina bisa diam.
Setelah selesai Matthew segera keluar dari mobil dan merapikan bajunya, sebaiknya dia segera pergi tapi jika dia membawa Clarina pulang kerumahnya, keadaan Clarina akan memburuk karena rumahnya lumayan jauh dari sana. Jangan sampai Clarina gagal jantung akibat obat yang menguasainya.
Karena tidak punya pilihan, Matthew membawa mobilnya dengan cepat dan selama diperjalanan Matthew menghubungi seseorang untuk meminta bantuannya.
"Jangan menghubungiku lagi!" terdengar nada ketus Vivian.
"Babe, aku sedang menuju rumahmu jadi bantulah aku!" pinta Matthew. Dia terpaksa membawa Clarina ke rumah Vivian karena rumah gadis itu lebih dekat.
"Mau apa?" tanya Vivian.
"Apa di kamar mandimu ada bathup?"
"Ada, kenapa?'
__ADS_1
"Tolong siapkan air dingin untukku babe," pinta Matthew.
"Enak saja! Siapa yang mengijinkan kau mandi di kamarku!"
Matthew terkekeh dan melihat Clarina sedang berusaha melepaskan ikatan tangannya sambil terus bergumam.
"Serius babe, keadaan sedang mendesak dan sebentar lagi aku sudah mau sampai."
"Ck baiklah, permasalahan diantara kita belum selesai, awas kau nanti!" ancam Vivian.
Matthew tersenyum dan menyimpan ponselnya, pasti Vivian marah karena dia meninggalkan gadis itu begitu saja di arena Boxing.
Seperti permintaan Matthew, Vivian masuk ke dalam kamarnya dan menyiapkan air dingin. Dia tidak tahu untuk apa tapi sepertinya benar-benar mendesak.
Setelah tiba di rumah Vivian, Matthew menghentikan mobilnya dengan sembarangan dan segera menggendong Clarina keluar.
Dia membuka pintu dengan terburu-buru dan pada saat melihat Matthew membawa wanita dalam keadaan terikat Vivian segera berlari mendekatinya.
"Ada apa dengannya?"
"Apa kau sudah menyiapkan airnya?"
"Ya," jawab Vivian.
Matthew segera masuk kedalam kamar Vivian, sedangkan Vivian mengikuti langkahnya.
"Siapa ini, kenapa kau membawanya pulang?" tanya Vivian.
"Apa dia terkena obat?" tanya Vivian.
"Pegang dia babe, aku akan menggambil es batu."
"What?"
"Cepat, dia sudah terkena obat terlalu lama!"
Vivian mengangguk dan memegangi Clarina yang memberontak di dalam bathup.
"Nona Clarina," ucapnya saat melihat wajah Clarina dengan jelas.
Clarina bergumam tidak jelas dan terus berusaha melepaskan ikatan di tangannya yang sudah memerah. Karena tidak tega, Vivian membuka ikatan tangannya dan pada saat terlepas Clarina menarik dasi yang menutupi mulutnya.
"Aku tidak butuh air dingin, yang aku inginkan hanya dirimu!" ucapnya seraya memeluk leher Vivian bahkan dia hendak mencium Vivian karena dia benar-benar sudah tidak tahan.
"Oh astaga! Aku perempuan!" teriak Vivian sambil mendorong wajah Clarina.
Clarina tidak perduli karena dia mengira Vivian adalah Matthew dan terus berusaha mencium wajah Vivian bahkan tangannya mulai masuk kedalam baju Vivian.
__ADS_1
"Oh my God, Fredd!" teriak Vivian. Ingin rasanya dia memukul Clarina.
Matthew segera kembali dengan es batu dan segera memasukkannya ke dalam bathup dan pada saat merasakannya, Clarina kembali berteriak. Mereka kira dengan begitu efek obatnya akan hilang tapi ternyata tidak.
Clarina masih terus berusaha mencium Vivian sambil berkata, "Aku menginginkanmu dan jangan tolak aku!" pintanya.
Vivian benar-benar kesal dan terus menahan wajah Clarina, seharusnya dia tidak membuka ikatan tangannya tadi.
Clarina mulai menurunkan tali gaunnya dan pada saat melihatnya, Matthew melangkah mundur.
"Aku serahkan dia padamu babe," ucapnya.
"Apa? Enak saja!" protes Vivian.
"Sory babe, aku hanya ingin melihat tubuhmu saja!" Matthew segera keluar.
"Freddy, awas kau! Setelah ini aku akan mengikatmu dan mencabut setiap bulu yang ada di tubuhmu!" teriak Vivian marah.
Matthew hanya terkekeh, sedangkan Vivian benar-benar kesal. Tidak saja Matthew membuatnya kesal tapi Clarina juga membuatnya kesal karena tangannya tidak bisa diam.
"Ck, sory nona!" ucap Vivian dan tanpa pikir panjang Vivian memukul tengkuk Clarina supaya Clarina pingsan.
Matthew masih berdiri di depan pintu kamar mandi dan penasaran dengan keadaan di dalam, kenapa tiba-tiba jadi hening?
"Babe, kalian tidak sedang bergulat bukan?"
"Pergi kau!" jawab Vivian.
"Bagaimana dengannya?"
"Setelah ini aku akan membuat perhitungan denganmu!" jawab Vivian lagi
Matthew hanya tersenyum, apa Vivian memukul Clarina? Ini lebih baik dari pada dia yang memukulnya.
"Boleh aku masuk?" tanya Matthew.
"Ck, pergi! Aku sedang membuka bajunya."
"Oke baiklah, aku percayakan dia padamu babe."
Karena Vivian diam saja jadi Matthew segera keluar dari kamar, sebaiknya dia mandi karena dia juga merasa panas.
Di dalam kamar mandi, Vivian mengangkat tubuh Clarina dengan susah payah untuk keluar dari bathup dan setelah itu, Vivian memapah tubuh Clarina keluar dan membawanya menuju ranjang.
Setelah tiba di sisi ranjang, Vivian menjatuhkan tubuh Clarina begitu saja dan memegangi pinggangnya.
"Pinggangku, oh nasibmu hari ini!" gerutunya.
__ADS_1
Vivian memandangi Clarina dan menghembuskan nafasnya, "Fredd, kau benar-benar trouble maker!"
Dia segera berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian sambil berkata, "Semoga setelah ini dia tidak meminta tumpangan padaku seperti pembuat masalah di luar sana!"