
Para sandera berteriak ketakutan karena gedung mulai diledakan. Anak buah Thomas mulai bergerak sesuai perintah Felicia.
Mereka membawa Wali Kota pergi melalui jalan rahasia. Felicia melakukan hal itu agar dia bisa melarikan diri. Dia akan menunggu kedatangan Vivian dan berduel dengannya dan pada saat itu, salah satu dari mereka harus mati.
Semua diluar rencananya karena dia tidak menyangka Vivian sudah tahu penghianatan yang dia lakukan. Dia tahu satu ledakan tidak mungkin membunuh Vivian dan sekarang, lebih baik dia pergi dan bergabung dengan Gary. Lagi pula para polisi akan sibuk membebaskan sandera dan beberapa anak buah Thomas masih berjaga-jaga di sana. Setelah membebaskan sandera para petugas juga harus menyelamatkan Wali Kota dan dia punya banyak waktu untuk melarikan diri dan menyusun rencana baru.
Memang saat itu sesuai dengan perintah Patrik, para polisi sudah siap menyergap masuk ke dalam menggunakan tameng mereka. Team bersenjata sudah siap di belakang barisan siap menyerang tapi sayangnya lagi-lagi sebuah ledakan terjadi.
Para polisi semakin waspada sedangkan Patrik berusaha menghubungi Vivian karena dia ingin tahu situasi di dalam sana. Charlie dan Vivian berdiri di sisi bangunan dan mereka ada di lantai dua saat itu. Mereka mengintip dari balik jendela dan melihat para sandera yang ketakutan bahkan ada beberapa dari mereka yang ditembak mati.
Para pejabat yang ada di dalam sana juga ketakutan karena bom aktif yang ada di tubuh mereka bisa meledak kapan saja. Vivian segera memasang earphone ketika ponselnya bergetar, dia masih memantau situasi di dalam sedangkan Charlie merobek bajunya untuk mengikat lengannya yang terkena tembakan.
Tubuh mereka dipenuhi luka akibat goresan kaca tapi mereka tidak memperdulikan hal itu karena nyawa sandera lebih penting saat ini.
"Angel, bagaimana situasi di dalam?" tanya Patrik.
"Aku sedang berada di lantai dua, Patrik. Ada sepuluh orang yang berjaga di sana, beberapa sandera tewas dan beberapa anggota dewan dipasangi bom aktif," jawab Vivian dengan pelan.
"Bagaimana sekarang? Apa kami harus langsung menyergap?" tanya Patrik.
"Tahan pasukan, mereka meledakkan setiap bangunan untuk mengalihkan sesuatu dan jika kau memaksa pasukan masuk maka mereka tidak akan segan melempar granat ke arah kalian! Aku dan Charlie akan berusaha masuk dan melumpuhkan mereka dan setelah itu aku akan memberi perintah dan pada saat itu kau bisa membawa pasukan masuk!" ucap Vivian.
"Baiklah, aku akan menahan pasukan," jawab Patrik.
Pembicaraan mereka selesai, Vivian dan Charlie masih mengintip dan melihat situasi sedangkan di bawah sana Patrik menahan pasukan karena menerobos secara tiba-tiba sangat berbahaya.
Patrik akan menunggu perintah dari Vivian dan pada saat itu sebuah motor berhenti tidak juah dari mereka. Matthew segera turun dari motornya dan membuka helm yang dia pakai tapi ketika melihatnya, para polisi mengarahkan pistol ke arahnya.
"Hei, kau! Angkat tanganmu!" pinta salah satu polisi yang bertugas dan Patrik menoleh ke belakang untuk melihat apa yang terjadi.
Ketika melihat Matthew, Patrik mengernyitkan dahi. Bukankah pria itu adalah pelaku yang ada di dalam sana? Lalu kenapa pria itu ada diluar?
Patrik segera menghampiri Matthew dan mengarahkan pistolnya ke arah Matthew sambil berkata, "Angkat tanganmu, Bung! Kau kami tangkap karena telah melakukan tindak kejahatan!"
"Jangan bercanda! katakan padaku bagaimana keadaan Angel?" tanya Matthew.
"Kau yang jangan bercanda dan sebaiknya jangan melawan karena kau telah terbukti melakukan kejahatan dan menyandera para pejabat di dalam sana!" ucap Patrik dan dia segera memerintahkan polisi yang ada di sana untuk menangkap Matthew.
"Sh*i*t! Jika itu aku lalu bagaimana aku bisa ada di sini? Apa kau pikir aku bisa berteleportasi dan apa kau pikir aku orang bodoh yang akan menyerahkkan diriku begitu saja?" Matthew mulai kesal karena tangannya mulai di borgol.
"Ada apa, Patrik?" tanya Vivian karena dia mendengar pembicaraan Patrik.
"Pelakunya ada di sini, Angel. Dia menanyakan keadaanmu tapi kami akan menangkapnya," jawab Patrik.
__ADS_1
"Pelaku?" Vivian mengernyitkan dahi dan tidak lama kemudian dia tahu itu siapa.
"Berikan ponselmu padanya dan biarkan aku berbicara dengannya, Patrik," pinta Vivian.
"Apa?"
"Percayalah padaku, Patrik. Aku akan menjaminnya dan aku akan bersaksi jika dia bukan pelakunya!" pinta Vivian.
"Tapi, Angel," Patrik menatap Matthew dengan tajam.
"Kita tidak punya banyak waktu Patrik jadi percayalah padaku," pinta Vivian.
Patrik berdecak kesal dan memerintahkan seseorang untuk melepaskan borgol yang ada di tangan Matthew dan setelah itu, Patrik memberikan ponselnya pada Matthew.
"Angel ingin berbicara denganmu!" ucap Patrik dengan ketus.
Matthew meraih ponsel Patrik dan berjalan agak menjauh, dia harap Vivian baik-baik saja.
"Matth, itukah kau?" tanya Vivian.
"Yes, Babe. Bagaimana dengan keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja tapi sepertinya ayah Clarina sudah dibawa pergi."
"Bagaimana dengan situasi di dalam?"
"Jika begitu saat kau menyergap aku akan masuk ke dalam bersama dengan polisi tapi jika mereka mau bekerja sama denganku. Jika tidak maka aku akan masuk sendiri," ucap Matthew.
"Aku pastikan mereka mau jadi berikan ponselnya pada Patrik," pinta Vivian.
Matthew mengembalikan ponsel Patrik dan hendak berjalan maju tapi para polisi menahannya.
"Patrik dia akan memimpin pasukan," ucap Vivian setelah ponsel kembali ke tangan Patrik.
"Tapi Angel, dia orang luar."
"Trust me, Patrik. Ikuti dia!" pinta Vivian.
"Ck, baiklah!" Patrik mendengus, siapa pria itu sampai membuat Vivian begitu percaya dengannya?
Setelah berbicara dengan Patrik, Vivian dan Charlie kembali mengintip. Tapi sebelum itu dia memasang eraphone di telinganya dan sambungan telephonnya sudah terhubung dengan ponsel Matthew. Mereka melihat tiga orang berjaga di sayap kanan, tiga orang berada di dekat sandera dan sisanya menyebar.
Vivian dan Charlie mengangguk dan dalam hitungan ketiga mereka berayun di tali yang mereka pakai tadi dan tidak lama kemudian ... "Prang!" mereka menerobos jendela dan masuk ke dalam.
__ADS_1
Para penjahat yang sedang berjaga tampak kaget dan sebelum mereka bertindak, Vivian dan Charlie menembaki mereka.
"Dor ... dor ... dor ...!" tembakan mulai terdengar dari lantai dua.
Patrik memerintahkan para petugas untuk melepaskan Matthew dan mereka mulai berjalan menuju pintu utama.
Patrik mengikuti Matthew dan memerintahkan pasukan untuk siaga, mereka akan menerobos masuk setelah mendapat perintah dari Vivian.
Vivian dan Charlie berlutut di atas lantai dan terus menembak. Para penjahat mulai menghujani mereka dengan timah panas tapi mereka melompat dan berlari untuk menghindari tembakan.
Para penjahat yang ada di lantai bawah mulai berlari naik ke atas untuk membantu rekannya dan pada saat melihatnya, Vivian langsung memberi aba-aba pada Matthew.
"Sekarang, Matth!"
Matthew mengangkat dua pistolnya dan segera menendang pintu sampai terbuka. Dia masuk ke dalam dan segera menembak anak buah Thomas yang ada di sana begitu juga dengan Patrik dan para pasukan. Mereka masuk dan menyebar sambil menembaki para penjahat yang berjaga di sana.
Matthew terus melangkah maju karena dia mau ke lantai dua untuk membantu Vivian sedangkan para penjahat terus menyerang.
Mereka terus menembaki Charlie dan Vivian dan kedua agen berlari untuk menghindari peluru bahkan mereka berlari menaiki tembok untuk menghindari peluru yang terus menghujani mereka dan setelah itu, mereka bersembunyi dibalik dinding untuk mengisi peluru pistol mereka.
Karena mendapat serangan dari dua arah dan merasa sudah terpojok, anak buah Thomas menarik salah satu pejabat di mana sebuah bom aktif terpasang di tubuh pejabat itu dan mengeluarkan sebuah pemicu dari saku celananya.
"Sebaiknya jangan menembak lagi jika tidak aku akan menekan pemicu ini dan semua bom akan aktif dan meledak dalam lima menit. Pada saat itu, kita semua akan mati!" ucapnya.
Charlie dan Vivian mengintip dari balik tembok dan mengumpat kesal, lagi-lagi sandera yang menjadi ancaman.
Di bawah sana, Patrik dan para pasukan sudah bergerak naik ke atas setelah melumpuhkan anak buah Thomas begitu juga dengan Matthew.
Mereka segera menghentikan langkah mereka ketika mendengar teriakan anak buah Thomas yang ada di lantai dua. Mereka tidak bisa langsung menyergap jika tidak pemicu bom akan ditekan jadi mereka naik secara mengendap-endap dan akan menembak jika ada kesempatan.
"Apa maumu?" teriak Vivian dibalik persembunyiannya.
"Biarkan kami pergi dan aku akan membebaskannya!" jawab anak buah Thomas.
"Deal," jawab Vivian.
Charlie sangat kaget mendengar jawaban Vivian, kenapa menyetujui permintaan penjahat begitu saja? Tapi setelah menjawab demikian, Vivian keluar dari persembunyiannya sambil menyembunyikan pistolnya dan tanpa banyak bicara, Vivian melepas sebuah tembakan ke arah penjahat yang sedang memegang pemicu bom.
Peluru melesat dengan cepat dan mengenai dahi orang itu dan tidak lama kemudian, penjahat yang tersisa menghujani Vivian dengan timah panas.
Vivian menembak dan terus berlari menghindari peluru tapi naas sebuah peluru mengenainya, dia terus berlari dan pada saat itu, para penjahat mendapat serangan tiba-tiba karena pasukan yang ada di bawah sudah naik menyergap dan Charlie keluar dari persembunyiannya untuk membantu.
Para sandera terdengar histeris sedangkan para petugas terus menembaki penjahat dan melumpuhkannya.
__ADS_1
Pemicu terjatuh dari tangan penjahat yang menyandera pejabat tadi tapi sayangnya, tubuh orang itu ambruk di atas pemicu dan tidak lama kemudian, semua bom yang terpasang di sana langsung aktif dan para sandera kembali panik.
#Udah panjang nih all 😂 Adegan akan terus tegang ampe Gary ketangkap dan koit# 🙈