
Sesuai permintaan Vivian, Matthew memerintahkan James untuk mengambilkan ponselnya dan tidak lupa, Matthew juga meminta James mengambil motor Vivian yang dia tinggalkan di Cafe.
Bagaimanapun itu adalah kendaraan dinas dan harus dia kembalikan setelah tugasnya di Amerika selesai.
Jangan sampai motor yang selalu dia pakai hilang jika tidak dia harus mengeluarkan uang untuk ganti rugi. Membeli satu motor sport tidaklah murah dan jangan sampai dia bangkrut akan hal ini.
Bukan itu saja yang dipikirkan oleh Vivian saat ini, dia juga memikirkan biaya rumah sakit dan komputernya. Jangan-jangan benda itu rusak akibat ledakkan sehingga dia harus membeli komputer baru lagi.
Vivian duduk di atas ranjang dan menghela nafasnya, sepertinya dia akan benar-benar bangkrut jika hal ini terus terjadi.
Mungkin dia harus mengasuransikan Komputernya setelah dia membeli benda itu lagi, itupun jika ada perusahaan asuransi yang mau menerima seperangkat komputer untuk di asuransikan.
Dari arah sofa, Matthew memperhatikan Vivian yang sedang menghela nafasnya kembali, ada apa dengannya?
Karena penasaran, Matthew menutup laptopnya karena saat itu dia sedang bekerja dan setelah itu dia segera menghampiri Vivian.
"Kenapa kau melamun babe?"
"Tidak ada apa-apa, aku hanya memikirkan keuanganku yang mungkin sebentar lagi akan sekarat bahkan sebentar lagi aku akan jatuh bangkrut."
Matthew terkekeh dan menarik Vivian hingga masuk ke dalam pelukannya. Jatuh bangkrut? Sepertinya Vivian sangat memikirkan keuangannya.
"Kenapa kau selalu berkata seperti itu? Apa kau sedang mengumpulkan uang untuk suatu tujuan?"
"Tentu saja!" Vivian mendorong tubuh Matthew dan merebahkan dirinya di atas ranjang, sedangkan Matthew juga merebahkan diri di sisinya.
"Oh ya? Katakan padaku, apa yang mau kau beli?" tanya Matthew seraya mengusap wajah Vivian.
"Tidak ada," jawab Vivian.
"Lalu?"
"Aku punya cita-cita ingin membangun sebuah panti asuhan dan sebuah toko roti setelah aku tidak bekerja."
"Wow, kenapa kau ingin membangun sebuah panti?"
"Untuk membantu anak-anak tidak mampu."
"Tapi kau tidak perlu membangun sebuah panti jika kau sangat ingin membantu mereka. Cukup menjadi donatur itu sudah sangat membantu mereka."
"Kau benar, lagi pula uangku tidak banyak," jawab Vivian.
Uang hasil jerih payahnya memang tidak banyak, dia bahkan selalu berhemat dan menahan diri untuk membeli sesuatu. Dia bahkan selalu mempertimbangkan harga barang yang hendak dia beli dan itu semua demi tujuannya.
"Babe, bagaimana jika kita bermain teka teki?" ajak Matthew.
"Boleh," jawab Vivian karena dia sedang bosan.
"Baiklah, satu teka teki dariku dan satu teka teki darimu. Siapa yang kalah harus mengikuti permintaan yang menang."
__ADS_1
"Deal!" ucap Vivian setuju.
"Jadi siapa yang duluan memulai? Kau atau aku?" tanya Matthew.
"Kau dulu tapi Ingat, jangan memberikan teka teki yang sulit, aku malas berpikir!"
Matthew terkekeh dan mencium pipi Vivian kembali, teka tekinya tidak sulit jika menyimak ceritanya dengan baik.
"Aku mulai ya."
"Yes!" jawab Vivian.
"Disebuah arena pertarungan, terjadi pertarungan sengit antara Seekor semut dan seekor Gajah. Masing-masing dari mereka memakai perisai ditubuh mereka. Tidak ada yang mau mengalah dari kedua binatang itu dan pada saat terompet tanda pertarungan dimulai, mereka mulai memercikkan api permusuhan dengan saling menghina satu sama lain dan gajah mulai menghina semut terlebih dahulu!"
"Hei, teka teki macam apa itu?" protes Vivian.
"Dengarkan saja ceritanya babe dan simak pertanyaannya!"
"Oke baiklah, jadi apa pertanyaannya?"
"Dengarkan baik-baik pertanyaannya, bagaimana Gajah menghina semut?"
"What the hell! pertanyaan macam apa itu hah?!"
"Jawab saja babe, setiap pertanyaan pasti ada jawabannya."
"Oh my God, aku yakin profesor juga tidak akan bisa menjawabnya!" ucap Vivian frustasi sedangkan Matthew terkekeh.
"Aku yakin hanya kau saja yang bisa menjawabnya!" Vivian benar-benar kesal. Otak Matthew Smith terbuat dari apa sih?
"Percayalah babe, adikku juga bisa."
"Oke...oke Mr jenius, aku tidak mau berdebat denganmu karena aku selalu kalah!"
"So?"
"Beri aku waktu untuk memikirkan pertanyaan anehmu!"
"Lima belas menit babe dan kau boleh menjawab dengan sesuka hatimu selama lima belas menit."
"Baiklah, aku akan jawab!" ucap Vivian, semoga jawabnya tidak salah.
"Silahkan Mrs Smith," jawab Matthew sambil tersenyum.
"Gajah menghina semut jika dia kecil?"
"No!" jawab Matthew.
"Gajah menghina semut lemah?"
__ADS_1
"Bukan juga dan sebaiknya simak pertanyaannya baik-baik."
Vivian mulai memikirkan pertanyaan yang diberikan oleh Matthew, bagaimana Gajah menghina semut?
Gajah adalah binatang besar dan semut sangat kecil, jika bukan menghina tubuh semut sangat kecil dan lemah lalu apa? Dia benar-benar pusing memikirkan jawabannya.
"Bagaimana babe?" tanya Matthew sudah tidak sabar.
"Wait a minute," pinta Vivian sambil berpikir. Dia yakin jawabannya di luar akal sehat.
"Gajah menghina kaki semut walau banyak tapi kecil dan tidak bisa melukai siapapun sedangkan kaki Gajah begitu besar dan bisa menginjak mati siapa saja!"
"Wow, jawabanmu sangat bagus tapi terlalu jauh dari jawaban aslinya."
"What? Oh aku menyerah!"
"Are you sure?"
"Yes, jadi apa jawabannya?!"
"Sudah aku katakan padamu bukan? Simak pertanyaannya baik-baik! Bagaimana Gajah menghina semut? Tentu dengan cara mengeluarkan suara melalui belalainya. Di cerita itu tidak disebutkan mereka bisa bicara bukan dan kau selalu terjebak dengan isi ceritanya!"
"Oh my God, aku kehabisan kata-kata!" ucap Vivian.
"Jadi?"
"Sekarang giliranku Mr Smith dan jangan senang dulu!"
"Oke, jadi apa teka tekimu?" Matthew tampak begitu percaya diri.
"Ini juga pertanyaan mudah," Vivian tersenyum dengan licik.
"Ayo babe, katakan!"
"Dengarkan baik-baik, setiap orang mempunyainya, dari atas sampai kebawah selalu didapati dan terkadang panjang dan terkadang pendek."
"Rambut!" jawab Matthew sebelum Vivian menyelesaikan teka tekinya.
"Bingo. Mr Smith memang hebat dan tidak diragukan kehebatannya tapi pertanyaan adalah, berapa jumlah rambut yang ada ditubuh Matthew Smith?"
"What?" Matthew tercengang mendengar pertanyaan dari Vivian, sedangkan Vivian tersenyum dengan licik.
"Selamat menghitung Mr Smith," ucap Vivian sambil menepuk pipi Matthew. Memangnya dia kira dia saja yang bisa membuat pertanyaan sulit, dia juga bisa dan semoga Matthew bisa menghitung jumlah rambut yang ada ditubuhnya.
Pada saat itu James sudah datang dan Vivian bangun dari atas ranjang, dia ingin menghubungi Patrik karena James sudah membawakan ponselnya.
Matthew hanya tersenyum melihat Vivian menghampiri James, bagus, gadis yang sangat cerdik dan dia semakin bertambah suka.
Ketika Vivian menghubungi Patrik dan memberinya kabar, Matthew menghampiri James dan memintanya melakukan hal lain.
__ADS_1
Kabar keberadaan Vivian langsung tersebar di agensi dan tidak lama kemudian, kabar itu langsung sampai di telinga Carlk.
Begitu mendapat kabar itu, Carlk memerintahkan mata-mata yang ada di agen untuk mencari tahu siapa yang telah menolong dan membawa Vivian. Dia yakin orang yang bersama dengan Vivian saat ini bukanlah orang sembarangan karena keberadaan Vivian bagaikan hilang dan hanya orang hebat saja yang bisa melakukannya. Tapi siapapun itu, dia tidak akan takut dan akan dia habisi karena telah membantu Vivian.