
Setelah menenangkan jantungnya, Vivian membuka sedikit daun pintu dan mengintip. Dia ingin melihat di mana Matthew dan dia harap pria itu sudah tidur.
Dia melakukan hal itu karena dia malu bertemu dengan Matthew, dia harus kembali bekerja dan dia harap mereka tidak bertemu dulu.
Dia benar-benar malu dan tidak menyangka akan melakukan hal seperti itu, ini di luar dugaannya, demi informasi dia rela melakukannya.
Vivian melihat ke kanan dan setelah itu dia melihat ke kiri, setelah merasa aman dia segera keluar dari kamar dan berjalan menuju meja komputernya.
Setidaknya dia akan mendapatkan informasi mengenai Matthew Smith dan dia merasa tidak sia-sia memberikan tumpangan kepada Freddy.
Vivian segera duduk dan ingin mengerjakan pekerjaannya kembali tapi pada saat itu, suara ponsel mengalihkan perhatiannya.
Saat melihat siapa yang menghubunginya, senyum Vivian langsung mengembang. Tidak mau menunda Vivian segera menjawab panggilan yang masuk kedalam ponselnya.
"Kakak."
"Vivi, aku dengar kau ditugaskan ke Amerika, kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" tanya kakaknya.
"Sory kak, aku tidak mau menggangu kakak yang sedang sibuk," jawab Vivian.
"Bodoh, kita saudara untuk apa kau merasa sungkan? Jika aku tidak pulang maka aku tidak tahu akan hal ini!" ucap kakaknya dengan nada sedikit marah.
"Maaf kak, jadi kakak ada di rumah?"
"Ya, aku ingin melihat keadaan kakek."
"Ada apa dengan kakek, kak?" Vivian langsung tampak khawatir.
"Tidak ada apa-apa Vivi, kakek baik-baik saja."
"Syukurlah," ucap Vivian sambil menghembuskan nafasnya lega.
"Sayang, berikan ponselnya pada mommy!" terdengar suara ibunya.
Vivian tersenyum, dia benar-benar rindu dengan keluarganya.
"Vivi, bagaimana kabarmu sayang?" tanya ibunya.
"Aku baik-baik saja mom," jawab Vivian.
"Mommy sangat senang mendangarnya sayang, jagalah dirimu baik-baik di sana dan cepatlah kembali."
"Pasti mom," jawab Vivian lagi.
Selagi dia sedang berbicara dengan ibunya, Matthew keluar dari kamar. Matthew mencari Vivian karena ada hal yang ingin dia bicarakan.
"Babe, apa kau masih sibuk?"
Vivian sangat kaget begitu juga dengan ibunya, suara siapa itu? Didengar bagaimanapun itu suara laki-laki.
Vivian bangkit berdiri dan meletakkannya jari telunjuknya ke bibir sebagai isyarat supaya Matthew tidak bersuara, jangan sampai keluarganya tahu jika dia menampung seorang pria yang memiliki banyak hutang.
"Vivi, siapa itu?" tanya ibunya curiga.
"Hanya rekan kerjaku mom, kami sedang membahas kasus," dusta Vivian.
Vivian menatap Matthew dengan tajam dan berjalan melewati Matthew karena dia ingin berbicara dengan ibunya tanpa didengar dan diganggu oleh pria itu.
Matthew tersenyum dan rasanya dia ingin menggoda Vivian jadi dia mengikuti langkah Vivian yang menuju taman belakang.
__ADS_1
"Apa? Jadi suami kakak mau mencalonkan diri sebagai Gubernur?"
Vivian masih berbicara dengan ibunya tanpa tahu jika Matthew mengikutinya dan memperhatikannya dari belakang.
Matthew bersandar di daun pintu untuk mendengar pembicaraan Vivian, siapa tahu dia mendapat informasi dari mana asal Vivian.
Tapi lima belas menit telah berlalu, Vivian hanya membahas suami kakaknya yang ingin mencalonkan diri jadi Gubernur dan dia mulai bosan.
Matthew segera menghampiri Vivian dan memeluk Vivian dari belakang, pada saat itu Vivian sangat kaget, kenapa Matthew memeluknya?
"Fre..Freddy! Mau apa kau? Lepaskan!" pinta Vivian tanpa sadar jika ibunya mendengar pembicaraan mereka.
Marta mengernyitkan dahinya, dengan siapa putrinya berbicara?
"Babe, jika kau berisik maka ibumu dapat mendengarnya," bisik Matthew di telinga Vivian.
"What? Oh my God!" Vivian baru sadar jika dia masih berbicara dengan ibunya.
Habislah, ibunya pasti curiga. Bagaimana ini?
"Mom?"
"Vivi, siapa itu?" tanya ibunya curiga.
"Bu..bukan siapa-siapa mom," jawab Vivian gugup.
Matthew memanfaatkan situasi itu dan mencium pipi Vivian, sedangkan Vivian mengepalkan tangannya karena kesal.
Ingin rasanya dia menendang pria itu tapi dia masih berbicara dengan ibunya, awas saja nanti.
"Benarkah? Jika bukan siapa-siapa kenapa dia memanggilmu begitu mesra?" tanya ibunya curiga.
"Mommy salah dengar!" jawab Vivian.
"Bukan siapa-siapa mom, percayalah! Aku sedang berusaha melupakan Carlk jadi mommy jangan khawatir."
Matthew benar-benar ingin menggoda Vivian jadi tanpa pikir panjang, Matthew menggigit bahu Vivian sampai membuat Vivian berteriak.
"Arrghh, dasar pria gila!"
"Vivi?" Marta semakin curiga, kali ini dia tidak salah dengar.
Dia jadi penasaran, apa selama di Amerika putrinya mulai terbuka dan memiliki pacar? Jika iya maka ini adalah hal yang bagus.
"Mom, bisa kita bicara lagi nanti? Aku ingin menendang seseorang!" Vivian benar-benar kesal.
Matthew hanya tersenyum dan menggigit bahu Vivian kembali, ingin menendangnya? Tidak akan bisa.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik sayang. Mommy senang kau sudah punya pacar dan melupakan Carlk."
"What, aku tidak punya pacar mom!"
"Oke sayang, mommy tidak akan mengganggumu!" ucap Marta seraya mematikan ponselnya.
"Mom?" Vivian ingin memberi penjelasan tapi ibunya sudah mematikan ponselnya.
Vivian benar-benar kesal, jika dia tidak bisa menendang Matthew maka dia tidak akan puas.
"Freddy!" Vivian menekan ucapannya dan tanpa banyak bicara, Vivian memutar tubuhnya dan melayangkan tendangannya ke tubuh Matthew.
__ADS_1
"Wow, ada apa ini babe?" Matthew pura-pura tidak bersalah dan segera menghindari tendangan Vivian.
"Jangan pura-pura tidak tahu, hari ini aku akan menendangmu sampai puas!" Vivian kembali menendang dan Matthew terus menghindar.
Vivian terus menyerang Matthew sampai mereka berada di atas rerumputan yang tumbuh di taman belakang.
"Jangan menghindar, awas kau!" Vivian semakin kesal karena Matthew menghindari setiap tendangannya.
"Kau tidak akan bisa menendangku lagi babe!" Matthew menangkap kaki Vivian dan menahannya saat gadis itu hendak mendendangnya lagi.
"Lepaskan!" pinta Vivian dengan nafas terengah-engah.
"Tidak akan!" Matthew menarik kaki Vivian hingga tubuh gadis itu merapat ke tubuhnya.
"Ma..mau apa kau?" Vivian tampak gugup, jangan sampai pria itu menggigitnya lagi.
Matthew tersenyum dan mengusap wajah cantik Vivian, dia harap Vivian segera membuka hatinya dan menerimanya.
"Babe, kau punya berapa saudara?"
"Satu," jawab Vivian.
"Kedua orang tuamu masih hidup?"
"Tentu saja!"
"Boleh aku bertemu mereka?"
"Tidak boleh!" tolak Vivian.
"Why?"
"Pokoknya tidak boleh!" Vivian mendorong tubuh Matthew dengan sekuat tenaga.
Karena kakinya masih dipengang oleh Matthew membuat satu kaki Vivian tergelincir dan hilang keseimbangan.
"Oh tidak!" Vivian berteriak dan menarik kerah baju Matthew.
"Babe, awas!" Matthew menarik kaki Vivian agar gadis itu tidak terjatuh tapi apalah daya, dia juga hilang keseimbangan karena Vivian menariknya.
Mereka berdua jatuh di atas rumput, karena tidak ingin kepala Vivian terbentur, Matthew menangkap tubuh Vivian dan memeluknya hingga tubuh Vivian berada di atasnya.
"Oh my God, ini gara-gara kau!" ucap Vivian kesal.
"Apa kau baik-baik saja babe?" tanya Matthew sambil memandangi langit malam yang tampak indah karena di taburi bintang dan bulan yang bersinar terang.
"Lepaskan!" pinta Vivian tapi Matthew tidak mau melepaskannya.
"Aku ingin kita seperti ini sebentar babe untuk memandangi langit."
Vivian mendongakkan kepalanya untuk melihat langit malam yang indah dan setelah itu dia memandangi Matthew yang juga sedang memandanginya dengan senyum di wajahnya.
"You look so beautiful Angel," puji Matthew sambil mengusap wajah Vivian.
Wajah Vivian memerah dan jantungnya berdegup dengan cepat, Kenapa malam ini dia merasa Matthew sangat tampan? Oh tidak, ada apa dengannya?
"Li... lihat langitnya!" ucap Vivian dengan wajah yang semakin memerah.
Matthew terkekeh dan mendekap Vivian dengan erat, sedangkan Vivian menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada Matthew sambil menenangkan jantungnya yang semakin berdebar.
__ADS_1
Mereka diam saja di atas rumput dan memandangi langit malam yang indah berdua. Vivian memberanikan diri memeluk Matthew dan dia merasa melakukan hal itu tidaklah buruk.
Matthew sangat kaget saat Vivian memeluknya tapi sebuah senyuman menghiasi wajahnya, tanpa Vivian sadari, traumanya mulai berangsur hilang dan rasanya dia ingin mereka seperti itu sampai pagi.