Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Kita harus waspada.


__ADS_3

Michael dan Damian masih mengawasi di depan komputer. Damian mengawasi kapal yang sudah mendekati dermaga sedangkan Michael mengawasi rumah Bruke yang sudah hancur diledakkan oleh kakaknya.


Dia baru saja mendapat perintah dari kakaknya untuk melihat, apakah Gary melarikan diri saat dia menyerang?


Michael sibuk mencari tapi sayangnya ketika kakaknya menyerang tidak ada yang terlihat melarikan diri dari rumah itu bahkan dia sudah mengecek disekitar rumah tapi tidak juga memperlihatkan ada yang melarikan diri.


Suasanya yang gelap juga menjadi kendala dan menghalangi pandangannya apalagi, di sekitar rumah Bruke banyak pohon pinus besar.


Ini aneh, mungkin yang ada di kapal benar-benar Gary jadi Michael kembali fokus pada kapal yang sudah hampir tiba di dermaga.


Beberapa orang tampak sudah menunggu di dermaga, siap menjemput sesuai dengan perintah Gary. Sebelum kapal berlabuh Michael bangkit berdiri karena dia ingin ke kamar mandi.


"Damian, aku tinggal sebentar," ucapnya.


Damian melihat Michael sejenak dan mengangguk. Setelah Michael pergi, matanya kembali fokus pada layar komputer. Dia harap ayahnya baik-baik saja dan dia harus tetap fokus untuk melihat dengan teliti apakah ayahnya ada di kapal itu atau tidak.


Mata Damian tetap fokus apalagi kapal sudah mau berlabuh tapi pada saat itu tiba-tiba saja pintu terbuka dan muncul gadis manis yang melihat ke dalam sambil memanggil, "Kakak."


Damian melihat ke arah pintu di mana seorang gadis cantik masuk ke dalam ruangan.


"Maaf, apa kau teman kakakku?" tanya Ainsley.


"Ya, anggap saja begitu," jawab Damian.


"Baiklah, di mana kakakku?"


"Kamar mandi, mungkin."


"Oke, thanks," jawab Ainsley dan dia segera keluar.


Setelah Ainsley pergi, Damian kembali melihat layar komputer dan dia kembali fokus. Saat itu Michael kembali dan dia segera duduk di samping Damian.


"Adikmu mencarimu tadi," ucap Damian.


"Ainsley?"


Damian mengangguk sedangkan Michael bangkit berdiri dan berjalan keluar untuk mencari adiknya.


Diluar sana Ainsley telah menunggu kakaknya karena ada yang ingin dia bicarakan dengan kakaknya.


"Ada apa Ainsley?" tanya Michael seraya menghampiri adiknya.


"Kak Mich, laptopku eror dan sepertinya terkena virus. Tolong perbaiki," pinta Ainlsey.


"Ck, buang saja!"


"Enak saja!" jawab Ainsley.


"Ya sudah, tapi tidak sekarang karena aku sedang mengawasi orang. Besok aku akan memperbaikinya jadi buatkan dua gelas kopi."


"Oke, tapi Kak Mich, siapa yang ada di dalam?" tanya Ainsley.


"Kakaknya Kakak Ipar."


"Oh, baiklah. Aku akan membuatkan kopi," ucap Ainsley dan dia berjalan pergi.

__ADS_1


Michael kembali ke dalam ruangan untuk memantau kapal yang mereka duga membawa Jager Maxton. Kapal sudah tampak berlabuh dan anak buah Gary sudah tampak turun begitu juga dengan orang yang mirip Gary.


Mereka tampak berbicara dengan orang yang sudah menunggu mereka dan tidak lama kemudian mereka berbicara dengan seseorang melalui ponsel dan tentunya itu adalah Gary.


Gary memerintahkan anak buahnya untuk berpencar menjadi beberapa kelompok dan sesuai perintah Gary, anak buahnya berpencar dan mereka akan menunggu perintah selanjutnya.


Mereka pergi begitu saja tapi Jager Maxton tidak terlihat bersama dengan mereka. Ini sangat aneh, kemana Jager Maxton?


"Di mana ayahku?" tanya Damian.


Michael kembali sibuk, dia kembali melihat rekaman sebelumnya saat Jager dibawa masuk ke dalam mobil sampai mobil berhenti di pelabuhan. Ini seperti kejadian saat mereka kehilangan Gary sewaktu di terowongan, apa Gary melakukan trik yang sama?


Ketika kedua mobil masuk ke dalam terowongan, Michael tampak fokus. Jangan-jangan Jager Maxton sudah berpindah tangan saat mobil berada di dalam terowongan.


Sepertinya memang itu yang terjadi dan sepertinya Gary sudah menyiapkan orang untuk membawa Jager Maxton dan memang itulah yang terjadi. Menggunakan trik yang sama, Jager dibawa oleh anak buahnya yang sudah menunggu di terowongan.


Tidak butuh lama untuk memindahkan Jager, cukup beberapa menit dan setelah itu mereka pergi. Mobil yang melintasi terowongan sangat banyak dan siapapun tidak akan pernah menaruh curiga.


"Ayahmu sudah berpindah tangan," ucap Michael.


"Apa maksudmu?"


"Ini trik lama yang dia gunakan. Ketika masuk ke dalam terowongan ayahmu dipindahkan dan dibawa oleh anak buahnya yang lain tapi kau tidak perlu khawatir, ayahmu pasti baik-baik saja."


"Sialan! Awas saja jika dia berani menyakiti ayahku!" umpat Damian marah.


Pada saat itu pintu terbuka dan Ainsley masuk ke dalam dengan dua gelas kopi yang dia buat.


"Kak Mich, kopi yang kau mau," ucap Ainsley seraya mendekati kakaknya dan meletakkan kopi ke atas meja.


"Hai," sapa Ainsley.


"Hai, aku Damian," Damian bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya.


"Ainsley," Ainsley menyebut namanya dan menjabat tangan Damian.


Ainsley tersenyum dan menarik tangannya, sedangkan Damian kembali ke kursinya.


"Baiklah, aku keluar ya Kak," ucap Ainsley.


Michael mengangguk sedangkan Ainsley berjalan keluar. Pintu tertutup dan mereka kembali fokus sambil menikmati kopi yang dibuatkan oleh Ainsley tapi tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Matthew dan Vivian sudah kembali dan masuk ke dalam. Wajah Vivian tampak murung karena dia sedang memikirkan ayah dan keluarganya.


"Bagaimana Mich, apa kau melihat ada yang melarikan diri dari sana?" Matthew menghampiri adiknya.


"Tidak Kak dan Jager tidak bersama dengan mereka," jawab Micael.


"Apa maksudnya?" Vivian menghampiri Michael dengan cepat.


"Lihat ini," Michael memperlihatkan gambar yang dia ambil ketika mobil masuk ke dalam terowongan.


"Mereka pasti sudah memindahkan Tuan Maxton ketika berada di dalam terowongan dan lihat ini ...." Michael menunjukkan mobil yang keluar dari terowongan.


"Mobil mereka keluar secara bersama-sama dan diiringi dengan mobil lainnya. Jika mau aku akan memeriksa semua mobil yang keluar dari terowongan tapi akan memakan waktu yang lama," ucap Michael.


"Bagaimana ini, Kak?" Vivian sudah tampak ingin menangis.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Daddy tidak akan mati dengan mudah," Damian mendekati adiknya dan memeluknya.


"Tapi aku takut," ucap Vivian.


"Aku juga. Kau tahu yang aku punya hanya Daddy dan kau saja dan aku tidak akan rela kehilangan Daddy begitu cepat karena aku belum membahagiakannya. Feelingku mengatakan jika Daddy baik-baik saja jadi jangan takut."


Vivian mengangguk, dia harap seperti itu dan dia harap Gary tidak melukai ayahnya. Damian melepaskan adiknya dan pada saat itu ponsel Vivian berbunyi bertanda sebuah pesan masuk.


Vivian segera mengambil ponselnya, dia kira itu pesan untuknya tapi ternyata pesan itu adalah milik salah satu rekannya.


"TW 15:30, don't forget to keep an eye on her and report what her's up to me!" pesan itu dikirimkan oleh seseorang untuk rekannya dan lagi-lagi seperti ada sebuah kode di sana.


"Apa maksud pesan ini, Matth?" tanya Vivian.


"Berikan padaku," pinta Matthew.


Vivian memberikan ponselnya kepada Matthew dan begitu melihat isi pesan itu Matthew tampak berpikir tapi tidak lama kemudian, dia langsung mengerti isi pesan itu.


"Kenapa pesan ini bisa terkirim ke ponselmu?"


"Itu pesan yang dikirimkan ke ponsel rekanku," jawab Vivian.


"Bagus, tidak sia-sia virus penyadapnya. Dengan begini kau sudah tahu siapa penghianatnya bukan?"


Vivian mengangguk, benar. Sekarang dia sudah tahu siapa penghianatnya dan dia akan mengumpulkan bukti untuk membuka kedok si penghianat.


"Ayo kita ke rumah sakit, Babe," ajak Matthew.


"Untuk apa?"


"Memindahkan keluargamu ke rumah sakit peribadi keluargaku. Di sana mereka aman dan aku akan memerintahkan orang untuk menjaga mereka. Ayahmu sudah tertangkap dan jangan sampai keluargamu yang sedang kritis juga ditangkap oleh Gary untuk membuatmu semakin kacau."


"Baiklah, tapi apa maksud kode itu?"


"Mereka akan melakukan sesuatu besok jam setengah empat sore jadi kita harus waspada. Jika kau membuat rencana dengan rekan lainnya sebaiknya jangan sampai si penghianat tahu karena dia sedang mengawasimu."


"Sial! Apa lagi yang akan mereka lakukan besok?" ucap Vivian.


"Entahlah tapi kita harus mengamankan keluargamu terlebih dahulu dan harus tetap waspada," jawab Matthew.


"Kakak Ipar, berikan nomor ponsel si pengirim pesan. Aku akan meretas dan mencari posisinya," pinta Michael.


Vivian memberikan ponselnya dan setelah itu Michael mulai meretas tapi sayangnya, nomor ponsel sudah tidak aktif karena sudah dicabut dari perangkat.


"Sepertinya besok kita akan sibuk. Aku ingin lihat apa yang ingin Gary lakukan jadi Mich, pergilah beristirahat untuk menjaga fisikmu karena aku membutuhkanmu besok. Apapun yang Gary rencanakan, kita tidak akan melepaskannya lagi," ucap Matthew.


"Oke," jawab Michael singkat.


"Damian, kau bisa tinggal di sini untuk sementara waktu dan Mich, bawa Damian ke kamar tamu," ucap Matthew lagi.


"Tidak, aku bisa menginap di hotel," tolak Damian.


"Tidak apa-apa, tinggallah sebentar di sini," ucap Michael.


Damian hanya mengangguk, padahal dia tidak ingin merepotkan siapapun tapi berada di sana tidak buruk karena dia juga ingin tahu apa yang akan terjadi besok.

__ADS_1


Matthew dan Vivian segera bergegas, mereka harus segera menuju rumah sakit. Sesuai dengan perkiraan, Gary sedang meminta anak buahnya untuk mencari di mana keluarga Vivian berada karena dia punya niat lain, dia akan meminta anak buahnya untuk membunuh semua keluarga Vivian agar Vivian semakin kacau dan Jager Maxton akan dia gunakan untuk Menangkap Vivian nanti.


__ADS_2