
Malam itu sebuah ciuman lembut mendarat di pipi Vivian dan sebuah tangan melingkar di tubuhnya sedangkan yang satunya lagi mengusap punggung Vivian.
Setelah membawa Vivian makan malam, mereka langsung pulang kerumah dan saat ini, Matthew dan Vivian berada di dalam bath up untuk menghabiskan waktu mereka berdua.
Matthew bersandar diujung bath up sedangkan Vivian berada dipelukannya sambil memainkan busa sabun dan terkadang meniupnya.
"Apa lambungmu sudah tidak apa-aa babe?" tanya Matthew sambil mengusap perut Vivian.
"Sudah tidak apa-apa Matth, kau tidak perlu khawatir."
"Jadi, apa kau menemui rekanmu untuk mencari tahu siapa aku?"
"Ya, aku meminta bantuannya karena hanya dia yang bisa membantuku dan yang bisa aku percaya."
"Kenapa tidak kau tanyakan hal ini secara langsung padaku babe? Aku pasti akan memberi tahu semua yang ingin kau tahu!"
"Maaf Matth, aku takut kecewa dan langsung meninggalkanmu saat aku mendengar dari mulutmu secara langsung. Aku terpaksa meminta bantuan rekanku supaya aku tidak begitu terpukul dan bisa memikirkan apa yang harus aku lakukan. Bagaimanapun aku tidak mau mengambil keputusan yang salah."
"Jadi kau kecewa saat mengetahui jika aku adalah mafia?"
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya dilema kau tahu? Aku takut jika kita bersama kakekku akan kecewa. Hanya itu."
"Bodoh! Lain kali jika ada yang mengganjal dihatimu bicarakan denganku dan jangan mencari keputusan sendiri. Apa kau pikir aku akan membiarkan kau menanggung beban sendirian? Aku akan melakukan apapun untukmu asal kau mau bersamaku bahkan jika seluruh dunia membencimu, mereka harus membenciku juga dan mengenai kakekmu? Kita akan menyakinkannya berdua dan menghadapinya berdua."
"Terima kasih Matth," Vivian mengangkat tangannya dan mengusap wajah matthew sedangkan Matthew mencium pipinya kembali.
"Jadi? Apa yang kau dapatkan setelah merenung di pantai?"
"Tidak ada, aku tidak mendapatkan apa-apa karena aku tidak mau hubungan kita berakhir begitu saja."
"Apa sudah ada cinta dihatimu untukku babe?"
"En...entahlah!" jawab Vivian dengan wajah merona.
"Sia-sia bukan kau merenung di pantai?"
"Tidak juga, untuk mengusir sepi aku menangkap dua ekor siput dan kura-kura dan mengadakan perlombaan untuk melihat siapa yang menang. Siapa tahu dengan begitu aku bisa menjawab pertanyaanmu."
Matthew terkekeh dan meraih tangan Vivian untuk melihat jarinya,"Jadi siapa yang menang?"
"Aku yang menang karena aku ikut lomba," jawab vivian asal.
"Hahahahaha!" Matthew tertawa dan mengigit jari Vivian dengan lembut.
"Aku yakin kau tidak akan bisa menemukan jawabannya babe."
"Jangan terlalu percaya diri Mr Smith, mulai besok aku akan memikirkan jawabannya tapi jangan lupa, besok kau harus memainkan peranmu untuk bertemu dengan rekanku."
"Oh my God," Matthew tampak frustasi, dia lupa dengan hal ini.
"Bertahanlah Matth, hanya sebentar saja."
__ADS_1
"Aku tahu. Aku akan melakukannya walaupun memalukan dan semua itu untukmu."
"Thanks."
"Tapi, dimana kita akan bertemu besok?" tanya Matthew.
"Datanglah ke Seven Bar Lounge jam delapan malam, aku akan menunggumu di sana dengan rekan-rekanku."
"Jadi kau akan menangkap si penghianat di sana?"
"Ya, tidak saja menangkapnya tapi aku juga akan menangkap buronanku."
"Buronanmu akan ke sana?"
"Entahlah, tapi aku harap mereka masuk ke dalam jebakanku."
Matthew mencium pipi Vivian dan mengusap punggungnya, pada saat itu entah kenapa Vivian jadi Ingin menanyakan satu hal padanya.
"Matth."
"Yes babe?"
"Aku adalah penegak hukum dan kau adalah mafia. Bagaimana jika suatu saat nanti kita berselisih jalan, apa kau akan membunuhku?"
Saat mendengar pertanyaan Vivian, Matthew memandangi wajahnya dan mengangkat tangannya untuk mengusap wajah Vivian.
"Jika sampai hal itu terjadi maka aku lebih rela mati di tanganmu dari pada membunuhmu."
Vivian tersenyum dengan lembut dan meraih tangan Matthew. Dengan perlahan Vivian mencium telapak tangan Matthew, mungkin tangan itu sudah membunuh banyak orang tapi dia tahu tangan itu tidak akan pernah menyakitinya.
"Thanks."
"Kau adalah segalanya bagiku babe. Setelah kasusmu selesai maka aku akan menemui keluargamu untuk melamarmu dan aku juga akan meyakinkan kakekmu agar dia tidak kecewa. Pada hari itu tiba, maukah kau menikah denganku babe? Menjadi bagianku dan melengkapi hidupku?"
Mata Vivian berkaca-kaca dan tanpa ragu, Vivian melompat ke dalam pelukan Matthew, "Tentu saja Matth," Vivian memeluk leher Matthew dan tampak bahagia.
"Aku sungguh tidak sabar menantikannya dan tentunya aku sudah tidak sabar menjadikanmu milikku sayang."
"Kau tahu? Jika kau menginginkannya sekarang maka aku tidak akan keberatan tapi beri aku pengalaman yang tidak bisa aku lupakan sama sekali," Vivian meraih tangan Matthew dan meletakkannya di dadanya. Dia tidak akan ragu untuk memberikan dirinya karena dia tahu, Matthew begitu serius dan mencintainya.
"Oh babe, kau akan mendapatkannya dan tunggulah, aku masih bisa bersabar dan aku akan memberikan pengalaman yang tidak akan pernah kau lupakan."
"Benarkah?"
"Ya, ini janjiku dan akan aku tepati."
Matthew mencium bibir Vivian dan mel*matnya dengan lembut. Ciuman ringan yang Matthew berikan berubah menjadi panas saat mereka terus memainkan lidah mereka bahkan tangan Matthew sudah berada di dada Vivian dan meremasnya dengan lembut.
"Matth?"
"Tenang saja, aku tidak akan melakukannya sekarang."
__ADS_1
"Ngh," Vivian mengangguk dan membiarkan Matthew mencium pipinya dan menyelusuri lehernya.
Dengan perlahan, bibir Matthew mencium setiap jengkal tubuh Vivian sedangkan tangannya sibuk meremas bokong Vivian.
Erangan yang keluar dari bibir Vivian benar-benar bisa menghancurkan egonya dan Matthew segera menyudahinya jika tidak dia takut kehilangan kendali dan menyerang Vivian saat itu juga. Dia sudah berjanji akan memberikan pengalaman yang tidak terlupakan untuk Vivian jadi dia akan menahan dirinya sedikit lagi.
Wajah Vivian memerah dan nafsanya tampak memburu, sedangkan Matthew mengusap wajahnya dan mencium pipi Vivian dengan lembut.
"Sudah malam, sebaiknya kita segera tidur," ajak Matthew sambil berbisik.
Vivian mengangguk dan mereka segera menyudahi mandi mereka. sebuah handuk melilit di tubuh Vivian dan Matthew menggendongnya keluar.
Matthew bahkan memakaikan baju untuk Vivian dan Vivian membiarkannya karena dia tahu Matthew sangat menyayanginya.
"Babe, jangan lupa minum susu," Matthew mengingatkan setelah mereka selesai memakai baju.
"Oh my God, are you kidding me?"
"No, itu pesan dari nenek. Tiga kali sehari."
"Aku rasa sebentar lagi perutku akan membuncit," ucap Vivian sambil cemberut.
"Hei kita belum melakukan apapun!"
"Bukan karena hamil bodoh, tapi karena kebanyakan minum susu!"
Matthew terkekeh dan membawa Vivian keluar dan mereka berjalan menuju meja makan dimana dua gelas susu ada di atas meja.
Matthew mengambil kedua gelas itu dan memberikan salah satunya untuk VIvian, "Bersulang," ucapnya dengan senyum diwajahnya.
"Semoga kau tidak hamil setelah minum susu ini," ucap Vivian bercanda.
Matthew kembali terkekeh dan mereka mengadukan gelas mereka hingga berbunyi dan setelah itu mereka meneguk isinya sampai habis.
"Aku harap susu ini cepat habis," ucap Vivian setelah gelasnya kosong.
"Kau tahu babe?" Matthew mendekati Vivian dan memutar tubuhnya agar menghadap lemari.
"Saat kau pergi nenek mengirimkan enam kaleng lagi," ucap Matthew sambil menunjuk ke arah tumpukan kaleng susu untuk ibu hamil.
"Oh my God, yang benar saja?!" Vivian benar-benar frustasi melihatnya.
"Jadi, jangan lupa minum setiap hari. Siapa tahu dengan susu itu dadamu bisa membesar," goda Matthew.
"Dasar kau mesum! Jika dadaku membesar maka punyamu juga akan membesar!''
Matthew tertawa dan setelah mereka meneguk segelas air putih, Matthew menggendong Vivian dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Dengan perlahan, Matthew membaringkan tubuh Vivian di atas ranjang dan setelah itu dia berbaring di sisinya.
"Good night babe," ucapnya seraya mencium pipi Vivian.
__ADS_1
"Good nihgt my future husband," Vivian juga menciumnya dengan mesra.
Matthew tersenyum dan memeluk Vivian dengan erat dan Vivian juga tersenyum dibalik pelukannya. Dia harap mereka akan tetap seperti itu dan dia juga berharap Carlk tidak kembali untuk mengacaukan perasaannya karena dia sudah memutuskan untuk memilih Matthew tapi dia tidak akan pernah menyangka, mereka pasti akan bertemu karena Carlk berencana menemuinya. Apakah perasaan Vivian akan goyah?