
Saat jam makan siang, Vivian berada disebuah restoran fastfood untuk makan siang dan dia menunggu Matthew di sana karena mereka berjanji akan makan bersama.
Setelah makan siang dia akan pergi ke rumah Maxton untuk mencari dan mengintrogasinya. Dia harap Maxton mau bekerja sama dengannya dan tidak marah-marah seperti waktu itu.
Memang tidak mudah tapi dia akan berusaha, bagaimanapun menghadapi orang dengan tempramen tidak baik sudah biasa baginya.
Tidak ada satu orangpun yang mau diintrogasi dan dicurigai sebagai tersangka dan Maxton juga salah satu orang seperti itu. Semoga dengan kedatangannya kerumah orang itu, Maxton mau menerimannya dan mau menjawab beberapa pertanyaannya.
Vivian melihat jam di pergelangan tangannya yang hampir menunjukkan pukul satu siang, kemana Freddy? Kenapa dia belum datang?
Saat itu Matthew sedang membicarakan hal serius dengan adiknya, ini mengenai ayah Ella yang tiba-tiba mengajaknya untuk bertemu.
Padahal dia sudah menolak bekerja sama dengan pria itu tapi entah ada tujuan apa tiba-tiba ayah Ella ingin bertemu dengannya.
Tidak hal itu saja yang mereka bahas, beberapa wajah muncul dilayar komputer adiknya dan kemungkinan besar salah satu orang yang muncul adalah pria yang sedang dikejar Vivian waktu itu.
Orang-orang itu adalah hasil penyelidikan yang James lakukan tapi dari semua wajah yang ada tidak satupun yang mereka kenal.
"Bagaimana kak?" tanya Michael.
"Entahlah, aku rasa bukan mereka. Aku ingat Angel pernah mengatakan padaku jika buronannya menggunakan banyak wajah dan aku rasa waktu itu dia juga menyamar. Mungkin orang itu menggunakan salah satu wajah yang ada di sini karena James tidak mungkin salah menyelidiki orang."
"Wow, sungguh licik! Tidak saja Angelmu tapi kita juga akan kesulitan mencarinya kak," ucap Michael.
"Kau benar Mich, tapi semakin licik lawan maka permainan semakin menarik! Aku juga tidak berharap mendapat lawan yang mudah karena semakin hebat lawanku maka semakin aku ingin membunuhnya!"
"Sepertinya kakak menemukan lawan yang sepadan selain Thomas."
"Tentu saja! Thomas hanya menunggu waktu, jika dia melakukan sedikit saja kesalahan maka aku tidak akan ragu mendatanginya dan orang ini yang menjadi buronan Angel, dia juga tidak akan aku lepaskan jika berani menyentuh Angel walau seujung kukunya saja!"
"Tapi kak, aku pernah mendengar Thomas juga sering menggunakan nama orang lain saat bertransaksi, bagaimana menurut kakak?"
"Benarkah? Apa mereka ada hubungannya?"
"Entahlah, aku pernah mendengarnya dan kita belum tahu wajah buronan pacar kakak seperti apa, jadi kita tidak bisa menyimpulkan jika mereka memiliki hubungan!" jawab Michael.
"Baiklah, dia tidak penting tapi jika terbukti bahwa dialah yang menjebak Clarina maka aku tidak akan melepaskannya!"
"Ngomong-ngomong kak, di mana Clarina?"
"Ke Paris. Kenapa, apa kau menghawatirkannya?"
"Tidak, aku cuma bertanya!" jawab Michael.
Matthew terkekeh dan melihat jam di tangannya, "Oh tidak, aku sudah terlambat!" ucapnya.
__ADS_1
"Mau kemana?"
"Makan siang dengan Angel dan katakan pada mommy, hari ini mereka akan bertemu dengannya dan katakan juga jangan keterlaluan mengerjainya!"
"Oke," jawab Michael sambil terkekeh, sedangkan kakaknya sudah berjalan keluar.
Di restoran, Vivian sudah tampak kesal dan menyomot kentang gorengnya dengan tidak niat. Kemana sih si supir mesum itu?
Dia ingin menghubungi Matthew tapi takut mengganggu pekerjaannya, jika dalam waktu setengah jam pria itu tidak datang maka dia akan pergi dan awas saja nanti di rumah!
Tidak lama kemudian Matthew masuk ke dalam restoran, dia segera menghampiri Vivian dengan terburu-buru dan pada saat melihat kedatangannya, Vivian menatapnya dengan tajam dengan wajah cemberut.
"Sory babe," ucapnya seraya duduk di samping Vivian.
"Siapa kau?!"
Matthew terkekeh dan mengusap kepala Vivian, pasti gadis itu marah dengannya.
"Sory babe, aku sedikit sibuk jadi jangan marah."
"Ck, jika kau sibuk kenapa tidak mengatakannya padaku!"
"Tidak apa-apa, aku ingin menemanimu."
"Babe, nanti malam aku akan pulang terlambat jadi kau tidak perlu menungguku."
"Apa kau ada pekerjaan?"
"Yes, jadi jangan menungguku, oke?"
Vivian hanya mengangguk, sedangkan Matthew mengusap kepalanya.
"Aku sudah harus pergi," ucap Vivian.
"Maafkan aku karena terlambat tapi aku akan menebusnya, kita akan makan malam romantis berdua nanti."
"Aku menantikannya!" ucap Vivian. Sebenarnya dia tidak mau pergi tapi apa boleh buat, dia sudah harus pergi menemui Maxton.
Mereka keluar dari restoran dan berjalan menuju motor Vivian, Matthew belum pergi dan berdiri di sisi Vivian saat gadis itu sedang bersiap-siap.
"Hati-hati babe," Matthew mengecup bibir Vivian sebelum gadis itu memakai helmnya.
Vivian mengangguk dan tersenyum, dia jadi Ingin tahu, bagaimana reaksi keluarganya saat mereka tahu jika dia sudah punya pacar?
Mungkin dia akan mengatakan pada kakeknya nanti dan dia sudah tidak sabar mengetahui reaksi kakeknya.
__ADS_1
Karena tidak ingin membuang waktu Vivian segera menyalakan motornya, dia juga membawa motornya melesat dengan cepat dan tujuannya adalah rumah Maxton.
Setelah Vivian pergi, Matthew juga pergi dan kembali ke kantor karena dia ada rapat penting.
Kurang lebih memakan waktu satu jam perjalanan, akhirnya Vivian tiba ditujuannya. Vivian menghentikan motornya disebuah rumah mewah, dia segera membuka helm yang dia pakai dan melihat rumah itu.
Sebelum turun dari atas motornya, Vivian menarik nafasnya. Dia harap kedatangannya diterima oleh Maxton hari ini.
Sebuah pagar besi yang menjulang tinggi memagari rumah itu dan Vivian berdiri di depan pagar sambil melihat-lihat ke dalam sana.
"Siapa kau?!" tiba-tiba seorang penjaga yang tampak menyeramkan menghampirinya dan melihat Vivian dari atas sampai ke bawah.
"Maaf, aku ingin menemui tuan Maxton, apa bisa?" tanya Vivian dengan sopan.
"Tuan tidak menerima tamu hari ini!" jawab penjaga itu.
"Tolong katakan padanya, aku agen FBI ingin bertemu dengannya dan ingin memberikan beberapa pertanyaan padanya," Vivian menunjukkan kartu pengenalnya dan penjaga itu segera mengambil untuk melihatnya.
Penjaga itu melihat Vivian sejenak dan setelah itu dia mengambil talkie walkie untuk berbicara dengan seseorang di dalam sana.
"Seorang agen wanita bernama Angel ingin bertemu dengan bos," ucapnya.
Orang yang berbicara dengannya adalah pelayan pribadi Maxton, saat mendengar seorang agen ingin bertemu dengan bosnya, pelayan pribadi itu langsung memandangi bosnya yang sedang menghisap sebuah cerutu.
"Tuan, seorang agen berada di depan pintu dan ingin bertemu denganmu."
"Apa? Lagi-lagi agen! Usir dia pergi!" tariak Maxton marah.
"Tapi tuan, jika kau tidak menemuinya maka dia akan kembali lagi," ucap pelayan pribadinya.
"Aku tidak perduli dan usir agen itu! Aku benci dengan mereka semua!" teriak Maxton lagi dengan nada tinggi.
Pelayan pribadinya menganguk dan segera memberi perintah kepada penjaga yang ada di depan pagar agar mengusir Vivian dan setelah mendapat perintah, penjaga itu langsung melemparkan kartu tanda pengenal Vivian dan mengusirnya.
"Tuan Maxton tidak ada di rumah jadi pergi sana!" usirnya.
"Apa? Aku tidak percaya dan biarkan aku bertemu dengannya satu kali saja," pinta Vivian.
"Pergi!" usir penjaga itu sambil berlalu pergi.
Vivian benar-benar kesal, kenapa begitu sulit bertemu dengan Maxton? Hal ini semakin memperkuat kecurigaannya dan jangan-jangan memang dialah buronan yang dia cari-cari selama ini.
Vivian memungut kartu tanda pengenalnya dan menghembuskan nafasnya, sepertinya hari ini sia-sia dan dia akan kembali lagi lain kali. Sebaiknya dia pergi mencari Matthew Smith dan dia harap dia tidak mengalami hal seperti ini.
Ketika Vivian memakai helm dan naik ke atas motor, Maxton menghampiri jendela dan memandangi kepergian Vivian. Untuk apa seorang agen mencarinya? Apapun itu dia tidak akan mau menemuinya karena dia benci dengan mereka semua dan gara-gara mereka dia harus kehilangan sesuatu yang berharga.
__ADS_1