
Setelah selesai makan siang, Vivian berpamitan dengan keluarga Matthew karena dia harus pergi ke kantor.
Banyak pekerjaan yang menunggunya dan dia berharap saat tiba di kantor para rekannya yang bertugas semalam tidak bertanya lagi padanya mengenai orang yang membantu mereka.
Walaupun singkat tapi menghabiskan waktu dengan keluarga Matthew ternyata sangat menyenangkan apalagi, Ainsley membawa sahabatnya dan mereka tidak jadi pergi. Mereka melihat gaun pernikahan yang diinginkan oleh sahabat Ainsley sampai lupa waktu.
Ainsley bahkan memintanya untuk memilih tapi Vivian hanya tersenyum, hubungannya dengan Matthew masih bisa dihitung dengan jari jadi dia tidak mau banyak berharap apalagi tidak semua hubungan akan berjalan lancar dan misinya belum selesai.
Karena dia tidak membawa motor jadi Matthew mengantarnya ke kantor, seperti biasa, Vivian meminta Matthew menghentikan mobil agak jauh dari kantor. Jangan sampai ada yang melihatnya dan curiga.
Sebenarnya yang dia khawatirkan adalah Patrik dan entah mengapa, sikap Patrik membuat rasa curiganya semakin besar. Sekarang kecurigaannya jika ada mata-mata diagensi semakin terbukti karena misi mereka bisa berhasil semalam yang berarti, si penghianat tidak bisa melakukan apapun karena ponselnya sudah dia sita.
Dia akan menyelidiki hal ini secara diam-diam dan dia harap dia bisa menangkap si penghianat. Dia juga akan membahas hal ini dengan kapten Willys agar dia bisa menangkap si penghianat dengan cepat.
Rekaman yang diberikan oleh Michael mungkin bisa memberinya petunjuk untuk menangkap si penghianat dan dia akan melihat rekaman itu di rumah. Jika dia melihatnya di kantor, rekannya pasti akan semakin mencurigainya dan si penghianat akan tahu jika dia sudah curiga sehingga orang itu semakin waspada.
Matthew menghentikan mobilnya sesuai dengan permintaan Vivian. Kantornya sudah tidak jauh lagi dan dia akan berjalan kaki dari sana.
"Babe, aku akan menjemputmu nanti," ucap Matthew sebelum Vivian turun dari mobilnya.
"Tentu, aku akan menunggu!" Vivian mendekatkan bibir mereka dan mengecup bibir Matthew.
"Oh babe, kurang!" Matthew memegangi tengkuk Vivian dan mel*mat bibirnya.
Di depan James dan sang supir diam saja dan mereka saling pandang, wajah sang supir tiba-tiba memerah dan sang supir membuang wajahnya. Bulu roma James meremang dan dia sangat geli melihat tingkah sang supir. Jika tidak ada bos mereka maka akan dia pukul supir itu sampai babak belur.
Setelah mencium Vivian, Matthew membiarkan Vivian pergi dan setelah itu Matthew memerintahkan supirnya untuk menjalankan mobil.
__ADS_1
Vivian berjalan dengan cepat menuju kantornya dan segera masuk ke dalam. Karena sudah waktunya bekerja jadi Vivian langsung menuju mejanya.
Pada saat melihatnya, para rekan yang bertugas dengannya semalam langsung menghampirinya karena mereka ingin tahu siapa yang membantu misi mereka semalam dan Vivian pasti tahu siapa orangnya karena si penghianat telah mengedarkan sebuah isu di kantor jika Vivian meminta bantuan seseorang sehingga misi yang dia pimpin bisa berhasil dan jika tidak mendapatkan bantuan, maka misi yang dipimpin oleh Vivian pasti tidak akan pernah berhasil.
Hal itu membuat rekannya jadi ingin tahu apalagi seorang agen yang ada di sana teringat jika memang ada yang membantu Vivian saat mereka menjinakkan bom sewaktu di taman bermain. Dia bahkan menawarkan orang itu untuk menjadi anggota penegak hukum tapi sayang ditolak. Walaupun agen itu tidak tahu siapa orangnya tapi dia ingat wajahnya.
Beredarnya isu dan pernyataan agen yang membenarkan jika Vivian memang dibantu oleh seseorang membuat para agen yang ada di sana semakin ingin tahu begitu juga si penghianat, siapa orang yang ada di belakang Vivian?
Dia harus tahu dan mengatakan hal ini pada Carlk supaya Carlk bisa menghabisi orang yang ada di belakang Vivian dan menjalankan misi balas dendamnya kembali.
Sebelum dia menjebak Vivian lebih baik dia bermain halus. Memanfaatkan rasa penasaran para agen membuat Vivian tidak akan menyadari niatnya sama sekali.
"Kenapa kalian berkumpul di sini?" tanya Vivian heran sambil memandangi rekannya satu persatu.
"Angel, ada isu mengatakan jika kau dibantu oleh seseorang semalam saat kita menjalankan misi," ucap salah seorang agen yang ada di sana.
"Kami hanya ingin tahu, siapa yang membantumu?"
"Tidak ada ya Tuhan! Sebaiknya kalian kembali bekerja!"
"Jangan bohong Angel, aku sangat ingat saat di taman bermain ada yang membantumu menjinakkan bom!" ucap agen yang bersama dengannya waktu itu.
"Bukankah sudah aku katakan? Dia hanya orang yang kebetulan lewat! Kenapa kalian begitu penasaran?!"
"Ayolah Angel, kenapa kau tidak mau mengatakan pada kami jika memang ada yang membantumu?!" ucap Patrik.
"Patrik!" Vivian menggebrak meja dan bangkit berdiri sambil menatap rekan-rekannya dengan tajam. Apa mereka tidak punya pekerjaan sampai berkumpul dan mengintrogasinya seperti seorang penjahat?
__ADS_1
"Dengar ini baik-baik! Aku agen yang diutus oleh pemerintahan Inggris untuk menangkap buronan berinial M! Jika memang ada yang membantu kenapa harus kalian permasalahkan? Rasa penasaran kalian sungguh lucu! Kalian berkumpul di sini dan mengintrogasi aku seperti ini, apa kalian pikir kalian hebat? Jika memang ada yang membantu dalam misi kita semalam seharusnya kalian berterima kasih karena kalian bisa pulang dengan selamat tanpa terluka sedikitpun dan kau Patrik? Aku sungguh kecewa denganmu!" Setelah berkata demikian, Vivian menyambar sebuah berkas yang ada di atas meja dan segera pergi. Lebih baik dia menemui sang kapten.
"Angel, bukan begitu?" Patrik ingin menahannya tapi Vivian tidak memperdulikannya.
Para agen mulai bubar dan merasa tidak enak hati, sepertinya mereka sudah keterlaluan tapi tidak dengan si penghianat. Rencananya gagal dan sepertinya menjebak Vivian adalah cara satu-satunya yang harus dia lakukan.
Rasa benci terhadap Vivian muncul di hati dan sekarang dia merasa tidak saja menjadi mata-mata tapi dia ingin menghancurkan Vivian dan dia akan menyusun rencana dengan matang untuk menjebak Vivian.
Sementara itu dari balik dinding, Vivian diam saja sambil melihat pantulan dari cermin yang terdapat di tempat make upnya yang dia keluarkan sedikit untuk melihat gerak gerik para rekannya. Matanya tertuju pada seseorang yang tampak mencurigakan dan sebaiknya dia mewaspadainya.
Saat itu sebuah ide muncul di kepala Vivian jadi dia segera mengambil ponselnya dan menulis sebuah pesan di sana.
"Matth, aku ingin meminta bantuan adikmu untuk meretas cctv yang ada di kantorku," pintanya.
Saat menerima pesan dari Vivian, Matthew tersenyum dan segera membalas pesan Vivian.
"Dengan senang hati babe, adikku akan melakukannya dan aku akan membawa rekamannya pulang nanti malam untuk kau lihat."
"Thanks, aku mengandalkan kalian!"
"Jangan lupa imbalannya babe," Matthew mengingatkan.
"Tentu dan kali ini imbalannya untuk adikmu. Wajah kalian sama dan bagiku tidak masalah yang mana saja!" Vivian menuliskan pesan itu sebagai candaan belaka.
"Enak saja!" protes Matthew.
Vivian tersenyum dan melangkah pergi tanpa membalas pesan dari Matthew lagi sedangkan saat itu, Michael mulai meretas dan menyusupi cctv yang ada di kantor Vivian. Karena itu adalah kantor pemerintahan jadi dia tidak bisa menyusup dengan mudah, dia harus melewati serangkaian pengamanan yang rumit. Michael melakukannya dengan hati-hati agar tidak ketahuan dan kurang lebih setengah jam, dia sudah bisa menguasai cctv yang ada di kantor Vivian. Dari layar komputernya mulai muncul gambar para agen yang tampak sedang melakukan pekerjaan tapi seorang agen menunjukkan gelagat mencurigakan dan orang itu adalah orang yang dia lihat mencurigakan semalam.
__ADS_1
Saat itu Vivian berharap, dia bisa mendapat petunjuk dari rekaman yang diambil oleh Michael sehingga ini akan menjadi langkah awal untuk menangkap si penghianat yang ada di organisasi tapi sayang, penghianatnya tidak hanya satu orang.