Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Hasutan


__ADS_3

Suara ponsel Vivian berbunyi dan membangunkan Matthew dari tidurnya. Dengan perlahan Matthew membuka matanya dan mendapati Vivian masih tidur dengan pulas di dalam pelukannnya.


Vivian pasti kelelahan akibat percintaan panas yang mereka lakukan semalam. Setelah memberikan pengalaman pertama yang tidak akan Vivian lupakan di sisi pantai, Matthew menggendong Vivian pulang ke rumah dan lagi-lagi, mereka melakukan hal itu di kamar mandi dan di atas ranjang.


Vivian menyerah dan meminta Matthew untuk berhenti karena dia sudah tidak kuat lagi, dia sangat lelah dan butuh istirahat. Matthew benar-benar gila hendak menerjangnya sampai pagi. Bahkan tubuhnya terasa sakit luar biasa saat ini.


Suara ponsel yang terus berbunyi tidak juga membuat Vivian bangun dari tidurnya. Matanya masih terasa berat dan jujur saja dia malas bergerak karena pinggangnya yang terasa nyeri dan semua itu karena Matthew.


"Babe, ponselmu berbunyi," ucap Matteh seraya mengusap lengan Vivian.


"Ngh," Vivian bergerak dengan malas dan semakin memeluknya dengan erat.


"Hei jawab dulu, setelah itu tidur lagi."


"Ck, menyebalkan!" Vivian bangun dari tidurnya dan segera mengambil ponselnya.


Dia sedikit bingung saat melihat Ana yang menghubunginya, ada apa?


"Ada apa Ana?"


"Oh my God, Angel! Kenapa kau begitu lama? Apa karena Vibrator yang aku berikan sampai kau tidak tidur menggunakan benda itu bersama Maria?" goda Ana.


"Ck, jangan sembarangan. Ada apa?"


"Dengar, Jerry tiba-tiba masuk rumah sakit karena usus buntu jadi kami tidak bisa mengusut kasus yang diberikan oleh kapten Willys bersama."


"Lalu?"


"Bagaimana jika kau pergi bersama denganku untuk mengusut kasus ini."


"Baiklah, kita akan pergi nanti siang."


"Oke," jawab Ana dan mereka menyudahi pembicaraan mereka.


Vivian meletakkan ponselnya dan kembali berbaring di samping Matthew. Dia masih punya waktu sebelum berangkat ke kantor.


"Siapa?" tanya Matthew sambil mencium pipinya.


"Rekanku. Dia mengajakku pergi mengusut kasus."


"kasus apa?" Matthew masih memainkan bibirnya di pipi Vivian.


"Kasus pembunuhan. Mayat seorang pria tanpa wajah ditemukan di hutan dalam kondisi sudah membusuk."


"Wow, sepertinya kau akan sibuk hari ini."


"Ya, tapi ngomomg-ngomong, jam berapa kita akan menemui Maxton besok?"

__ADS_1


"Terserah kau babe. Kau bisa menemuinya jam berapapun dan kita akan pergi bersama."


"Aku sungguh sudah tidak sabar untuk mengintrogasinya dan aku harap dia tidak akan menendang aku keluar."


"Selama ada aku, dia tidak akan berani melakukannya."


"Oh ya?"


"Yes, aku jamin," ucap Matthew.


Vivian tersenyum dan mencium pipi Matthew dengan mesra, semoga setelah mengintrogasi Maxton dia bisa memberikan bukti pada kapten Willys jika Damian Maxton bukan tersangka yang mereka cari selama ini.


Lagi pula dia percaya dengan Matthew dan Matthew tidak akan pernah mengecewakannya. Apapun itu dia akan tahu besok setelah bertemu dengan Maxton.


Matthew mengusap punggung Vivian dengan lembut dan entah kenapa dia semakin penasaran dengan reaksi Jager Maxton saat melihat wajah Vivian yang mirip dengan istrinya. Sungguh dia sudah tidak sabar melihatnya, dia yakin Jager Maxton tidak akan mengusir Vivian setelah melihatnya tapi yang dia khawatirkan, jangan sampai pria tua itu gagal jantung saat melihat Vivian. Semoga saja tidak terjadi.


"Babe, ayo mandi," ajaknya sambil berbisik.


"Tapi jangan menyerangku di kamar mandi," pinta Vivian.


"Kenapa? Apa kau tidak mau melakukannya lagi?"


"Bukan bodoh, oh astaga! Kau benar-benar liar! Pinggangku sakit dan sekujur tubuhku juga sakit gara-gara kau semalam dan lihat tanda di tubuhku ini!" Vivian menunjuk bercak merah yang hampir seperti lebam yang terdapat di tubuhnya dan semua itu gara-gara Matthew.


"Hampir disemua tempat dan lagi pula, memangnya semalam tidak cukup?!"


Matthew terkekeh dan turun dari atas ranjang dan setelah itu dia mendekati Vivian untuk menggendongnya.


"Dasar kau mesum!"


"Aku memang mesum," jawab Matthew sambil tertawa dan dia segera membawa Vivian masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara itu di Pemakaman Nasional San Francisco, pagi-pagi sekali Jager Maxton sudah datang ke sana bersama dengan Damian.


Tentu dia ingin mengunjungi istri dan anaknya yang dimakamkan di sana. Pemakaman Nasional San Francisco adalah pemakaman nasional yang terletak di Presidio dari San Francisco, California.


Pemakaman tersusun dengan rapi dan tampak bersih karena pemakaman dijaga dengan baik.


Sambil membawa seikat bunga Lily berwarna putih kesukaan istrinya, Jager menghampiri makam istrinya sedangkan Damian berjalan di belakangnya.


Dia sangat ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi dua puluh lima tahun lalu tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya karena ayahnya sedang berduka.


Ketika sampai dimakam istrinya, Jager berdiri di depan batu nisan dan tak kuasa menahan air matanya saat melihat foto istrinya yang terdapat di batu nisan.


Jager berjongkok dan dengan tangan bergetar, Jager menyimpan bunga lily yang dia bawa di batu nisan istrinya dan tidak hanya itu saja, dia juga membawa sebuah mainan bayi untuk putri kecilnya yang juga dimakamkan di sana bersama dengan istrinya.


"Cristiana, maaf aku baru menjengukmu," ucapnya seraya mengusap foto istrinya.

__ADS_1


"Aku sangat merindukanmu dan Fiona tapi sayang, kita tidak bisa bersama saat ini tapi tunggulah, mungkin sebentar lagi aku akan menyusul kalian karena penyakitku ini dan kita akan bersama lagi."


Jager mengusap air matanya yang terus mengalir. Dia masih ingat betul saat dua puluh lima tahun yang lalu, ketika dia sedang mencari keberadaan istri dan putrinya, waktu itu masih pagi kira-kira seperti saat ini, tiba-tiba beberapa petugas datang kerumahnya dan mengatakan jika mayat istrinya sudah dibawa dari Inggris dan ada disebuah rumah sakit.


Pada saat mendengarnya, dunia Jager benar-benar hancur dan yang membuatnya semakin hancur adalah, ketika para petugas mengatakan mayat putrinya juga ada bersama dengan istrinya.


Jager tidak percaya begitu saja dan segera pergi ke rumah sakit tapi apa yang dia lihat benar-benar mengambil separuh kehidupannya. Di kamar mayat, istrinya terbujur kaku dan terbaring disebuah peti mati sedangkan mayat bayinya ada di samping istrinya dan mayat bayinya dalam keadaan terbakar hingga sulit dikenali.


Seorang petugas menjelaskan jika istri dan anaknya menjadi korban saat Tentara mengamankan dua kubu penjahat yang sedang bentrok. Itulah yang membuat Jager Maxton membenci penegak hukum karena gara-gara mereka istri dan putrinya harus menjadi korban.


Jager sangat ingin menghabisi semua penegak hukum yang dia jumpai karena gara-gara mereka dia harus kehilangan istri dan putrinya dan sampai sekarang dia masih mencari orang yang telah membunuh istri dan putrinya.


Dengan perlahan Jager bangkit berdiri dan Damian membantunya, jika saja bukan gara-gara baj*ingan itu mungkin saat ini istri dan putrinya masih ada dan mereka akan bersama tapi waktu tidak bisa diulang kembali.


"Otōsan daijōbudesuka?"


(Dad, apa kau baik-baik saja?)


"Hai, daijōbudesu."


(Ya, aku baik-baik saja)


Jager menjawab pertanyaan putranya sambil memandangi makam istri dan putrinya. Mereka diam saja dan pada saat itu, ponsel Jager berbunyi. Jager segera mengambil ponselnya dan sebuah nomor tidak dikenal sedang menghubunginya.


Dia segera menjawabnya dan terdengar suara seorang pria dari seberang sana.


"Tuan Max, maaf mengganggu dihari berkabungmu."


"Siapa kau?" tanya Jager dengan nada tidak senang.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku tuan Max tapi aku akan mengatakan padamu siapa yang membunuh istri dan putrimu supaya kau bisa balas dendam."


"Siapa? Apa yang kau tahu?!" teriak Maxton marah.


"Kau ingin tahu?"


"Katakan?!"


"Dia adalah seorang mantan tentara dan dia adalah David Adison."


"Apa?!" Jager tidak percaya mendengarnya.


"Hei apa yang kau katakan benar?!" teriak Jager tapi sayang pria itu sudah mematikan ponselnya.


"Otosan, doshita no?"


(Dad, ada apa?)

__ADS_1


Jager menggeleng, apa maksudnya? Apa ucapan orang itu bisa dipercaya dan siapa David Adison? Apa benar dia yang telah membunuh istri dan anaknya?


Jager memandangi makam istrinya, jangan-jangan David Adison adalah tentara yang telah membunuh istri dan putrinya dua puluh lima tahun yang lalu.


__ADS_2