Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Will You Marry Me?


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul lima sore, Vivian tampak sibuk memilih baju karena hari ini seluruh keluarganya akan bertemu dengan keluarga Matthew untuk membahas pernikahan mereka. Tidak hanya itu, Matthew juga berkata dia akan memberikan sebuah kejutan untuk Vivian. Entah kejutan apa dan rasanya sudah tidak sabar.


Pukul delapan malam nanti mereka akan makan malam bersama di restoran Waterbay. Waterbay sendiri dianggap sebagai restoran seafood terkemuka di San Francisco.


Waterbar terletak di lokasi utama di tepi pantai Embarcadero San Francisco, tepat di sebelah selatan patung Cupid's Span. Di sana para pengunjng akan menikmati pemandangan teluk yang indah, Jembatan Teluk, Pulau Harta Karun, dan cakrawala San Francisco.


Tidak hanya menyajikan makan laut yang lezat, Waterbay juga menampilkan pemandangan tepi laut dan Bay Bridge yang menarik dari teras, patio, dan ruang makan pribadi.


Saat malam, para pengunjung dapat menikmati pemandangan lampu Bay Bridge yang terdapat didekat restoran juga dapat melihat laut pada malam hari. Restoran Waterbar sangat cocok untuk minuman al fresco atau perayaan keluarga yang terkenal dan di sanalah keluarga mereka akan bertemu pada malam nanti.


Vivian meletakkan gaun berwarna merah di atas ranjang lalu dia mengambil sebuah gaun berwarna biru dan melihatnya. Dia tampak bingung akan menggunakan yang mana karena dua-duanya tampak bagus.


Ini malam spesial dan dia harus berpenampilan secantik mungkin apalagi ada kejutan yang akan diberikan oleh Matthew.


Saat ini Vivian bersama dengan keluarganya. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana yang dicari oleh James. Rumah itu sudah cukup untuk mereka karena mereka akan langsung kembali ke Inggris setelah Vivian menikah.


Matthew dan Vivian juga sedang mempersiapkan acara pernikahan mereka. Mereka berdua sudah memilih beberapa tempat bagus untuk melangsungkan acara pernikahan mereka nanti tapi mereka belum memutuskan.


Pada saat itu, ibunya masuk ke dalam. Marta tersenyum ketika melihat putrinya sedang berdiri di depan dua gaun dan tampak berpikir. Dia bisa menebak, putrinya pasti sedang bingung memilih kedua gaun itu.


"Ada apa, Sayang?" tanya Marta seraya mendekati putrinya.


"Aku hanya bingung, Mom."


"Kau cantik pakai warna apapun, Sayang" ucap Marta.


"Aku tahu, Mom. Aku hanya ingin berpenampilan sempurna malam ini."


Marta terkekeh dan memeluk putrinya, dia tidak menyangka waktu begitu cepat berlalu. Bayi cantik yang dibawa pulang oleh ayah mertuanya kini sudah dewasa dan sudah akan menikah.


"Waktu begitu cepat dan kau sudah besar. Aku sangat ingat ketika kau dibawa pulang oleh kakekmu dan sekarang, kau akan pergi dari kami dan memulai hidup baru dengan pria pilihanmu," ucap Matra seraya mengusap rambut putrinya.


"Walaupun aku sudah menikah tapi aku tetap putrimu, Mom."


"Mommy tahu, Sayang. Mommy hanya tidak menyangka jika kau sudah mau menikah padahal dulu kau bilang tidak mau."


"Mommy benar tapi semua sudah berubah dan aku tidak menyangka aku akan bertemu dengan Matthew dan menjalin hubungan dengannya bahkan kami akan memutuskan untuk menikah."


"Itu bagus bukan? Mommy sangat senang akhirnya pandanganmu terhadap laki-laki sudah berubah. Sekarang bersiaplah, jangan sampai kita terlambat."


Vivian mengangguk, dia kembali melihat kedua gaun yang ada di atas ranjang dan memutuskan untuk menggunakan gaun berwarna biru. Gaun itu tampak pas di tubuhnya setelah dia gunakan dan gaun itu memperlihatkan lekukan tubuhnya yang indah.


Waktu berjalan begitu cepat, saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, sebuah mobil datang untuk menjemput mereka.


Sebelum berangkat ke restoran Waterbay, Vivian sudah menghubungi ayahnya. Mereka juga sudah siap dan sedang menuju ke restoran.


Restoran itu sudah dipesan secara exclusive untuk mereka malam ini. Restoran ditutup dan hanya akan menerima mereka saja dan tidak menerima tamu lain. Seorang Chef profesional akan bekerja malam itu, tentunya untuk menghidangkan makanan lezat untuk mereka.


Matthew dan keluarganya juga sedang di dalam perjalanan. Besok keluarga besarnya akan pulang dan mereka akan berkumpul. Sebentar lagi rumah mereka pasti akan ramai.


Mereka tiba terlebih dahulu dan mereka menunggu kedatangan Vivian dan keluarganya. Mereka akan menghabiskan malam itu di teras untuk menikmati pemandangan laut malam dan lampu di Bay Brige. Tidak lama kedatangan mereka, Jager Maxton dan Damian juga tiba.


Ini kali pertama Jager bertemu dengan keluarga Matthew, walau dia tahu siapa Albert Smith tapi dia tidak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya.

__ADS_1


Begitu melihat kedatangannya, Albert dan Kate bangkit berdiri begitu juga dengan Jacob dan Alice. Mereka tersenyum dengan ramah menyambut kedatangan Jager Maxton.


Setidaknya mereka sudah tahu jika pria itu adalah ayah kandung Vivian apalagi mereka sudah mengenal Damian.


"Selamat malam, Tuan Smith," Jager mengulurkan tangannya ke arah Albert.


"Selamat malam, Tuan Max," jawab Albert seraya menyambut uluran tangan Jager.


"Aku sudah mendengar tentang kalian dari putraku, terima kasih atas kebaikan kalian," ucap Jager.


"Tidak perlu sungkan, sebentar lagi kita akan jadi keluarga jadi tidak perlu kau pikirkan."


"Kau benar, aku hanya tidak enak hati karena telah banyak merepotkan kalian."


"Tidak apa-apa, Tuan Max. Kami sangat senang bisa membantu kalian," jawab Kate.


Jager bersalaman dengan yang lain, sedangkan Ainsley melambaikan tangannya ke arah Damian dan tampak cantik malam itu. Michael juga berada di sana karena dia diajak oleh ibunya.


Sebelum mereka duduk, Vivian sudah tiba bersama dengan keluarganya. Matthew segera menghampiri Vivian yang terlihat cantik malam itu. Sebuah uluran tangan dia dapatkan dan sebuah senyuman menawan.


Mereka segera bergabung dengan yang lain dan saling memperkenalkan diri. Tiga keluarga tampak berbincang dengan ramah dan tidak ada yang berbicara kasar atau menyinggung satu sama lain.


Walau mereka baru kenal dan bertemu tapi mereka terlihat akrab. Sebelum hidangan datang, mereka membicarakan masalah pernikahan Matthew dan Vivian dan bertanya kepada mereka berdua.


"Jadi, Matth. Kapan kau akan melamar Vivi?" tanya ibunya.


"Sebentar lagi, Mom," jawab Matthew.


"Jangan terlalu lama," ucap ayahnya pula.


"Itu bagus, jadi tidak ada yang keberatan bukan putraku menikahi Vivian? Kalian pasti tahu latar belakang keluarga kami, apa kalian tidak keberatan Vivian jadi bagian keluarga kami?" tanya Albert memastikan.


"Tentu tidak, aku sendiri berlatar belakang sama dengan kalian jadi aku tidak keberatan," jawab Jager Maxton.


"Bagaimana denganmu, Tuan Adison? Kau mantan tentara, apa kau keberatan?" tanya Albert pada David Adison.


Semua mata memandangi David, begitu juga dengan Vivian. Dia harap kakeknya tidak berubah pikiran dan tetap setuju.


"Kakek," panggil Vivian karena kakeknya diam saja.


"Tentu saja aku tidak keberatan. Walaupun profesi kalian bertentangan denganku dan jujur aku tidak suka, tapi aku percaya jika Matthew bisa membahagiakan cucuku. Lagi pula aku sudah melihat ketulusannya tapi jika dia berani membuatnya menangis, aku akan menendangnya!" ucap David.


"Tidak perlu khawatir, Tuan David. Sebelum kau menendangnya aku yang akan menendangnya terlebih dahulu," jawab Jacob.


"Setelah itu aku," sela Albert.


"Dan aku," ucap Damian.


"Kami semua akan menendangnya," ucap Kate pula.


"Wow ... wow! Kenapa kalian begitu bersemangat ingin menendangku?" Matthew tidak terima, sedangkan yang lain tertawa.


"Selamatkan bokongmu, Kak. Ternyata banyak yang ingin menendangnya dan aku juga ingin melakukannya," ucap Michael.

__ADS_1


"Mich, awas kau ya!"


"Sebaiknya kau jaga baik-baik bokongmu, Matth," goda Vivian.


"Ck, tiba-tiba bokongku jadi incaran kalian semua!" gerutu Matthew dan yang lain kembali tertawa.


Makanan sudah terhidang dan mereka menikmatinya sambil berbincang juga menikmati pemandangan indah yang ada di sekitar Waterbay.


Vivian terlihat sudah tidak sabar menanti kejutan yang akan diberikan oleh Matthew dan setelah makanannya habis, dia segera bertanya pada Matthew sambil berbisik.


"Jadi, kejutan apa yang ingin kau berikan untukku?"


"kau tampak tidak sabar."


"Tentu saja," jawab Vivian.


"Tunggu sebentar lagi, Babe. Aku ingin mereka menyaksikannya nanti."


"Baiklah."


Matthew tersenyum dan memegang tangan Vivian, hari ini dia akan melamar Vivian di depan keluarga mereka.


Mereka sudah selesai menikmati hidangan pembuka dan hidangan penutup mulai disajikan. Saat itu Matthew mengajak Vivian untuk pergi dan tentunya hal itu membuat Vivian heran.


Mereka berjalan menuju sisi laut yang tentunya tidak jauh karena Waterbay memang terletak di sisi laut. Mereka cukup melangkah beberapa langkah dan setelah itu, mereka berdua berdiri di sisi laut dan dari sana, lampu-lampu indah yang menghiasi Bay Brige terlihat sangat jelas.


"Ada apa, Matth? Kejutan apa yang ingin kau berikan?" tanya Vivian.


"Sabarlah, Sayang," Matthew memeluk Vivian dari belakang.


Vivian tersenyum, dia benar-benar sudah tidak sabar. Matthew melihat jam di tangannya dan beberapa menit kemudian, sebuah cahaya naik ke atas yang tidak jauh dari Bay Brige.


Daaarrrr!


Sebuah kembang api meledak di atas laut dan disusul dengan kembang api lainnya.


"Ini kejutan yang kau siapkan?" tanya Vivian.


"Lihatlah kembang api itu baik-baik, Sayang."


Vivian mendongak dan memandangi kembang api yang terus meledak dan tampak indah. Vivian terpana dengan indahnya kembang api tapi sebuah kembang api yang meledak kemudian, menunjukkan sebuah tulisan, "Will You Marry Me?"


Vivian menutup mulutnya dan segera melihat Matthew yang saat itu sudah berlutut di depannya sambil membawa sebuah kotak.


Kotak itu dibuka dan Matthew menyodorkan kalung A Haritage In Bloom di depan Vivian.


"Will You Marry me, Vivian Adison? To be my Wife?"


Vivian masih menutup mulutnya dan tanpa dia inginkan, air matanya mengalir karena bahagia.


"Of course i will," jawab Vivian tanpa ragu.


Matthew tersenyum dan segera bangkit berdiri, kalung dipasang ke leher Vivian dan setelah itu mereka berpelukan dan berciuman.

__ADS_1


Keluarga mereka bertepuk tangan menyaksikan hal itu dan mereka juga tampak bahagia.


Vivian benar-benar bahagia dan ini kejutan manis yang dia dapat. Mereka masih berciuman di sisi laut dan kembang api masih menyala. Seperti kembang api yang meledak di atas sana, seperti itulah kebahagian yang di rasakan oleh Vivian saat ini.


__ADS_2