
Waktu menunjukan tepat jam dua saat Vivian dan para rekannya menemukan bom dan dapat menjinakkannya.
Bom yang ditemukan akan Vivian bawa karena dia akan mempelajari benda itu bersama dengan Matthew.
Misi mereka mencari bom telah selesai tapi misi lainnya harus mereka kerjakan yaitu mereka harus ke pelabuhan untuk melakukan pengintaian.
Jam baru menunjukkan pukul dua dan mereka masih punya banyak waktu untuk melanjutkan tugas mereka yang tertunda apalagi kapal akan berangkat pada pukul delapan malam.
Mereka sepakat menyusun rencana baru untuk melakukan pengintaian dan mereka harap mereka tidak terlambat.
Para agen tidak tahu jika kapal sudah dijalankan saat mereka sibuk mencari bom dan mereka berencana akan langsung menuju pelabuhan.
Sebelum berangkat Vivian menghampiri Matthew karena dia akan pergi lagi untuk menjalankan tugasnya dan dia akan meminta pria itu membawa bom tadi pulang.
"Fredd."
"Yes babe?"
"Aku harus pergi karena ada tugas lain dan tolong bawa bom ini pulang!" ucapnya seraya memberikan bom yang dia bawa kepada Matthew.
"Hei boleh aku ikut?"
"No!" jawab Vivian dengan tegas.
"Why?"
"Ck, sana pergi dan temani lagi gadis cantik yang bersama denganmu tadi!"
"Babe, apa kau cemburu?"
"Cih, untuk apa aku cemburu?" Vivian menatap Matthew dengan tajam sedangkan Matthew hanya tersenyum.
"Aku akan mengenalkannya denganmu nanti babe."
"Tidak perlu!" jawab Vivian seraya memutar langkahnya.
"Babe, jam berapa kau pulang?" Matthew bertanya dengan sedikit berteriak karena Vivian sudah sedikit menjauh.
"Tidak tahu! Ingat jangan membuat apapun yang bisa menghancurkan dapurku, jika sampai kau melakukannya maka tamat riwayatmu!" ancam Vivian.
Matthew kembali tersenyum dan melihat bom yang ada di tangannya, entah siapa orang yang sedang dicari oleh Vivian tapi sepertinya orang ini sedikit cerdik.
Bom yang mereka buat memang mereka jual kepada beberapa mafia yang ada di dunia. Apalagi bom yang ada dipesta Clarina, itu adalah bom yang mereka rancang sedemikian rupa sehingga tidak akan ada yang bisa menjinakkannya bahkan oleh mereka sekalipun yang menciptakan benda itu dan daya ledaknya tidaklah main-main.
__ADS_1
Beruntungnya dia ada di sana malam itu sehingga dia bisa mengurangi daya ledaknya jika tidak, para polisi dan Vivian pasti mati karena ledakan.
Dia pasti akan menyelidiki hal ini dan mencari tahu bom itu sudah berpindah ketangan siapa atau jangan-jangan salah seorang yang membeli bom itu adalah buronan yang sedang di cari oleh Vivian.
Kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi dan dia akan menyelidikinya dengan hati-hati, dia akan membantu Vivian secara diam-diam untuk menemukan orang yang Vivian cari.
Matthew mengambil ponselnya untuk meminta James menjemputnya, dia akan pergi kekantor untuk membicarakan hal ini dengan adiknya.
Tidak menunggu lama, James sudah datang untuk menjemputnya dan Matthew segera mencari adiknya di kantor.
Di dalam ruangan, Michael sedang berbicara dengan Ainsley yang datang kesana untuk mencari kakak pertamanya.
Setelah belanja dia langsung kekantor karena dia pikir kakaknya ada di sana dan dia juga ingin memberikan sebuah gaun yang diminta oleh kakaknya tadi.
Matthew meletakkan bom yang dia bawa ke atas meja dan menghampiri adiknya, dia langsung menghempaskan dirinya keatas sofa sedangkan kedua adiknya melihatnya dengan heran.
"Ada apa denganmu kak?" tanya Ainsley.
"Tidak ada!"
"Kak, kenapa kau membawa bom itu?" tanya Michael pula.
"Mich, apa kau masih menyimpan daftar orang-orang yang membeli bom itu dengan kita?"
"Ayo kita periksa dan Ainsley pulanglah temani daddy dan mommy!"
"Ck, aku datang kesini untuk memberikan gaun yang dipinta oleh kak Matthew!" jawab Ainsley.
"Oh ya? Mana?"
"Itu!" Ainsley menunjuk kesebuah paper bag yang ada di atas meja.
"Apa kakak akan memberikan gaun itu untuk gadis tadi?" tanya Ainsley penasaran.
"Yes," jawab kakaknya singkat.
"Wow, asik. Kapan-kapan aku ingin menggodanya!"
"Awas kena gigit karena dia sedikit galak!" ucap Matthew bercanda sedangkan kedua adiknya tertawa.
"Jangan sampai dia bertemu denganku kak, aku pasti akan berpura-pura menjadi dirimu untuk menggodanya," ucap Michael pula.
"Ck, lakukan apa yang kalian suka tapi ingat jangan keterlaluan jika tidak kalian akan kehilangan kakak ipar yang hebat!"
__ADS_1
"Tenang saja, itu tidak akan mungkin terjadi!" jawab kedua adiknya sedangkan Matthew hanya menggeleng.
Mereka memang suka bercanda jadi hal seperti itu sudah biasa, semoga saja Vivian bisa tahan digoda oleh kedua adiknya nanti jika bertemu dengan mereka.
Setelah kepergian adiknya, Michael duduk di depan komputer sedangkan Matthew berdiri disampingnya. Mereka sedang melihat daftar nama-nama orang yang membeli bom yang mereka buat.
Matthew melihat nama-nama yang ada dilayar komputer dengan teliti, dia mencoba mencari orang berinisial M dari nama-nama yang ada di sana dan sialnya nama orang yang membeli bom dengan mereka banyak menggunakan huruf M.
"Damn, siapa sebenarnya orang berinisial M ini?" Matthew memainkan jarinya di dagu dan berpikir.
"Kenapa Kak? Apa orang yang meletakkan bom itu meninggalkan inisialnya?"
"Ya, di surat yang Angel dapat terdapat inisial M jadi aku pikir seseorang yang membeli bom itu adalah orang yang Angel cari."
"Kak, jangan terkecoh dengan inisialnya. Bisa saja orang itu sengaja menggunakan huruf M sebagai simbol negara atau sesuatu lainnya."
"Kau benar, cari tahu bom yang mereka beli sudah berpindah
ketangan siapa, aku akan membantu Angel menemukan orang yang dia cari!"
"Siap kak, tapi ngomong-ngomong kakak harus berhati-hati dengan Thomas karena akhir-akhir ini dia sedang mencari cara untuk menyerang kakak."
"Ck, dia hanya pengecut! Aku sudah menantangnya berkali-kali tapi dia tidak pernah menerima tantanganku!"
"Ya, tapi kakak harus berhati-hati, dia licik!"
"Aku tahu, kau tidak perlu khawatir."
Michael mengangguk, dia percaya kakaknya bisa mengatasi siapapun yang berani melawannya dan dia akan selalu membantu kakaknya.
Ditempat lain seorang pria tampak puas karena barang-barang seludupannya sudah keluar dari perairan California dan sedang menuju Moskow.
Dia juga sudah menyiapkan kejutan untuk para agen saat mereka tiba di pelabuhan, rencananya berjalan dengan lancar tapi satu hal yang membuatnya kesal, kenapa bom yang dia pasang tidak meledak?
Padahal kedua bom itu dia beli dengan harga tinggi dan kedua bom itu bukan bom biasa. Apa kedua bom itu mengecewakan? Atau jangan-jangan Angel bisa menjinakkan benda itu tapi tidak mungkin! Pria itu menyangkal karena bom pertama yang dia pasang meledak tanpa bisa Angel jinakkan.
Apapun itu dan walaupun kedua bom yang dia pasang tidak meledak yang penting barang-barangnya sudah keluar dan lagi pula, dia bisa menanyakan hal ini pada seseorang yang akan selalu memberinya informasi apapun yang dia inginkan.
Di pelabuhan Vivian dan rekan-rekannya sudah mengintai tanpa tahu kapal yang mereka incar kosong karena pelaku sudah menggunakan kapal lain.
Cukup lama mereka berada disana dan karena tidak ada pergerakan apapun mereka mulai curiga dan menggeledah kapal yang ternyata tidak ada apa-apa didalamnya.
Vivian sangat kesal, kenapa lagi-lagi misi mereka gagal? Apakah kapal itu milik pria yang berinisial M dan siapa sebenarnya orang berinisial M ini?
__ADS_1