Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Rencana Vivian dan Firasat buruk


__ADS_3

Vivian terbangun dari tidurnya saat mendengar suara benda jatuh di dalam kamar. Dengan perlahan Vivian membuka matanya dan melihat kakaknya tampak sibuk mengambil barang-barang dan memasukkannya ke dalam koper.


Hari ini kakaknya memang akan pulang ke Inggris bersama dengan paman dan bibinya. kakaknya sedang merapikan barang yang dia beli sewaktu liburan ke Hawai, sedangkan Vivian duduk di sisi ranjang.


"Kak, memangnya jam berapa kalian akan berangkat?"


"Pesawat kami akan berangkat pukul lima sore tapi kami sudah harus menuju bandara lebih awal," jawab Mariam.


"Sepertinya aku tidak bisa mengantar kalian."


"Tidak apa-apa, tidak perlu kau pikirkan Vivi."


"Perlu aku bantu, Kak?"


"Tidak perlu, pergilah mandi. Bukankah kau harus pergi bekerja?" tanya kakaknya.


"Kakak benar," jawab Vivian seraya bangkit berdiri.


Vivian berjalan menuju kamar tapi tiba-tiba saja Mariam memegangi tangan adiknya.


"Vivi, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


"Apa yang ingin Kakak bicarakan?"


Mariam tersenyum dan memeluk Vivian, "Kita tumbuh bersama dan kita selalu saling menyayangi sejak dulu. Walaupun aku tahu kau bukan adik kandungku tapi bagiku kau bagaikan adik kandungku jadi aku harap kau tidak melupakan kami setelah kau menikah. Aku juga minta padamu untuk meluangkan waktu pulang ke Inggris dan melihat keadaan Kakek juga Mommy dan Daddy. Walau kau sudah punya orangtua dan keluarga di sini tapi aku harap kau tidak melupakan kami dan masih mau pulang ke Inggris untuk menemui kami," pinta Mariam.


"Apa yang Kakak katakan? Dari dulu sampai sekarang aku sangat menyayangi kalian dan aku akan pulang ke Inggris untuk menjenguk kalian. Cuma ada satu hal saja yang tidak bisa aku lakukan lagi, aku tidak bisa bersama dengan mereka lagi dan menjaga mereka karena aku harus berada di sini bersama dengan suamiku nanti."


Mariam tersenyum dan mengusap punggung adiknya, dia tahu adiknya tidak akan melupakan mereka begitu saja dan dia harap adiknya bahagia setelah menikah.


"Kau tidak perlu menghawatirkan hal ini karena ada aku di sana. Aku akan selalu pulang ke rumah dan memberimu kabar."


"Terima kasih, Kakak. Aku menyayangimu dan aku sangat menyayangi kalian semua," ucap Vivian sambil memeluk kakaknya.


"Aku juga menyayangimu Vivi. Pergilah mandi, setelah itu kita akan sarapan."


Vivian mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi Vivian mencuci wajahnya dan entah kenapa tiba-tiba dia merasakan sebuah firasat buruk.

__ADS_1


Entah apa tapi dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi hari ini, semoga apa yang dia khawatirkan tidak terjadi karena dia tidak mau terjadi sesuatu pada keluarganya.


Dia masih mencari cara untuk mengungkap kedok si penghianat dan dia masih mencari celah dari penjelasan yang diberikan dua rekannya.


Jujur saja untuk mencari siapa penghianat diantara mereka tidaklah mudah apalagi mereka agen terlatih.


Sepertinya dia harus semakin mewaspadai mereka, Vivian merapikan rambutnya dan pada saat itu tanpa sengaja dia melihat gelang yang melingkar di lengannya.


Benar juga, dari pada menebak-nebak tidak jelas lebih baik dia menyimpan sebuah alat pada kedua rekannya dan ini bukanlah ide buruk. Sebuah alat penyadap dan alat pelacak yang bisa memperlihatkan lokasi di mana kedua rekannya berada sehingga dia bisa tahu apa yang mereka lakukan dan dengan siapa mereka bertemu.


Tapi dia harus memikirkan bagaimana caranya dan di mana alat itu akan dia simpan agar kedua rekannya tidak curiga. Dia akan memikirkan hal ini dan dia tahu siapa yang bisa memberinya alat itu tanpa ada agen yang tahu dan curiga.


Matthew pasti punya dan dia pasti mau memberikannya. Jika dia meminta benda itu pada Kapten Willys dia khawatir ada yang tahu dan jangan sampai ada yang membocorkan rencananya.


Ini rencana yang sangat bagus jadi sebaiknya dia segera mandi karena dia ingin menghubungi Matthew. Dia harus menyimpan alat itu secepatnya agar dia tahu apa saja yang direncanakan si penghianat dengan si buronan.


Vivian duduk di sisi ranjang sambil mengeringkan rambutnya saat menghubungi Matthew. Biasanya Mattthew sudah bangun tapi nyatanya Matthew masih tidur saat itu dan ketika mendengar ponselnya berbunyi, Matthew mengambilnya dan segera menjawabnya.


"Matth, apa kau sudah bangun?" terdengar suara Vivian dan Matthew langsung duduk di atas ranjang.


"Sekarang sudah bangun," jawab Matthew.


"Aku tidak bisa tidur tanpamu, Babe."


"Gombal!"


"Sungguh."


"Baiklah, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu, Matth."


"Katakan? Ini bukan masalah pernikahan kita bukan?"


"Bukan, aku ingin minta bantuanmu Matth dan aku harap kau tidak keberatan," jawab Vivian.


"Katakan Babe, aku pasti akan membantumu."


"Begini, kau tahu bukan jika di antara kedua renkanku yang datang dari Inggris adalah seorang penghianat?"

__ADS_1


"Yes, then?"


"Aku sedang berusaha mencari siapa penghianat sebenarnya di antara Charlie dan Felicia. Aku sudah mencoba mencari tahu apa yang terjadi sewaktu kami bertugas di Inggris karena aku pikir aku akan mendapat petunjuk tapi nyatanya mereka berdua memberikan aku penjelasan yang sama. Aku tidak bisa menemukan bukti dari penjelasan mereka jadi aku pikir lebih baik aku menyimpan sebuah alat pelacak atau alat penyadap yang bisa memberitahuku di mana mereka berada sehingga aku bisa tahu dengan siapa mereka bertemu dan dengan siapa mereka berbicara," jelas Vivian.


"Ide bagus Babe, jadi kau menginginkan sebuah alat pelacak dan penyadap?"


"Ya, aku bisa saja mendapatkannya dan meminta benda itu pada Kapten Willys tapi aku khawatir ada yang tahu. Aku harus berhati-hati dalam bertindak sekarang karena aku tidak mau si penghianat tahu niatku."


"Kau tidak perlu khawatir Babe, kau pasti akan mendapatkan alatnya tapi jika kau menyimpan alat itu di tubuh rekanmu maka mereka akan mengetahuinya bukan?"


"Aku tahu dan ini yang sedang aku pikirkan Matth. Jika menyadap ponsel mereka menggunakan alat, aku hanya bisa mendengar percakapan mereka dari jarak tertentu saja. Kemungkinan menyadap ponsel bukanlah ide bagus jadi aku akan memikirkan cara lain."


"Kau benar, tapi serahkan padaku. Aku yang akan memikirkan hal ini dan aku akan mengabarimu setelah aku menemukan caranya," ucap Matthew.


"Terima kasih Matth, kau memang bisa aku andalkan."


"Hey, inilah gunanya aku jadi jangan ragu meminta bantuanku."


"Baiklah, aku sudah harus bergegas dan kau segeralah mandi dan sarapan," ucap Vivian.


"Baiklah, mana morning kiss untukku?" goda Matthew.


"Ck, aku tidak suka mencium ponsel!"


Matthew terkekeh dan kemudian berkata, "I love you Babe."


"I know, i love you too Matth," jawab Vivian sambil tersenyum.


Berkat adanya Matthew dia benar-benar terbantu dan dia harap rencana menyimpan alat penyadap pada rekannya dapat memberinya petunjuk, apa tujuan si penghianat datang ke Amerika dan dia juga harap, dia bisa mendapatkan bukti untuk menangkap Gary.


Setelah berbicara dengan Matthew, Vivian keluar dari kamar dan bergabung dengan keluarganya yang sedang berada di meja makan untuk sarapan.


Vivian mendekati mereka dan lagi-lagi sebuah firasat buruk muncul dalam hatinya. Dia merasa ada hal buruk yang akan terjadi tapi dia tidak tahu apa.


Setelah sarapan Vivian berpamitan dan memeluk kakaknya, dia sangat ingin mengantar kakaknya tapi tidak bisa. Setelah memeluk kakaknya Vivian juga memeluk yang lainnya kecuali paman dan bibinya.


Mereka mengantar Vivian sampai di depan pintu dan firasatnya semakin buruk. Vivian sudah melangkah menuju motornya tapi dia berlari kembali dan memeluk keluarganya satu persatu sambil berkata, "I love you."

__ADS_1


Dengan berat hati, Vivian kembali menuju motornya dan sebelum pergi dia melihat keluarganya kembali. Semoga saja mereka baik-baik saja dan mungkin dia terlalu berlebihan. Ada anak buah Matthew di sana dan mereka pasti bisa menjaga keluarganya dengan baik. Tapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


__ADS_2