Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Kami lebih tampan!


__ADS_3

Polisi sudah memenuhi rumah lama Alice dan beberapa mobil Ambulans sudah berada di sana untuk mengevakuasi korban. Lagi-lagi di rumah itu terjadi tragedi dan kali ini menimpa keluarga Adison yang menempatinya.


Mariam tampak menangis dan berusaha menghubungi suaminya, dia harus mengatakan jika dia tidak jadi pulang karena keluarganya menjadi korban penembakan.


Ben sudah pergi mengikuti mobil ambulans yang membawa ayahnya, sedangkan Hilary masih bersama Mariam karena mereka sedang diintrogasi.


Garis polisi sudah dipasang dan ketika Vivian tiba, Vivian tidak sanggup melangkahkan kakinya dan air matanya kembali mengalir. Siapa yang melakukan hal itu dan kenapa harus keluarganya? Kenapa?


"Ka-Kakak," Vivian menghampiri kakak dan bibinya yang sedang diintrogasi oleh polisi dan begitu melihatnya, Hilary benar-benar marah.


Kebenciannya pada Vivian semakin bertambah besar dan tanpa banyak bicara, Hilary memukul wajah Vivian tanpa ragu.


"Semua ini gara-gara kau! gara-gara kau!" teriak Hilary marah sedangkan Vivian memegangi wajahnya yang baru saja dipukul oleh bibinya.


Dia tidak bisa berkata apa-apa bahkan dia diam saja menerima pukulan yang diberikan oleh bibinya.


"Jika kau tidak menahan mereka hanya untuk membicarakan pernikahanmu maka mereka tidak akan mengalami hal ini dan sudah berada di bandara dengan kami saat ini. Tapi gara-gara ingin membahas pernikahanmu mereka harus menjadi korban dan lihatlah, semua gara-gara kau anak yang tidak punya hubungan darah sama sekali dengan kami!" teriak Hilary dan dia kembali memukul Vivian.


"Aunty, hentikan! Semua bukan salah Vivian dan Aunty tidak boleh memukulnya!" Mariam menahan bibinya yang benar-benar marah, sedangkan Vivian hanya bisa menangis dan memegangi wajahnya.


Benar! Semua itu gara-gara dia. Jika dia tidak menahan keluarganya, jika saja dia membiarkan keluarganya pulang?


"Jangan membelanya Mariam! Semua ini gara-gara dia dan jika bukan karena dia, kita semua tidak mungkin datang ke Amerika dan kedua orangtuamu juga kakekmu tidak akan mengalami hal ini! Mereka hampir menjadi korban kecelakaan pesawat dan sekarang? Mereka menjadi korban karena permintaanya untuk tinggal. Dia hanya orang luar yang membawa malapetaka bagi keluarga kita!" teriak Hilary dan untuk kesekian kali dia ingin memukul Vivian tapi Mariam segera menahannya.


"Hentikan, Aunty!" teriak Mariam.


"Maaf ... maafkan aku Aunty, aku tidak bermaksud mencelakai kalian," ucap Vivian sambil menghapus air matanya.


"Bodoh! Jangan dengarkan ucapan Aunty, dia sedang emosi," Mariam berusaha menenangkan adiknya.


"Maafkan aku Kak, aku ...."


"Jangan menangis, semua bukan salahmu. Ayo kita ke rumah sakit untuk melihat keadaan mereka," ajak Mariam sambil menghapus air mata adiknya. Walaupun dia sangat sedih tapi dia tidak mau adiknya disalahkan karena permasalahan ini dan dia tahu, paman dan bibinya pasti akan semakin membenci adiknya.

__ADS_1


"Kak, apa kau melihat pelakunya?" tanya Vivian.


"Tentu Vivi, Aunty dan Uncle juga melihatnya. Kami sudah menjelaskannya pada pihak berwajib jadi ayo kita pergi untuk melihat keadaan Daddy, Mommy dan Kakek."


Vivian mengangguk, dia sangat ingin melihat pelakunya dari cctv yang ada di rumah tapi dia ingin melihat keadaan keluarganya terlebih dahulu dan entah kenapa dia mencurigai seseorang dan setelah melihat keadaan keluarganya dia akan kembali dan memastikannya.


Mereka segera pergi ke rumah sakit di mana keluarganya sedang ditangani dan dia harap semuanya baik-baik saja tapi sayangnya, kondisi David tidak memungkinkan karena Gary memukulnya berkali-kali.


Selama diperjalanan menuju rumah sakit, Hilary masih marah dan kesal pada Vivian. Jika ayah dan kakaknya sudah sadar nanti dia akan meminta mereka untuk mengembalikan Vivian pada orangtuanya dan tidak boleh menganggap Vivian bagian dari mereka lagi.


Ini lebih baik apalagi, apa yang menimpa mereka hari ini semua karena Vivian dan dia hanya anak yang membawa malapetaka bagi keluarga Adison.


Sementara itu di tempat lain, James berjalan dengan terburu-buru setelah mendapat kabar jika kedua anak buah yang menjaga keluarga Adison ditemukan di dalam tong sampah dalam keadaan tidak bernyawa. Dia juga mendapat kabar jika keluarga Adison menjadi korban penembakan tapi yang lebih membuatnya terkejut, pelakunya adalah bosnya sendiri.


Polisi sudah mengecek rekaman cctv yang ada di rumah itu bahkan dua orang polisi sedang menuju ke sana untuk menangkap bosnya. Ini adalah berita yang harus dia sampaikan pada bosnya jadi James langsung mendorong pintu ruangan tanpa mengetuknya lagi.


"Master, keluarga Adison ditembak dan kedua anak buahmu mati."


"Apa kau bilang?" Matthew bangkit berdiri.


"Kurang ajar! Aku diam saja di sini tapi aku jadi tersangkanya!" Matthew benar-benar marah dan tanpa diminta oleh kakaknya, Michael segera meretas cctv yang ada di rumah lama nenek mereka dan melihatnya.


Dari layar komputer seseorang yang menyerupai mereka mendobrak masuk dan anak buahnya menembak Charles dan Marta sedangkan orang yang mirip dengan mereka berbicara dengan David sebentar dan setelah itu David ditembak.


"Dia benar-benar mirip dengan kita, Kak," ucap Michael.


Matthew mengepalkan tanganya dan mengeram marah, tidak perlu dia lihat dia sudah bisa tahu siapa pelakunya.


"Gary sialan! Beraninya dia menggunakan wajah kita dan memfitnah kita?"


"Apa Kakak yakin dia adalah Gary?"


"Perhatikan jarinya baik-baik, Gary tidak memiliki dua jari dan jika benar maka dialah pelakunya dan tidak ada yang lain lagi!"

__ADS_1


Michael segera memperbesar gambar dan benar saja, walaupun wajahnya begitu mirip dengan wajah mereka tapi dua jari orang itu tidak ada.


"Mich, aku harus pergi dan kau, temui para polisi itu dan tunjukkan bukti pada mereka," pinta Matthew tapi sayangnya dua orang polisi sudah masuk diantar oleh sekretarisnya.


"Mr. Smith, di antara kalian berdua terbukti telah telibat sebuah kasus penembakan yang baru saja terjadi. Jadi ikutlah dengan kami baik-baik untuk diintrogasi," pinta salah satu polisi yang ada di sana.


"Apa kalian bisa membuktikan jika kami terlibat?" tanya Matthew.


"Cctv menunjukkan jika salah satu dari kalian memang pelakunya."


"Bagaimana jika aku menunjukkan pada kalian jika yang menembak bukan kami dan kami berdua ada di sini saat kejadian itu terjadi!" ucap Matthew.


"Tapi rekaman cctv sudah jelas menunjukkan jika salah satu dari kalian adalah pelakunya jadi kalian tidak bisa mengelak," ucap salah satu polisi itu lagi.


"Sir, ini bukti yang menunjukkan kami ada di sini sejak tadi dan lihatlah rekaman cctv ini dengan baik. Walau orang ini menggunakan wajah kami tapi wajah kami tidak seburuk itu dan kami lebih tampan," ucap Michael seraya menunjukkan beberapa rekaman cctv dari layar komputernya.


"Lihatlah perbedaannya. Hidung kami lebih mancung, bibir kami juga tidak setebal itu seperti terkena sengatan lebah dan lihatlah, jari kami masih utuh bahkan bokong kami lebih seksi. Tubuh kami juga tidak sekurus itu dan lebih oke," ucap Michael lagi.


James ingin tertawa mendengarnya sedangkan kedua polisi itu saling pandang, apa benar bukan mereka pelakunya? Tapi bukti yang ditunjukkan oleh Michael memang menunjukkan jika mereka ada di kantor dan memang ada beberapa perbedaan jelas antara mereka dengan pelaku yang melakukan penembakan.


"Jika kalian tidak percaya kalian bisa mengintrogasi karyawanku satu persatu dan jika kalian ingin menangkap salah satu dari kami, tunjukkan bukti yang akurat selain rekaman cctv. Dari dulu sampai sekarang kami tidak punya kembaran lain dan kemungkinan orang ini ingin memfitnah kami dengan cara menggunakan wajah kami dan jika kalian bisa membuktikan bahwa salah satu dari kami memang terlibat maka kalian boleh menangkap kami dan kami tidak akan melawan," ucap Matthew.


Kedua polisi itu kembali saling pandang, memang mereka harus mendapatkan bukti lebih jelas, di antara mereka berdua siapa yang sebenarnya terlibat? Wajah mereka begitu mirip dan jika memang salah satu dari mereka yang melakukan penembakan maka mereka tidak boleh salah membawa orang.


"Baiklah, kami akan mencari bukti lebih banyak tapi jika terbukti salah satu dari kalian terlibat maka kami akan menangkap kalian tanpa ragu," ucap salah satu polisi itu.


"Tenang saja, jika memang terbukti kalian bisa membawa salah satu dari kami tanpa perlawanan!" jawab Matthew tanpa ada keraguan.


"Sudahlah, aku akan ikut dengan mereka untuk diintrogasi. Lagi pula kita tidak bersalah dan kita harus menaati hukum," ucap Michael.


"Baiklah, aku mau menemui Vivian jadi kau pergilah ikuti mereka bersama dengan James."


Michael mengangguk dan segera mengikuti dua polisi yang sedang bertugas bersama dengan James. Setelah kepergian mereka, Matthew menyambar jasnya. Dia harus pergi menemui Vivian karena dia tahu, Vivian pasti sangat terpukul dan sedih karena kejadian ini.

__ADS_1


Matthew sangat berharap, Vivian mau mempercayainya jika dia bukanlah pelaku yang menembak keluarganya. Tapi bagaimana dengan keluarga Vivian? Apakah mereka akan percaya?


__ADS_2