Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Malam menegangkan part 2


__ADS_3

Para penjinak bom sudah datang dan mulai masuk ke dalam. Lokasi disterilkan agar tidak ada yang mendekat dalam radius sepuluh meter karena terdapat bom aktif yang berbahaya.


Rick tampak ketakutan sedangkan Patrik melihat bom yang melekat di tubuhnya dengan teliti. Dia harus mempelajarinya lebih lanjut karena jika dia salah, bukan saja Rick yang mati dia juga mati.


Para penjinak bom mulai melakukan tugas mereka, menjinakkan beberapa bom yang aktif. Ana dan Jerry sudah diminta untuk keluar dan diperintahkan untuk membantu polisi mengevakuasi korban sedangkan saat itu di jalanan, Vivian masih membawa mobil dengan kecepatan tinggi untuk mengejar mobil Carlk.


Dia harap dia bisa menangkap buronannya tapi Carlk punya seratus cara untuk melarikan diri agar tidak tertangkap.


Carlk menghubungi anak buahnya dan meminta mereka untuk datang. Mereka akan mengalihkan perhatian Vivian agar tidak mengejarnya lagi.


Beberapa anak buahnya menuju lokasi untuk menolong bos mereka yang mengalami luka tembakan. Untungnya tidak mengenai bagian Vital sehingga dia bisa bertahan.


Carlk membawa mobilnya semakin cepat tapi Vivian masih mengejar, sebuah helikopter terbang di atas mereka dan menyorotkan lampu ke arah mobil Carlk. Sesuai perintah kapten Willys, jalanan disterilkan agar tidak ada warga sipil yang jadi korban.


Carlk benar-benar kesal, dia segera menurunkan kaca jendela dan dengan satu tangannya, Carlk menembakkan senjata peledak ke arah mobil yang di bawa oleh Vivian.


Vivian memutar stir mobil dengan cepat untuk menghindari peluru dan tidak lama kemudian, sebuah ledakkan terjadi di belakangnya.


"Sepertinya hidupmu sangat menyenangkan babe," ucap Matthew.


"Begitulah, mau bergabung?" jawab Vivian sambil menghindari peluru yang ditembakkan oleh Carlk lagi dan lagi-lagi sebuah ledakan terjadi.


"Tidak! Aku lebih senang membantumu jadi biarkan aku yang mengemudi!"


"Baiklah, sebentar," tanpa mengurangi kecepatan laju mobil, Vivian memundurkan bangku kemudi karena dia siap untuk bertukar posisi dengan Matthew.


Matthew mulai pindah karena dia akan mengambil kendali sedangkan Vivian sudah mengangkat bokongnya agar Matthew bisa duduk dan setelah itu dia akan pindah tapi siapa yang menyangka, saat Matthew sudah mendudukkan bokongnya di kursi pengemudi, sesuatu menghantam mobil mereka dengan keras dari belakang.


Vivian berteriak dan tubuhnya terdorong ke depan karena dia tidak menggunakan sabuk pengaman dan setelah itu tubuhnya kembali terdorong ke belakang dan terduduk di atas pangkuan Matthew.


"Oh my God, s*h*it!" umpat Vivian kesal dan belum juga sempat menyadari apa yang terjadi, seseorang menghujani mobil mereka dengan timah panas.


Dentingan peluru yang menghantam badan mobil terus terdengar dan mau tidak mau, Vivian kembali membawa mobilnya dan belum bisa menggeser duduknya.


"Posisi kita menyebalkan!" ucap Vivian kesal.


"Segera geser," ucap Matthew dan lagi-lagi mobil mereka ditabrak dengan keras dari belakang.


Vivian kembali berteriak dan tubuhnya kembali terdorong ke depan setelah itu terdorong lagi ke belakang.


"Good!" ucap Matthew karena bokong Vivian menggesek si junior.


"Hei, sana kau kembali ketempat dudukmu lagi!" pinta Vivian.


"Tidak bisa!" jawab Matthew.


"Sudah sana!" perintah Vivian tapi naas, lagi-lagi mobil mereka mendapat tembakan dari anak buah Carlk yang mengejar dari belakang.


Vivian benar-benar frustasi, dengan posisi mereka yang seperti itu laju mobil jadi sedikit melambat dan hal itu membuat mobil di belakang kembali menabrak mobil mereka lagi dan lagi.


Untuk kesekian kali dan kesekian kalinya, bokong Vivian maju mundur menggesek si junior dan membuatnya terbangun. Vivian kaget bukan kepalang saat merasakan sesuatu yang mengeras di bawah pantatnya.

__ADS_1


"Matth!"


"Sory, ini normal jadi jangan marah," ucap Matthew tanpa merasa bersalah.


Vivian benar-benar kesal dan membawa mobilnya semakin cepat. Mereka tidak bisa seperti itu terus karena mereka seperti melakukan adegan mesum dan menyebalkan.


"Pegang kemudi!" perintah Vivian.


Matthew segera mengambil kemudi sedangkan Vivian mengambil pistolnya dan menembaki kaca depan mobil. Semoga pemerintah mau mengganti mobil itu.


Empat tembakan dia lepaskan untuk menghancurkan kaca dan setelah hancur, Vivian memajukan tubuhnya dan segera mendorong kaca hingga lepas.


Sekarang dia bisa menembak orang yang ada di belakang dan Matthew bisa mengemudi dengan leluasa.


"Terus bawa mobilnya dan aku akan menembak," ucapnya.


Vivian membuka high heelnya dan keluar dari kaca jendela yang pecah, dia bertengger di atas kap mobil dan mengarahkan pistolnya ke belakang di mana dua mobil dan dan dua sepeda motor mengejar mereka sedangkan empat mobil polisi berada di belakang ke dua mobil itu karena mereka menerobos barikade yang di pasang oleh polisi.


"Hati-hati babe," ucap Matthew.


"Aku tahu dan bawa saja mobilnya dengan benar!"


Dari depan Carlk kembali menembakkan senjata peledaknya dan pada saat melihatnya, Matthew berteriak, "Pegangan!"


Vivian memegang bagian mobil dan pada saat Matthew memutar stir mobil untuk menghindari peluru, tubuh Vivian tertarik dan hampir terhempas ke depan tapi dengan cepat Vivian membuka kakinya untuk mengait sesuatu. Posisinya berbaring di atas kap dan hampir saja dia jatuh tapi situasi itu dia manfaatkan jadi Vivian memiringkan tubuhnya ke samping dan setelah itu dia melepaskan dua tembakan untuk menembak dua pengendara sepeda motor yang ada di belakangnya.


"Dor...dor," dua tembakkan dia lepaskan dari pistolnya dan peluru melesat dengan cepat ke arah pengendara sepeda motor.


"Ck," Matthew berdecak kesal saat melihat Vivian berada di atas kap mobil dengan kaki terbuka dan memperlihatkan cel*na dal*mnya. Sepertinya mereka harus merubah rencana.


"Kita berhenti," ucapnya.


"Tidak, lanjutkan. Jangan sampai buronanku hilang!" jawab vivian dan dengan masih posisi seperti tadi, Vivian kembali menembaki orang-orang yang ada di belakang.


Selagi dia sedang sibuk, ponsel Vivian berbunyi karena Patrik menghubunginya. Dia tidak bisa menjinakkan bom yang ada di tubuh Rick dan akan meminta bantuan Vivian.


Vivian mengambil headset dari sebuah kantung yang ada di pahanya dan menjawab panggilan dari Patrik.


"Ada apa Patrik?" tanyanya sambil menembak musuh yang ada di belakang.


"Angel, kami tidak bisa menjinakkan bom yang ada di tubuh Rick."


"Bagaimana bentuknya?"


"Sebuah bom rompi dengan dua pemicu berada di sampingnya dengan serangkaian kabel yang begitu rumit dan sebuah pemicu lain ada di belakang," jawab Patrik.


"Oh tidak!" Vivian kembali menembak dan kali ini tembakannya mengenai roda ban motor yang mengejarnya dan motor itu jatuh tergelincir di atas jalan.


Vivian segera masuk dan duduk di samping kemudi, dia ingat betul dengan bentuk bom yang Patrik katakan dan bom itu seperti yang diajarkan oleh Matthew waktu itu.


"Ada apa?" tanya patrik.

__ADS_1


"Berapa waktu yang tersisa?" tanya Vivian.


"Sepuluh menit."


"Bawa Rick ketempat lapang dan tinggalkan dia sendiri di sana!" perintahnya.


"Hei, kenapa?"


"Patrik, bom itu tidak bisa dijinakkan dan jika bisa kau tidak punya cukup waktu jadi kita tidak punya pilihan lain."


"Tapi Angel?" Patrik tampak ragu. Bagaimanapun Rick adalah rekan mereka.


"Jika kau tidak ingin mati bersama dengannya maka lakukan bodoh!" teriak Vivian dan pada saat itu, lagi-lagi mobil mereka di tabrak.


Patrik memandangi Rick sedangkan Rick tampak ketakutan, sepertinya bukan hal yang baik.


"Patrik, bagaimana?" tanyanya.


"Sory Rick," jawab patrik dan dia segera memapah tubuh Rich untuk membawanya keluar karena Rick tidak bisa berjalan akibat tembakan yang dia dapat di kakinya.


Patrik membawa Rick ke parkiran yang terbuka dan mendudukkannya di sana, "Senang bisa bekerja sama denganmu Rick and sory."


"Hei, apa maksudmu? Apa bom ini tidak bisa dijinakkan?" teriak Rick tapi Patrik sudah berlari karena angka bom sudah menunjukkan angka dua yang berarti dua detik lagi.


"Patrik jangan tinggalkan aku!" teriak Rick tapi tidak lama kemudian, ledakkan terjadi dan tubuh Rick hancur berkeping-keping.


Patrik terengah-engah sedangkan Ana tidak sanggup melihatnya, tapi semua itu adalah resiko yang memang harus ditanggung oleh Rick.


Tapi satu hal yang didapat oleh Patrik saat mempelajari bom yang ada di tubuh Rick, dia sempat menanyakan nama buronan kepada Rick dan Rick mengatakan siapa orang yang membayarnya. Nanti dia akan memberi tahu Vivian mengenai hal ini.


Kembali ke jalanan, adu tembak masih terus terjadi. Para polisi mulai menembak mobil musuh dan dari atas, kapten Willys sudah menyiapkan dua helikopter dengan team penembak di dalamnya. Mobil musuh mulai dihujani dengan peluru begitu juga dengan mobil Carlk.


Carlk sangat kesal dan saat itu mereka sudah berada di jembatan Golden Gate.


"Babe, ambil kemudi," pinta Matthew.


Sesuai permintaan Matthew, Vivian mengambil kemudi sedangkan Matthew menendang pintu mobil dan berdiri di sisinya. Matthew mengambil dua pistolnya dan segera menembaki mobil yang dibawa Carlk.


Carlk benar-benar kesal karena mobilnya ditembaki sana sini, dia benar-benar terpojok dan merasa tidak punya pilihan. Carlk membawa mobilnya secepat mungkin dan ketika sudah waktunya Carlk memutar stir mobil dengan cepat dan pada saat itu, mobil yang dia bawa melompati pembatas jembatan Golden gate dan mobilnya terjun dengan bebas ke dalam laut.


Matthew masuk ke dalam mobil dan menghentikan mobilnya sedangkan mobil polisi sedang menangani mobil anak buah Carlk yang sudah terbalik di jalanan dan mereka semua mati tertembak.


Vivian berlari dan berdiri di sisi jembatan untuk melihat ke bawah tapi mobil yang dibawa Carlk sudah tidak terlihat, dua helikopter yang ada di atas mulai menyoroti laut untuk melihat apakah buronan masih hidup atau tidak sedangkan team lain sudah berada di atas kapal untuk menyisir lokasi dan mencari buronan tapi sayang, mereka tidak menemukan apa-apa.


"Menyebalkan dasar pengecut!" ucap Vivian kesal.


"Babe, aku tunggu di rumah. Aku tidak mau para polisi mengintrogasiku," ucap Matthew.


"Baiklah, aku akan segera pulang setelah selesai."


"Aku tunggu di rumah babe," Matthew meraih pinggang Vivian dan mencium pipinya dan setelah itu dia pergi.

__ADS_1


Vivian masih berdiri di sisi jembatan dan masih melihat ke bawah, sayang sekali buronannya bisa melarikan diri. Dia harap lain kali dia bisa menangkapnya dan menjebloskanya kedalam penjara.


__ADS_2