Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Lelucon yang tidak lucu!


__ADS_3

Setelah kepergian Jager dan Damian dari kantornya, Matthew mencoba memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini Vivian tidak pernah terbuka mengenai keluarganya dan yang dia tahu hanya sedikit saja.


Dia hanya tahu Vivian putri kedua dari Charles Adison dan Marta Adison selebihnya dia tidak tahu karena Vivian tidak bercerita banyak mengenai keluarganya.


Seandainya Vivian memang putri Maxton, tidak, bukan seandainya lagi karena dia berani bertaruh Vivian memang putri Maxton yang hilang. Tidak saja wajah Vivian yang mirip dengan istri Maxton tapi tanda lahir yang dia punya, sebaiknya dia melihatnya dengan teliti malam ini tapi yang jadi masalahnya, seandainya Vivian putri Maxton, apa Vivian tahu jika dia anak yang diadopsi oleh Charles dan Marta Adison?


Melihat interaksi Vivian dengan keluarganya selama ini bisa dia tebak, Vivian tidak tahu sama sekali dan jangan-jangan kedua orang tua Vivian menyembunyikan hal ini.


Sebaiknya dia juga mencari tahu akan hal ini agar dia tidak salah mengambil langkah, bagaimanapun dia harus menjaga perasaan Vivian.


Sepertinya ini akan sedikit rumit, dia juga tidak bisa mengambil rambut Vivian begitu saja dan memberikannya pada Jager karena Vivian akan marah jika dia melakukan hal itu tanpa seijinnya. Jangan hanya gara-gara permasalahan ini mengganggu hubungan mereka.


Matthew menghembuskan nafasnya dengan berat dan pada saat itu, Michael berjalan menghampirinya . Dia sungguh penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bantuan apa yang Maxton inginkan dari kakaknya sampai membuatnya berlutut seperti itu.


"Kak, sebenarnya ada apa?"


"Entahlah, Maxton tiba-tiba datang dan mengatakan padaku jika Vivi adalah putrinya yang hilang dua puluh lima tahun yang lalu," jawab Matthew seraya mengangkat bahu.


"Wow, kenapa begitu? Bukankah putrinya sudah meninggal saat dilahirkan?"


"Begitulah yang kita tahu tapi bukti-bukti yang dia katakan menunjukkan Vivi memang putrinya."


"Apa kakak ipar seperti mommy yang diadopsi dari panti asuhan?"


"Aku rasa ini sedikit rumit dari pada kisah mommy, walaupun Vivi lebih beruntung dibanding mommy tapi aku rasa dia tidak tahu jika dia hanya anak adopsi dan ini akan menjadi sedikit sulit."


"Sebaiknya kakak memikirkan hal ini baik-baik sebelum bertindak, jika kakak ipar tidak tahu bahwa dia hanya anak adopsi, kakak tidak bisa mengambil rambut atau darahnya untuk diberikan pada Maxton tanpa seijinnya karena saat dia tahu kakak melakukan hal itu secara diam-diam, aku jamin kakak ipar pasti akan marah dan tidak akan memaafkan mu kak," saran Michael.


"Aku tahu Mich, inilah yang sedang aku pikirkan. Walaupun aku bisa mengambil rambutnya dengan mudah tapi aku ingin dia tahu untuk apa aku mengambil rambutnya dan kepada siapa aku akan memberikan rambutnya. Aku tidak ingin saat hasil tes DNA menunjukkan jika dia adalah putri Maxton, dia akan bertanya bagaimana Maxton bisa melakukan tes DNA? Kau tahu bukan? Vivi pasti akan mencurigaiku dan marah padaku jika aku membantu Maxton tanpa meminta ijin darinya terlebih dahulu dan aku tidak ingin hubungan kami jadi kacau gara-gara hal ini."


"Ya, kakak memang harus memikirkan hal ini. kakak tahu bukan Maxton tipe orang yang terburu-buru, sebaiknya kakak memintanya untuk menahan diri untuk tidak langsung menemui kakak ipar dan mengatakan jika dia putrinya saat hasil tes DNA sudah ada."


"Aku tahu tapi aku harus memikirkan cara untuk mengambil rambut Vivi dan mengatakan padanya untuk apa rambutnya."


"Kak, jika kakak ipar tidak mau memberikan rambutnya sebaiknya kakak mengorek lubang kamar mandi di rumah kakak, siapa tahu ada rambut kakak ipar di sana," ucap Michael bercanda.

__ADS_1


"Sembarangan!" jawab Matthew sedangkan Michael terkekeh.


"Ya sudah, semoga kakak mendapat jalan keluarnya," ucap Michael seraya melenggang pergi.


"Hei, mau ke mana?"


"Kencan dengan komputer," jawab Michael asal dan memang dia sedang mengembangkan sebuah Virus berbahaya untuk menghancurkan program perusahaan lain yang berani menantang mereka.


Matthew hanya menggeleng, dari pada memikirkan hal ini tanpa membuahkan hasil lebih baik nanti dia bicarakan hal ini baik-baik dengan Vivian. Mungkin mereka akan sedikit bertengkar karena Vivian pasti marah dan keberatan tapi jujur lebih baik dari pada mengambil rambut Vivian secara diam-diam.


Lagi pula dia tidak suka menyembunyikan apapun dan dia lebih suka bersikap jujur walaupun Vivian akan marah tapi sebuah kejujuran lebih baik untuk hubungan mereka.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Matthew segera pulang karena dia ingin membahas hal ini dengan Vivian. Saat melihat motor Vivian sudah terparkir di depan rumah, Matthew tersenyum dan segera berlari masuk ke dalam. Dia bahkan berjalan dengan cepat menuju kamar dan begitu pintu kamar terbuka, Vivian tampak sedang tertidur di atas ranjang.


Matthew segera mendekati ranjang dan tampak khawatir, tidak biasanya Vivian tidur setelah pulang bekerja. Apa Vivian sedang sakit?


Dengan perlahan, Matthew duduk di sisi ranjang dan meraba dahi Vivian tapi karena sentuhan tangannya, Vivian jadi terbangun dan memegangi telapak tangannya.


"Matt, kau baru pulang?"


"Sorry membangunkan mu babe, apa kau sakit?"


"Kau sedang haid?"


"Hm," jawab Vivian dengan wajah merona.


"Baiklah, tidurlah lagi. Aku mau mandi," Matthew menunduk dan mencium dahi Vivian sejenak.


Vivian mengangguk dan Matthew segera pergi mandi, dia mandi dengan cepat karena dia ingin menemani Vivian dan memeluknya. Tidak perlu lama dia sudah selesai dan sudah memakai bajunya.


"Apa kau sudah minum obat babe?" tanya Matthew seraya naik ke atas ranjang dan membaringkan diri di samping Vivian.


"Sudah," jawab Vivian.


Matthew memeluk Vivian dan mencium dahinya dengan lembut, "Apa kau sudah makan?"

__ADS_1


"Aku sedang tidak berselera Matth."


"Baiklah, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu tapi jika keadaanmu kurang baik maka beristirahatlah."


"Apa yang ingin kau bicarakan?"


"Nanti saja, tidurlah lagi," jawab Matthew seraya memasukkan tangannya ke dalam baju Vivian untuk mengusap perutnya.


"Apa perut mu masih sakit?"


"Sudah tidak apa-apa, jadi apa yang ingin kau bicarakan?"


Matthew tersenyum, sepertinya mereka akan sedikit bertengkar malam ini tapi tidak apa-apa karena dia tidak mau mengambil rambut Vivian secara diam-diam yang bisa mengakibatkan Vivian marah dan membencinya.


"Bebe, hari ini Jager datang ke kantor untuk menemuiku."


"Jager Maxton, untuk apa?" tanya Vivian sambil mengernyitkan dahi.


"Dia meminta bantuanku dan?" Matthew menghentikan ucapannya dan Vivian jadi penasaran.


"Apa Matth?"


"Saat mendengarnya jangan marah dan dengarkan penjelasanku," pinta Matthew seraya memeluk Vivian dengan erat dan mendaratkan sebuah ciuman di dahi Vivian.


Vivian semakin penasaran dan heran, Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang serius jika tidak, mana mungkin Matthew berkata demikian.


"Ada apa Matth, sepertinya ada rahasia?"


"Ya, Jager bilang, kau adalah putrinya yang hilang dua puluh lima tahun yang lalu jadi?"


"Apa kau bilang?" Vivian langsung bangun dari tidurnya dan menatap Matthew dengan tajam.


"Lelucon apa yang kau katakan ini Matth, aku putri Jager Maxton? Sebaiknya jangan bercanda dengan hal seperti ini!"


"Babe?" Matthew ingin menahan Vivian tapi Vivian sudah turun dari atas ranjang.

__ADS_1


"Jangan berkata seperti itu lagi Matth karena ini lelucon yang tidak lucu!" ucap Vivian dengan sinis seraya berjalan pergi.


Matthew menghela nafasnya, baiklah, walaupun dia tidak suka mereka bertengkar tapi hal ini tetap harus dia bahas dengan Vivian secara langsung. Lebih baik menghadapi kemarahan Vivian sebentar dari pada Vivian membencinya. Bagaimanapun sebuah kejujuran sangat penting dan sepertinya malam ini dia harus memberi banyak penjelasan kepada Vivian agar Vivian mau memberikan rambutnya.


__ADS_2