
Sebelum pulang, Matthew mengajak Vivian makan malam berdua karena mereka belum makan dan lapar. Vivian juga lelah dan haus karena dia terus berlari untuk mengejar pria misterius yang mengejarnya.
Untungnya dia rajin berolahraga sehingga dia memiliki stamina yang bagus. Selama mereka makan, Matthew memberikan sebuah flashdisk pada Vivian dan di dalam flashdisk itu berisi rekaman yang diminta oleh Vivian.
Dua rekaman sudah ada di tangan dan malam ini Vivian berencana memeriksanya, semoga dia mendapat petunjuk mengenai penghianat yang ada diorganisasi.
Setelah tiba di rumah, Vivian turun terlebih dahulu dan melangkah masuk tanpa menunggu Matthew. Dia sudah tidak sabar untuk segera mandi dan melihat rekaman yang diambil oleh Michael.
Matthew segera memerintahkan James untuk pergi dan setelah itu, dia berlari masuk ke dalam rumah untuk mengejar Vivian.
Vivian berjalan menuju kamar tapi tiba-tiba saja Matthew menarik tangan Vivian dan menggendong tubuhnya.
"Matth!" protes Vivian karena dia sangat kaget.
"Kenapa tidak menungguku? Apa kau marah padaku?"
"Tidak, aku tidak marah," jawab Vivian dengan senyum di wajahnya.
"Oh babe, aku kira kau marah."
"Ck, untuk apa aku marah? Aku hanya ingin cepat-cepat mandi."
"Mau mandi denganku?" tanya Matthew sambil tersenyum nakal.
"Jika aku menolak?"
"Kau tidak bisa menolak babe!" ucap Matthew seraya mencium bibir Vivian dengan mesra.
Matthew membawa Vivian menuju kamar tanpa melepaskan bibir Vivian karena baginya, bibir seksi Vivian bagaikan candu yang tidak bisa dia tolak bahkan dia ingin lagi dan lagi.
Rasanya sudah tidak sabar untuk memiliki Vivian, mungkin malam ini dia harus membuat sebuah taruhan lagi dengan Vivian tapi sebelum itu, dia akan memberikan terapi di kamar mandi.
Setelah masuk ke dalam kamar, Matthew segera membawa Vivian masuk ke dalam kamar mandi dan mendudukkannya di meja wastafel.
Matthew menghentikan ciumannya tanpa melepaskan bibir Vivian karena dia sedang menggigitnya dengan lembut.
Mereka membuka mata mereka dan saling pandang sesaat tapi tidak lama kemudian, Matthew kembali me*umat bibir Vivian dengan lembut.
Vivian memeluk Matthew dengan erat sedangkan tangan Matthew sudah merayap ke bawah dan meremas kedua bokong seksinya.
Vivian mulai mengerang karena tangan nakal Matthew dan pada saat mendengar erangan Vivian, Matthew merasa dia bisa gila karena dia sangat menginginkan Vivian.
"Babe," Matthew berbisik dan menyelusuri pipi Vivian dengan bibirnya.
"Hm?" Vivian jadi gugup apalagi bibir Matthew terus menyelusuri wajah dan lehernya.
"Aku sangat menginginkanmu babe, bolehkah kita?"
__ADS_1
"Ti...tidak boleh!" jawab Vivian dengan wajah memerah.
"Kenapa? Apa belum ada rasa cinta di hatimu untukku?"
"Bukan begitu, aku belum siap melakukan hal itu. Lagi pula kau tahu traumaku bukan?"
"Oke baiklah, tapi sekarang saatnya terapi dan nanti setelah selesai mandi aku ingin membuat taruhan denganmu!"
"Oh ya? Taruhan apa?"
"Kau akan tahu nanti sayang tapi jika kau tidak bisa menjawabnya maka kau harus jadi milikku dan tidak boleh menolak!"
"Baiklah Mr Smith," Vivian tersenyum dan mengusap wajah Matthew dengan lembut.
"Aku milikmu tapi sekarang aku ingin mandi karena aku ingin mengecek rekaman yang diberikan oleh adikmu."
"Oke!" Matthew menurunkan Vivian dari atas meja dan kembali mencium bibirnya.
Karena hari sudah malam dan Vivian ingin segera mandi, jadi Vivian segera mengisi air bathup karena mereka akan berendam bersama.
Setelah air penuh, aroma terapi dan sabun dituang ke dalam dan mereka berdua masuk ke dalam bathup. Vivian bersandar di dada Matthew sambil memainkan busa sabun sedangkan Matthew mencium punggungnya bahkan menggigitnya dengan lembut.
"Matth!" Vivian tampak gelisah.
"Stts babe, jangan takut dan aku berjanji tidak akan lebih dari ini!"
Karena Vivian tidak keberatan, bibir Matthew kembali menyelusuri lehernya tapi Vivian menahan tangan Matthew agar tidak melakukan lebih.
"Jangan Matth, aku takut," ucap Vivian dengan wajah pucat.
"Ck, baiklah aku tidak akan memaksa," jawab Matthew seraya mencium pipinya.
"Terima kasih Matth tapi ngomong-ngomong aku sudah melarangmu untuk tidak datang tapi kenapa kau datang juga!"
"Sudah aku katakan bukan? Aku bukan pengecut seperti buronanmu yang selalu menyembunyikan diri. Aku tidak takut pada apapun dan aku tidak perduli jika buronanmu melihatku dan jika dia berani, dia bisa mendatangiku dan menantangku tapi aku berani bertaruh, dia tidak akan berani."
Vivian mengangguk dan pada saat itu wajahnya memerah karena merasakan sesuatu di belakangnya, dia hanya diam saja dan tidak berani bergerak, jangan sampai membangunkan si jamur beracun tapi pada saat itu, dia teringat dengan wanita yang dia masukkan ke dalam tong sampah.
"Oh my God!" Vivian menepuk dahinya.
"Ada apa babe?"
"Aku lupa dengan seseorang Matth."
"Siapa?"
"Entahlah, dia wanita yang dikejar oleh segerombolan orang tadi dan aku memukulnya sampai pingsan."
__ADS_1
"Kenapa kau lakukan hal itu babe?"
"Dia terlihat mencurigakan dan aku rasa dia adalah komplotan mereka yang berpura-pura hendak diperkosa untuk mengecohku."
"Oh ya? Lalu mana wanita itu? Aku tidak melihatnya tadi?"
"Hm, aku memasukkannya ke dalam tong sampah dan sekarang aku lupa dengannya. Bagaimana jika dia tidak sadar dan dibuang kepenampungan sampah besok pagi?"
"Kau membuangnya ke dalam tong sampah?"
"Yes," jawab Vivian dan dia sedikit menghawatirkan wanita itu dan dia harap wanita itu cepat sadar.
"Hahahahaha!" Matthew tertawa terbahak-bahak sedangkan Vivian memandanginya dengan heran. Apa ada yang lucu?
"Kenapa kau tertawa Matth?"
"Tidak apa-apa, aku rasa tindakanmu sudah benar. Sampah memang harus dibuang ke dalam tempatnya dan wanita itu pantas mendapatkannya karena dia berani mencelakaimu."
"Benarkah?"
"Yes dan aku harap dia dibuang ketempat sampah daur ulang," jawab Matthew sambil terkekeh.
"Benar, siapa tahu dia bisa jadi boneka paling seksi nantinya."
Matthew kembali tekekeh dan mencium bahu Vivian, siapapun wanita itu dia akan cari tahu dan adiknya pasti merekam kejadian tadi.
"Terima kasih Matth, kau selalu membantuku."
"Stts, itu adalah tugasku babe. Aku tidak akan membiarkan kau dalam bahaya dan aku akan selalu menjagamu sekalipun harus mempertaruhkan nyawaku."
"Thanks," Vivian memutar wajahnya dan mencium pipi Matthew dengan mesra.
"Oh my, sekarang waktu kita berdua sayang dan sepertinya aku butuh bantuanmu!"
"Apa?"
Tanpa banyak bicara Matthew menarik tangan Vivian sedangkan wajah Vivian langsung merah padam.
"Matth!" protes Vivian tapi Matthew sudah mencium bibirnya dan mel*matnya.
"Dasar kau mesum, lepaskan!" pinta Vivian.
"Tidak akan!" jawab Matthew dan dia segera menerkam Vivian.
Teriakan Vivian terdengar karena Matthew mengigit bahunya. Setelah ini sebaiknya mereka tidak mandi bersama lagi karena Matthew seperti serigala yang sedang lapar.
#bab ini sudah di revisi 😌#
__ADS_1