
Hujan semakin mengguyur dengan deras bahkan petir tampak menyambar-nyambar dari atas langit. Jager Maxton melihat keadaan cuaca yang semakin buruk sambil berdoa dalam hati, semoga Tuhan berbaik hati menghentikan hujan agar Vivian jadi datang menemuinya hari ini.
Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, awan gelap masih tampak menyelimuti langit bahkan tidak terlihat seberkas cahaya matahari pun dan tidak ada tanda-tanda hujan akan berhenti.
Jager menghela nafasnya dan matanya tak lepas dari langit, jika dia bisa, dia sungguh ingin menghentikan hujan tapi apalah daya, dia hanya bisa berdoa untuk hal ini.
"Dad, beristirahatlah. Jika dia sudah datang, aku akan memanggilmu," ucap Damian seraya menghampiri ayahnya.
"Aku tidak tenang Damian. Hujan tidak juga berhenti dan aku takut dia tidak jadi datang," jawab ayahnya.
"Sepertinya aku harus menggantung Teru Teru Bozu di depan pintu rumah," ucap Damian.
"Teru Teru Bozu, apa itu?"
"Itu boneka yang terbuat dari kain putih dad, boneka itu untuk menangkal hujan dan sewaktu kecil aku suka membuatnya dan menggantungnya di jendela agar hujan segera berhenti," jawab Damian.
Jager terkekeh, dia ingat sewaktu mengunjungi Damian dulu, putranya selalu membuat boneka seperti hantu dan menggantungnya di depan pintu atau jendela sewaktu musim hujan tapi dia tidak tahu apa nama boneka itu.
"Tidak perlu kau lakukan, hujan di California tidak mempan dengan boneka itu. Lagi pula, bukan hujan yang akan berhenti tapi kau akan menakuti orang yang melihatnya," ucap Jager seraya berjalan pergi sedangkan Damian tertawa.
Jager segera masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, lagi pula waktu baru menunjukkan pukul tiga dan masih ada waktu beberapa jam lagi, dia sangat berharap hujan segera berhenti.
Jager membaringkan dirinya di atas ranjang dan rasanya sudah tidak sabar mendengar putrinya memanggilnya, daddy.
Pada saat itu tiba, dia pasti merasa sangat bahagia, anak yang dia kira sudah tiada ternyata masih hidup dan dia bersyukur masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan putrinya. Walaupun dia belum memastikan hal ini, tapi dia sudah sangat yakin, Vivian adalah putrinya yang hilang.
Dia akan sangat berterima kasih pada Matthew Smith karena berkat Matthew, dia bisa bertemu dengan Vivian jika tidak, dia tidak akan pernah mau bertemu dengan Vivian karena dia seorang penegak hukum.
__ADS_1
Waktu terus berjalan dan hujan sudah turun rintik-rintik, Vivian sudah keluar dari kantornya dan hendak pergi ke rumah Maxton tapi sebelum itu dia mengabari Matthew dan memintanya untuk tidak menunggu karena dia akan pergi ke rumah Maxton.
Dia harap dia mendapat jawaban dan mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi sehingga dia bisa mengambil keputusan, apa dia harus tes DNA atau tidak?!
Karena takut hujan kembali turun dengan deras, Vivian segera pergi menuju rumah Maxton. Walaupun angin terasa dingin tapi dia tidak perduli karena dia tidak mau menunda, kedua orang tuanya sudah diperjalanan dan dia ingin tahu semuanya sebelum mereka tiba.
Dia tahu orang tuanya sudah datang karena dia sudah berusaha menghubungi kakeknya tapi tidak dijawab. Karena penasaran, Vivian menghubungi kakaknya dan kakaknya mengatakan jika mereka sudah berangkat ke Amerika.
Dia sangat senang kakeknya juga datang karena dia sudah sangat merindukan kakeknya tapi tetap saja, dia harus mempersiapkan hati untuk menerima kenyataannya nanti.
Vivian membawa motornya dengan cepat di jalanan yang basah, jika cuaca terus memburuk sebaiknya dia meminjam mobil pada Matthew. Lagi pula mobil Matthew banyak di rumah dan dia pasti tidak akan keberatan jika dia meminjamnya satu.
Setelah menerjang hujan gerimis, Vivian tiba di rumah Maxton dan seorang penjaga langsung membuka pintu pagar saat melihatnya karena Jager sudah memerintahkan anak buahnya untuk tidak menahan Vivian.
Vivian membawa motornya memasuki pekarangan rumah Maxton dan rasanya jantungnya berdegup dengan cepat. Saat ini dia bagaikan sedang menghadapi sebuah bom aktif bahkan dia merasa debaran jantungnya lebih cepat pada saat hendak menjinakkan bom.
Setelah menghentikan motornya, Vivian menghela nafasnya dan melihat pintu rumah Maxton yang tertutup rapat. Sebelum melangkahkan kakinya, Vivian menarik nafasnya sejenak, dia benar-benar butuh keberanian untuk mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi?
Sebelum dia mengetuk pintu rumah, tiba-tiba saja daun pintu terbuka dan Damian keluar dari dalam.
"Selamat sore tuan Max, maaf mengganggu," ucap Vivian dengan sopan saat melihat Damian.
Damian tersenyum, rasanya sudah sangat ingin mendengar Vivian memanggilnya kakak apa lagi dia tidak punya saudara. Pasti menyenangkan tiba-tiba punya adik dan rasanya sudah tidak sabar menanti saat itu tiba.
"Tidak perlu terlalu sopan Angel, panggil aku Damian dan masuklah, daddy sudah menunggumu."
"Kalian sudah tahu aku mau datang?" tanya Vivian seraya mengikuti langkah Damian masuk ke dalam.
__ADS_1
"Ya," jawab Damian singkat.
Vivian diam saja, bisa dia tebak pasti Matthew yang mengatakan hal ini pada mereka tapi ini hal yang bagus karena mereka sudah tahu dia mau datang.
Damian membawa Vivian menuju ruang tamu di mana ayahnya sudah menunggu dan pada saat melihat Vivian, Jager segera bangkit berdiri dan wajahnya tampak begitu bahagia melihat gadis yang dia yakini adalah putrinya.
Padahal dia sudah putus asa dan mengira Vivian tidak jadi datang karena hujan yang masih turun rintik-rintik. Tapi pada saat mendapat laporan dari anak buahnya yang menjaga gerbang jika Vivian sudah tiba, Jager benar-benar senang dan segera meminta Damian untuk membuka pintu dan menyambut Vivian.
Rasanya ingin berlari dan memeluknya tapi dia ingat sewaktu pertama kali mereka bertemu, Vivian tidak nyaman saat di dalam pelukannya.
Dia tidak ingin membuat Vivian marah dan membencinya apa lagi kedatangan Vivian hari ini untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Selamat sore tuan Max," sapa Vivian.
"Kau pasti kedinginan nak, ayo kemarilah," pinta Jager dan Vivian mengangguk.
Dengan sedikit perasaan bimbang, Vivian menghampiri Jager yang berada tidak jauh dari perapian dan tanpa dia duga, Jager memakaikan sebuah kain di bahunya.
"Di rumah tidak ada wanita jadi aku tidak punya mantel wanita, hanya ada ini saja dan kau pasti kedinginan jadi kemarilah, hangatkan tubuhmu di depan perapian. Jangan sampai kau sakit karena terkena hujan," ucap Jager dengan lembut.
"Tidak apa-apa tuan Max, maaf merepotkanmu," jawab Vivian dengan perasaan tidak menentu karena saat itu, Jager Maxton seperti sedang menunjukkan kasih sayang seorang ayah kepada putrinya dan memang itu yang sedang dilakukan oleh Jager.
Jager tersenyum dan membawa Vivian duduk di depan perapian supaya tubuhnya hangat, sedangkan Damian berlalu pergi karena dia ingin mengambilkan sup hangat untuk Vivian.
Vivian benar-benar tidak enak hati apa lagi saat Damian kembali dan memberikan semangkuk sup hangat untuknya.
"Tuan Max kedatanganku kemari?"
__ADS_1
"Nikmati sup itu dulu nak, kita akan membahas hal ini setelah kita makan malam," ucap Jager sambil tersenyum lembut.
Vivian mengangguk dan menunduk, sepertinya dia akan sedikit lama di rumah Maxton dan sepertinya dia akan pulang malam dan dia harap, Maxton tidak menipunya dan mengatakan padanya apa yang telah terjadi dengan jujur karena setelah kakeknya tiba, dia juga akan menanyakan hal ini pada kakeknya.