
Vivian masih diam di tempat begitu juga dengan matanya yang masih memandangi foto istri Jager tanpa berkedip bahkan wajah Vivian menunjukkan jika dia tidak percaya.
Dengan perlahan, Vivian melangkah maju sambil memegangi wajahnya. Bagaimana mungkin wajahnya bisa begitu mirip dengan wajah istri Jager Maxton?
Bahkan dia merasa, jika dia memakai baju kuno yang sedang dikenakan oleh istri Jager Maxton yang ada di dalam foto, orang akan menganggap mereka kakak adik.
Vivian masih diam saja dan matanya tidak lepas dari foto istri Jager, kenapa mereka bisa begitu mirip?
"Ini tidak mungkin, tidak!" gumam Vivian sambil melangkah mundur. Dia takut membayangkannya dan semoga saja wajah mereka hanya kebetulan mirip.
"Nak, apa kau baik-baik saja?"
Vivian memandangi Jager dan berusaha tersenyum. Ini pasti hanya kebetulan saja, pasti! Lebih baik dia tidak lupa dengan tujuannya dan melakukan pekerjaannya.
"Maaf tuan Max, aku hanya kaget saja saat melihat wajah kami yang mirip."
"Tidak apa-apa, aku juga sangat kaget saat melihatmu," jawab Jager dan dia kembali mendekati foto istrinya.
Jager menghela nafasnya, semoga hasil tes DNA cepat keluar agar dia bisa melakukan langkah selanjutnya. Jika dia ingin meminta bantuan Matthew maka dia harus punya bukti yang kuat jika tidak dia yakin Matthew tidak akan membantunya begitu saja walaupun dia bersujud di bawah kakinya.
"Apa dia istrimu tuan Max?" tanya Vivian memecahkan keheningan diantara mereka.
"Ya, dia istriku Cristiana," jawab Jager sambil memandangi foto istrinya.
"Maaf tuan Max, apa istrimu sudah tiada?"
"Kau benar, dia telah tiada begitu juga dengan putriku."
Vivian menatap Jager sejenak dan merasa tidak enak hati karena wajah Jager terlihat sedih.
"Maafkan aku tuan Max, aku tidak bermaksud?"
"Tidak apa-apa, jangan dipikirkan," jawab Jager sambil tersenyum.
"Apa kau punya orang tua Angel?"
"Tentu saja tuan Max, kedua orang tuaku masih hidup."
Jager tampak kecewa mendengarnya, apakah dugaannya salah? Tapi jika putrinya masih hidup bisa saja putrinya diadopsi orang lain bukan? Semua kemungkinan bisa saja terjadi dan tidak ada yang tidak mungkin.
Vivian memutar langkahnya untuk mengambil berkas yang dia jatuhkan tadi dan pada saat itu, Damian menghampiri mereka.
Vivian tersenyum dengan ramah saat melihat Damian, begitu juga dengan Damian. Bisa jadi gadis itu adalah adiknya tapi hal itu belum pasti selama hasil tes DNA belum ada.
__ADS_1
"Dad, waktunya makan," ucap Damian seraya menghampiri ayahnya.
"Oh kebetulan sekali Angel, bagaimana jika kita makan bersama?" ajak Jager.
"Tidak tuan Max, aku akan menunggu."
"Bergabunglah dengan kami Angel, daddy memang sudah menyiapkan semua untuk menyambutmu," ucap Damian.
"Tapi tuan Max, aku tidak enak hati," tolak Vivian dengan sopan.
"Ayolah, jangan mengecewakan orang tua ini. Setelah selesai makan kau bisa mengintrogasi kami berdua," ucap Jager.
Vivian benar-benar tidak enak hati tapi dia merasa lebih tidak enak hati lagi jika menolak ajakan Maxton untuk makan siang bersama.
Dengan terpaksa Vivian mengiyakan ajakan Jager dan Damian untuk makan siang bersama dengan mereka. Walau dia merasa sedikit aneh karena dia diperlakukan dengan begitu baik padahal waktu itu dia ditolak dan diusir oleh Jager Maxton.
Apa karena wajahnya yang mirip dengan almarhum istri Jager hingga dia mendapat perlakuan seperti itu? Apapun itu dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan karena dia harus mencari bukti dan mengintrogasi mereka.
Vivian segera mengikuti langkah Damian dan Jager menuju ruang makan di mana banyak makanan sudah terhidang di atas meja. Sambil tersenyum paksa, Vivian duduk di depan Jager saat pelayan menarik sebuah kursi untuknya.
Dia benar-benar canggung bahkan tidak berani mengambil makanan yang ada, bagaimana tidak? Saat ini dia benar-benar merasa asing.
"Kenapa kau tidak makan Angel?" tanya Damian.
"Maaf tuan Max, aku?" dia benar-benar tidak enak hati.
"Oh tidak, jangan tuan Max," Vivian tambah tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, anggap aku kakakmu," ucap Damian sambil tersenyum.
"Terima kasih, kalian terlalu baik dan aku jadi tidak enak hati."
"Jangan sungkan. Maafkan sikapku waktu itu dan sekarang kau boleh datang kapanpun karena pintu rumah ini selalu terbuka untukmu," ucap Jager.
Vivian mengangguk sambil tersenyum, walaupun canggung tapi dia makan bersama dengan Jager dan Damian bahkan saat ini mereka sudah seperti keluarga.
Jager terlihat senang, itu terbukti dari wajahnya. Tak henti-hentinya dia memandangi Vivian dan tersenyum, semoga saja gadis itu memang putrinya.
Setelah selesai makan, Vivian melakukan pekerjaannya untuk mengintrogasi Maxton dan Damian.
Mereka duduk saling berhadapan dan beberapa gelas teh juga cemilan sudah terhidang di atas meja.
"Nah Angel, apa yang ingin kau tanyakan dan kenapa kau mencurigai kami?" tanya Jager.
__ADS_1
"Maaf jika aku tidak sopan tapi akhir-akhir ini banyak kasus kejahatan yang dilakukan mengatasnamakan nama anda tuan Max dan juga ada barang ilegal yang kami sita dan semua barang itu atas nama tuan Max. Tidak hanya itu saja, seseorang yang mirip dengan tuan Damian muncul sebagai buronan yang aku cari, apa tuan Maxton bisa menjelaskan?"
Jager menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Vivian, entah siapa yang melakukan hal itu tapi yang pasti bukan dia dan putranya. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Matthew Smith, sepertinya ada yang ingin menghancurkan reputasinya.
"Sudah lama aku tidak pernah melakukan bisnis ilegal. Semenjak kematian istri dan putriku, aku sudah berhenti melakukan hal itu bahkan aku sudah tidak berkecimpung di dunia gelap lagi. Mengenai kejahatan yang terjadi dan barang yang kalian sita? Aku sungguh tidak tahu dan aku tidak terlibat," jawab Jager.
"Lalu bagaimana dengan tuan Damian yang tiba-tiba muncul sebagai buronan yang aku cari?"
"Nak, selama ini Damian tinggal di Jepang dan baru datang beberapa hari yang lalu, dia bahkan tiba ke Amerika jam lima pagi. Lalu bagaimana mungkin dia bisa jadi buronanmu?"
Vivian mengangguk dan supaya bukti semakin kuat, Vivian meminta beberapa bukti kepada Jager Maxton karena bukti itu akan dia berikan kepada kapten Willys agar sang kapten percaya bahwa mereka tidak terlibat.
Vivian kembali melontarkan beberapa pertanyaan dan setelah selesai dia pamit pergi karena semua infomasi yang dia inginkan sudah dia dapatkan.
"Nak, bolehkah aku menemuimu jika ada waktu luang?" tanya Jager sebelum Vivian pergi.
"Tentu tuan Max," jawab Vivian.
"Boleh aku minta nomor ponselmu?" tanya Jager lagi.
"Of course," Vivian menulis nomor ponselnya disebuah kertas dan setelah itu dia memberikan kertas itu pada Jager.
"Terima kasih, apa besok malam kau punya waktu? Jika tidak sibuk datanglah kemari bersama dengan tuan Smith, kita makan malam bersama."
Vivian tersenyum, ini sebuah undangan dan dia tidak bisa menolaknya.
"Pasti, kami akan datang," jawab Vivian.
Jager tampak senang, ini kesempatan bagus agar mereka bisa menghabiskan waktu bersama.
Sebelum Vivian pergi, dia melihat foto istri Jager sebentar dan setelah itu dia berpamitan karena dia harus kembali ke kantor.
Jager dan Damian mengantar kepergiannya dan berdiri di depan pintu, mereka masih di sana memandangi kepergian Vivian.
"Bagaimana menurutmu Damian?" tanya Jager pada putranya.
"Entahlah dad, semoga saja dia benar-benar putrimu."
"Aku juga berharap begitu Damian dan aku sudah tidak sabar untuk mengetahui hasil tes DNA."
"Bersabarlah dad, tidak lama lagi kita akan tahu kebenarannya dan nanti malam aku akan menemui orang itu menggantikan daddy. Aku ingin tahu informasi apa yang ingin orang itu berikan."
"Berhati-hatilah Damian, kita tidak tahu dia siapa."
__ADS_1
"Aku tahu, percayalah padaku dad, aku tidak akan mengecewakan daddy."
Jager mengangguk dan segera masuk ke dalam sedangkan Damian mengikutinya. Apapun informasi yang ingin orang itu berikan pada mereka dia berharap, informasi itu berguna sehingga dia bisa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi dua puluh lima tahun yang lalu.