Two M, Son Of Mafia And His Angel

Two M, Son Of Mafia And His Angel
Permintaan


__ADS_3

Setelah selesai makan, Vivian merapikan piring-piring kotor dan membawanya ke tempat cuci piring.


Matthew hanya memperhatikannya karena Vivian melarangnya membantu, jangan sampai ada piringnya yang pecah lagi karena ulah pria itu.


Matthew diam saja dengan banyak pikiran di kepalanya, dia tidak menyangka jika Vivian sudah punya kekasih tapi ini menjadi sebuah tantangan untuknya.


Dia juga tidak berharap bisa mendapatkan Vivian dengan mudah, semakin sulit dan menantang semakin membuatnya ingin memiliki gadis itu.


Jika dia bisa mendapatkan Vivian dengan mudah maka tidak akan menarik, dia bisa mendapatkan wanita manapun yang dia mau dengan mudah dan sekarang dia merasa sangat tertantang karena ada saingan dan rasa ingin memiliki Vivian semakin besar di dalam hatinya.


Selama dia tinggal di sana akan dia manfaatkan dengan baik dan semoga suatu saat nanti dia bisa melihat rupa saingannya.


Apakah pria itu lebih tampan dan lebih kaya darinya? Sungguh dia sangat ingin melihatnya.


Punggung Vivian terasa dingin karena sedari tadi Matthew terus melihatnya tanpa berpaling, apa sih mau pria itu?


"Fredd, kanapa kau melihatku seperti itu?" Vivian melotot ke arahnya karena dia tidak suka diperhatikan terlalu lama.


"Aku melihat gadis yang aku sukai, Memangnya tidak boleh?"


"Apa bisa dikondisikan? Kau melihatku seperti melihat buronan!"


"Percayalah babe, kau buronanku sekarang!"


"Ck, sebaiknya menyerah saja Fredd. Aku sungguh tidak tertarik denganmu!"


"Aku bukan orang yang akan menyerah dengan mudah babe, sebaiknya kau siapkan dirimu dan aku pastikan kau akan jadi milikku. Aku juga akan mengalahkan pacarmu dan merebutmu darinya!"


"Terserah kau saja!" ucap Vivian.


Dia sudah mengingatkan dan jika Matthew ingin berusaha dia bisa apa? Lagi pula dia yakin tidak akan tergoda dengan pria itu apalagi dia sudah berjanji akan menunggu Carlk kembali.


Vivian kembali mencuci piring, sedangkan Matthew masih memperhatikannya. Entah kenapa dia jadi ingin tahu seperti apa pria saingannya. Sebelum berperang dia harus menguasai medan terlebih dahulu bukan? Jadi dia akan mencari tahu seperti apa saingannya.


"Babe."


"Hm?"


"Seperti apa pacarmu?"


Vivian diam saja, seperti apa? Sudah lima tahun Carlk tidak pernah kembali bahkan jika dia tidak melihat foto Carlk mungkin dia akan lupa bagaimana dengan wajah Carlk.


"Kenapa kau diam saja?" Matthew penasaran, jangan-jangan Vivian membohonginya.


"Di mana pacarmu saat ini?" tanya Matthew dan pertanyaannya ini membuat Vivian ingin menangis.


Di mana? Dia benar-benar tidak tahu di mana Carlk berada. Apa pria itu masih hidup atau tidak dia sendiri tidak tahu.

__ADS_1


"Babe?" Matthew semakin penasaran, kenapa Vivian tidak menjawab pertanyaannya?


"Entahlah!" jawab Vivian singkat.


"Babe, apa maksudmu entahlah?"


"Aku tidak mau membahasnya!"


"What? Apa maksudnya?" Matthew benar-benar tidak mengerti kenapa Vivian menjawab seperti itu.


Vivian berjalan ke arah kulkas dan menyimpan makanan yang tersisa di dalam sana. Mata Matthew benar-benar tidak lepas darinya. Kenapa gadis itu menyimpan banyak rahasia? Sungguh dia semakin penasaran.


"Kita bahas yang lain saja Fredd, sekarang aku yang bertanya!" ucap Vivian.


"Apa yang ingin kau tahu babe, aku akan mengatakan semua yang ingin kau tahu! Apa kau mau tahu ukuran sepatuku? Atau kau mau tahu ukuran celanaku?"


"What?" Vivian tercengang.


"Bahkan jika kau mau tahu ukuran ce*ana da*amku, pasti akan aku katakan padamu oh atau kau mau tahu ukuran adikku? katakan saja aku pasti akan mengatakannya padamu!" ucap Matthew asal karena dia ingin menggoda Vivian.


"Freddy!" Wajah Vivian merah padam, sedangkan Matthew tertawa melihatnya.


Vivian mendengus kesal, siapa yang mau tahu ukuran-ukuran pria itu?


"Jadi apa yang ingin kau tahu, hm?" Matthew bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Vivian.


"Aku hanya ingin tahu kau bekerja di mana?"


"Ck, aku tidak percaya jika kau hanya seorang supir!"


"Kenapa kau tidak percaya? Aku memang seorang supir!"


Vivian melihat Matthew dari atas kepala sampai ke ujung kakinya dengan penuh selidik, mana ada seorang supir berpenampilan seperti Matthew?


Jam tangan yang dia pakai sudah terlihat jika itu barang mahal, belum lagi pakaian yang dia pakai, semua itu barang bermerk.


"Aku tidak percaya jika kau seorang supir!" ucap Vivian.


"Kenapa?"


"Lihat penampilanmu? Hanya orang bodoh yang percaya jika kau adalah seorang supir."


Matthew terkekeh dan berkata dalam hati, "Dan kaulah orang bodoh pertama yang percaya dengan kebohonganku!"


"Percayalah babe, aku hanya seorang supir dan semua yang aku pakai hanya barang palsu supaya aku terlihat semakin menarik!"


"Oh ya?" Vivian melihatnya dengan tatapan tidak percaya.

__ADS_1


"Percayalah babe, aku banyak hutang mana mungkin aku mampu membeli barang bagus!" dustanya.


"Baiklah, sebenarnya bukan itu yang ingin aku tahu."


"Lalu?"


"Aku ingin tahu kenapa kau begitu paham mengenai bom yang kita temukan. Bahkan kau begitu mahir dengan bom yang ada di pesta, siapa sebenarnya kau Fredd?"


Vivian memandangi Matthew dengan serius, sungguh dia tidak percaya jika pria itu hanya orang biasa.


"Bukankah sudah aku katakan? Aku hanya orang biasa yang secara kebetulan paham dengan benda itu. Apa kau tidak percaya?"


"Tidak!" jawab Vivian karena dia memang tidak percaya.


"Why?"


"Ck, sudahlah! Jadi kapan kau akan mengajariku?"


"Kapanpun kau mau babe, aku pasti akan mengajarimu tapi sekarang saatnya aku mengutarakan permintaanku."


"Memangnya kau mau apa?" tanya Vivian seraya meneguk minum yang ada digelas.


"Dengar baik-baik babe, aku ingin setiap pagi bisa memelukmu dan mencium pipimu bagitu juga saat malam sebelum kau tidur. Aku ingin memberikan morning kiss dan good night kiss untukmu!"


"What? Kau gila ya?!" umpat Vivian kesal.


"No! Aku ingin melakukannya supaya hubungan kita semakin dekat dan supaya kau tidak takut denganku."


"Tidak mau, yang lain saja!" tolak Vivian.


"Aku tidak mau yang lainnya babe dan Ingat, kau sudah berjanji."


"Tapi kau tahu aku?"


"Aku tahu, pelan-pelan kau pasti akan terbiasa."


Vivian diam saja dan meletakkan gelasnya, sedangkan Matthew menunggu jawaban darinya.


"Akan aku pikirkan!" jawab Vivian dan dia berjalan pergi.


Matthew memandangi kepergian Vivian dengan senyum di wajahnya. Supaya mereka bisa dekat dia harus membuat Vivian tidak takut dengannya terlebih dahulu dan Vivian harus terbiasa dengannya.


Mungkin ini akan memakan banyak waktu tapi jika dilakukan setiap hari Vivian pasti akan terbiasa.


Matthew keluar dari dapur dan masuk kedalam kamar yang dia tempati, sedangkan saat itu di dalam kamarnya Vivian duduk disisi ranjang dan tampak termenung dengan banyak pikiran di dalam kepalanya.


Vivian menjatuhkan dirinya ke atas ranjang dan menghembuskan nafasnya dengan berat.

__ADS_1


"Carlk, kenapa kau tidak juga kembali? Dimana kau saat ini? Aku sudah lelah menunggumu Carlk, jika kau ingat dengan janji kita maka cepatlah kembali. Aku sangat merindukanmu dan aku ingin kita bersama lagi seperti dulu. Tapi jika kau tidak juga kembali dan jika pria di luar sana dapat mengambil hatiku dan menggantikanmu maka jangan salahkan aku telah mengikari janji kita." ucap Vivian sambil menutupi matanya dengan lengannya karena air matanya mulai mangalir.


Cinta yang dia pendam selama ini dan janji yang telah mereka buat, benar-benar bisa membunuhnya. Haruskah dia melupakan Carlk dan janji mereka?


__ADS_2