
Setelah Ken diusir orang tua kandungnya sendiri karena menceraikan Karina. Ken kembali pulang ke rumahnya di ibukota karena masalah proyek pun sudah diselesaikan dengan baik. Ken memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya dengan raut wajah lelah.
Setelah itu masuk ke dalam yang hanya disambut oleh ART nya. Ken hanya melirik kamar putrinya sebentar dan langsung ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Tatapan kecewa dan dingin menyelimuti kamarnya seolah penghuninya meninggalkan kamar itu dalam waktu yang lama. Tak ada tanda-tanda istrinya ada di rumah meski sekedar untuk menyambut dirinya.
Pikirannya menerawang jauh ke belakang saat dirinya masih berstatus suami Karina. Setiap saat setiap waktu dirinya pulang ke rumah, entah berapa hari pun dia ke luar kota dan entah pukul berapa pun itu. Karina selalu menyambut kepulangannya dengan senyum manis dan binar mata bahagia. Meski harus menahan kantuknya setengah mati.
Tapi Karina tetap berdiri di pintu depan rumah menampilkan senyum sejuta watt nya yang hanya saja saat itu masih belum meluluhkan hati Ken untuk menatapnya sebagai seorang wanita bahkan sebagai istri. Karina di matanya adalah seorang adik yang harus dijaganya meski seorang putri sudah hadir di tengah-tengah mereka.
Ken menghembuskan nafas lelahnya yang panjang. Apakah dia menyesal? Entahlah. Toh semua sudah berlalu dan terlambat jika dia harus menyesal. Dia ingin lebih berusaha agar rumah tangganya kali ini tidak berakhir perpisahan karena sudah ada bayi kecil mereka meski istrinya tak mau mengurusnya karena alasan karier.
Ken mencoba memaklumi istrinya, mungkin lembur kerja atau ada suatu hal yang mendesak yang harus dilakukannya sehingga sampai jam sepuluh malam belum pulang.
Setelah membersihkan tubuhnya secukupnya, Ken langsung ke kamar putri kecilnya yang sudah terlelap pulas dengan pengasuh yang juga terkantuk-kantuk saat menggoyangkan ranjang goyang putrinya agar tertidur.
Ken mendekati box bayi itu, melihat putrinya terlelap, membuat rasa lelah dan sakit hatinya karena tak menjumpai istrinya tadi langsung meluap. Ken tersenyum sambil membelai pipi putrinya lembut.
"Ah, maaf tuan saya ketiduran." jawab pengasuh itu langsung berdiri dan membungkuk sopan pada Ken.
"Gak apa bi, makasih sudah menjaga putriku saat aku tak di rumah."
"Sudah tugas saya tuan sebagai pengasuh non Vanya." ucap pengasuh itu tersenyum.
Ken tersenyum masih setia membelai pipi putrinya.
Seketika dia teringat dengan putrinya yang lainnya yang telah ditinggalkannya karena keinginan Lena yang melarangnya untuk menemui putrinya Anin karena Lena yang cemburu. Ken mengalah karena tak mau kehidupan rumah tangganya terganggu.
Namun Ken pun tak pernah melupakan nafkah putrinya meski Lena yang mengirimkannya karena Lena selalu curiga dan cemburu jika itu berhubungan dengan mantan istrinya Karina.
"Oh ya bi, apa Lena selalu pulang terlambat setiap hari?" tanya Ken menatap pengasuh putrinya itu yang langsung berubah pucat wajahnya.
Dia tampak meremas jemari tangannya takut untuk mengatakan hal sejujurnya pada majikannya.
"Bi..." panggil Ken lagi mengernyit melihat reaksi pengasuh putrinya yang tampak pias dan takut-takut.
"Ah... A...anu tuan..sa...saya..." pengasuh itu menjawab dengan gelagapan membuat Ken semakin mengernyit dan keheranan.
__ADS_1
"Memang ada apa bi?" tanya Ken lagi.
Belum juga pengasuh itu menjawab suara deru mobil memasuki halaman rumah Ken dan Lena. Ken hapal betul itu suara mobil istrinya. Ken melirik jam dinding kamar putrinya menunjukkan pukul sebelas malam.
"Ah, sepertinya dia pulang." jawab Ken berlalu menuju pintu depan rumahnya menyambut kedatangan istrinya.
Pengasuh itu bukannya lega malah semakin takut dengan kenyataan yang mungkin saja akan terjadi. Pengasuh itu semakin meremas jemarinya kuat. Tangannya berkeringat dingin, peluhnya menetes padahal cuaca malam itu sangat dingin.
"Ya Allah, lindungilah keluarga ini!" bisik pengasuh itu menutup kamar putri majikannya dan dia mulai berbaring di bawah box bayi itu tak mau melihat akan adanya perang dunia yang mungkin saja terjadi sebentar lagi.
***
Ken dengan senyuman sejuta watt nya melangkah menuju pintu depan rumah setelah mendengar suara dentuman pintu mobil yang ditutup.
Cklek..
Ken terdiam menatap dua orang manusia yang setengah mabuk bercumbu bibir mereka di teras depan rumahnya. Ken seketika mengepalkan kedua tangannya erat, rahangnya mengeras. Wajahnya memerah mendapati istrinya Magdalena berciuman mesra dengan pria lain di hadapannya tanpa rasa , bersalah ataupun canggung dan hal itu terjadi di depan rumah mereka.
Ken seketika merasa dibohongi dan dikhianati seolah-olah kejadian itu tidak baru saja terjadi hari ini. Mungkin sudah berhari-hari saat dirinya tak ada di rumah.
"Eh, mas... kamu sudah pulang?" pertanyaan Lena yang seolah tak merasa bersalah membuat Ken semakin naik pitam dan beralih menatap pria yang sangat familiar untuknya.
'Ah, pria itu, pria di cafe saat itu. Oh bodohnya dirinya.' batin Ken yang melihat pria muda itu terlihat salah tingkah. Dia sepertinya tak begitu mabuk seperti istrinya yang sudah tampak sempoyongan yang ditahan pria itu. Apakah ini karma untuknya. hahha.. Ken tersenyum miris.
***
Setelah membaringkan tubuh istrinya di kamar dengan dibantu pria yang berciuman mesra dengan istrinya itu. Kini keduanya duduk di sofa ruang tamu rumah mereka.
Entah kenapa Ken tampak tenang, meski dirinya ingin sekali menghajar pria muda itu yang duduk dengan kikuk di sofa ruang tamu dengan mendapat tatapan penuh intimidasi dari Ken. Ken bersedekap dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Feri, benar?" tanya Ken memecah keheningan. Pria muda yang merasa disebut namanya mendongak menatap Ken tak percaya karena mengingat nama dirinya.
"Ya."
"Sudah berapa lama?" tanya Ken dengan nada kecewa yang berusaha ditahannya.
__ADS_1
"Eh..ya?" Feri mendongak menatap Ken ragu.
"Sudah berapa lama hubungan perselingkuhan kalian?" tanya Ken lagi dengan semburat wajah kesedihan di matanya.
"Itu... itu..."
"Jawablah dengan jujur!"
"Empat bulan lalu." jawab Feri sambil menundukkan wajahnya merasa tak tega.
Ken mendesah pelan, ditahannya air matanya yang siap menetes sewaktu-waktu. Itu artinya setelah dirinya memutuskan kembali bekerja. Ken tersenyum miris.
"Sudah sejauh apa keintimannya?" tanya Ken dengan nada getir dan nafas yang tercekat.
"A.. apa maksud anda?" tanya Feri yang mendadak wajahnya memerah menahan malu.
"Apa kalian sudah berhubungan intim?" Feri tampak terkejut dan sontak menatap Ken dengan rasa bersalahnya.
"Maaf..." bisik Feri lirih.
Air mata Ken langsung menetes. Dan seketika pula dia langsung mengusap air matanya tak ingin terlihat menyedihkan.
Inikah yang dirasakan Karina saat dirinya memutuskan untuk menikah lagi, apalagi aku menahannya untuk tidak menceraikannya dan menggantung statusnya. Ah, pasti lebih menyakitkan saat mendengar kabar Lena hamil anakku pula. Maafkan aku Karin, aku pantas mendapatkannya. Maaf.. mungkin maaf saja tak cukup untuk menebus kesalahanku dan dosaku padamu. Kau memang wanita yang hebat. batin Ken mendongak menatap langit-langit rumahnya agar air matanya tak jatuh lagi.
"Tolong jaga istriku setelah perceraian kami! Jaga dia baik-baik!" ucap Ken dengan nada getir dan sarat akan kesedihan dan kekecewaan.
Ken pun berlalu meninggalkan Feri sendiri tanpa menunggu jawaban dari pria muda itu yang kebingungan dengan ucapan suami kekasihnya. Ya, kekasihnya.
***
Beri like, rate dan vote nya
Makasih sudah membaca dan mendukung 🙏🙏
Maafkan typo
__ADS_1