
Karina berjalan agak tergesa-gesa menuju resort sebelahnya, tempat Bram dan adiknya tinggal. Kabar yang diberikan satpam resort nya membuat Karina cemas dan panik. Dia tak mungkin berlarian dengan perut buncitnya, malah jika suaminya tahu.
Teriakkan suaminya akan menggelegar di segala sudut rumahnya jika tahu dirinya berjalan setengah berlari dengan tergesa-gesa. Namun karena ketiadaan suaminya di tempat, membuat Karina nekat untuk berjalan lebih jauh ke resort Bram. Dan tentu saja langkahnya itu juga diikuti langkah adiknya yang juga cemas kalau-kalau putranya juga mengalami hal yang sama.
"Ada apa ya kak?" tanya Katrina di sela-sela langkah tergesa mereka.
"Entahlah dek, kakak juga penasaran mendengar kabar itu." jawab Karina tanpa menatap adiknya Katrina sambil terus menatap jalan di depan.
***
Brak
Suara pintu dibuka kasar oleh Katrina, Bram yang sedang berjongkok di depan John, keponakannya tersentak, bukan hanya Bram yang terkejut tapi semuanya yang ada di ruang tamu itu juga terkejut serentak menoleh ke arah pintu.
"Ada apa mas? Apa yang terjadi? Siapa yang terluka? Bobby tak apa kan?" tanya Katrina memberondongi suaminya dengan banyak pertanyaan.
Karina sebenarnya juga ingin bertanya memberondong namun Katrina sudah mewakili segala yang ingin diucapkannya. Dengan wajah panik dan cemas.
Bram menatap keduanya bergantian, wajah yang sama, wajah panik yang sama, kecemasan yang sama, juga perut buncit yang hampir sama hanya beda sebulan kurang lebih. Namun hanya berbeda karena Karina berhijab dan Katrina istrinya tidak. Bram berhenti di tatapan istrinya.
"Tak ada apa-apa. Kenapa heboh seperti itu?" jawab Bram mengalihkan pandangannya ke arah pergelangan kaki John yang katanya terluka, jatuh dari papan selancar.
Karina dan Katrina menoleh ke arah tangan Bram bergerak.
"John.." teriakan Karina membuat telinga Bram berdenging karena sambil berteriak Karina segera menghampiri putra John.
"Sudah tak apa. Aku sudah mengurutnya sedikit tadi." hibur Bram melihat wajah cemas dan marah di wajah Karina.
John menciut mendengar teriakkan mommy nya. Dia takut akan dimarahi oleh sang mommy, mommy nya menakutkan kalau marah. Itulah sebabnya, John meminta sang uncle untuk membawanya ke resortnya untuk diobati bukan ke resort orang tuanya karena nanti dia akan diomeli sang mommy panjang kali lebar. Dan itu pun didukung oleh Josh juga.
Karena keduanya hapal betul, jika sang mommy marah pada salah satu dari mereka. Mommy nya itu juga akan mengomeli keduanya juga, apalagi jelas-jelas terbukti mereka sedang melakukan kesalahan berdua.
__ADS_1
"Mama sudah bilang untuk tidak memaksakan diri kan. Ini akibatnya kalian tak mendengarkan mommy." seru Karina ngomel-ngomel seperti yang ditakutkan oleh si kembar.
"Sorry mom." jawab keduanya serempak. Bram menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Karina yang masih saja meledak-ledak jika sekali saja ada yang berbuat kesalahan di rumahnya.
Padahal Bram tahu betul Karina sangat mencemaskan putra kembarnya itu.
"Sudahlah! Kau menakuti mereka... dan ..
juga putraku..." sela Bram menatap Karina, ganti menatap si kembar bergantian dan terakhir beralih menatap Bobby yang ikut menunduk ketakutan.
Bobby baru pertama kali melihat auntynya marah meledak-ledak, padahal mommy nya sendiri tak pernah seperti itu. Dan itu membuat Bobby ikut merasakan saudara sepupunya yang tadi panik tak mau dibawa pulang ke resort mereka sendiri, memilih pulang ke resort nya untuk diobati disini karena seperti inilah aunty nya akan bereaksi, menakutkan.
Karina tersentak, menoleh menatap Bram ganti menatap si kembar bergantian dan juga berakhir menatap Bobby yang menunduk ketakutan yang melebihi ketakutan si kembar karena mungkin mereka sudah terbiasa dengan ledakan kemarahan sang mommy. Karina mendekati Bobby dan menyentuh punggung tangannya.
"Maafkan aunty Bobby, aunty kelepasan." ucap Karina merendahkan suaranya selembut mungkin.
Bobby yang tadi sedikit gemetar menjadi tenang dan memberanikan diri mendongak menatap auntynya yang tersenyum manis.
"Eh, tentu saja aunty maafkan. Jangan takut lagi pada aunty ya? Aunty hanya marah pada si kembar yang bandel itu." jelas Karina menatap si kembar dengan tatapan tajam dan dingin bergantian.
Yang ditatap langsung menunduk lagi karena mengira sang mommy sudah tidak marah lagi. Katrina tersenyum lucu melihat tingkah ketiga anak-anak itu. Katrina sudah hapal betul dengan watak sang kakak. Bram mendekati istrinya, memeluk dari samping dengan sebelah tangannya dan mengecup kening istrinya.
"Jangan di depan anak-anak mas!" ucap Karina tanpa menatap keduanya.
"Eh..."
"Hahahaha..." Katrina tertawa terbahak-bahak melihat reaksi suaminya yang membeku mendapat teguran darinya.
Bram hanya pura-pura menggaruk-garuk hidungnya yang tidak gatal.
"Angkat kakimu kemari!" titah Karina menatap John yang sejak tadi menunduk.
__ADS_1
"Eh, iya mom." John mengangkat kakinya yang sakit ke atas sofa.
"Masih sakit?" tanya Karina melembutkan nada suaranya sambil meneliti setiap inci kakinya yang sakit.
"Sudah lebih baik setelah diobati uncle." jawab John.
"Sebaiknya tetap periksakan ke rumah sakit. Apa ada yang fatal?" saran Bram menyela percakapan ibu dan anak itu.
"Minta tolong ya mas!" pinta Karina menatap wajah Bram dengan tatapan puppy eyes nya.
"Eh," Bram melirik istrinya yang malah tersenyum lucu.
"Tentu." jawab Bram akhirnya. Bram mengambil kunci mobil dan dompetnya, menyiapkan mobilnya.
Bram kembali membopong John ke dalam mobil. Karina dan Katrina serta Josh dan Bobby mengikuti langkah Bram di dalam mobil.
Bram pun mulai mengemudikan mobilnya setelah mendengar petuah panjang dari kedua wanita kembar itu bergantian.
Mau pergi ke rumah sakit saja, ribetnya minta ampun. batin Bram mendesah lelah dengan nasihat kedua wanita itu tentang apapun pengobatan John.
"Aku pulang dulu ya dek, menyiapkan tempat dan makanan untuk putraku saat dia pulang dari rumah sakit nanti." pamit Karina sambil menarik putranya Josh.
"Iya mbak." jawab Katrina mengangguk mengiyakan.
Karina dan Josh bergandengan tangan untuk kembali ke resort.
**
Setelah hampir setengah jam selesai menyiapkan makan siang untuk anak-anaknya dan tentu saja dibantu beberapa pelayan. Karina menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya. Setelah membersihkan diri, Karina memakai jilbab instan nya untuk menuju meja makan. Karina melirik ponselnya ada beberapa panggilan terjawab dari suaminya.
Karina pun kembali menghubungi suaminya. Namun teriakan suara di luar tanda bukti John sudah kembali dari rumah sakit. Karina melupakan ponselnya dan tak memanggil kembali menghubungi suaminya.
__ADS_1
TBC