Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 39


__ADS_3

"Hai..." Sapa Teddy pagi itu membuat Anin tersentak saat pria itu berdiri di depannya saat dirinya baru saja memasuki gerbang sekolah.


Anin mendongak menatap wajah pria itu. Dia mengernyit heran dan mulai merasa gelisah tak nyaman, karena pria itu tersenyum padanya. Niat hati ingin menyapa, beramah tamah dengan Anin, namun senyum di wajah Teddy mengingatkan Anin pada senyum seringai preman-preman yang menyekapnya dulu saat dirinya liburan di pulau B membuat Anin mundur perlahan menjauhi Teddy dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hei ini gue Teddy. Jangan bilang Lo lupa sama gue." Ucap Teddy lagi.


Anin terus mundur, begitu ada banyak siswa lain yang juga hendak masuk gerbang membuat Anin menyusup pada rombongan siswa lain dan pergi meninggalkan Teddy yang menggeleng tak percaya pada kelakuan Anin yang terus menghindarinya, tidak, tidak menghindarinya tapi menghindari pria manapun yang mendekatinya. Seolah jijik dan takut.


"Hei, Anin!" seru Teddy yang tak digubris oleh Anin.


***


"Rian." Panggil Jo saat Rian sedang menyelesaikan pekerjaannya menyalin hasil meeting pagi tadi. Dia yang sedang mengerjakannya di sofa ruang kerja Jo.


"Ya, tuan." Jawab Rian tanpa menoleh pada tuannya.


Jo sendiri termenung dengan memainkan bolpoinnya, sambil kembali memikirkan kejadian semalam saat video call dengan putri sambungnya.


"Coba kau cari tahu tentang keadaan Anin dan keluarganya selama tinggal bersama mereka!" Titah Jo menatap Rian tajam karena Rian tak menatapnya. Rian mendongak menatap tuannya heran.


"Non Anin?" Diamnya Jo mengiyakan pertanyaan Rian.


"Selengkapnya, hingga hal terkecil sekalipun." Titah Jo lagi meletakkan bolpoinnya yang dimainkannya tadi.


"Baik tuan."


"Secepatnya, aku ingin besok sore sudah ada kabar itu." Titah Jo lagi tanpa bantahan.


"Tuan mencurigai sesuatu?" Tanya Rian kembali mengernyit heran.


"Kuharap dugaanku salah." Jawab Jo terdiam tak menjelaskan semuanya.


"Baik tuan." Rian tampak berpikir keras, sebelum akhirnya dia segera menyelesaikan pekerjaannya.


Pekerjaannya yang lain sedang menunggunya dan kini sudah ada pekerjaan lain untuknya. Rian menghela nafas lelah sebelum memulainya.


"Oh Good." Guman Rian.


***


Besok sorenya.


"Bagaimana Rian?" Tanya Jo sore itu. Dia sudah tak sabar sejak pagi tadi untuk mendapatkan kabar tentang gadis yang dipanggilnya princess itu.


Rian menyodorkan sebuah map kuning tempat dimana-mana bawahan yang dipercaya untuk mencari informasi tentang putri tuannya itu. Rian tahu betul Jo sangat menyayanginya tanpa memandang status pada putrinya itu. Jo langsung meraih map itu dan meninggalkan sejenak pekerjaannya. Dia membaca dengan teliti isi map itu.


Belum sampai setengah dari isi map itu yang dia baca, jemari tangannya sudah mengepal menahan amarahnya. Dan semua itu tak luput dari pandangan Rian. Dilanjutkan lagi hingga turun ke bawah dan bukti-bukti yang mendukung tentang keadaan Anin dan di dalam rumah yang ditinggalinya itu. Jo malah semakin murka saja.


"Brengsek, seharusnya kalau dia tak becus mengurusnya jangan sok-sokan ingin merawatnya!" Teriak Jo tanpa sadar menatap Rian tajam.


"Maaf itu, tapi apa itu menjadi salah saya lagi?" Jawab Rian membuat Jo cemberut.

__ADS_1


"Apa dia punya masalah di perusahaannya?" Tanya Jo menatap Rian.


"Masalah perusahaan semua lancar. Perkebunan juga mendapat hasil yang maksimal. Hanya satu yang menjadi masalahnya. Dia sibuk mengurus karena sedang jaya-jayanya usahanya hingga sering lembur dan pulang larut. Dan lupa memperhatikan putri-putrinya. Bahkan sekarang putrinya yang bernama Vanya, terjerumus dalam pergaulan bebas. Sering clumbing, mabuk, sek bebas dan tak tahu aturan. Bahkan non Anin sudah berusaha menasehatinya, tapi malah dijawab ketus dan dituduh ikut campur urusannya." Jelas Rian membuat Jo yang sudah mulai melunak menjadi semakin marah lagi.


"Brengsek, anak dan ibu sama saja!" Umpat Jo menatap ke arah lain.


"Bagaimana dengan putriku?" Tanya Jo lagi.


"Non Anin masih menjaga perilakunya dengan baik, dia berusaha menyelesaikan segala sesuatunya sendiri tanpa meminta bantuan siapapun. Bahkan dia enggan untuk meminta bantuan tuan Ken karena tak enak hati mengganggunya karena kesibukannya." Jelas Rian.


"Tapi kan... putriku... belum terbiasa melakukan apapun sendiri. Dia sudah terbiasa terima jadi dan tak perlu bersusah payah. Brengsek kau Ken!" Ucap Jo yang diakhiri dengan umpatan juga.


"Bagaimana masalah mobil pribadi untuk Anin?" Tanya Jo lagi harus memendam kemarahannya.


"Tuan Ken sudah memfasilitasi mobil untuk masing-masing, hingga putrinya kecelakaan dan Ken menarik fasilitas mobilnya. Dan karena hal itu, non Vanya memaksa ibu tirinya untuk meminta mobil pada tuan Ken, dan tuan Ken pun menuruti keinginan istrinya hingga dia terpaksa ke kantor sering naik taksi. Dan non Anin pun tak tega, akhirnya mobilnya dikembalikan pada tuan Ken. Meski awalnya tuan Ken menolak tapi dengan paksaan dan non Anin meyakinkan pada tuan Ken bahwa dia baik-baik saja tanpa mobil. Tuan Ken pun menerimanya dan berjanji akan membelikan mobil yang lain lagi secepatnya. Hingga sekarang sudah lebih dari sebulan non Anin kemanapun selalu naik taksi." Jelas Rian panjang lebar membuat Jo semakin murka namun juga sedikit bangga dengan pengertian putrinya itu.


Sungguh didikan istrinya benar-benar membuat anak-anaknya menjadi manusia yang baik tertanam di manapun dia berada.


"Aku ingin mengumpati pria brengsek itu sebanyak-banyaknya." Ujar Jo menghela nafas berat.


"Aku akan mengirimkannya mobil." Putus Jo. Rian hanya diam.


"Sudah cukup penderitaan kemanapun tanpa mobil. Putriku yang malang, pasti dia kesulitan. Brengsek kau Ken!" Jo akhirnya pun mengumpat lagi.


"Tapi tuan?" Rian menjeda ucapannya.


"Apa?" Jo menatap galak pada Rian.


"Kenapa tidak? Dia putriku juga. Ken pun tak bisa melarang ku untuk melakukannya." Jawab Jo sarkas.


"Melihat watak dan kebaikan non Anin kurasa dia akan menolak." Tegas Rian.


"Kenapa? Apa maksudmu?" Tanya Jo masih belum paham.


"Non Anin memiliki sifat dan watak seperti nyonya Karina, dia sering merasa tak enak hati pada apapun yang dapat menyinggung perasaan orang lain apalagi orang itu masih keluarganya sendiri. Kemungkinan non Anin sama." Jelas Rian.


"Apa maksudmu? Jelaskan!"


"Non Anin akan menolak pemberian mobil dari anda karena dia tak mau menyinggung perasaan papanya. Meski dia membutuhkannya." Jelas Rian.


"Seharusnya dia juga segera memberikan fasilitas yang memadai kan pada putriku. Toh satu mobil tidak akan membuat perusahaannya bankrut." Sarkas Jo, namun akhirnya dia terdiam mencerna ucapan Rian.


Anin memang memiliki watak yang hampir sama dengan istrinya. Dia tahu bagaimana hal itu benar. Jo pun menghela nafas lagi, dia harus mempertimbangkan lagi.


"Lalu apa yang harus kulakukan? Kemarin aku mendengar pertengkaran di rumah itu. Dan sebuah tamparan keras entah antara siapa. Anin tak mengaku padaku. Dan aku dengar dengan jelas, bentakan dan teriakan itu adalah suara Ken. Aku takut dia memperlakukan buruk juga pada Anin karena terbawa suasana saat murka pada yang lainnya." Curhat Jo yang menjadi unek-uneknya diucapkannya pada Rian.


"Coba tuan meminta bertemu non Anin?" Saran Rian menatap tuannya intens.


"Bagaimana kalau dia menolak, dia akan berusaha sekuat tenaga menghindariku karena dia tahu kalau aku akan mengungkit rasa penasaranku?" Tanya Jo mulai putus asa.


"Bagaimana kalau tuan mengunjungi sekolahnya dengan alasan mencari anak-anak PKL, saya dengar non Anin sedang mencari tempat PKL namun ditolak dimanapun karena sudah terisi teman-temannya dan dari sekolah lain." Saran Rian membuat Jo melotot marah padanya.

__ADS_1


"Seharusnya kau bilang dari tadi bodoh." Umpat Jo kesal.


"Ah, baik tuan, akan saya urus segera." Rian pun mengundurkan diri dari ruangan itu dan mengurus hal terakhir yang diinginkan tuannya itu.


Jo tampak frustasi merasa bersalah karena membiarkan putrinya itu untuk tinggal dengan papanya.


"Seharusnya aku lebih memperjuangkannya saat itu apapun yang terjadi. Aku sungguh sangat menyesalinya. Istriku pasti akan sangat bersedih jika mendengar putrinya diperlakukan seperti itu. Aku saja murka, apalagi istriku yang lemah hatinya. Dia pasti akan bersedih sepanjang hari." Guman Jo mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


***


"Hei..." Sapa Teddy siang itu memberanikan diri lagi.


Anin tersentak dan spontan menatap pria yang beberapa hari ini mengganggunya. Anin hendak berdiri dan pergi dari pria itu yang kini dirinya malah ditempeli oleh Teddy. Meski tak terlalu dekat. Anin mencoba mengendalikan dirinya untuk tidak takut dan gemetar lagi.


Aku harus mencoba menghadapinya, aku tak mungkin menghindarinya lebih lama. Aku bisa. batin Anin.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Anin tak sabar dengan sedikit gemetar pada suaranya.


Mendengar pertanyaan Anin yang mulai tenang dan tidak berusaha kabur lagi membuat Teddy mengembangkan senyumannya.


"Kau janji tak akan kabur lagi?" Teddy senyum-senyum sendiri.


"Kau ingin aku kabur?" Jawab Anin balik bertanya dengan tatapan mata yang galak.


"Tidak!" Jawab Teddy cepat. Dia pun akhirnya mundur beberapa langkah.


"Katakan!"


"Apa kau belum mendapatkan tempat PKL?" Tanya Teddy tepat sasaran. Anin tampak mengernyitkan dahinya.


"Kau stalker?" Teddy langsung menggeleng-gelengkan kepalanya menyatakan tidak.


"Tidak, aku tempo hari tak sengaja melihatmu keluar masuk ke sebuah instansi pemerintah dengan pandangan mata lesu, dan aku yakin kau berkali-kali ditolak karena telah terisi." Jelas Teddy.


"Lalu?" Tanya Anin singkat. Menatap Teddy tak suka karena terlihat ikut campur urusannya.


"Aku ingin menawarkanmu di perusahaan papaku masih butuh satu orang kalau kau bersedia. Aku juga disana." Teddy menatap Anin penuh harap.


Dia berharap Anin menyetujuinya hingga dia akan melakukan pendekatannya di perusahaan papanya nanti. Sekali menyelam minum air. Anin menatap Teddy dengan pandangan tak bersahabat sama sekali.


"Terima kasih, tapi aku menolak." Anin pergi meninggalkan bangku taman itu dan juga Teddy yang terbengong karena tak mengira akan ditolak.


"Hei, tunggu!" Teddy buru-buru mengejar Anin berusaha memaksa agar ikut PKL ke perusahaan papanya.


Namun agaknya Anin tetap tak menghiraukannya melanjutkan langkahnya keluar gerbang karena memang waktunya pulang. Dia tadi beristirahat sejenak sebelum melanjutkan untuk mencari tempat PKL atau pulang ke rumah.


Dan Teddy lagi-lagi tak dihiraukan oleh Anin, dia sudah ketinggalan Anin keburu masuk ke dalam taksi. Teddy menghela nafas panjang.


"Kau masih belum menyerah mengejarnya ya? Apa hebatnya gadis itu?" Sarkas Ana yang sejak tadi memperhatikan Teddy mengejar-ngejar Anin beberapa hari ini.


Teddy menoleh ke arah suara. Dia pun berdecak kesal dan pergi meninggalkannya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2