Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 40


__ADS_3

Usaha pendekatan Teddy beberapa hari ini ditolak oleh Anin. Setiap kali Teddy ingin mendekati, Anin langsung menghindari. Kewaspadaan Anin pun meningkat jika nampak Teddy bersiap mendekatinya. Teddy menghela nafas kecewa. Hingga usai jam pelajaran itu dia menemui wali kelasnya.


"Selamat siang pak." Sapa Teddy sebelum guru wali kelasnya keluar kelas.


"Ya Ted?" Jawab guru itu yang menoleh menatap Teddy.


"Begini pak, saya ingin merekomendasikan seseorang untuk PKL di perusahaan papa saya. Dan kebetulan kurang satu anak." Jelas Teddy menjeda ucapannya menunggu reaksi guru wali kelasnya.


"Ya?"


"Bagaimana kalau bapak bicara pada Anindita tentang PKL tersebut?" Pinta Teddy menatap guru wali kelasnya lekat.


Guru itu menghela nafas sejenak. Dia memilah teman sekelasnya Teddy satu persatu dan akhirnya menemukan bayangan Anin, seorang gadis introvert di kelas yang diajarnya.


"Apa Anin belum mendapatkan tempat PKL?" Tanya guru itu.


"Saya dengar belum pak. Dia mengutamakan instansi pemerintah daripada milik swasta. Jadi dia belum bisa mendapatkannya." Jelas Teddy lagi.


"Begitu ya?" Guru itu mengangguk-angguk tanda mengerti.


"Tolong bantu saya untuk mengatakan pada Anin!" Pinta Teddy dengan tatapan penuh permohonan.


"Ok." Jawab guru itu mengangguk.


"Tapi pak..." Teddy menjeda ucapannya, guru itu menatap Teddy mengernyit.


"Jangan bilang kalau saya yang meminta bapak ya?" Mohon Teddy memelas, sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Huff ... dasar anak jaman sekarang."


"Makasih pak." Jawab Teddy bersemangat. Teddy senyum-senyum sendiri meninggalkan ruang kelas.


***


"Kau sudah mengurusnya?" Tanya Jo siang itu saat Rian datang ke ruangannya membawa berkas lagi.


"Sepertinya kita terlambat tuan." Jawab Rian.


"Apa maksudmu?" Tanya Jo mengernyit.


"Non Anin sudah mendapatkan tempat PKL, di perusahaan properti milik tuan Wijaya. Dia juga salah satu rekan bisnis kita, kita punya sedikit saham di perusahaan tersebut. Mungkin sekitar tiga puluh lima persen." Jelas Rian.


Jo mencari-cari dalam pikirannya siapa yang dimaksud Rian. Seorang pria paruh baya muncul dalam benaknya. Pria itu yang dimaksud Rian.


"Aku ingin bertemu dengannya?" Titah Jo.


"Kebetulan sore nanti jadwal anda untuk bertemu dengan pihak perusahaan mereka." Jawab Rian santai.


Jo melotot menatap Rian yang terlihat mempermainkannya. Rian pamit sambil mengedikkan kedua bahunya acuh.


***


"Anin." Panggil Jessica saat melihat Anin hendak keluar kelas.


"Jessi." Sapa balik Anin tersenyum ramah.


"Pak Guntur memanggilmu. Kau disuruh menghadapnya ke kantor.


"Oh, terima kasih. Aku akan ke kantor dulu." Pamit Anin. Keduanya pun saling tersenyum dan berpisah.

__ADS_1


Tok tok tok


"Masuk!" Suara bariton dari arah dalam ruangan membuat Anin membuka pintu ruangan pak Guntur wali kelasnya.


"Bapak memanggil saya?" Tanya Anin begitu masuk ke dalam ruang kantor itu.


"Ah iya, duduklah!" Titah pak Guntur ramah.


"Kudengar kau belum mendapatkan tempat PKL?" Tanya pak Guntur ramah.


"Ah, maaf pak. Saya sedang mencari untuk saat ini." Jawab Anin merasa bersalah.


Karena hanya dirinya sepertinya yang belum mendapatkan tempat PKL.


"Ada yang merekomendasikanmu di perusahaan properti Wijaya grup. Apa kau bersedia?" Tanya pak Guntur masih dengan senyum ramahnya.


Pak Guntur adalah guru bujang paling muda di sekolah Anin. Dia baru mengajar di sekolah Anin saat Anin masuk kelas dua belas. Banyak siswi yang mengangumi dan bahkan menyukai guru muda ini, namun bagi Anin itu bukan apa-apa. Tinggal dengan Daddy nya membuat semua pria dimatanya tak ada yang tampan.


Daddy nyalah pria paling tampan dan baik selama dia mengenal banyak orang. Bagi Anin pria tak hanya tampan, tampan akan terlihat lebih tampan jika dia baik. Untuk itulah wajah tampan pak Guntur terlihat biasa saja di mata Anin karena dirinya terlalu sering melihat pria tampan seperti daddynya, kedua adik kembarnya dan juga kakek Alensio. Meski sudah berumur Anin hampir mirip dengan Daddy Jo.


"Baiklah jika itu bapak yang minta." Anin mengiyakan tanpa banyak basa-basi.


"Tunggu!" Anin menatap pak Guntur. "Kalau kau menolak bapak juga tak memaksa untuk menerimanya." Jelas Guntur menatap Anin ramah, namun karena rasa tak nyaman Anin lagi-lagi datang saat berduaan dengan seorang pria membuat Anin terus menunduk dan tak mau lama-lama bersama membuat Anin mendongak menatap wajah wali kelasnya itu.


"Saya akan menerima apa yang bapak minta, saya yakin bapak melakukannya karena itulah yang terbaik untuk saya." Jawaban Anin membuat Guntur bengong.


Anin kembali menundukkan kepalanya. Baru kali ini dia berhadapan dengan siswinya bernama Anin. Dia memang bukan anak yang terpintar di sekolah. Tapi dia anak yang cukup pintar meski belum mendapat juara sekelas. Namun jika dia sedikit berusaha lebih lagi.


Guntur yakin siswinya ini akan mampu menjadi rangking di sekolah. Namun entah kenapa gadis ini terlihat enggan menjadi pusat perhatian. Dia terlihat nyaman dengan kesendiriannya selama ini. Apalagi saat mulai masuk kelas dua belas. Begitulah yang dilihat Guntur selama menjadi wali kelas dua belas.


"Boleh bapak bertanya?" Anin mendongak lagi menatap wajah gurunya itu.


"Ya?"


"Kalau sudah saya pamit pak." Anin berdiri, membungkukkan badan sebentar dan berlalu meninggalkan ruangan wali kelasnya.


Guntur termenung sebentar mengingat beberapa menit yang lalu tentang pertanyaannya yang tak dijawab oleh siswinya.


"Tunggu! Kok aku sebal ya?" Guman Guntur tertawa garing.


***


"Terima kasih sudah meluangkan waktu anda tuan Jo." Basa-basi tuan Wijaya dalam meeting nya sore itu untuk pertemuan dengan Jo di perusahaan milik tuan Wijaya.


"Sama-sama pak, saya hanya sedang senggang saja. Ingin bertemu bapak juga." Basa-basi Jo balik dengan senyum simpul.


"Wah, tumben tuan Jo membutuhkan bantuan saya. Haha..." Basa-basi lagi tuan Wijaya.


"Itu kalau pak Wijaya tidak keberatan."


"Tentu saja saya tidak keberatan. Dengan senang hati saya akan membantu tuan Jonathan dengan sepenuh hati." Jawab tuan Wijaya merasa bangga.


Pembahasan pertemuan tentang laporan kerja sama mereka pun dimulai. Jo dan tuan Wijaya tampak serius berbincang tentang bisnis. Sesekali asisten tuan Wijaya dan Rian ikut menimpali dan tak lupa menulis di catatan masing-masing tentang bahasan yang perlu dicatat. Hingga tak terasa sudah dua jam mereka berbincang.


"Karena pembahasan kerja sama bisnis kita sudah selesai. Apa yang menjadi kesulitan tuan Jonathan hingga perlu bantuan saya." Tanya tuan Wijaya tersenyum ramah pada Jo.


"Bukan sekarang. Nanti setelah semua dimulai saya yang akan menghubungi tuan lagi." Jawab Jo santai sambil menyeruput kopinya dengan elegan.


"Hahaha... Saya menunggu hal itu tuan Jonathan."

__ADS_1


"Kalau begitu saya pamit dulu." Jo pamit dan berdiri, mereka pun saling berjabat tangan. Jo keluar dari ruangan itu diikuti Rian.


"Benarkah pak, Anin bersedia PKL disini?" Suara seorang pemuda dengan seragam sekolah yang tidak jelas karena tertutup jaket membuat Jo seketika memalingkan muka menatap pemuda yang menerima telpon itu telah menyebut nama putrinya dengan wajah yang sumringah.


Jo berhenti tak jadi masuk ke dalam lift yang sudah terbuka pintunya itu demi melihat pemuda yang berani menyebut nama putrinya itu.


"Siapa dia Rian?" Bisik Jo lirih. Rian mendekatkan dirinya ke telinga Jo dan berbisik.


"Dia Teddy Pramana Wijaya. Putra tuan kedua tuan Wijaya sepertinya masih kelas dua belas." Jelas Rian singkat.


"Kelas dua belas? Apa dia orang yang menawarkan pada Anin tentang tempat PKL disini?" Tanya Jo lagi.


"Sepertinya begitu tuan, tapi dia meminta pada wali kelasnya untuk menyampaikan pada non Anin." Jelas Rian lagi.


Jo masuk ke dalam lift yang terbuka pintunya lagi diikuti oleh Rian. Rian masuk ke dalam mobil yang disopiri pak Maman setelah Jo masuk ke kursi penumpang.


"Apa lagi informasi yang kau tahu tentang pemuda tadi?" Tanya Jo melanjutkan pertanyaannya tadi.


"Pemuda itu sepertinya menyukai non Anin." Jawab Rian hati-hati.


"Apa maksudmu?" Teriak Jo tak terima. Pak Maman yang sedang fokus menyetir merasa gugup saat mendengar teriakkan majikannya.


"Ah, itu..."


"Apa kau mau mengatakan kalau mereka pacaran?" Tanya Jo tak terima mulai emosi.


"Belum tuan, maksud saya, non Anin terlihat menghindari semua pria di sekolah. Itulah informasi yang saya terima dari orang yang saya suruh untuk mencari informasi tentang non Anin." Jelas Rian.


"Apa maksudmu menghindari? Apa dia masih merasakan tak nyaman saat dengan pria asing?" Tanya Jo lagi dengan nada penuh intimidasi.


"Sepertinya begitu tuan." Jawab Rian ragu.


"Mulai kapan itu terjadi?" Tanya Jo terkejut. Entah kenapa dadanya berdenyut sakit dan rasa tidak suka yang amat sangat entah pada siapa.


"Mungkin sekitar tiga bulan lalu. Yang lebih parahnya lagi saat non Anin tak naik mobil pribadi. Karena bersama dengan sopir taksi membuatnya sedikit tidak nyaman. Saat memesan ojol dia lebih sering memilih sopir perempuan." Jelas Rian sambil memejamkan mata seolah tahu apa yang akan terjadi dengan tuannya itu setelah dia memberikan kabar ini.


"Brengsek kau Ken!" Umpat Jo dengan teriakan yang membuat orang mendengarnya bergidik ngeri.


"Apa jadwalku setelah ini?" Tanya Jo setelah mampu meredam emosinya.


"Semua sudah selesai tuan. Anda hanya harus menandatangani berkas yang sudah saya siapkan untuk keperluan mendesak." Jawab Rian yang sepertinya tak digubris Jo yang sedang menahan amarahnya.


"Kau dimana princess?" Tanya Jo setelah menjawab salam Anin.


"Aku di rumah dad." Jawab Anin di seberang.


"Bisa Daddy bertemu denganmu?" Tanya Jo penuh harap masih sambil mengendalikan emosinya agar tak meluapkan amarahnya pada putri sambungnya.


Bukan salah putrinya disini, tapi salah Ken brengsek yang tidak peka pada keadaan putrinya itu. Seharusnya Jo tahu trauma yang dialami pasca kejadian buruk saat liburan itu masih cukup membekas pada putrinya. Jo tak menyangka hal itu terjadi saat putrinya itu sudah tidak tinggal bersama dirinya.


Sehingga dia tidak memantaunya setiap saat dan setiap waktu saat bersamanya di mansion mereka dulu. Kalau saja Ken lebih peka, trauma Anin tak mungkin kambuh lagi.


"Aku sedang sibuk dad, besok lusa adalah hari pertamaku PKL. Dan besok aku harus memindahkan barang-barangku." Jawab Anin terdengar menyesal.


"Apa maksudmu memindahkan barang-barang?" Tanya Jo penasaran. Raut wajahnya menunjukkan ketidak sukaan.


"Ah, itu... nanti kalau sudah tidak sibuk, aku akan menghubungimu dad. Assalamualaikum..." Anin menutup panggilannya sepihak tanpa menunggu jawaban dari Daddy Jo.


Anin bukan tak mau jujur sekarang, Anin akan mengatakan semuanya jika bertemu langsung. Sekarang dia sibuk membereskan barang-barangnya untuk pindahan besok. Dan itu pun Ken tak tahu, karena semakin sibuknya pekerjaannya, apalagi sekarang Ken sedang berkunjung ke luar kota mengurus pekerjaannya selama seminggu ini.

__ADS_1


"Ken... kau brengsek." Umpat Jo lagi tiba-tiba membuat kedua orang yang duduk di kursi depan terdiam tak berkomentar.


TBC


__ADS_2