
"Princess..." Panggil Jo saat tujuannya sudah dekat dan tak sengaja melihat putrinya berjalan di trotoar hendak meninggalkan gedung perusahaan tempatnya PKL.
Anin mencari arah suara yang dikenalinya. Saat Jo sudah turun dari mobilnya Anin sontak tersenyum dan berlari menghambur memeluk Jo.
"Daddy..." Seru Anin memeluk tubuh Jo yang sebatas bahunya.
"Apa kabarmu princess?" Tanya Jo setelah Anin melepas pelukannya.
"Baik dad." Jawab Anin sumringah.
"Ayo ikut Daddy!" Ajak Jo menarik pergelangan tangan putrinya masuk ke dalam mobil.
Anin yang ingin menolak tak bisa menolak lagi karena Jo keburu mendorong tubuhnya masuk ke dalam mobil. Di kejauhan seorang pemuda yang ingin mendekati Anin melihat hal itu semuanya. Tangannya terkepal erat melihat kejadian itu.
"Ternyata perempuan yang kau incar simpanan om om ya, bule lagi. Pantas saja pakaian dan tasnya branded semua." Komentar perempuan yang bersama pemuda yang ikut berhenti di dekat pemuda itu terlihat geram.
"Kukira kau perempuan baik-baik, ternyata kau sama saja. Dasar murahan!" Guman pemuda itu dengan rahang mengeras dan wajah memerah menahan amarahnya.
"Kita mau kemana dad?" Tanya Anin menatap Jo, setelah dia duduk tenang di kursi belakang di samping daddynya.
"Batalkan jadwalku Rian!" Titah Jo tanpa bantahan.
Rian yang sejak tadi hanya menyimak interaksi keduanya menghela nafas berat. Batalkan lagi! Batalkan lagi! Desah Rian dalam hati.
"Aku mendengarkan Rian." Ucap Jo yang membuat Rian salah tingkah. Tuannya seperti cenayang saja tahu tentang isi pikirannya.
"Kita makan!" Ucap Jo menatap Anin tersenyum lembut.
"Aku tidak lapar dad, tadi siang aku... krukk.." Wajah Anin memerah karena penolakan tak sesuai dengan tubuhnya. "Hahaha..." Anin tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalau mau berbohong, carilah alasan yang tepat princess." Jo ikut tertawa melihat kesalah tingkahan Anin.
"Tapi aku masih belum ingin makan dad?" Jawab Anin malu-malu.
"Kita ke cafe saja, membeli camilan dan minum teh. Bagaimana?" Usul Jo yang diangguki Anin antusias.
***
"Pesanlah sesukamu princess!" Ucap Jo setelah keduanya duduk di sebuah cafe terkenal di tengah kota.
Mereka memilih duduk di meja dekat jendela dengan sofa yang memang dikhususkan untuk pelanggan VIP. Dan letaknya ada di lantai dua. Saat memasuki cafe, semua pengunjung yang lumayan ramai menatap keduanya aneh. Karena melihat hubungan keduanya yang terlihat dekat.
"Yes, dad." Jawab Anin merasa canggung dan merasa diperhatikan oleh pengunjung lainnya. Mereka menatap aneh pada mereka.
"Kenapa princess? Ada yang membuatmu tak nyaman?" Tanya Jo ikut menatap kearah pandangan putrinya. Jo pun langsung tahu apa yang menjadi kecanggungan Anin.
"Pelayan!" Seru Jo melihat pelayan melintas.
"Iya tuan." Jawab pelayan itu yang langsung mendekati meja VIP itu.
"Aku mau booking lantai dua. Usir mereka semua!" Titah Jo dengan tatapan penuh intimidasi.
"Ta.. tapi tuan..." Jo berdecak kesal ucapannya tak dihiraukan.
"Panggil manajer cafe!" Titah Jo lagi.
__ADS_1
"A... anu tuan...i..itu.." Jawab pelayan itu gugup, antara menuruti keinginan pelanggan VIP itu atau menolak perintah Jo.
"Aku tak dengar bantahan! Apa kau tak dengar!" Bentak Jo yang sontak tubuh Anin yang sejak tadi di sisinya menegang.
Selama tinggal dengan Daddy Jo, Daddy Jo tak pernah berteriak atau membentak meski itu tidak di hadapan anak-anaknya saat di rumah. Dia selalu lembut dan sabar setiap berbicara. Dan Anin baru mendengar bentakan dari daddynya. Meski bentakan tersebut tidak ditujukan untuknya, hal itu mampu membuat kenyamanan Anin semakin berkurang.
Jo yang menyadari itu langsung memberi kode pada pelayan itu melakukan apa yang dimintanya sambil melotot tajam pada pelayan itu. Dan pelayan yang sudah ketakutan itu langsung berlari turun ke bawah menemui manajer cafe.
"Princess, I am sorry. Are you okay?" Tanya Jo lembut memohon pada putrinya yang mulai tak nyaman dengannya.
Jo menggenggam jemari tangan Anin yang terasa dingin dan tegang.
"Princess, tenang. Ini Daddy, kau percaya Daddy tak akan menyakitimu kan?" Hibur Jo yang ditatap Anin penuh ketakutan.
"It's okay. Calm down, okay!" Hibur Jo lagi, menatap Anin lembut penuh kasih sayang. Pandangan Anin mulai tenang dan memeluk Jo.
"Anin takut dad? Jangan marah pada Anin!" Bisik Anin sambil terisak di dada bidang daddynya.
"No problem princess. Daddy minta maaf. Daddy tak marah padamu princess." Hibur Jo sambil menepuk lembut punggung Anin.
Isakan Anin belum reda, Jo terus membisikkan ucapan maaf pada Anin hingga manajer cafe datang dengan pelayan tadi.
"Tuan! Anda kesini, kenapa tak memberi kabar?" Ucap manajer itu ketakutan, karena dia tahu siapa pelanggan VIP yang dimaksud pelayan cafenya tadi.
"Kau itu bodoh sekali, dia pemilik cafe kita." Bisik manajer pada pelayan tadi.
"Hah." Pelayan tadi langsung menunduk dan terkejut.
Jo menatap manajer cafe yang sedang cemas dan panik itu dengan masih memeluk Anin menenangkan. Jo melotot dan menatap manajer itu seolah mengkode memberitahunya untuk melakukan apa yang diinginkannya tadi.
"Baik tuan, seperti keinginan anda. Akan saya lakukan! Sekali lagi maaf atas kelancangan pelayan saya karena masih baru tuan." Jo tak menghiraukannya langsung mengusir dengan tangannya.
"Sekarang, katakan pada Daddy. Kenapa kau tak pulang saya ke mansion Daddy?" Tanya Jo yang lebih mirip interogasi.
Dia masih berusaha untuk bicara dengan lembut dengan nada rendah.
"Ah, itu... aku ingin mandiri dad." Jawab Anin tetap menunduk tak berani menatap daddy-nya. Dia tak mau Jo melihat kebohongannya.
"Huff... princess." Panggil Jo setelah menghela nafas panjang.
"Yes, dad." Anin langsung mendongak menatap langsung pada Jo yang juga menatapnya.
"Bisakah kau jujur dan terbuka pada Daddy?" Pinta Jo memelas memohon pada Anin.
Anin merasa bersalah dan terharu, begitu besar perhatian ayah sambungnya ini. Meski terkadang terlihat cuek, Anin yakin segala kebutuhan anak-anaknya, Jo lah yang menyiapkan segalanya. Mommynya hanya memberikan titahnya.
"Anin baik-baik saja dad, sungguh!" Jawab Anin meyakinkan dengan berani menatap mata Jo.
"Huff.. baiklah.. aku tak akan ikut campur urusan keluarga papamu. Tapi kalau hal itu menyangkut kenyamananmu Daddy tak terima. Kau harus menerima mobil dari Daddy." Putus Jo yang seketika membuat Anin melotot tak percaya.
"Daddy, please no.. Jangan paksa Anin! Anin sedang tak butuh mobil, tempat PKL Anin dekat. Jalan kaki tak sampai setengah jam. Aku benar-benar tak bisa menerima dad. Please!" Anin memohon dengan menangkupkan kedua tangannya di depan Jo. Jo sebenarnya kesal karena menolaknya.
"Kau bisa memakainya saat pulang ke rumah atau ke mansion Daddy." Bujuk Jo.
"No dad, mungkin lama aku akan berkunjung karena tugas sekolah. Jadi itu masih belum dibutuhkan. Aku masih bisa naik taksi." Tolak Anin lagi.
__ADS_1
"Princess.." Melas Jo.
"Please Daddy!"
"Baiklah kau menang. Saat ini mommy mu belum tahu tentang apa yang terjadi padamu di keluarga papamu." Anin membelalakkan matanya mendengar pernyataan Jo.
"Da...Daddy.. apa maksudnya?" Tanya Anin gugup.
"Papamu? Adikmu? Mamamu? Daddy tahu semua Anin. Jangan bohongi Daddy please. Daddy ingin sekali mendatangi rumah papamu dan memaksamu untuk tinggal bersama kami lagi." Jelas Jo tersirat akan kesedihan.
"Aku baik-baik saja dad. Mommy mengajarkanku untuk kuat dan mandiri. Asal jangan salah jalan." Ucap Anin membuat Jo terharu.
"Kau memang putri mommy mu. Kau persis seperti mommy mu dulu. Selalu mandiri dan kuat. Juga tak mau merepotkan siapapun, bahkan membuat keluargamu cemas padamu. Daddy menyayangimu princess." Ani. tersenyum haru, entah sejak kapan air matanya menetes.
"Kau terharu." Goda Jo melihat Anin mengusap air matanya.
"Daddy .." Bisik Anin malu.
"Tapi Anin, mommy mu pasti akan sangat sedih dan merasa bersalah jika mendengar apa yang terjadi pada dirimu." Ucap Jo.
"Jangan katakan! Jangan beritahu mommy dad, Anin tak mau melihat mommy sedih." Pinta Anin yang diangguki Jo.
"Satu permintaan Daddy Anin."
"Yes, Daddy." Anin kembali mendongak menatap Jo yang awalnya mau memakan cake nya.
"Kau harus bersedia menemui dokter psikolog mu dulu. Aku sudah mengurus semuanya. Daddy mohon nak, jika kau ingin hidup mandiri setidaknya buat dirimu nyaman bersama orang asing." Pinta Jo menatap Anin lekat penuh kasih sayang.
"Okay dad. Aku mau." Jo tersenyum melihat putrinya mengangguk setuju dengan usulnya.
"Daddy akan menghubungimu kapan jadwal pertemuanmu nanti." Anin mengangguk karena mulutnya sudah penuh dengan cake.
Jo ikut makan cake dan tersenyum melihat putrinya makan camilan sore hari itu. Seolah sudah lama tak menikmatinya. Jo dalam hati mengumpati Ken si pria brengsek yang melupakan putrinya.
Brengsek kau Ken, membuat putri dari wanita berhargaku seperti putri yang tak pernah makan saja. Batin Jo dengan jemari tangannya mengepal erat.
Epilog
"Hei, kalian lihat tadi, pasti dia sugar baby nya." Ucap seorang pelayan yang yang melihat interaksi Jo dan Anin. Tentu saja mereka ghibah saat Jo mengantar Anin ke rumah sewanya.
"Bagaimana bisa kau yakin?" Tanya pelayan lainnya menyahuti.
"Secara pria itu bule, dan gadis tadi bukan. Gak mungkin putrinya kan?" Komen pelayan satu lagi.
"Iya pasti dia sugar baby nya."
"Jangan suudzon sama orang lain. Mungkin ibu gadis itu menikah dengan bule tadi dan si ibu punya anak gadis itu." Komen pelayan wanita berhijab.
"Gak mungkinlah... Secara bule tadi masih muda. Masak menikah dengan janda lebih tua darinya?"
"Hei kalian bisa diam gak? Jangan bicara sembarangan tentang pria bule tadi."
"Memang kenapa?" Semua pelayan yang ghibah tadi mengerubuti pelayan yang dibentak Jo tadi.
"Pria bule tadi adalah pemilik cafe ini." Pelayan itu langsung bersiap pulang meninggalkan teman-temannya yang ghibah tadi karena memang waktunya untuk ganti shift.
__ADS_1
Semua teman-temannya tadi melongo tak percaya dan langsung mengunci mulut mereka rapat-rapat dan ngacir ke tujuan masing-masing.
TBC