Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Pulang


__ADS_3

Flashback off


Masa sekarang...


"Dimana Karina ma?" tanya Jo setelah beberapa hari sadar dari komanya.


Farida yang sedang meletakkan tempat makan di meja sehabis menyuapi putranya menghentikan gerakannya. Farida terdiam, dia bingung akan menjawab pertanyaan putranya.


"Kemarin aku melihatnya ma?" ucap Jo lagi membuat Farida semakin sesak di dada.


Karena berdasarkan penjelasan dokter beberapa hari lalu setelah Jo siuman, dokter menyarankan untuk tidak membuat pikiran Jo terlalu berat berpikir. Dan kedua orang tua Jo terpaksa menganggukkan kepalanya mengiyakan.


Mereka hanya bisa melakukan apa kata dokter untuk kesembuhan Jo. Farida menghela nafas berat, berbalik menatap wajah putranya yang penuh harap menanti jawaban yang diinginkan.


"Karina...ehm...Karin sedang menemui orang tuanya." hibur Farida tersenyum lembut menatap putranya yang masih menatapnya penasaran karena seperti tak percaya dengan ucapan mamanya. Jo langsung menyibak selimutnya hendak berdiri.


"Mama bohong kan?" ketus Jo hendak berdiri namun dia langsung terhuyung memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri.


Jo menahan rasa sakit yang begitu hebat di kepalanya.


"Jo, istirahatlah nak! Kau belum sembuh benar. Dokter mengatakan kau harus banyak istirahat dan minum obat teratur." saran Farida memegangi Jo yang hendak jatuh dan memapahnya ke ranjang kembali.


Jo pun menurut karena merasakan sakit yang sangat pada kepalanya. Farida membantunya dengan tatapan wajah cemas menatap putranya kesakitan dan dia tak tega dengan itu semua.


"Orang tua Karina sudah meninggal ma. Bagaimana mungkin dia menemui orang tuanya?" Jo menatap Farida datar setelah merasa kepalanya lebih baik.


Farida tersentak merasa tertohok dengan ucapan putranya.


"Maaf... bukan maksud mama berbohong." jawab Farida akhirnya, dia duduk di kursi sebelah ranjang Jo yang menatapnya penuh harap.


"Dia bersama suaminya ma, saat aku menemukannya." ucap Jo tersenyum getir saat mengingat kejadian di depan bandara beberapa bulan berlalu tapi bagi Jo, kejadian itu baru beberapa hari karena Jo baru belum percaya tentang dirinya yang koma.


"Jo... mungkin kau salah orang?" hibur Farida mengelus lengan putranya yang menunduk sedih.


Jo menggeleng, dia mau yang dilihatnya salah, tapi Jo yakin itu wajah Karina, meski sedikit berubah dan berbeda, Jo tak mungkin salah. Dia memeluknya, mendekapnya tapi... aromanya berbeda namun Jo menepisnya karena percaya Karina satu-satunya wanitanya.


"Aku memeluknya ma, aku mendekapnya... aku tak mungkin salah." jawab Jo tertawa getir.

__ADS_1


"Kalau kau sudah benar-benar sembuh, kita cari sama-sama ya?" tawar Farida mengelus punggung tangan putranya.


Jo menoleh menatap Farida dan mengangguk mengiyakan dan tersenyum manis. Farida balas tersenyum.


***


Cklek


Suara pintu ruang perawatan Jo terbuka, keduanya menoleh bersamaan menatap arah pintu terbuka.


"Bagaimana keadaanmu nak, kau sudah siuman? Maaf, aku baru kembali dari perjalanan bisnis." tanya Alensio ramah, tersenyum lembut menatap putranya menatap aneh padanya.


Jo tak menjawab malah menatap Farida penuh tanya. Farida menatap Jo yang meminta penjelasan lewat tatapan matanya.


"Papamu sudah merestui juga hubungan kalian. Papamu juga sedang mengusahakan mencari menantu kami." jelas Farida kembali melirik suaminya memberi kode.


"Sebelumnya papa minta maaf telah dibutakan harta karena perjodohan kalian. Sebelum akhirnya papa mengetahui semuanya sifat buruk mereka. Seharusnya papa tak memaksakan kehendak papa padamu." ujar Alensio dengan wajah penuh penyesalan.


"Dan sekarang semua percuma pa, karena papa aku tak bisa bersama Karina. Karena papa kini Karina menghilang. Bukankah keinginan papa sudah terpenuhi?" sindir Jo dengan wajah memerah menahan amarahnya.


Alensio lemas seketika mendengar pernyataan putranya, semua ini terjadi karena dirinya. Begitu bodohnya dirinya hanya karena menginginkan status semakin tinggi membuatnya buta segalanya.


Namun Jo hanya diam memalingkan muka ke arah lain. Hatinya masih sulit diajak berdamai. Dia masih ingin menatanya kembali.


***


Setelah sebulan lebih Jo dirawat, dia sudah diizinkan pulang. Farida memohon pada Jo untuk pulang ke rumah untuk merawatnya. Meski Jo berkali-kali menolak, akhirnya Jo luluh dengan keputusan mamanya. Farida menjanjikan tidak akan ada yang memaksakan kehendaknya padanya lagi termasuk papanya jika dia ingin melakukan sesuatu.


Selama itu tidak membahayakan keselamatannya Farida mengiyakan keinginannya juga papanya. Meski Jo masih belum bicara banyak pada papanya. Dia sudah mau menjawab ucapan papanya meski hanya satu kata dua kata. Dan sikapnya sudah bisa menerima bantuan papanya meski masih jarang bicara.


"Kau mau kemana sayang?" tanya Farida lembut saat menyajikan sarapan di meja di bantu pelayan.


Jo melintas di ruang makan dari lantai kamarnya di atas yang sudah berpakaian rapi. Meski setengah formal. Jo menoleh menatap Farida dan sempat melirik Alensio yang sudah bersiap sarapan di meja makan juga.


"Aku mau keluar sebentar ma." pamitnya.


"Sarapan dulu nak, sudah disiapkan. Mama memasak makanan kesukaanmu. Kau tak mau mencoba?" pinta Farida menatap Jo memelas yang juga menatapnya.

__ADS_1


Jo menatap ada sup daging kesukaan sudah disiapkan di meja makan. Dia pun duduk tanpa mengatakan apapun. Dan siap untuk sarapan. Farida tersenyum melihat putranya menurut.


"Kau ingin kemana? Kalau boleh mama tahu." tanya Farida saat melihat sup milik Jo akan habis.


"Ke rumah Karina." jawab Jo santai tanpa beban. Alensio dan Farida saling pandang, masih belum mengerti maksud putranya.


Alensio mengedikkan kedua bahunya tak berkomentar karena dia sudah tahu saat keduanya dulu tinggal bersama.


"Aku pergi, assalamualaikum..." pamit Jo meninggalkan meja makan dengan mobilnya.


"Wa'alaikum salam..." jawab keduanya.


"Papa tahu sesuatu?" tanya Farida menyelidik.


"Begitulah!" jawab Alensio masa bodoh.


"Sayang, kau tahu dulu mereka tinggal bersama. Jadi kau sudah tahu hubungan mereka sejak kapan?" seru Farida mengajukan protesnya.


"Sejak mereka menikah siri."


"APA?" teriakkan Farida membuat Alensio seketika mengakhiri sarapannya dan menghindari interogasi istrinya yang ujung-ujungnya dia pasti akan disalahkan.


"Aku berangkat... Assalamualaikum..." Alensio mengecup kening istrinya yang masih melongo melihat suaminya yang tidak bertanggung jawab tentang informasi yang masih sangat menarik untuk dibahas.


"Wa'alaikum salam... sayang tunggu!" Farida mengejar suaminya.


"Pagi ini ada meeting sayang, aku harus segera berangkat." elak Alensio beralasan mengecup lagi kening istrinya lembut.


"Tapi ..."


"Lanjutkan nanti saat pulang sayang. Bye..." sela Alensio memotong ucapan istrinya dan melambaikan tangannya pamit dan masuk ke dalam mobil yang sopirnya telah siap.


TBC


Makasih sudah membaca 🙏🙏


Terima kasih dukungannya..

__ADS_1


Jo udah muncul ya....


__ADS_2