
Semua orang, keluarga besar Bram yang hadir di mansion itu terlihat bisa menerima Karina dengan baik. Tak ada tatapan merendahkan atau mencemooh dirinya. Karina sudah bisa berbaur tak canggung lagi seperti pertama kali masuk ke dalam mansion itu. Karina juga menjawab setiap pertanyaan kedua orang Bram dengan lancar.
Hanya saja Karina merasa aneh karena wanita yang mengaku kakak dari ibu Bram menatapnya dengan tatapan memuja dan rasa bersalah. Karina menjadi bingung dan penasaran. Siapa wanita itu? Mengapa dia bisa mengenalnya? Karina berusaha menggali ingatannya kembali di masa lalu.
Mungkinkah di masa lalu kami pernah tak sengaja bertemu? batin Karina menatap Farida yang juga menatapnya dan tersenyum ramah padanya dan mau tak mau Karina pun ikut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya tanda kesopanan.
"Bisa kita bicara berdua nak?" pinta wanita yang mengenalkan padanya bernama Farida itu. Karina yang sedang menyeruput minumannya, langsung kembali meletakkan ke tempatnya, karena tak mengira akan didekati Farida.
"Ah, tentu tante." wajah Farida entah kenapa berubah kecewa mendengar panggilan dari Karina yang seharusnya menjadi ibu mertuanya.
"Ayo!" Farida menarik Karina masuk ke sebuah ruangan setelah meminta izin pada ibu Bram untuk mengajak Karina.
Karina mengikuti langkah Farida dengan diam, menurut saja. Dia juga penasaran kenapa sejak tadi Farida terus menerus memperhatikannya. Dan sekelabat tadi dia ingat di masa lalu pernah bertemu dengan Farida tapi dimana dia lupa.
"Maaf, sebentar tante." Karina menghentikan langkahnya memanggil Farida karena ingin mengangkat panggilan dari ponselnya.
Farida mengangguk mengiyakan. Karina tersenyum segera menyingkir dari hadapan Farida.
Dalam percakapan ponsel :
Karina :"Ha...halo..." jawabnya gugup.
Jo :"Kau dimana?" tanyanya dengan wajah cemberut, karena sejak tadi Karina tak segera kembali ke rumahnya.
Karina :"Ini... siapa?" tanyanya, sebetulnya dia mengenal suara itu.
Suara yang sangat amat dikenalnya. Suara yang sarat akan keposesifan. Tapi Karina tak mau besar kepala, pasalnya dia tak pernah memberikan nomer ponselnya yang baru padanya.
Jo :"Kau sungguh tak ingat suaraku?" Karina tersentak mendengar suara di ponsel itu seperti di belakang tubuhnya."Kau yakin tak ingat?" suara seseorang di belakang tubuhnya semakin mendekati tubuh Karina yang menegang.
__ADS_1
Karina menutup ponselnya dan memejamkan matanya sejenak, mengendalikan dirinya.
"Jadi Bram adalah pria yang akan menikahimu?" bisik Jo di belakang tubuh Karina yang semakin menempel pada tubuhnya.
Karina terdiam tak mampu menjawab ataupun berbalik menatap wajah Jo yang sudah terlanjur sakit dan kecewa.
"Kenapa harus dia baby? Kenapa?" isakan tangis terdengar di telinga Karina.
Nada kekecewaan juga terdengar jelas di telinganya. Suara panggilan setiap mereka dulu bersama membuat Karina kembali goyah dan luluh.
"Maaf... maafkan aku..." bisik Karina tak mampu membendung tangisannya.
Karina segera mengusap air matanya tak ingin ada orang memergoki mereka. Jo yang sudah tak tahan dengan kata maaf dari Karina langsung membalikkan tubuhnya, mendorongnya ke tembok dan memaksa ciumannya yang sarat akan kemarahan. Karina hanya diam masih dengan tangisannya tak memberontak ataupun melawan.
"Kau istriku Karina, apa karena pernikahan siri sehingga kau tak pernah menganggap pernikahan kita?" bisik Jo setelah puas memaksa ciumannya dan menempelkan dahinya pada dahi Karina.
"Maaf ... maafkan aku..."
Jo memegang jemari tangan yang membungkam mulutnya. Mengecupi jemari tangan yang sudah menjadi candunya.
"Bahkan kau melepas cincin pernikahan kita?" wajah Jo yang sudah mulai tenang kini kembali berkobar amarah.
"Maaf... maafkan aku..."
Bag bug bag bug
Bogeman mentah dilayangkan Jo ke tembok di dekat Karina hingga membuat Karina tersentak menutup matanya mengira dirinya yang akan dipukul. Namun matanya langsung membelalak melihat darah mengalir di buku tangan Jo.
"Kau berdarah Jo, kau terluka, pasti sakit. Kita obati dulu." ucap Karina cemas memegang tangan luka Jo.
__ADS_1
"Hatiku yang sakit Karin, dadaku yang sesak. Tak bisakah kau obati itu dulu!" ucap Jo menepuk-nepuk kencang dadanya dengan tangannya yang berdarah tadi.
Karina langsung menutup mulutnya, menahan tangisannya yang sudah mau pecah namun tetap ditahannya. Dia ingin mengucapkan kata maaf lagi, namun tak mau membuat Jo semakin menyakiti dirinya sendiri. Karina hanya menggelengkan kepala sambil menutup mulutnya dan meredam tangisannya.
Farida yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka hanya bisa terdiam menutup mulutnya sambil menangis juga mendengar kisah kasih kedua insan itu. Dia sungguh merasa bersalah karena tak mampu menahan suaminya saat itu.
Saat suaminya berusaha memisahkan pasangan ini. Seandainya suaminya bisa menerima hubungan mereka, pasangan ini pasti sudah bahagia sejak dulu dan tak menyakiti putranya itu.
Di sisi lain, seseorang juga menguping pembicaraan keduanya tampak mengepalkan kedua tangannya menahan amarahnya. Dia pergi meninggalkan tempat itu tanpa menghampirinya.
Karina yang melihat Jo begitu frustasi tak mampu menahan lagi dan memeluk tubuh kekar itu. Karina tak mengira, penampilan tubuh kekar dan atletis seperti Jo mempunyai hati yang begitu lemah lembut. Dia tak mengira ditinggalkan olehnya membuat seorang Jo menjadi seorang yang sangat terluka dan putus asa.
"Aku mencintaimu Karin, dulu, sekarang dan selamanya hanya kamu wanita yang kucintai. Hanya kau wanita yang kuinginkan. Jangan tinggalkan aku, kumohon! Lebih baik aku mati daripada harus berpisah denganmu." Karina yang masih menangis sesenggukan menggelengkan kepalanya mendengar kata mati dari mulut Jo.
"Aku juga mencintaimu Jo, sungguh hanya kau sekarang yang kucintai. Aku pun tak bisa hidup tanpamu. Tapi bagaimana dengannya, dia yang selalu berada di sampingku menemaniku dan membantuku saat aku membutuhkan bantuan. Hanya dia yang peduli padaku Jo. Apa yang harus kulakukan Jo. Aku tak bisa menyakiti hatinya. Dia terlalu baik untuk disakiti. Dia tak pantas disakiti." bisik Karina menatap Jo lemah.
"Aku... aku yang akan mengatakan padanya siapa kau, aku yang akan menjelaskan semua padanya. Kau percaya padaku kan? Hmm..." ucap Jo yang diangguki Karina.
"Terima kasih baby, terima kasih. I love you." Jo mengecup sekilas bibir istrinya sekilas.
"Love you too." mereka kembali berpelukan melepaskan kerinduan keduanya.
TBC
Nih tak tambahi lagi 1 episode, like dan vote nya ditambah juga ya...😁😁😁😉
Ok...
lanjutannya besok ya...
__ADS_1
Besok...
Beneran besok...