Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Bertemu ayah mertua 2


__ADS_3

"Karena mengingat jasamu di masa lalu aku akan memperlakukan lebih baik." ucap Alensio memulai percakapan setelah kembali meletakkan cangkir tehnya.


Karina hanya diam menunduk, pikirannya berkecamuk menebak-nebak kemungkinan peringatan dari sang ayah mertuanya sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Dan dia pun harus siap.


"Ini. Gunakan untuk kebutuhanmu sebaik mungkin. Dan tinggallah di tempat yang jauh dari putraku." ucap Alensio lagi sambil menyodorkan secarik kertas yang diyakini Karina adalah cek yang tidak sedikit jumlahnya.


Karina mendongak menatap wajah Alensio dan beralih menatap kertas yang disodorkan tepat di hadapannya.


"Apa... maksud anda?" tanya Karina meyakinkan apa yang didengarnya.


Meski dirinya sudah mengerti arah pembicaraan ini.


"Kau cukup pintar untuk memahaminya. Dan aku sudah tahu kalian menikah siri dan tinggal bersama." ucap Alensio lagi membuat Karina tersentak dan sontak menatap wajah Alensio yang masih tetap tenang.


Karina terdiam tak mampu menjawabnya. Seharusnya dia tahu, apapun yang berhubungan konglomerat ini dapat mengetahui dengan mudah apa saja yang dilakukan oleh anak-anak mereka, terutama putra kebanggaan mereka. Karina menelan ludah kelu. Meremas jemari tangannya masih di bawah meja mengendalikan kegugupannya.


"Kukira dia tak akan membuat ulah dan tetap merahasiakan hubungan kalian, serta tetap melanjutkan pernikahannya dengan pasangan sahnya yang direstui kedua keluarga dan diketahui dunia. Tak kukira dua minggu menjelang pernikahannya dia tetap berusaha untuk menolak dan membatalkan pernikahan ini." ucap Alensio semakin membuat Karina meremas jemarinya kuat tanpa mampu menjawab karena yang dikatakan pria paruh baya itu benar adanya, dan dia tak mampu mengelak atau menyela.


"Sebenarnya aku tetap akan membiarkan dia bersenang-senang terlebih dahulu menikmati masa sebelum pernikahannya dan akan membuang mainannya itu setelah dia puas. Dan tak kusangka dia benar-benar jatuh cinta pada mainannya yang bahkan masih berstatus suami orang." ucap Alensio telak menatap Karina tajam penuh intimidasi.


Karina semakin menunduk merasa bersalah namun dirinya enggan menjelaskan apapun.


"Karena kebaikan masa lalumu, aku memintamu baik-baik untuk meninggalkannya diam-diam ke tempat jauh. Dan ini...." Alensio menyodorkan lagi amplop terbuka yang terlihat dua buah tiket ke luar negeri dengan jurusan Rusia. Tempat yang jauh di belahan dunia yang berjarak waktu kebalikan dari negaranya saat ini. Karina merasa sesak di dadanya. Sulit baginya untuk menelan ludahnya."Kuharap kau cukup mengerti tanpa banyak alasan untuk tidak mengikuti perintahku." lanjut Alensio lagi, kembali menyeruput tehnya dengan tenang.

__ADS_1


Setelah cukup lama saling diam, Karina menghela nafas panjang.


"Kapan saya harus pergi?" tanya Karina yang bertolak belakang dengan pikirannya.


Alensio langsung mendongak menatap Karina lekat melihat kesedihan yang berusaha ditutupi dengan ketenangan dalam nada bicaranya. Alensio kembali menyeruput tehnya dan meletakkan kembali pada tempatnya.


"Sebelum pernikahan mereka, empat hari lagi. Pergilah dengan tenang. Asistenku akan membantumu." ucap Alensio lagi.


"Baiklah tuan. Saya pamit jika sudah tidak ada perlu lagi." ucap Karina tenang, berdiri dari duduknya. Tak lupa membungkukkan badan memberi hormat dengan sopan.


"Hmm." Alensio kembali menghabiskan tehnya menatap punggung Karina yang hilang dibalik pintu. Dan muncullah asisten pribadinya.


"Tuan." ucap pria muda asisten kepercayaan Alensio.


"Ternyata lebih mudah dari yang kuduga. Dan dia menerima ceknya. Huh... ternyata semua wanita sama saja." ucap Alensio berdiri dari kursinya.


Beberapa tahun lalu...


"Berikan ponselku!" titah Alensio pada asistennya yang berumur lebih tua darinya yang ternyata ayah dari asistennya yang sekarang.


Asisten itu mengangguk merogoh saku jasnya. Namun alangkah terkejutnya dia mendapati sakunya kosong. Dia pun merogoh semua sakunya, nihil tetap kosong.


"Ada apa?" tanya Alensio berbalik menatap asistennya yang memucat ketakutan.

__ADS_1


"Maaf tuan, sepertinya ponsel tuan tidak ada di saku saya. Saya pergi mencarinya dulu." ucap asisten itu sambil berkali-kali membungkukkan badan meminta maaf hendak berbalik.


"Apa maksudmu? Kau lalai menjaganya. Kah tahu ponsel itu adalah hadiah dari istriku di ulang tahun pernikahan kami dua tahun lalu, yang khusus dipesan berpasangan dengan miliknya. Breng*sek." umpat Alensio sambil berteriak membentak asistennya yang sembrono.


Dan otomatis semua orang yang ada di lobi melihat hal itu. Begitu juga Karina yang baru datang untuk interview mendekati mereka. Dan merasa kasihan pada lelaki paruh baya itu.


"Maaf...permisi..." sela Karina yang membuat Alensio urung kembali membentak setelah sadar dimana mereka.


Alensio dan asistennya sontak menatap siapa wanita yang berani menyela Alensio.


"Ada apa?" tanya Alensio masih dengan nada tinggi karena masih belum bise mengendalikan emosinya yang meninggi.


Karina langsung merasakan dadanya berdegup kencang karena gugup mendengar bentakan Alensio. Dengan takut-takut dia mengulurkan sesuatu di jemari tangannya.


"Apa ini ponsel tuan yang anda cari. Saya..." belum selesai Karina bicara, Alensio langsung memotongnya.


"Ah, apa kau yang mencurinya. Pasti... iyakan?" teriak Alensio menatap Karina tajam dan menuduh.


"Maaf tuan yang terhormat. Terserah anda percaya atau tidak, kalau saya menemukan di tempat parkir mobil yang mewah dan besar Saya memang miskin, tapi saya diajarkan untuk tidak melakukan apapun yang dilarang orang tua saya. Maaf... permisi." sontak Alensio terbelalak tak percaya ada orang yang berani berteriak padanya meski masih dengan kata-kata sopan.


Dan Karina pun pergi meninggalkan kedua orang itu masuk ke dalam lift menuju ruang interviewnya.


"Hei..." teriak Alensio pandangannya mengikuti langkah Karina yang menjauh. Pria asisten tuannya bernafas lega karena barang berharga miliknya tuannya ketemu.

__ADS_1


**Flashback off


TBC**


__ADS_2