
"Benarkah mas?" tanya Karina pada suaminya yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi di kamar mereka selesai membersihkan tubuhnya hanya dengan memakai boxer saja. Wajah Karina terlihat sedih dan kecewa.
Jo menatap istrinya lembut, wajah yang terlihat menahan amarahnya namun masih mampu dikendalikan.
"Ada apa baby?" tanya Jo yang tak tahu apa yang dibahas istrinya pagi itu.
"Anin mas, Anin..." Air mata Karina langsung menetes mendengar kabar yang baru saja didengarnya itu membuatnya shock.
"Hei, kenapa dengan Anin? Ada apa baby?" Tanya Jo menarik istrinya dalam pelukannya mencoba menghiburnya karena tangis istrinya semakin mengalir deras diiringi dengan isakan yang terdengar menyayat hati.
"Mas Ken mas, mas Ken mau membawa Anin." Ucapan Karina membuat Jo menegang, hal yang dicemaskannya kini sampai ke telinga istrinya.
Dia sendiri ingin secepatnya mengatakan pada istrinya. Namun membayangkan kesedihan istrinya membuat Jo urung bercerita. Tapi kini istrinya malah mendengar dari orang lain.
"Siapa yang mengatakannya baby?" Tanya Jo sambil mengecup pucuk kepala istrinya sambil mengelus punggungnya.
"Mas Ken mas, dia sudah bersiap untuk kembali ke ibukota dan hendak mengajak Anin berangkat bersama." Adu Karina, air matanya tak henti-hentinya mengalir.
"Dia tak bisa begitu. Anin masih menjadi hak asuhmu sepenuhnya. Usianya baru tujuh belas tahun dua bulan lagi. Dia tak berhak membawanya." Hibur Jo.
"Benarkah?" Ucap Karina mendongak menatap lekat.
"Tentu saja. Kita bicara pada Bram tentang ini. Dia pasti akan membenarkan kita." Jawab Jo.
"Baiklah." Akhirnya Karina bisa sedikit tenang.
Air matanya sudah mulai berhenti. Jo membantunya mengusap sisa-sisa air matanya.
"Baby..." bisik Jo lirih.
"Ya?" Karina menatap suaminya lekat.
"Kau harus tanggung jawab." Jo meletakkan tangan istrinya di celananya yang dalamnya sedang menegang minta dipuaskan.
__ADS_1
"Akh..." Jo menarik tubuh istrinya jatuh ke ranjang.
Tanpa membuka pakaian istrinya Jo hanya mengesampingkan segitiga milik istrinya. Dan Jo dengan cepat mengejar pelepasannya.
***
Kini Jo sudah selesai bersiap untuk menuju bandara karena mereka memutuskan untuk pulang ke ibukota. Mereka tak mungkin menunggu sampai sidang terakhir Anin. Hanya Bram dan istrinya yang masih tetap tinggal karena ada sesuatu yang harus Bram urus mengenai kasus Anin menuju sidang terakhirnya.
Sedangkan Jo memilih pulang ke ibukota karena perkiraan anak mereka yang akan segera lahir dan kata dokter masih dalam sebulan lagi perkiraan dokter tentang kelahiran anak mereka. Anak-anaknya juga harus pulang untuk bersekolah kembali. Anak-anaknya tak mungkin membolos lebih lama lagi. Mungkin Jo dan Anin yang akan kembali lagi nanti saat sidang terakhirnya.
"Kalian sudah siap?" Tanya Jo melihat anak-anaknya berkumpul.
Jo menatap satu persatu anak-anaknya. Terlihat masih ada yang kurang.
"Yes Daddy." jawab mereka kompak.
"Mbak Anin? Dimana dia?" Tanya Jo menatap bibi pengasuh yang berdiri di antara mereka.
"Baby, hurry up!" Teriak Jo menatap arah yang mungkin datangnya istri dan putrinya.
"Yes, honey... Wait a minute!" Teriakkan Karina dari dalam menjawab panggilan suaminya.
"Ok boys, little princess Daddy, kalian masuk ke dalam mobil!" Titah Jo menatap anak-anaknya.
"Yes, Daddy." Mereka pun berlari menuju mobil, naik ke mobil dibantu bibi satu persatu.
Jo menuju tempat yang mungkin sedang adanya Anin dan istrinya.
"What's happen baby?" Tanya Jo begitu tiba di kamar Anin melihat keduanya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Wajah Karina terlihat tegang dengan bekas air mata yang diusap. Sedang Anin sudah berderai air mata dengan wajah memerah dan juga tegang. Jo menatap keduanya bergantian dengan perasaan bersalah dan marah juga bingung yang campur aduk.
"Ada apa baby? Princess Daddy?" Jo menghampiri istrinya yang lebih membutuhkannya karena dia berdiri dengan wajah tegang sambil memegang perutnya menahan ringisan.
__ADS_1
Namun saat beralih menatap Anin dia juga merasa kasihan dengan putri sulungnya itu yang menatapnya meminta pelukan. Jo bingung akan menghibur siapa diantara dua wanita yang memiliki wajah hampir sama, membuat Jo dilema. Jika dia menghibur istrinya dulu, Anin pasti akan berpikir bahwa dia bukanlah anak yang disayanginya karena bukan anak kandungnya.
Jika di menghibur Anin dulu, Jo tahu istrinya itu akan sangat bersedih. Bagaimana pun juga Jo sangat tahu tentang istrinya itu meski Karina selalu mengalah dalam hal apapun untuk anak-anaknya. Tapi sekarang kondisinya sedang hamil yang juga butuh hiburan demi kandungannya baik-baik saja.
Jo mendekati Anin terlebih dulu dan memeluknya. Anin yang sudah merasa butuh penghiburan sejak tadi memilih menangis tersedu-sedu di dalam pelukan ayah sambungnya. Karina yang tak mengira Anin bisa tertawa sekeras itu ikut menangis merasa bersalah karena sudah membentaknya tadi.
Karina pun ikut menangis dan Jo pun meraih keduanya dalam pelukannya juga. Istrinya di dipeluk lengan kanannya dan Anin dipeluk di lengan kirinya. Jo mengusap rambut keduanya bersamaan menghibur mereka tanpa bicara apapun.
Dia juga penasaran, apa yang membuat kedua wanita itu jadi menangis histeris seperti itu. Namun dia menahannya, mereka butuh dihibur lebih dulu. Jo menghela nafas panjang, memejamkan mata sebentar. Dia ingin marah tapi entah karena apa dan pada siapa yang harus dimarahinya. Dia hanya mencoba meredamnya dengan caranya sendiri.
"Penerbangan akan take off dua jam lagi. Apa kita harus menundanya?" Ucapan Jo membuat kedua wanita itu langsung diam.
Mereka pun segera melepaskan pelukan Jo dan Anin masuk ke dalam kamar mandi membersihkan wajahnya dan menata kembali penampilannya. Karina dibantu Jo mengusap wajah sembabnya dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.
"I love you baby." Karina terdiam menatap suaminya lekat.
"I love you too." Karina mengecup bibir suaminya sekilas.
Tarikan tengkuk Jo dibatalkan karena suara pintu kamar mandi dibuka Anin.
"Kita berangkat sekarang!" Ucap Jo membuang pandangannya menahan rasa malunya, hampir saja dia terlena dengan ciuman istrinya kalau saja tidak ingat ada putrinya di kamar yang sama.
Jo menggandeng tangan keduanya menuju mobil yang sudah menunggu mereka. Karina dan Anin saling menatap, mereka pun tersenyum seperti tak pernah terjadi apapun. Karina merasa seperti remaja yang sedang emosi saja tadi. Dia sungguh melupakan bahwa dirinya seorang ibu yang memiliki hampir lima anak.
TBC
Maaf baru up...
Fokus sama karyaku yang lain 🙏
Tetap beri dukungannya
Beri like, rate dan vote nya makasih 🙏
__ADS_1