Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 53


__ADS_3

"Apartemen?" Karina menatap Jo tak percaya.


"Ayo!" Jo menarik istrinya masuk ke gedung apartemen yang ada di lantai lima belas.


Karina memilih diam menunggu jawaban yang akan ditunjukkan oleh suaminya. Dia yakin suaminya tak akan menjawab jika dia mendesaknya dengan pertanyaan.


Jo menekan password apartemennya yang sudah hafal di luar kepala.


Ting... cklek...


Suara pintu apartemen terbuka. Jo masuk masih menggenggam erat jemari tangan istrinya.


"Dr. Rahman?" Guman Karina yang merasa heran kenapa ada dokter pribadi keluarganya di apartemen suaminya.


"Apa kabar nyonya?" Sapa Dr. Rahman sopan.


"Aku baik... dokter... aku..." Jawab Karina yang belum selesai bicara disela seseorang.


"Dia sudah tertidur." Suara Dr. Alya yang baru muncul dari dalam kamar membuat Karina tak melanjutkan pertanyaannya.


"Dr. Alya juga ada disini?" Karina semakin bertanya-tanya.


Dia ganti menatap suaminya yang sudah sangat frustasi, bingung menjelaskan dari mana. Hingga akhirnya Dr. Rahman yang bicara.


"Nyonya tenanglah dulu! Mungkin ini akan sedikit membuat anda shock." Hibur Dr. Rahman yang orang paling tua disitu.


Dia yang mungkin bisa menghibur Karina nanti.


Jo duduk di sebelah istrinya di sofa panjang, menghadap istrinya. Karina hanya diam menurut menunggu suaminya bercerita yang sepertinya sedikit ragu. Dr. Rahman dan Dr. Alya masih duduk di sofa panjang depan mereka ikut antisipasi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Karina.


Mengalirkan cerita dari mulut Jo, dia menceritakan semuanya mulai dari Anin mencari tempat PKL, tinggal di flat sewa yang ternyata milik Anin yang dibelinya dengan uang jajan yang ditabungnya selama ini. Juga bagaimana keadaan di rumah Ken, papa Anin yang didapat Jo dari orang yang dibayar Rian.


Juga pertemuannya dengan Anin di cafe yang mengundang kesedihan hingga Jo mendekap tubuh Anin memberi semangat yang berujung kesalah pahaman istrinya bahwa dirinya dituduh main belakang dengan wanita lain. Dan terakhir kejadian pembullyan di tempat PKL perusahaan yang Anin lakukan. Dan itu membuat Karina terdiam tak menjawab, atau merespon apapun.

__ADS_1


Dan itu malah membuat Jo semakin takut melihat istrinya yang terdiam menatap kosong ke arah depan. Karina memutar tubuhnya duduk sofa menatap Dr. Rahman dan Dr. Alya yang duduk di sofa depannya. Namun tatapannya tidak menatap pada mereka. Karina menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menghela nafas panjang dan berat.


Jo menanti apapun yang akan dilakukan istrinya dia akan terima jika disalahkan karena tidak mengatakan beberapa waktu saat dimulainya 'penderitaan' putrinya. Saat melakukan video call beberapa waktu lalu, Karina sudah merasa kalau putrinya menyembunyikan sesuatu darinya.


Namun putrinya menyangkal, mungkin Anin merasa tidak enak merepotkan dirinya yang sudah ditolaknya. Tapi ternyata masalah putriku seberat itu. Karina mendesah sesak di dadanya seperti menghimpitnya. Aku benar-benar seorang ibu yang gagal melindungi putriku. Batin Karina sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Dimana putriku sekarang?" Tanya Karina setelah lebih dari setengah jam dia terdiam.


"Baby, are you okay?" Tanya Jo memegang bahu istrinya. Karina menghela nafas sejenak.


"I am okay." Jawab Karina menatap suaminya, memaksakan senyumnya.


"Menangislah baby, mungkin itu akan membuatmu lebih baik." Bisik Jo meremas lembut bahu istrinya.


"Aku ingin melihatnya sebentar." Jawab Karina.


Jo mengangguk mengiyakan, menuntun istrinya masuk ke dalam kamar tempat Anin istirahat.


Karina sontak menutup mulutnya merasa bersalah saat melihat mata sembab putrinya yang terlihat sudah lama menangis. Tubuhnya tiba-tiba terhuyung ke belakang dan dengan sigap Jo menangkap tubuh istrinya dan menariknya masuk ke dalam pelukannya.


Dirinya yang sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan membuat istrinya sedih dan menangis, dia merasa bersalah karena tak bisa menepati janjinya sendiri.


"Maaf baby, maafkan aku. Maaf..." Bisik Jo berulang-ulang dalam dekapan itu.


"Aku gagal menjadi ibu mas, aku telah gagal, putriku sampai seperti ini. Aku ... aku merasa gagal mas." Bisik Karina lirih mendongak menatap wajah suaminya yang masih mendekapnya.


"No baby, no... kamu ibu sempurna. Kamu sudah sangat berhasil menjadi seorang ibu." Hibur Jo sambil menangkup kedua tangannya di kedua pipi istrinya.


"Putriku sampai seperti itu mas, itu salahku... Sampai dua kali aku gagal mas, aku..."


"Sstt.... tenang baby. Bukan seperti itu, kau ibu yang sempurna bagiku dan anak-anak. Anin pun akan mengatakan hal yang sama. Dia tak menyalahkanmu baby." Hibur Jo menatap wajah istrinya yang berderai air mata.


"Hiks ... hiks..." Karina memeluk kembali suaminya masih menangis sesenggukan.

__ADS_1


Hingga akhirnya Karina melepaskan pelukannya, mengusap air matanya. Mendekati putrinya yang masih terlelap dengan obat penenang yang diberikan Dr. Alya.


"Maafkan mommy nak, maaf... maafkan mommy... mommy salah. Kau pasti membenci mommy." Bisik Karina lirih di dekat Anin berbaring.


Digenggamnya jemari tangan putrinya lembut. Tak lupa dia berkali-kali mengecupi punggung tangan putrinya penuh rasa bersalah.


"Mommy .." Bisik Anin lirih membuat Karina tersentak sontak menatap wajah putrinya cemas.


"Princess mommy, putri mommy .. maaf... maafkan mommy nak." Ucap Karina masih sesenggukan dengan penuh rasa sedih yang terpancar di wajahnya.


"No mom... bukan salah mommy..." Jawab Anin menggeleng-gelengkan kepalanya kembali menangis dan sedih melihat rasa bersalah di mata mommynya.


"Mommy kurang memperhatikanmu... mommy sudah menelantarkanmu. Mommy gagal menjadi ibu untukmu nak... maaf..." Anin terus saja menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bukan salah mom, aku yang gak jujur sama mommy. Aku yang menjauhi mommy... Mommy adalah ibu yang sempurna untukku. Kau yang harusnya minta maaf mom... maaf mom... maafkan Anin... Anin tak mau membuat mommy sedih, makanya Anin gak bisa jujur sama mommy. Maaf mom..." Karina memeluk tubuh putrinya yang terlihat ringkih.


"Kau pasti sangat kesepian kan nak, maaf... mommy seharusnya mencegahmu untuk tinggal dengan papamu. Harusnya mommy lebih egois untuk memperjuangkanmu. Maaf nak..." Lagi-lagi Karina minta maaf dan lagi-lagi Anin juga menggeleng-gelengkan kepalanya menolak kalau semua adalah kesalahannya.


Jo yang melihat itu tersenyum bahagia. Dua orang yang disayanginya seharusnya bersama. Jo berjanji dalam hatinya akan memperjuangkan Anin kembali ke keluarganya. Kalau perlu dia akan membuat Ken brengsek itu menyesal telah memisahkan ibu dan anak itu.


TBC


Maaf agak lama up nya


Tiba-tiba buyar imajinasinya...


Tapi aku janji akan melanjutkan dengan lebih baik lagi...


Maafkan typo


Jangan lupa tinggalkan jejak


Beri rate, like dan vote nya

__ADS_1


Makasih 🙏


__ADS_2