
Jo membawa Anin pulang ke resort tempat mereka menginap. Setelah meminta izin pada pihak kepolisian untuk memberikan keterangan besok saja karena melihat kondisi Anin yang tidak memungkinkan. Anin masih butuh waktu untuk menenangkan diri dan memulihkan kondisi tubuhnya.
Saat perjalanan menuju resort, Anin berkali-kali terjaga dari tidurnya dan berkali-kali itu pula Jo menenangkannya. Batinnya sungguh sakit dan tak tega melihat keadaan putri sambungnya pasca traumatis kejadian yang baru dialaminya hari ini. Apalagi hal itu terjadi di pulau orang.
"Honey .." seru Karina melihat suaminya datang memarkir mobilnya di halaman resort. Sementara anak-anak sedang istirahat malam setelah makan malam bersama pelayan resort.
Karina yang sejak tadi gelisah saat mencoba menghubungi suaminya tak ada jawaban dari ponselnya. Pikirannya langsung tak enak dan cemas. Takut terjadi sesuatu pada keduanya. Namun dia tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan mereka berdua.
"Sabar, okay. Everything it's okay." jawab Jo tergesa-gesa menjawab panggilan istrinya yang terlihat cemas dan panik.
Jo tak mau mempengaruhi kesehatan bayinya dan istrinya. Bagaimana pun juga istrinya sedang hamil anaknya yang ke empat. Jo berlari ke pintu mobil satunya dimana Anin sedang gelisah ketakutan.
"A.. apa yang terjadi pada Anin?" tanya Karina tak sabaran melihat putri sulungnya terlihat ketakutan tak seperti biasanya.
"Tetap disana. Akan kujelaskan nanti!" titah Jo melihat istrinya hendak mendekatinya.
Karina menurut, dia hanya berdiri di balik pintu resort. Karena resort itu berada satu meter di atas darat. Jo menggendong tubuh Anin yang ketakutan sambil memeluknya erat. Karina menutup mulutnya tak percaya melihat putrinya ketakutan dengan wajah yang merah, sembab, kusut dan kacau.
Karina mengikuti langkah suaminya memasuki kamar pribadi Anin selama menginap di resort. Jo membaringkan tubuhnya di ranjang dan menyelimuti hingga batas leher.
"Everything it's okay. Sekarang kau aman di rumah kita. Okay?" Jo menenangkannya. Anin menatap sekeliling kamar yang sangat dikenalinya ditempatinya beberapa hari ini.
Dan kembali menatap Jo dan beralih menatap Karina yang terlihat cemas dan panik.
"Mommy..." lirih Anin menatap Karina yang langsung mendekati tubuh putrinya, memeluknya erat dan memberinya ketenangan.
"It's okay sayang... tidak akan ada yang bisa menyakiti putri mommy... okay?" Anin mengangguk-angguk dalam pelukan Karina.
Karina mengusap-usap punggung putrinya sambil menatap Jo dengan sorot mata penuh tanda tanya. Jo hanya diam mengisyaratkan akan menceritakan semua yang terjadi.
***
__ADS_1
Setelah setengah jam menenangkan, akhirnya Anin menjadi sedikit tenang dan tertidur tanpa gangguan. Kini pelayan resort yang diminta tolong untuk menjaga di dekat Anin. Karina mengikuti langkah suaminya meninggalkan kamar pribadi Anin. Jo memapah tubuh istrinya yang terlihat terpukul dan lemah melihat keadaan Anin yang jauh dari kata baik.
Padahal saat berpamitan pergi ke kota tadi Anin tampak bersemangat dan senang sekali. Dan kembali dalam keadaan yang sungguh sangat memprihatinkan. Hal yang sangat tidak dikiranya oleh Karina. Sejak awal Karina sudah merasa tak enak untuk mengizinkan putrinya itu.
Namun raut wajah bahagia pada putrinya yang penuh harap agar diizinkan untuk ke kota sendiri membuat binar mata Anin semakin cerah saat dirinya menganggukkan kepalanya mengiyakan Anin untuk pergi sendiri. Awalnya sopir hendak mengantarkannya namun saat itu sopir pribadi mereka yang sedang mengantar belanja bahan pokok makanan belum juga kembali, akhirnya Karina mengizinkan untuk naik taksi.
Dengan catatan harus hati-hati dan menghubunginya setiap satu jam sekali. Karena saat itu sedang mengobati kaki si kembar yang terjatuh saat belajar berselancar membuat Karina sedikit melupakan putrinya itu.
Setelah mendengar cerita suaminya secara mendetail, Karina tak mampu menyimpan kesedihannya. Karina malah menyalahkan dirinya sendiri yang dengan begitu bodohnya melupakan putri sulungnya itu.
"Ini semua salahku... A ... aku... yang melupakan dirinya sebentar.. a...aku..."
"Ssstt... no baby... ini bukan salahmu... kau tak sengaja melakukan. Bagaimana pun juga manusia tak luput dari kesalahan. Kau tentu tak bisa memperhatikan semuanya sendirian." hibur Jo menenangkannya setelah membersihkan tubuhnya dia menceritakan kejadian yang dialami dari sisi Jo.
Jo belum mendapatkan kejelasan dari putrinya karena masih shock dan trauma.
"Tapi... kalau saja..."
"Ini bukan salahmu. Kita bisa belajar dari semua ini. Anin belum sempat disentuh oleh mereka. Dan aku akan pastikan kalau mereka semua tidak akan lolos dari hukum. Dan mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya. Ingat itu baby ... kita harus membantu putri kita untuk menghilangkan rasa ketakutannya dan traumanya. Jadi, jangan menyalahkan diri kita atau siapapun. Anin butuh kita sebagai penyemangat. Untung saja aku tiba tepat waktu dan mereka belum sempat macam-macam padanya." hibur Jo membuat Karina sedikit lebih tenang meski kadang sesenggukan.
"Thanks honey, semua berkat kamu. Terima kasih sayang. Aku mencintaimu." bisik Karina.
"Aku lebih mencintaimu baby. Dan kalian semua, anak-anakku."
Jo menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Ganti menenangkan istrinya.
***
"Istirahatlah! Kasihan baby, kau sudah makan malam?" tanya Jo sambil mengelus perut istrinya yang sudah memasuki usia tujuh bulan.
Karina menggeleng, setelah tak mendapat kabar dari suami dan putri sulungnya tadi, Karina merasa tak nyaman dan tak semangat untuk melakukan apapun apalagi untuk makan malam. Dia hanya menemani si kembar dan putri kecilnya agar bersemangat makan meski dirinya tidak.
__ADS_1
"Makan dulu ya baby, kasihan baby kita. Pasti lapar." canda Jo sambil mengelus dan mengecup perut istrinya gemas.
Karina hanya tersenyum senang sedikit lebih tenang.
"Akan ku ambilkan makanan dan susu hamil!" Karina mengangguk mengiyakan suaminya.
**
"Daddy.." panggil princess kecilnya sambil mengucek matanya tanda mengantuk saat dirinya hendak minum ke dapur.
"Princess..." balas Jo memanggil putri kecilnya. Jo mendekati putrinya dan meraihnya dalam gendongannya.
"Princess belum tidur?" tanya Jo sambil mengaduk susu hamil milik istrinya.
"Aku haus Daddy."
"Oh, princess haus. Mau minum susu juga?" tanya Jo tersenyum.
"Uhm. Ini susu adek di perut mommy?" tanya princess.
"Yeah."
"Princess mau seperti susu adek."
"Tentu." Jo mengambil gelas lagi dan membuatkan susu untuk putri kecilnya.
**
"Sekarang waktunya tidur lagi." ucap Jo mengusap rambut putrinya lembut yang kini sudah berbaring di ranjang kamar tidurnya.
Tak sampai sepuluh menit, putri kecilnya tertidur pulas lagi. Jo menyelimutinya dan mengambil makanan dan susu hamil istrinya tadi. Meski belum begitu dingin, Jo berharap istrinya tak protes untuk menggantikannya dengan yang panas.
__ADS_1
TBC