Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 61


__ADS_3

"Nindi, maukah kau malam ini menemaniku?" Tanya Nara setelah dia masuk ke dalam kelas.


"Kemana?" Tanya Anin sambil menyiapkan alat tulisnya karena pelajaran sebentar lagi dimulai.


"Ke party temanku, ulang tahun." Jawab Nara.


"Tapi aku tak dapat undangan." Jawab Anin.


"Kita tak perlu undangan, siapa saja boleh datang. Kau bisa jadi pasanganku.. eh maksudku...aku malu datang sendiri." Jelas Nara yang ditatap bergidik oleh Anin.


"Bukannya kau datang dengan kekasihmu?" Tanya Anin yang merasa aneh karena mereka baru saja bertemu, bukannya dia membahas tentang menghadiri pesta?


"Tidak, dia tak bisa datang... entahlah.. Dia ada urusan keluarga, akan datang terlambat jika masih ada waktu. Tapi entahlah..." Jelas Nara yang merasa kecewa karena kekasihnya tadi membatalkan tidak bisa menemaninya untuk datang ke pesta ulang tahun temannya.


"Kita lihat saja nanti." Jawab Anin.


"Ayolah Nin, please?" Nara menangkupkan kedua tangannya di dada memohon menatap Anin memelas.


"Aku belum izin orang tuaku, apa mereka mengizinkanku." Sangkal Anin tak enak hati menolak ajakan sahabatnya.


"Aku akan menjemputmu di rumah bagaimana, aku juga akan minta izin pada orang tuamu." Usul Nara yang mau tak mau akhirnya diangguki Anin yang membuat Nara bergembira.


Pasalnya Anin sangat sulit diajak have fun meski hanya ke mall untuk belanja. Dia selalu diikuti pangawal sejak awal mereka menjadi Maba. Dan tak tahu karena apa. Dan hari ini, sahabatnya itu dengan ceria bercerita kalau mulai hari ini dia bebas untuk tidak diikuti oleh pengawal lagi.


***


Nara menepati janjinya untuk menjemput Anin di mansionnya. Nara sungguh terpukau saat melihat mansion mewah dan megah di depannya.


"Wah...Daebak.. ini sungguh di luar ekspektasiku. Ternyata Nindi memang putri konglomerat itu." Guman Nara berdecak kagum melihat bangunan besar gaya modern lantai tiga itu.


Nara berjalan ke arah pintu depan dan memencet bel mansion itu. Dan munculah wanita paruh baya yang diyakini Nara adalah asisten rumah tangga.


"Nyari siapa non?" Tanya asisten itu.


"Nindi ada bi?" Tanya Nara tersenyum ramah.


"Nindi?" Guman asisten itu bingung.


Nara malah mengernyit heran saat melihat asisten rumah tangga itu bergumam tak jelas.


"Non siapa?" Tanya asisten itu penasaran.


Pasalnya tak ada asisten rumah tangga yang diberi tahu kalau putri sulung majikannya itu dipanggil Nindi di kampusnya.


"Saya Nara bi, Kinara, teman kuliah Nindi." Jelas Nara tersenyum lebar.


"Oh, teman kuliah non Anin?" Asisten rumah tangga paruh baya itu akhirnya paham siapa yang dimaksud tamu itu.


"Anin?" Guman Nara dalam benaknya.


"Mari masuk non, non Anin ada!" Jawab bibi memberi jalan untuk Nara masuk.

__ADS_1


"Iya bi." Jawab Nara masuk ke dalam mansion besar itu.


Tak sampai lima menit sudah ada seorang wanita cantik namun sudah berumur dengan hijabnya. Yang membuat Nara terbengong, wanita itu mirip sekali dengan Anin versi dewasa dan berhijab. Dari kejauhan sudah tersenyum manis menyambut Nara. Nara sontak langsung berdiri dari duduknya untuk kesopanan.


"Malam Tante." Sapa Nara sopan.


"Malam, Nara ya? Ayo duduk!" Tanya wanita itu adalah Karina. Nara pun duduk kembali setelah Karina juga duduk.


"Iya Tante."


"Kamu temannya Nara si kampus ya?" Tanya Karina lagi ramah.


"Iya Tante. Saya kesini mau ajak Nindi untuk menghadiri pesta ulang tahun teman saya Tante." Jelas Nara ramah.


"Oh iya, Anin...eh maksudnya Nindi sedang ganti baju, dia sudah pamit Tante kok." Jawab Karina tersenyum ramah.


"Silahkan diminum non!" Tawar bibi yang tadi membukakan pintu untuk Nara.


"Makasih bi." Jawab Nara sopan dan bibi tadi langsung kembali ke dapur.


"Memang pestanya di mana?" Tanya Karina masih dengan ramah dan tersenyum.


"Di daerah XX Tante, nanti saya akan antar Nindi sampai rumah dengan selamat Tante." Jelas Nara tersenyum.


"Iya gak papa, hanya jangan pulang terlalu larut ya?" Pinta Karina menatap Nara dengan tatapan memohon.


"I...iya Tante." Jawab Nara salah tingkah.


"Yuk Nara!" Sela Anin yang sudah muncul di ruang tamu mansion besar itu.


Karina tersenyum melihat penampilan putrinya yang cantik itu namun masih memakai casual berbeda dengan Nara yang memakai gaun pesta yang sedikit tertutup itu. Karina menatap cemas pada kedua gadis yang baru saja pamit itu padanya. Entah kecemasan apa yang ada di benak Karina terasa tak rela mengizinkan putrinya pergi.


Mungkin karena baru pertama kali putrinya itu pergi malam dan dijemput temannya yang katanya lebih dari saudara itu. Setiap hari setiap saat, putrinya selalu bercerita tentang sahabatnya itu.


Nara yang ini Nara yang itu Nara yang begini dan Nara yang begitu. Selalu hanya Nara, tak ada sahabat atau tema. yang lain. Karina bersyukur putrinya sudah mulai membuka diri dan terlihat nyaman dengan orang asing lagi.


***


" Dimana pestanya diadakan?" Tanya Anin saat perjalanan menuju lokasi.


"Entahlah, dia hanya share loc baru saja. Kita cari dulu!" Jawab Nara sambil menyalakan map nya.


Tak sampai setengah jam, mobil terparkir di sebuah klub malam yang baru-baru ini sangat terkenal. Keduanya melotot tak percaya karena ternyata tempat pestanya adalah sebuah klub malam. Anin menatap Nara bergidik tak nyaman melihat tempat pesta itu. Nara yang seolah tahu arti tatapan Anin langsung mengedikkan kedua bahunya tak tahu apa-apa.


"Kok disini Ra?" Tanya Anin merasa tak nyaman berada di sekitar klub malam.


"Aku juga gak tau Nin, coba aku hubungi temanku dulu." Nara meraih ponselnya untuk menghubungi temannya yang punya acara.


Anin diam menunggu di dalam mobil tak berani keluar dari mobil. Mommynya mewanti-wantinya agar tidak datang ke tempat laknat itu.


"Ayo masuk! Bener ini tempatnya." Ajak Nara setelah melakukan panggilan kepada temannya.

__ADS_1


"Tapi ini klub malam Ra." Jawab Anin ragu.


"Bentar aja yuk, sudah sampai sini juga." Bujuk Nara.


"Gak ah Ra, aku pulang aja ya?" Pinta Anin memelas.


"Ayolah Ra, janji deh cuman sebentar. Ngasih kado terus ucapin selamat, dan pulang deh." Bujuk Nara lagi.


Anin terdiam, dia juga merasa tak enak hati dengan sahabatnya. Kalau tahu begini dia tidak akan menyanggupi untuk menemaninya ke pesta.


"Bener, sebentar ya?" Jawab Anin memohon.


"Iya, janji deh." Jawab Nara sambil mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya tanda janji.


"Ok deh." Anin pun turun dari mobil dan berjalan beriringan dengan Nara dengan wajah was-was menatap kanan kiri sambil bergidik tak nyaman.


***


Suara hiruk pikuk, hingar bingar di dalam klub malam membuat Anin tak nyaman. Apalagi mencium bau alkohol disana-sini membuat Anin menutup mulutnya karena merasa tak nyaman. Suara gaduh musik DJ bergema di sudut klub itu.


Lagi-lagi membuat Anin harus menutup telinganya karena tak mampu mendengar dengan jelas. Nara menatap sekeliling tempat klub itu mencari sosok temannya yang ulang tahun, karena lampu remang-remang, Nara sedikit kesulitan saat mencarinya.


"Udah aja yuk, pulang!" Ajak Anin ngeri melihat banyak orang mesum dan yang mabuk membuat Anin juga ikut mual.


"Sebentar dong Nin, please. Aku cari temanku dulu!" Pinta Nara memelas dengan teriak karena suara musik yang sangat berisik.


"Aku tunggu di luar aja ya?" Pinta Anin yang terpaksa diangguki Nara.


Anin pun kembali ke luar klub sendiri, untung saja dia penghafal yang baik, sehingga dia tak tersesat keluar dari klub itu.


Bruk..


"Aduh.." Pekik Anin saat seseorang menubruknya karena mabuk.


Tercium bau alkohol dari mulutnya dan jalannya yang sempoyongan. Dan entah kenapa pria yang menubruknya itu mendekapnya erat dari belakang.


"Anin.." Bisik pria itu membuat tubuh Anin menegang.


Anin mendengar pria mabuk itu menyebut namanya. Bukan Nindi tapi Anin, itu artinya dia adalah seseorang yang tahu siapa dirinya di masa lalu. Entah kenapa Anin hafal betul dengan suara yang sudah lama tak didengarnya itu dan dia tak menolak lagi dekapan tanpa sengaja itu. Entah kenapa dia merasa sedikit nyaman tak tegang lagi.


Namun akhirnya tubuh pria itu merosot dari dekapannya dan terkulai lemas di lantai halaman klub itu. Anin pun berbalik dan melihat siapa gerangan pria yang mungkin dikenalnya itu. Anin mendekat dan menatap wajah yang terlihat familiar itu.


"Pak Guntur?"


TBC


Beri like, rate dan vote nya


Makasih 🙏


Maafkan typo

__ADS_1


__ADS_2