
Pria itu menarik Karina paksa masuk ke dalam lift menuju lantai paling atas hotel itu. Karina tersentak dan terkejut melihat siapa yang menariknya dengan paksa keluar dari ballroom hotel.
"Tuan..." desis Karina.
Ya, Jonathan yang menarik Karina meninggalkan ballroom hotel tempat acara pertunangannya. Tak banyak bicara, Jonathan memepetkan tubuh Karina ke dinding lift, menekan tengkuk Karina mencium bibirnya kasar. Panas di dadanya sejak tadi karena melihat kedatangan Karina dengan sepupunya, dan lagi tadi melihat Karina dipeluk pria asing meski itu karena dipaksa pria asing tersebut membuat rasa panas entah karena apa membuat Jonathan mencumbu Karina ganas.
Beruntung di dalam lift hanya ada mereka berdua karena lift khusus untuk menuju langsung lantai atas kamar hotel Jonathan. Jonathan memaksa bibir Karina untuk dibuka karena sejak tadi Karina mencoba berontak, namun cekalan tangan Jonathan mencekal kedua tangan Karina keatas kepalanya erat dan tangan Jonathan yang lain mencengkeram erat dagu Karina, berusaha menggigit bibir Karina agar membuka mulutnya.
"Ahh.." mulut Karina terpaksa membuka karena merasa gigitan yang melukai bibirnya.
Ciuman Jonathan semakin intens, dia melu*mat, menghi*sap, melesakkan lidahnya masuk ke dalam mulutnya Karina, membelitkan lidahnya pada lidah Karina. Karina yang sudah lemas tak mampu melawan hanya pasrah menerimanya. Hingga semakin lama Karina ikut menikmati cumbuan bibir dan lidah Jonathan.
Hingga tanpa sadar cekalan tangan Jonathan mengendur dan membuat lengan Karina spontan melingkar di leher Jonathan.
Setelah dirasa nafas menipis Jonathan melepas ciumannya masih tetap menautkan dahinya dengan dahi Karina.
"Aku merindukanmu.. sangat..." desis Jonathan diantara deru nafas keduanya yang memburu.
Karina tak menjawab hanya menatap mata Jonathan yang terdapat sarat akan gairah dan kerinduan. Jonathan kembali mencumbu bibir Karina kembali tanpa sadar pintu lift terbuka, tanpa melepas ciumannya. Jonathan mengangkat tubuh mungil Karina ke dalam gendongannya bak koala saja. Jonathan mencumbu lagi setelah masuk ke dalam kamar hotel yang pernah dipakai menghabiskan malamnya bersama Karina dulu.
Tak cukup di bibirnya saja, cumbuan Jonathan turun ke rahang Karina hingga leher. Mengecup leher itu hingga menjilatinya dan meninggalkan kissmark di leher jenjang Karina. Karina hanya mendesah menikmati cumbuan yang semakin liar itu.
Hingga entah siapa yang melakukan keduanya kini sudah polos tanpa sehelai benangpun di tubuh masing-masing. Jonathan mulai mencumbu kembali setiap jengkal tubuh Karina yang begitu menggugah birahinya hingga Jonathan tak sabar untuk segera membenamkan miliknya di dalam tubuh Karina. Kini Jonathan sudah memposisikan dirinya tepat di depan milik Karina yang menatapnya tidak sabar untuk segera dipuaskan.
"Aahhh ...." desah Karina saat Jonathan berhasil membenamkan miliknya di dalam tubuhnya. Hingga Karina sampai memejamkan matanya menikmatinya.
"Kau... sungguh... nikmat..." bisik Jonathan menghentak lebih keras lagi.
Berkali-kali hingga Karina sampai pada pelepasannya. Namun tidak untuk Jonathan, dia masih setia menghentak-hentakkan di bawah sana semakin cepat dan kuat. Membuat tubuh Karina bergerak liar di bawah Jonathan.
**
Sementara itu, Indra mencari sosok wanita yang digandengnya tadi saat memasuki ballroom hotel namun tak menemukan di setiap sudut ruangan besar itu. Indra menanyakan pada rekan kerja yang masih ada di ballroom hotel itu namun semua tak tahu dimana sosok Karina. Ponsel Karina juga mati dan tidak aktif.
Apa dia pulang dulu? batin Indra. Hingga dia memilih pergi meninggalkan ballroom hotel tempat sepupunya bertunangan itu.
Dan Jane, dia terlihat mencak-mencak emosi, karena tak mendapati pria tunangannya yang baru beberapa jam lalu. Dia juga menghubungi ponsel tunangannya namun tidak aktif.
Ternyata Jonathan sengaja mematikan ponselnya dan ponsel Karina agar tak ada yang mengganggunya.
**
Kini Jonathan memaksa Karina untuk menungging, menghentakkan tubuhnya dari belakang pada tubuh Karina. Karina hanya mendesah, meracau tak jelas. Terlihat keduanya sangat menikmati percintaan panas mereka. Karina bagai orang yang sudah kehilangan kewarasannya.
Dan Jonathan yang sudah begitu menggilai tubuh wanita yang pertama kali mengenalkan nikmatnya berhubungan intim itu membuatnya ketagihan dan menjadikan Karina sebagai candunya. Tak cukup sekali dua kali Jonathan menikmati tubuh polos itu.
Entah sudah jam berapa, saat Jonathan melirik jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari, pantas saja Karina sudah ambruk sejak tadi mungkin karena kelelahan setelah Jonathan tak henti-hentinya menyerangnya berkali-kali. Kini setelah pelepasan terakhirnya, Jonathan ikut ambruk di sisi Karina yang sudah terlelap pulas. Dia merengkuhnya masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Kau sungguh membuatku gila, sayang..." bisik Jonathan diantara pelukannya. Dia pun memeluk erat tubuh Karina.
****
Karina membuka matanya perlahan saat merasakan cahaya matahari menyoroti tubuhnya yang masih polos di bawah selimut kamar hotel itu. Karina menatap sekeliling dan tersentak mendapati kamar yang terasa familiar itu.
Cklek
Pintu kamar mandi yang ada di kamar itu terbuka. Menampilkan sosok pria dengan hanya balutan handuk mencapai pinggangnya dengan tubuh atas yang telanjang. Karina sontak memalingkan wajahnya yang memerah menatap pemandangan di depannya itu.
"Kau sudah bangun?" tanya Jonathan mendekati ranjang dan duduk di tepi ranjang menatap Karina intens.
Karina semakin mengeratkan selimutnya untuk menutupi tubuh polosnya. Karina sudah ingat apa yang terjadi semalam. Dan seketika wajahnya memerah malu karena keliaran dirinya semalam. Karina semakin menutupi tubuhnya sampai ke leher.
"Kenapa? Jangan bilang kau tak ingat semalam." ucap Jonathan menatap Karina intens penuh intimidasi.
Dari nada bicara Jonathan ada nada tak suka dengan perkataannya.
"Ah.. i...itu..." seketika wajah Karina kembali merona memerah.
Dia pun refleks memalingkan wajahnya. Namun Jonathan langsung menarik dagu Karina agar menatap wajahnya.
"Akan kuingatkan kembali jika kau tak mengingatnya." bisik Jonathan tepat di pipi Karina setelah mengecupnya sekilas dan juga bibirnya. Karina sontak melotot menatap Jonathan.
"Sa... saya... harus pulang." Karina mau beranjak dari ranjang namun merasakan sakit di inti tubuhnya.
"Apakah sakit? Apakah aku menyakitimu?" tanya Jonathan cemas menatap Karina lekat.
"Sa... saya... Kya..." jerit Karina saat Jonathan mengangkat tubuhnya ala bridal style.
"Sa... saya bisa... sendiri.." Karina mencoba berontak namun Jonathan tetap memaksa.
"Bisakah kau diam. Kau akan membangunkan yang lainnya." Karina langsung diam, dia bukan wanita polos apa maksud ucapan Jonathan.
Intinya masih terasa sakit, jika Jonathan kembali menyerangnya, dia pasti akan pingsan.
Jonathan mendudukkan tubuh Karina di dalam bathtub, tadi setelah dirinya selesai membersihkan dirinya, dia sudah menyiapkan air hangat yang mungkin dibutuhkan oleh Karina.
"Kya... A.. apa yang anda lakukan!" seru Karina lagi melihat Jonathan ikut masuk ke dalam bathtub di belakang tubuhnya. Karina hendak berdiri namun tubuhnya ditahan oleh Jonathan.
"Bisakah kau tenang? Kau tak mungkin belum pernah mandi bersama dengan seorang pria bukan?" ucapan Jonathan membuat Karina menegang menunjukkan siapa dirinya.
Dia adalah wanita bersuami dan mempunyai seorang putri. Bagaimana dirinya bisa berpikir seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta. Kejadian semalam sungguh membuatnya lupa diri dengan statusnya. Meskipun pernikahan sudah memasuki hampir tujuh tahun, namun keromantisan suaminya hanya sebatas romantis di ranjang.
Tak bermacam-macam gaya, hanya pelepasan sekali sudah cukup untuk suaminya. Bahkan dirinya jarang mendapatkan pelepasannya. Bisa dihitung jari saat suaminya membuatnya pelepasan. Namun karena perasaan cintanya pada suaminya membuat Karina buta akan soal berhubungan intim yang nikmat dengan pasangannya.
Baginya asal suaminya, pria yang dicintainya itu puas dan bahagia, baginya sudah cukup. Semalam entah kenapa nafsunya begitu menggebu-gebu, hingga melupakan status dirinya yang sebenarnya.
__ADS_1
"Maaf..." bisik Jonathan lirih di dekat telinga Karina yang sudah ditariknya untuk duduk di pangkuannya.
Jonathan sudah menyelidiki tentang keadaan rumah tangga Karina dari Rian, suaminya yang telah menikah kembali dengan kekasihnya saat kuliah tanpa mau menceraikan istri pertamanya dengan alasan janji dengan orang tua Karina.
Karina tersentak dari lamunannya. Jonathan mendekap tubuh Karina erat dari belakang.
"Saya harus pulang. Putri saya..."
"Sebentar saja seperti ini." sela Jonathan masih mendekap tubuh Karina dari belakang, meletakkan kepalanya di bahu Karina mengendus wangi tubuh Karina yang menjadi candunya.
"Putri saya sedang menunggu di rumah..."
"Ayo kita menikah!" ucap Jonathan lagi membalikkan tubuh Karina hingga mereka kini berhadapan.
Karina menatap Jonathan intens. Tak percaya dengan ucapan pria yang menjadi atasannya ini.
"Tuan, saya...".
"Kita menikah! Mungkin secara siri dulu!" Jonathan tak menggubris ucapan Karina, mengulang ucapan lagi penuh intimidasi dan tak mau ditolak.
"Tuan..."
"Bisakah kau memanggilku seperti kemarin saat kau berada di bawahku?" bisik Jonathan membuat wajah Karina kembali merona.
"Tapi tuan?"
"Karina..." desah Jonathan memotong ucapan Karina.
Kecupan mulai menelusuri seluruh wajah Karina membuat Karina menggeliat melepaskan diri namun Jonathan tak menginginkan penolakan.
"Tuan, anda sudah bertunangan?" ucap Karina di sela-sela kecupan itu membuat Jonathan mau tak mau berhenti.
Sikap tak nyaman Karina membuat Jonathan menatap intens yang tak mampu Karina balas.
"Aku akan mengundang penghulu kemari untuk menikahkan kita." ucap Jonathan berdiri membilas tubuhnya di bawah shower kamar mandi itu.
"Tuan..." tarikan tangan Karina terhadap tangan Jonathan membuat Jonathan berpaling menatap Karina lekat.
"Aku tak peduli meski kau sudah punya suami, aku rela menjadi yang kedua asal bisa tetap bersamamu." ucap Jonathan.
"Tapi aku menolak." jawab Karina tegas masih mendongak menatap Jonathan karena dirinya tak berani menunjukkan tubuh polosnya meski Jonathan sudah melihat semua tubuh Karina.
Jonathan mengetatkan rahangnya, matanya memerah menahan emosi agar tak meledak di hadapan Karina. Jonathan memaksa Karina berdiri, menarik keluar dari bathtub. Memeluk tubuh Karina intens sambil menyalakan shower air hangat tepat di bawah mereka.
"Aku tak butuh penolakan." Jonathan menghentak lagi miliknya dalam tubuh Karina, dia sudah tak peduli jika dia masih merasakan sakit di bagian intinya.
Karina hanya menjerit kesakitan merasakan rasa sakit juga nikmat di waktu bersamaan. Dia tak munafik kalau kelakuan Jonathan membuatnya lama kelamaan juga ketagihan. Desahan kembali terdengar di dalam kamar mandi itu namun diredam oleh suara guyuran air shower.
__ADS_1
"Rian, bawakan pesananku tadi ke kamar!" titah Jonathan pada asisten pribadinya itu dan langsung menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban darinya.