
Seminggu sudah Karina dirawat di ruang ICU masih belum ada perubahan apapun pada dirinya. Bram dengan setia menemaninya setiap hari setiap waktu. Sedangkan si kembar sudah diizinkan pulang. Dan Bram meminta Maya menguruskan dan sesekali Bram membantunya jika ada sedikit waktu luang.
Bram juga menyewa seorang pengasuh bayi yang berpengalaman untuk membantu Maya. Karena Maya tak mungkin mengasuh si kembar sendirian apalagi Maya tak punya pengalaman merawat bayi yang baru lahir.
"Buka matamu Karin, kau tak mau melihat si kembar?" bisik Bram berdiri di luar jendela kaca ruang ICU.
Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Mulutnya komat-kamit berdoa untuk kesembuhan Karina. Dia tak mau Karina menghembuskan nafasnya seperti mendiang istrinya. Apalagi bayinya masih terlalu merah untuk ditinggalkan dari dunia ini. Katakanlah dia cengeng, namun dia sungguh merasa sedih.
Saat Bram masih dengan setia menatap Karina dari luar jendela, tiba-tiba tubuh Karina kejang. Dan pendeteksi jantung berbunyi nyaring membuat Bram panik dan berteriak memanggil dokter.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Bram setelah melihat dokter keluar dari ruang ICU tempat Karina dirawat.
"Tidak ada yang buruk. Hanya reaksi spontan pasien. Berdoa saja semoga calon istri anda segera sadar." Bram mengangguk senang juga kecewa, senang karena tidak terjadi hal fatal pada Karina.
Kecewa karena Karina tak segera sadar. Bram menghela nafas berat, dia mendudukkan tubuhnya di kursi dekat ruang ICU.
Sudah sebulan berlalu, Bram masih tetap setia menunggui nya meski hanya dari luar ruangan Karina dirawat. Kini si kembar sudah menunjukkan tubuh sehat dan berat badannya tumbuh dengan normal.
Dan keduanya sangat aktif dan sehat. Bram kadang mengajak bercanda si kembar bergantian. Berperilaku seperti sesosok ayah untuk mereka berdua. Maya terharu dan senang jika mereka bisa bersatu sebagai suami istri.
***
Bram berlarian di lorong rumah sakit saat pihak rumah sakit menghubunginya. Dan mereka mengatakan Karina sudah sadar. Sore itu Bram pulang sebentar untuk mengganti pakaiannya karena sejak pagi dia bolak-balik rumah sakit dan rumah Karina.
Untuk sementara dia cuti dari firma hukumnya. Dia menyerahkan pada orang kepercayaannya. Sesekali dia mengunjungi jika ada hal yang mendesak.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Bram saat melihat dokter keluar ruangan tempat Karina dirawat.
"Bersyukurlah, pasien akhirnya sadar dari komanya. Sekarang perawat sedang memindahkan di ruang perawatan." ucapan dokter membuat lutut Bram lemas karena senang.
Dia tersenyum bahagia sambil melihat ranjang Karina yang sedang didorong oleh beberapa perawat menuju ruang perawatan. Dan Bram mengikuti mereka hingga ke ruangan yang sudah diurus oleh Bram.
***
Bram masuk ke ruang perawatan Karina. Wajah Karina yang dirindukannya kini masih terbaring pucat di ranjang perawatan. Meski pucat dan sedikit kurus, tapi tak mengurangi kecantikan wanita itu. Bram menatap dalam pada manik mata Karina yang masih dipasangi infus oleh perawat.
Bram memaksa masuk untuk menunggui Karina dipersiapkan oleh para perawat. Setelah beberapa menit, semua perawat meninggalkan ruang perawatan setelah berpamitan pada Karina dan Bram yang masih berdiri termenung menatap Karina seolah tak percaya, wanita yang ditungguinya selama sebulan ini akhirnya membuka matanya.
"Hai..." sapa Bram melambaikan tangan mendekati ranjang Karina.
Karina hanya tersenyum, masih begitu sulit untuknya bicara karena terlalu lama 'tidur'. Bram memaklumi itu, asal dia sudah tersenyum mengangguk artinya Karina masih dapat meresponnya dan mengenalnya.
Bram penasaran ingin bertanya namun mengingat Karina baru sadar dari tidur panjangnya dia mengurungkannya menunggunya untuk mengatakan sendiri dia bertanya.
"Teri... ma.. kasih..." lirih Karina terbata. Meski Bram tak bisa mendengarnya namun Bram bisa membaca dari gerak bibirnya.
"Akulah yang seharusnya berterima kasih. Akhirnya kau mau membuka matamu. Syukurlah!" Bram tersenyum haru melihat Karina tersenyum juga padanya.
Senyuman yang dirindukannya. Sungguh Bram merindukan wanita ini.
Setelah Bram bercerita selama beberapa jam meski hanya dijawab senyuman dan sedikit gerak bibir akhirnya dokter meminta Karina untuk beristirahat setelah minum obat untuk memulihkan kondisi tubuhnya pasca koma. Apalagi dia baru selesai melahirkan secara cesar.
__ADS_1
Bram keluar ruang perawatan Karina setelah diyakininya dia sudah tertidur pulas akibat obatnya. Bram mengabari Maya yang tentu saja langsung antusias ingin mengunjunginya. Namun Bram masih melarangnya karena Karina masih butuh banyak istirahat.
***
Seminggu setelah Karina sadar, dokter pun mengizinkan Karina pulang karena sudah dinyatakan pulih meski harus banyak istirahat. Karina sudah merindukan anak-anaknya dan semua yang ada di rumah. Bram menjemputnya siang itu setelah menyelesaikan administrasi.
"Kau sudah siap?" tanya Bram melihat Karina sudah duduk saat menunggu Bram menyelesaikan administrasinya.
"Aku pasti sangat merepotkanmu selama tertidur." ucap Karina saat Bram memapahnya untuk berjalan ke arah mobil meski sebenarnya Karina tak butuh. Namun Bram memaksa.
"Sudah berapa kali kau mengatakannya." jawab Bram tak suka.
"Terima kasih."
"Kau akan mengulangi ucapanmu lagi?" tanya Bram berhenti memapah saat mereka sudah di samping mobil Bram.
"Apa aku bisa meminta hal lain untuk rasa terima kasihmu?" tanya Bram ambigu menatap Karina lekat.
Karina terdiam balas menatap Bram yang memancarkan sorot mata penuh cinta padanya. Karina tidak buta dengan perhatian Bram selama ini. Dia ingin menata hatinya dulu setelah sembuh. Dibenaknya masih teringat bagaimana dia bisa lolos dari kematian saat dirinya tertidur lama.
"Baiklah. Aku tak akan berterima kasih lagi. Dan aku akan merepotkanmu lebih banyak lagi ke depannya. Kuharap kau tidak menyesal." ucap Karina mengalihkan pembicaraan.
"Akan kutunggu!" jawab Bram meski sedikit kecewa dengan reaksi Karina. Namun dia berpikir positif, mungkin Karina masih perlu waktu untuk memulihkan kondisi tubuhnya.
Mereka pun masuk ke kursi penumpang. Karena selama Karina tertidur, Bram memilih menggunakan jasa sopir agar tidak kelelahan di saat dirinya harus riwa-riwi mengurus Karina dan pekerjaannya.
__ADS_1
TBC